Minggu, 16 Agustus 2015

Percayalah Meski Itu Tak Mungkin

Semua bermula secara kebetulan meski kita tahu bahwa tidak ada yang kebetulan melainkan sebuah rencana tuhan yang telah dirancang dengan rapi tnapa ada cacat didalamnya. Begitu juga dengan cerita aku kali ini. Jika kalian percaya bahwa kita semua terlahir berbeda untuk saling menganal dan berdampingan. Maka disaat itulah keajaiban tuhan akan muncul secara perlahan. Kisah ini bermula satu bulan lalu......
Puasa masih kurasakan dan kujalankan sebagai seorang hamba tuhan yang memiliki keyakinan akan keberadaan sebuah sang pencipta dialam semsesta ini. 13 juni adalah hari dimana aku mulai meninggalakan lokasiku untuk mencari lokasi merayakan hari lebaran. Hari dimana kita semua merayakan kemenangan atas nafsu yang mampu kita kalahkan selama satu bulan penuh. Ntah kemana akan kumulai dan kuakhiri cerita ini nantinya biarlah tetap menjadi sebuah aliran air yang ntah kemana dia akan berhenti nantinya.
Badau
Kota pertama persinggahan setelah aku meninggalkan lokasiku. Dikota ini aku hanya bermalam satu hari (13 juni) karena memang tidak ada keperluan yang begitu mendesak selain mengirimkan uang bulanan untuk orang tua. Dan kota ini hanya berjarak 3 jam dari lokasiku bertugas. Malam ini aku menemukan sebuah kenyataan keberadaan mereka yang mencurahkan diri dan semua yang mereka miliki hanya untuk berlajar bagaimana hidup didunia yang katanya tidak adil ini. Aku mengenalnya dalam sebuah kecelakaan yang tidak perlu diceritakan kronologisnya. Dia berasal dari negara yang sama denganku hanya kami memiliki darah dari keturunan yang berbeda. Jauh jauh melarikan diri dari negara kami hanya untuk mencari pembenaran atas upaya yang mereka lakukan disini. Sangat kusayangkan karena masih banyak cara yang lebih baik dan kuyakin dia bisa melakukannya. Tapi memang tuhan mempertemukan kami untuk sebuah alasan. Dan benar adanya bahwa aku harus belajar bahwa hidup adalah tentang memilih dan bukan pasrah untuk dipilihkan oleh keadaan. Pertemuan singkat malam itu tak kulanjutkan karena memang seharusnya aku tidak pernah berada disana atas keinginanku sendiri.
Malam berakhir dengan aku balik ke hotel ditempat aku menginap malam itu untuk melanjutkan perjalanan esok pagi kekota berikutnya.
Silat Hilir
Bukan kota yang ramai atau bukan tempat yang kubayangkan tapi disanalah aku bisa menemukan makna lebaran yang sebenarnya. Setidaknya seperti itulah yang ingin kurasakan nantinya. Jalan penuh sawit dengan suhu yang teramat panas untuk dunia ini dan panjang tanpa ada tempat nyaman untuk beristirahat sejenak meregangkan oto pantat ini. 4-5 jam perjalanan kami tempuh ditengah siang bolong untuk sebuah pencapaian yang kami rencanakan. Sawit demi sawit kami lewati tanpa kami tau kapan itu akan berakhir nantinya kecuali ada suara keramaian diujung jalan yang beraspal normal atau semen yang dibentuk untuk jalan dikotaitu. Tiba dikota pinggiran sungai kapuas dimana ini adalah sungai terpanjang di negara ini. Matahari yang akan terbenam memberikan makna yang berarti dengan pantulan cahaya yang cantik dan memukau. Seolah aku ingin menari bersamanya didalam segarnya air tapi kusadari bahwa kecocokan dengan air sangatlah kecil dan tidak akan kulakukan hal yang membuatku akan mati dalam sekejap karena cerita ini harus ada yang menyelesaikannya. Menyelam dipinggiran sungai, menjaring ikan untuk mendapatkan uang dihari lebaran dan menjual kue sudah kulakukan ditempat ini. Keluarga yang telah dipisahkan dengan kepala keluarga tentu membaut mereka menjadi lebih kuat dari kami yang diberikan hak lebih lama dibandingkan mereka.
Disini juga aku belajar arti mengenal budaya dan cara mereka hidup sebagai seorang yang memiliki jenis darah yang berbeda. Tapi tidak ada yang mainstream selain memang nyaris tidak kutemui ada orang yang berpuasa dikota ini. 5 hari (14-18 juni)aku dikota ini dan kurasakan sudah waktunya melanjutkan perjalanan untuk melanjutkan cerita agar sedikit lebih panjang dari biasanya. Aku belajar bagaimana hidup menjadi minoritas dan  makhluk asing ditempat ini tanpa menarik perhatian tapi aku mendapatkan perhatian mereka semua. Semua itu hanyalah proses hidup didunia yang sepertinya adil ini.
Sintang
Siang itu aku sudah prepare untuk melanjutkan kekota berikutnya. Meski tanpa ada sebuah tanda aku akan diterima baik dikota ini. Tapi show must go on dan aku harus tetap berjalan meski aku tidak tahu didepan aku akan mengalami apa. Karna sudah biasa ku temukan hal seperti ini. Inilah pelajran sesungguhnya yang menguras pikiranku “teruslah percaya sekalipun tidak mungkin untuk percaya dengan keadaan yang disediakan. Namun selalu ada cara ajaib tuhan untuk menjawab semua keyakinan itu”. Benar adanya aku satu hari terlantar dikota ini tanpa arah dan tujuan yang jelas. Mereka yang tadinya memintaku datang malah mengabaikan apa yang mereka ucapkan sendiri. Kesibukan memaksa mereka melupakan janji yang mereka buat sendiri tanpa sebuah paksaan. Tapi biarlah semua memang seperti ini cerita yang harus diceritakan. Sore itu (19 juni) menunggu bus yang akan mengantarku ke kota selanjutnya. Kota yang mungkin akan memiliki cerita yang berbeda dengan kota yang lain tentunya.
Singkawang
Pagi ini adalah pagi pertama kurasakan hujan setelah sekian lama (20 juni). Hanya berselang beberapa menit setelah aku turun dari bus dan tanpa ku tahu aku harus kemana dan menemui siapa karena ku tidak bisa menghubungi siapapun dikala itu. Hujan deras memaksaku memesan secangkir kopi hangat daripada tidak ada yang membuatku bertahan dari dinginnya suasana diterminal kota amoi. Amoi adalah gadis keturunan cina yang beranjak dewasa dan belum menikah atau telah menikah itu disebut amoi. Tapi kata amoi memiliki persepsi lain dikota ini. Amoi persepsi lain adalah sama dengan mereka yang kutemui di kota badau saat perjalananku kali ini.
Dia yang menjadi kontak terakhir dari hp sejuta umat mungilkulah yang menjemputku dari rinainya hujan yang mengguyur kota ini setelah sekian lama. Sejenak membersihkan diri dan mengisi perut lalu aku beranjak ke tempat yang dijanjikan dia yang menjadi saudaraku selama dijogja. Ikatan yang terjalin dalam pendakian dan perjuangan mempelajari ilmu kehidupan bersama alam pulau jawa telah kami tempuh ber SKS tanpa kami melewatkan jadwal remidi untuk mengulanginya kembali. Berulang kami mendatangi kelas (bacanya gunung) yang sama hanya untuk merasakan hal yang sama meski kami tak pernah menemukan kesamaan rasanya. Kenangan yang tercipta disetiap pendakian membuatku mengerti bahwa moment adalah hal unik yang tidak akan terulang meski kita berulang kali melakukannya.
Dikota ini aku menyelesaikan misiku, pantai dan menelusuri sisi barat pulau ini. Dikota inilah terjawab dari rasa percaya yang kupertahankan untuk tetap pergi tanpa kepastian yang nyata. Setidaknya dari sekian banyak yang berjanji masih ada mereka yang tulus memenuhi janjinya bukan karena terpaksa namun karena itu adalah yang seharunya dilakukan karena mereka mengerti bahwa seseorang tidak akan pernah mampu hidup sendiri (bukan berarti aku mampu hidup sendiri).
Berjalan dari satu tempat ke tempat lain yang bisa kudatangi setiap hari. Mendapatkan sebuah cerita yang tak mungkin kuselesaikan sendirian (20-24 juni). Ingin sebenarnya lebih lama disini namun apa daya semua akan ada masanya untuk menghabiskan sisa-sisa puing yang masih ditinggalkan berserakan. Selalu ada cara untuk kembali ketempat yang telah ditancapkan bekas diri
Sambas
Kota yang kusinggahi karena berada dikota sebelumnya mengantarku menapakkan kaki dikota ini. Kota yang bagus dan disini juga aku menemukan keluarga baru seperti semua kota yang kusinggahi sebelumnya. Disini aku terpaksa berkelana menyebrangi sungai untuk sekedar menghindari kempunan (kesialan karena tidak mendapatkan sesuatu yang sudah didepan mata). Tidak banyak yang bisa kuceritakan karena hanya 12 jam aku dikota ini lantas kembali kekota sebelumnya.
Sintang Part II
Perjalanan kembali selalu memberikan arti lebih karena kemanapun kita pergi maka tidak ada gunanya jika kita tidak mampu kembali. Setinggi apapun kita mendaki tidaklah berarti jika kita tidak mampu turun untuk kembali kerumah dengan selamat. Sejauh apapun kita merantau maka tidak berguna jika kita tidak dapat kembali kekampung halaman dengan senyuman. Sebanyak apapun kita mengumpulkan harta dan tahta tidaklah berkilau jika kita tidak dapat menggunakannya dengan bijak. Disini aku mendapatkan respon yang lebih baik dari sebelumnya sehingga aku bisa tinggal lebih lama dari yang sebelumnya (25-26 juni). Ditempat ini aku belajar berdagang dipasar dan mendapat sebuah pelajaran hidup. Mengapa kita membatasi mimpi menjadi seorang yang nantinya menjadi bawahan orang lain. Kenapa kita melebihi batasan itu untuk dapat menjadi bosny? Adakah diantara kalian yang saat kecil diajarkan untuk menjadi pemiliki pesawat atau pemilik rumah sakit? Tentu TIDAK jawabnya. Kalian pasti diminta untuk menjawab menjadi dokter atau pilot. Pelajaran yang hanya kudapatkan didalam pasar yang terbakar beberapa tahun lalu. Membakar sate dipagi buta, tidak ada tempat bermain lagi hanya tersisa wajah sayu yang mencoba bertahan dalam keterbatasan yang diberikan sebagai belas kasih pemerintah daerah. Disinilah bagian istimewanya dimana perjalanan dari kota ini kekota selanjutnya menjadi jawaban atas rasa sabar yang dilakukan seorang manusia.
Aku tidak mendapatkan bus untuk minggu pagi (26 juni) lantas kuputuskan menunggu bus malam. Aku tiba ditempat bus malam biasa berhenti namun saat aku datang bus itu telah pergi, ingin rasanya kukejar namun biarlah mungkin itu bukan jodoh. Mengejar sesuat yang telah pergi sama halnya mengikat dia yang bukan jodoh. Sia-sia dan bukan yang terbaiklah yang menjadi keadaan. Bus berikutnya datang dikala tegukan kopi terakhirku dan kurasa aku siap melanjutkan perjalanan. Tapi tak ada lagi yang dapat kududuki didalam sana dan hanya tersisa atap yang terbuka jika ingin tetap melanjutkan perjalanan saat itu. Tidak ada pilihan lain dan tidak menjamin yang berikutnya akan memberikan yang lebih baik dari ini. Dan hari sudah mulai larut, so disinilah semua bermula.
Bus yang tadi meninggalkanku mengalami pecah ban dan menabrak tiang listrik. Didalam sana ada seseorang yang kukenal dan sudah ku anggap kakak sendiri dinegara baru yang aku singgahi ini selama 2 tahun. Bersyukur aku tidak berada didalamnya akibat memaksakan untuk mengejar sesuatu yang telah pergi meninggalkanku. Tapi dingin ini memang jauh lebih baik jika kita mampu mensyukuri semua yang terjadi disini.
Putussibau
Masih ingat dengan teori yang pertama ku sampaikan tentang rasa percaya? Pasti akan terbalas tidak pernah kurang, pasti cukup dan bahkan lebih yang diberikan untuk kita. Dikota terakhir sebelum aku kembali ke lokasi disini aku mendapat bonusnya (27-29 juni). Mendapatkan keluarga bule dari perancis membuka jalan untukku dan temanku untuk mengenal internasional. Temanku yang melanjutkan studi akan punya teman baru dan aku akan punya cerita baru. Aku membantu menyiapkan segala keperluannya untuk berangkat ke Tanjung Lokang sebuah hutan yang masih natural dan belum terekspose secara langsung. Butuh 2 hari perjalanan untuk sampai ke sana menggunakan perahu bermesin dan butuh 8 hari untuk menembusnya sampai dengan mahakam, kaltim. Max dan Pierre adalah mahasiswa berumur 21 dan 23 tahun. Banyak kelucuan yang tercipta dimana aku dan mereka sama-sama tidak fasih berbahasa inggris. Dan sambil menunggu keberangkatan mereka aku diminta mengantar mereka ke salah satu air terjun tersembunyi disini. Butuh 1 jam jalan kaki dengan melewati 3 aliran sungai yang deras dengan ketinggian sepinggang. Sebuah perjuangan ditengah hujan yang memaksa kami terus berjalan karena tidak mungkin menunggu reda dan membuat baju kering kembali tanpa adanya matahari. Hujan terus mengguyur sepanjang perjalanan kami hingga sampai di air terjun. Motor bahkan setengah tenggelam untuk mencapai desa terakhir untuk mengurus perijinan dan menitipkan kendaraan kami. Puas dan bahagia tentulah kurasakan karena atas semua yang kurasakan dalam ketidakpastian itu membuatku bersabar dan terus percaya hingga menghadirkan sebuah balasan yang jauh lebih dari cukup untuk sebuah pemberian dalam bentuk sabar itu sendiri

kita hanya bisa mendapatkan puncak jika kita bersabar
dan terus berjalan mendakinya. 
kita hanya bisa mendapatkan hal baru
jika kita keluar dari hal lama yang kita miliki.
dan kita hanya bisa membuat cerita baru
jika kita berani membuang waktu untuk sekedar mencari arti kepuasan diri(ogikun, 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar