Rindu atau kangenlah orang nyebutnya
Adalah tentang merasakan
Bukan tentang mengungkapkan
Dan hal itu yang membuatku ada disana
Aku memang mengistimewakan diriku
Atas apa yang terjadi padaku selama ini
Kalau bukan kita lantas siapa yag mengistimewakan kita
Apa kita akan mengemis untuk orang lain mengistimewakan kita
Merendahlah pada TUHAN
Dan mereka yang patut dihormati
Bukan mereka yang pleat-pleot
Mereka yang terjebak dalam imajin pribadi
Ada kala dimana kita semua merasa jenuh
Jenuh dengan kebersamaan
Jenuh dengan kesendirian
Jenuh dengan ketidakberdayaan
Sisi Pro dan sisi Kontra
Kedua sisi yang tak pernah sama
Namun selalu berdampingan
Kita belajar tidak egois darinya
Terkadang mendahulukan orang lain dan mengabaikan diri
Tak semulia menjalaninya
Ibarat memperindah rumah orang lain
Dan menelantarkan rumah sendiri
Rasa ini kian ambigu atau abu-abu
Sakit atas apa yang tak terjadi padaku
Marah atas apa yang tak tertuju padaku
Apa kah merasakan apa yang dia rasakan adalah wujud egois manusia???
Apa yang dirasa saat ini
Adalah apa yang didapat saat lalu
Dan apa yang akan dikenang saat nanti
Dan belum tentu bisa diulang ataui dikembalikan
Dikala rembulan hanya sisa setengah untuk menerangi malam ini
Bukan berarti kesungguhannya hanya dihargai setengah
Apa yang diterlihat tidak mewakili yang dilakukannya
Dan bulan punya cara sendiri untuk menerangi malam (Teori Bulan)
Sebuah bunga juga akan layu pada akhirnya
Segera setelah mekar usai karena dia tidak hidup selamanya
Saat seseorang pergi dan tak kembali
Pasti akan ada penggantinya yang datang dan tak akan meninggalkan
Jangan membahas tentang apa yang sudah diberikan
Karena akan ada pamrih atas apa yang diucapkan
Tetaplah bersikap normal ala kadarnya
Karena apa yang ada itulah yang ditunjukkan
Sabtu, 26 April 2014
Jumat, 25 April 2014
Hidup Ku adalah Tentang Keinginanku
Memintalah dari sekarang untuk esok hari
Jangan minta esok nya untuk merasa instan
Kita aja nggak suka dengan seseorang yang hanya datang saat butuh aja
Apa kita akan bertingkah seperti orang yang tidak kita sukai saat menghadapi TUHAN
Akhir-akhir ini banyak yang melintas dalam pikiran (mumpung ada pikiran)
Ntah itu sebuah jawaban atau pertanda
Saat kepalsuan telah lelah dilakukan untuk pencitraan
Saat tiada lagi suasana yang merindukan
Saat kita tak suka akan suatu hal
Ubahlah dengan usaha
Bukan dengan ketidak pedulian sambil berkomentar dan menunggu
Saat tak bisa dirubah hanya sisa meninggalkan sebagai opsi yang ada
Terkadang menuntut mengerti dan tahu tanpa bertanya
Terkadang juga mengingkan diayomi tanpa pernah mengayomi
Menjadi orang yang perhitungan memang tidaklah baik
Namun tujuan perhitungan bukan untuk saling membalas hutang
Dibilang salah ya sama sama salah
Dibilang benar ya sama sama benar
Namun ada yang lebih benar diantara keduanya
Juga ada yang lebih salah diantara keduanya
Kita belajar menikmati proses dari apa yang dijalani
Itulah kenapa aku memilih centi demi centi
Bukan meter demi meter
Atau pulau demi pulau sekalian
Mendapatkan dengan instan memang menyenangkan
Namun jauh lebih membahagiakan jika lengkap dnegan prosesnya
Sorry jika terkesan menggurui karena aku tak berminat menjadi guru
Aku hanya pernah berada disana, dan aku sempat berhasil pergi dari sana
Memang lebih baik terasingkan
Daripada membaur namun tak nyaman
Setidaknya tak ada yang perlu dipikirkan
Tak ada yang terbuang sia-sia (meski tak ada sekecil apapun yang sia-sia katanya)
Dengan atau tanpa orang lain hidup tetap akan berjalan semestinya
Namun keberadaan orang lain juga menentukan hidup seseorang
Mengistimewakan diri sendiri karena hidup yang dijalaninya
Namun tidak serta mengabaikan orang lain
Aku sepakat dengan hal itu
Namun tidak mutlak
Karena yang mutlak hanya Rencana TUHAN
Bukan rencana manusia beserta impiannya
Ini bukan tentang membangkan atas apa yang diberikan TUHAN
Kita diberi hidup untuk memilih apa yang kita inginkan
Memikirkan apa yang orang lain rasakan
Karena kita hidup bukan untuk sendirian
Jangan minta esok nya untuk merasa instan
Kita aja nggak suka dengan seseorang yang hanya datang saat butuh aja
Apa kita akan bertingkah seperti orang yang tidak kita sukai saat menghadapi TUHAN
Akhir-akhir ini banyak yang melintas dalam pikiran (mumpung ada pikiran)
Ntah itu sebuah jawaban atau pertanda
Saat kepalsuan telah lelah dilakukan untuk pencitraan
Saat tiada lagi suasana yang merindukan
Saat kita tak suka akan suatu hal
Ubahlah dengan usaha
Bukan dengan ketidak pedulian sambil berkomentar dan menunggu
Saat tak bisa dirubah hanya sisa meninggalkan sebagai opsi yang ada
Terkadang menuntut mengerti dan tahu tanpa bertanya
Terkadang juga mengingkan diayomi tanpa pernah mengayomi
Menjadi orang yang perhitungan memang tidaklah baik
Namun tujuan perhitungan bukan untuk saling membalas hutang
Dibilang salah ya sama sama salah
Dibilang benar ya sama sama benar
Namun ada yang lebih benar diantara keduanya
Juga ada yang lebih salah diantara keduanya
Kita belajar menikmati proses dari apa yang dijalani
Itulah kenapa aku memilih centi demi centi
Bukan meter demi meter
Atau pulau demi pulau sekalian
Mendapatkan dengan instan memang menyenangkan
Namun jauh lebih membahagiakan jika lengkap dnegan prosesnya
Sorry jika terkesan menggurui karena aku tak berminat menjadi guru
Aku hanya pernah berada disana, dan aku sempat berhasil pergi dari sana
Memang lebih baik terasingkan
Daripada membaur namun tak nyaman
Setidaknya tak ada yang perlu dipikirkan
Tak ada yang terbuang sia-sia (meski tak ada sekecil apapun yang sia-sia katanya)
Dengan atau tanpa orang lain hidup tetap akan berjalan semestinya
Namun keberadaan orang lain juga menentukan hidup seseorang
Mengistimewakan diri sendiri karena hidup yang dijalaninya
Namun tidak serta mengabaikan orang lain
Aku sepakat dengan hal itu
Namun tidak mutlak
Karena yang mutlak hanya Rencana TUHAN
Bukan rencana manusia beserta impiannya
Ini bukan tentang membangkan atas apa yang diberikan TUHAN
Kita diberi hidup untuk memilih apa yang kita inginkan
Memikirkan apa yang orang lain rasakan
Karena kita hidup bukan untuk sendirian
Selasa, 22 April 2014
Neduh Dulu
Hujan mulai turun seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Saat dimana keinginan membuat sampah itu meningkat pesat. Hujan memaksaku untuk berfikir dan merenung tentang apa yang hendak disamapaikannya dalam sebuah tanda bukan sebuah kalimat, bukan sebuah tulisan bukan juga sebuah pernyataan. Kulihat kanan kiri banyak mereka yang berteduh disekitar bangunan yang beratap diterasnya, tak sedikit juga yang mencoba menerjang derasanya hujan karena ingin segera sampai dirumah atau ditujuannya. Ku nyalakan sebatang rokok untuk meredam rasa dingin yang datang merapat. Ku hisap perlahan dan ku nikmati dalam dada berharap ketenangan menghampiri dan menemani dikala sendiri.
Terkadang membayangkan masa depan yang diinginkan
Mengenang masa lalu yang telah terlewati
Mermikirkan masa sekarang yang baru terjadi
Lebih baik daripada memikirkan orang lain
Dia yang pernah mampir
Dia yang pernah tinggal
Sama halnya dengan mereka yang lagi neduh saat ini
Saat hujan berhenti juga bakalan pergi lagi
Terkadang kondisi yang sama
Keadaan yang mririp
Masalah yang pernah dialami
Membuat kebersamaan itu ada
Kebersamaan yang tak bisa lama
Kebersamaan karena kebetulan
Bukan berarti tak ada yang berkesan
Bukan tentang waktu yang singkat atau lama
Apa yang disembunyikan adalah apa yang diinginkan
Itu hanya sebuah persepsi
Apa yang disembunyikan juga bisa menjadi apa yang ditakutkan
Itu bisa menjadi sebuah pilihan
Diamnya adalah sebuah pertanda
Diamnya adalah sebuah keputusan
Diamnya adalah sebuah jawaban
Dan diamnya menjadi sebuah harapan
Aku tak pernah memilikinya
Lantas kenapa harus tak melepasnya
Bersama juga bukan atas dasar hukum
Yang harus dipertanggungjawabkan didepan hakim
Semua yang datang dan pergi disaat hujan
Adalah mereka yang datang karena sebuah kebutuhan
Menyelamatkan diri dari paksaan dunia
Bukan karena keinginan dalam diri
Hidup berjalan adalah untuk memperbaiki
Memperbaiki yang kemarin di hari ini
Namun yang diperbaiki adalah prosesnya
Karena kalau hasil sudah ada yang tentukan
Minggu, 20 April 2014
Just mine
Seseorang yang hanya bisa menerima sebuah kebaikan
Dan tak bisa sedikitpun menerima keburukan
Padahal orang yang dihadapi sama
Dan banyak orang semacam itu
Seseorang tidak terlahir seperti malaikat
Yang memiliki banyak kebaikan
Dan ntah dia memiliki sisi buruk apa tidak
Hanya tuhan yang tahu jawabannya
Ntah perasaan macam apa ini
Tak suka atau tak terima dengan keadaan
Tapi namanya manusia pada dasarnya harus nerimoan
Suka tidak suka dan mau tidak mau harus dilewati
Kata orang lidah itu bisa lebih tajam daripada pisau
Bisa menyayat benda yang tak terlihat sekalipun
Namun ada yang jauh lebih tajam daripadanya
Sebuah tulisan yang tertuju untuk anonim
Siapa saja bisa jadi sasaran
Apa saja bisa jadi media
Kapan saja bisa dilakukan
Dimana saja bisa diterapkan
Sebuah tulisan juga membuat INDONESIA merdeka dikala itu
Sebuah tulisan juga membuat seseorang mengerti dan percaya
Diam bukanlah jawaban
Apalagi berpangku tangan dan menggigit jari
Tidak mungkin orang lain yang menjelaskan
Kegelisahanku adalah milikku
Akan kusampaikan pada mereka yang membuatku tak nyaman
Hidup harus nyaman baru menyamankan orang lain
Gelisah adalah saat dimana ada yang belum disampaikan
Memendam bukanlah pilihan bijak
Mungkin baik untuk saat ini
Namun tidak untuk esok
Aku pernah mencobanya
Dan aku gagal menjalaninya
Segala sesuatu bisa dibicarakan
Apapun itu dan bagaimanapun bentuknya
Waktu disini hanya tinggal menghitung mundur
Saat waktu itu telah habis
Tutuplah itu buku dan simpan pada tempatnya
Dan buka dengan buku yang baru yang kau temukan disana
Dan tak bisa sedikitpun menerima keburukan
Padahal orang yang dihadapi sama
Dan banyak orang semacam itu
Seseorang tidak terlahir seperti malaikat
Yang memiliki banyak kebaikan
Dan ntah dia memiliki sisi buruk apa tidak
Hanya tuhan yang tahu jawabannya
Ntah perasaan macam apa ini
Tak suka atau tak terima dengan keadaan
Tapi namanya manusia pada dasarnya harus nerimoan
Suka tidak suka dan mau tidak mau harus dilewati
Kata orang lidah itu bisa lebih tajam daripada pisau
Bisa menyayat benda yang tak terlihat sekalipun
Namun ada yang jauh lebih tajam daripadanya
Sebuah tulisan yang tertuju untuk anonim
Siapa saja bisa jadi sasaran
Apa saja bisa jadi media
Kapan saja bisa dilakukan
Dimana saja bisa diterapkan
Sebuah tulisan juga membuat INDONESIA merdeka dikala itu
Sebuah tulisan juga membuat seseorang mengerti dan percaya
Diam bukanlah jawaban
Apalagi berpangku tangan dan menggigit jari
Tidak mungkin orang lain yang menjelaskan
Kegelisahanku adalah milikku
Akan kusampaikan pada mereka yang membuatku tak nyaman
Hidup harus nyaman baru menyamankan orang lain
Gelisah adalah saat dimana ada yang belum disampaikan
Memendam bukanlah pilihan bijak
Mungkin baik untuk saat ini
Namun tidak untuk esok
Aku pernah mencobanya
Dan aku gagal menjalaninya
Segala sesuatu bisa dibicarakan
Apapun itu dan bagaimanapun bentuknya
Waktu disini hanya tinggal menghitung mundur
Saat waktu itu telah habis
Tutuplah itu buku dan simpan pada tempatnya
Dan buka dengan buku yang baru yang kau temukan disana
Sabtu, 19 April 2014
Apa Apaan Ini
Malam ini adalah malam pertama untuknya bersamaku wahai rekanku yang baru, pendahulumu telah tak mampu menemaniku karena memang ak disangka usianya telah berakhir. Banyak cerita yang telah kita buat bersama namun bukan jaminan dia akan bersamaku selamanya. Sejauh ini dia tak pernah mengeluh atas keterbatasanku namun justru sebaliknya dimana aku terus mengeluh akan keterbatasannya. Dia hanyalah benda mati namun keberadaannya jauh lebih berarti dibanding benda hidup dan pernah memilikinya merupakan sebuah anugrah.
Ku tahu rasa bosan melanda dirimu, namun bukan sebuah alasan menghabiskan kebosananmu dengan cara suram dimasa lalu mu kawan. Masa itu telah berlalu dan kita sepakat untuk mengubur dalam-dalam cara itu. Aku paham dengan yang dikau rasa (cieee dikau) karen akau telah melampauinya jauh sebelum kami merasakan kebosanan itu. Dan disaat rasa bosan datang ke kami juga hal yang sama yang ingin kami lakukan namun cara itu bukanlah sebuah solusi terbaik yang bisa kita lakukan. Kita telah menyepakatinya, ntah apa yang terjadi nanti, ntah apa yang akan kita hadapi. Disisa waktu kita yang tak lagi lama, disisa waktu inilah kita akan memberikan apa yang bisa diberikan dengan atau tanpa diminta selama hal itu bisa kita lakukan dengan tulus lah kalo kata orang baik.
Kini tak semua bisa berjalan dengan baik
Butuh sebuah pelicin atau aplah untuk mempermudah
Bisa dalam bentuk apa saja
Juga bisa dengan cara apa saja
Seseorang yang sedang tak mendengarkan orang lain
Mencari pembenaran sejati atas apa yang diucapkan
Adalah seseorang yang tak sadar dalam melakukannya
Tunggu sebentar dan bersabarlah hingga waktunya tiba
Hal yang paling ku takutkan
Adalah saat dimana hal yang tak kau inginkan menjadi kenyataan
Dan impianmu semakin jauh dari nyata
Dan tak ada yang bisa kau banggakan dengan semua itu
Saat dimana penyesalan adalah hal yang harus dilewati
Hal yang harus dinikmati perlahan
Hingga mulut tak mampu berkata
Pikiranpun tak mampu menalar kronologisnya
Aku pernah ada disana
Tempat dimana aku tak ingin kalian mampir dan berkunjung
Meski banyak pelajaran yang bisa didapat
Tempat dimana bisa merubah segalanya
Aku tak lebih tua dari mu
Aku juga mengalami hal yang tak berbeda darimu
Bisa aku yang lebih parah
Atau dikau yang lebih rumit
Memang tak sama persis
Memang tak serupa
Namun bukan disitu pointya
Bukan juga penjelasan kronologisnya
Hidup memang rumit, telusuri benang merah dari setiap kejadiannya. Memang memaksa kita untuk sedikit berfikir keras tapi otak kita baru digunkan 30% secara sadar dan masih tersisa banyak yang belum digunakan. Setiap masalah yang ada pasti disertai solusi disampingnya namun terkadang manusia menghindari masalah dimasa depan dengan menghindarinya dimasa sekarang seolah seperti itulah kejadiannya. Apa yang bisa diharapkan jika kita terlalu egois dengan hari ini hingga hari esok juga kita kerjakan hari ini? Salah satu nilai esensi orang hidup mulai tercurangi dengan persepsi pribadi, matilah dengan persepsi mutlakmu
Mulai Diam
Sudah lama rasanya tak bersenggama denganmu,
Lama nian terasa hingga lupa bahwa hidup bukan hanya tentangku
Hidup tentangmu, tentang mereka
Tentang kita dan kami yang tak pernah disadari
Rasa sakit membuatku mengerti tentang arti dirimu
Dirimu yang selalu ada pada awalnya
Lantas hilang dan bersembunyi tanpa sebuah pertanda
Tanpa pernah ku tahu maksud semua keinginanmu
Rasa sakitmu membuatku mengerti
Mati dan tenggelam dalam persepsi
Tanpa pernah ku tahu bahwa dirimu memendam rasa
Menahan rasa itu begitu dalam
Tersenyum dalam rasa sakit
Tertawa dalam kesedihan
Tanpa ada yang tahu
Sekalipun aku yang selalu dibuat bahagia karena mu
Aku memang orang asing bagimu
Aku memang bukan saudara sedarahmu
Aku juga bukan orang yang baik untukmu
Tapi aku adalah yang menemukanmu
Sendirian dipinggir jalan
Tanpa pernah tahu kenapa dan apa yang harus dilakukan
Ku sodorkan secangkir kopi hangat sebagai perkenalan
Berharap akan ada sepatah kata yang terucap dari mulutnya
Sebuah pertanda dia menerima kehadiran orang asing
Terlahir sendiri itu takdir tapi hidup sendiri itu pilihan
Namun orang asing tetaplah orang asing
Sekalipun tatapan itu seperti bukan tatapan orang asing
Apa yang dikatakan lewat tatapannya
Apa yang diinginkan lewat tatapannya
Hanya tetap menjadi praduga tak bersalah
Karena tak adaa yang protes jadi dianggap benar
Kini semua kembali sunyi
Pada akhirnya semua kan kembali pada titik
Akhir dari sebuah cerita
Akhir dari sebuah kalimat pula
Pelangi akan datang setelah hujan
Apakah kita menyalahkan hujan atas pelangi yang datang terlambat?
Penyesalan hanyalah sebuah sinonim
Dia ada hanya karena aku belum menerima
Dan masa itu telah lama berlalu
Lama nian terasa hingga lupa bahwa hidup bukan hanya tentangku
Hidup tentangmu, tentang mereka
Tentang kita dan kami yang tak pernah disadari
Rasa sakit membuatku mengerti tentang arti dirimu
Dirimu yang selalu ada pada awalnya
Lantas hilang dan bersembunyi tanpa sebuah pertanda
Tanpa pernah ku tahu maksud semua keinginanmu
Rasa sakitmu membuatku mengerti
Mati dan tenggelam dalam persepsi
Tanpa pernah ku tahu bahwa dirimu memendam rasa
Menahan rasa itu begitu dalam
Tersenyum dalam rasa sakit
Tertawa dalam kesedihan
Tanpa ada yang tahu
Sekalipun aku yang selalu dibuat bahagia karena mu
Aku memang orang asing bagimu
Aku memang bukan saudara sedarahmu
Aku juga bukan orang yang baik untukmu
Tapi aku adalah yang menemukanmu
Sendirian dipinggir jalan
Tanpa pernah tahu kenapa dan apa yang harus dilakukan
Ku sodorkan secangkir kopi hangat sebagai perkenalan
Berharap akan ada sepatah kata yang terucap dari mulutnya
Sebuah pertanda dia menerima kehadiran orang asing
Terlahir sendiri itu takdir tapi hidup sendiri itu pilihan
Namun orang asing tetaplah orang asing
Sekalipun tatapan itu seperti bukan tatapan orang asing
Apa yang dikatakan lewat tatapannya
Apa yang diinginkan lewat tatapannya
Hanya tetap menjadi praduga tak bersalah
Karena tak adaa yang protes jadi dianggap benar
Kini semua kembali sunyi
Pada akhirnya semua kan kembali pada titik
Akhir dari sebuah cerita
Akhir dari sebuah kalimat pula
Pelangi akan datang setelah hujan
Apakah kita menyalahkan hujan atas pelangi yang datang terlambat?
Penyesalan hanyalah sebuah sinonim
Dia ada hanya karena aku belum menerima
Dan masa itu telah lama berlalu
Sabtu, 12 April 2014
Jalanan Basah
Bukan untuk meninggalkan
Melupakan apa yang telah diucapkan
Hanya saja aku telah temukan sebuah alasan
Untuk tidak lagi berada disana
Dibawah tembok pembatas ini
Ku angkat kepala ini
Dan kami saling memandang satu sama lain
Hanya bisa memandang tanpa bisa berkata
Jarak itu semakin jauh
Perbedaan itu kian nyata
Rasa itu kian memudar
Harapan itu kian meredup
Semua orang juga menyadarinya
Alasan dia pergi kesana adalah sebuah pelarian
Yang dikemas rapi dalam berbagai alibi
Tapi mereka diam karena tak ingin mengganggunya
Rasa sakit itu memang nyata
Karena ini bukan negeri dongeng
Tapi kita tidak boleh menjadi orang jahat
Membalas kejahatan dengan hal yang serupa
Melihat dunia dari sisi yang lain
Sedikit berbeda dari apa yang biasa diketahui
Tak ada yang salah dengan semua itu
Karena tak semua sama dari apa yang dilihat
Seseorang memang tak pernah berarti
Saat dia pergi dan tak pernah kembali
Hanya alasan yang menjadikannya alibi
Hanya pandangan buruk yang ditinggalkan atas apa yang diucapkannya
Tanpa pernah kita tahu kenapa dan mengapa
Tanpa kita pernah peduli dengan hal itu
Yang penting aku dulu baru orang lain
Menuntut dan tak pernah dituntut
Jalanan kota masih basah
Segar dan harum masih khas dingin
Sama seperti hal itu
Semua masih jelas dan dingin
Tak semua bisa dikatakan
Tak semua juga pantas didengarkan
Persepsi dan asumsi menjadikannya jelas
Jelas untuk tiap pikiran yang mencoba memaknainya
Melupakan apa yang telah diucapkan
Hanya saja aku telah temukan sebuah alasan
Untuk tidak lagi berada disana
Dibawah tembok pembatas ini
Ku angkat kepala ini
Dan kami saling memandang satu sama lain
Hanya bisa memandang tanpa bisa berkata
Jarak itu semakin jauh
Perbedaan itu kian nyata
Rasa itu kian memudar
Harapan itu kian meredup
Semua orang juga menyadarinya
Alasan dia pergi kesana adalah sebuah pelarian
Yang dikemas rapi dalam berbagai alibi
Tapi mereka diam karena tak ingin mengganggunya
Rasa sakit itu memang nyata
Karena ini bukan negeri dongeng
Tapi kita tidak boleh menjadi orang jahat
Membalas kejahatan dengan hal yang serupa
Melihat dunia dari sisi yang lain
Sedikit berbeda dari apa yang biasa diketahui
Tak ada yang salah dengan semua itu
Karena tak semua sama dari apa yang dilihat
Seseorang memang tak pernah berarti
Saat dia pergi dan tak pernah kembali
Hanya alasan yang menjadikannya alibi
Hanya pandangan buruk yang ditinggalkan atas apa yang diucapkannya
Tanpa pernah kita tahu kenapa dan mengapa
Tanpa kita pernah peduli dengan hal itu
Yang penting aku dulu baru orang lain
Menuntut dan tak pernah dituntut
Jalanan kota masih basah
Segar dan harum masih khas dingin
Sama seperti hal itu
Semua masih jelas dan dingin
Tak semua bisa dikatakan
Tak semua juga pantas didengarkan
Persepsi dan asumsi menjadikannya jelas
Jelas untuk tiap pikiran yang mencoba memaknainya
Jumat, 11 April 2014
Edisi Bosan
Mulai merasa bosan dan ntah tak tahu ingin apa
Semua terasa datar dan biasa biasa
Sebuah kegiatan yang tak kunjung berbeda
Sebuah pertanda bahwa kita mulai jenuh
Beberapa tahun lalu
Hampir tiap hari kita membahas hal yang berbeda
Tak jarang juga terus membahas hal yang ssama dan berulang
Namun semua terasa berbeda dikala itu
Apakah karena status soal yang mulai berbeda
Atau kesibukan dan hidup yang memaksa
Atau memang perbedaan tak lagi mendapa tempat
Malah menjadi sebuah hal yang aneh dan perlu dihindari
Hari demi hari
Bulan demi bulan
Tahun demi tahun
Kian berganti tanpa pernah sedikitpun terlambat
Saat disana kita tak mendapatkan sebuah sambutan
Masih ada jalanan yang selalu setia menampung kita
Masih ada pinggir pantai yang siap mendengarkan kita
Masih ada puncak gunung yang memiliki segala jawaban
Semua pasti berbeda
Dan meninggalkan bukanlah sebuah jawaban
Tapi kita punya hal indah diluar sana
Jauh lebih baik dari bertahan yang sia-sia
Sampaikan pada siapa saja yang disayangi
Tentu kita tak ingin mereka merasakan apa yang tak perlu dirasakan
Agar rasa itu segera mati dan tidak menyebarkan keberadaannya
Karena selalu ada harap dalam setiap tatapan
Sebuah kebaikan yang tak terlihat
Sebuah pengorbanan yang tak terucap
Sebuah kerelaan yang tak tertulis
Tak akan menguap dengan sia-sia
Terkadang kita terlalu sombong dan arogan
Saat apa yang kita lakukan tak mendapat balasan yang pantas
Jika kita merasa sakit hati itu adalah tanda bahwa ego kita terlalu tinggi
Jauh sangat tinggi dari apa yang bisa kita lakukan
Seseorang tak akan mengerti saat masih bersama
Namun sebuah arti kebersamaan akan didapat ketika seseorang itu pergi
Dia yang mampu datang dan tak pernah pergi adalah dia yang harus kamu tangisi
Bukan dia yang tak pernah datang dan hanya pergi seenak hatinya.
Semua terasa datar dan biasa biasa
Sebuah kegiatan yang tak kunjung berbeda
Sebuah pertanda bahwa kita mulai jenuh
Beberapa tahun lalu
Hampir tiap hari kita membahas hal yang berbeda
Tak jarang juga terus membahas hal yang ssama dan berulang
Namun semua terasa berbeda dikala itu
Apakah karena status soal yang mulai berbeda
Atau kesibukan dan hidup yang memaksa
Atau memang perbedaan tak lagi mendapa tempat
Malah menjadi sebuah hal yang aneh dan perlu dihindari
Hari demi hari
Bulan demi bulan
Tahun demi tahun
Kian berganti tanpa pernah sedikitpun terlambat
Saat disana kita tak mendapatkan sebuah sambutan
Masih ada jalanan yang selalu setia menampung kita
Masih ada pinggir pantai yang siap mendengarkan kita
Masih ada puncak gunung yang memiliki segala jawaban
Semua pasti berbeda
Dan meninggalkan bukanlah sebuah jawaban
Tapi kita punya hal indah diluar sana
Jauh lebih baik dari bertahan yang sia-sia
Sampaikan pada siapa saja yang disayangi
Tentu kita tak ingin mereka merasakan apa yang tak perlu dirasakan
Agar rasa itu segera mati dan tidak menyebarkan keberadaannya
Karena selalu ada harap dalam setiap tatapan
Sebuah kebaikan yang tak terlihat
Sebuah pengorbanan yang tak terucap
Sebuah kerelaan yang tak tertulis
Tak akan menguap dengan sia-sia
Terkadang kita terlalu sombong dan arogan
Saat apa yang kita lakukan tak mendapat balasan yang pantas
Jika kita merasa sakit hati itu adalah tanda bahwa ego kita terlalu tinggi
Jauh sangat tinggi dari apa yang bisa kita lakukan
Seseorang tak akan mengerti saat masih bersama
Namun sebuah arti kebersamaan akan didapat ketika seseorang itu pergi
Dia yang mampu datang dan tak pernah pergi adalah dia yang harus kamu tangisi
Bukan dia yang tak pernah datang dan hanya pergi seenak hatinya.
Rabu, 09 April 2014
PEMILU = Pemilih Lugu
Hari ini adalah hari gambling indonesia
Gambling yang tersirat dalam demokratis
Sedikit dibuat berbeda dengan unsur unsur politik
Namun tetap gambling pada dasarnya
Setiap orang memiliki hak untuk memilih
Termasuk memilih untuk tidak memilih
Yang memilih belum tentu benar
Yang tidak memilih belum tentu salah
Jangan menyalahkan prinsip seseorang
Dengan prinsip yang kita memiliki
Macam prinsip kita MAHA benar saja
Mata kita tidak satu untuk melihat dari satu sisi
Terlanjur sakit hati mungkin dengan apa yang dikatakan gambling
Kita bukan penjudi yang baik
Makanya dulu dijajah sama belanda dan jepang
Karena mereka pandai dalam berjudi
Belanda punya poker
Jepang punya mahyong
Indonesia punya gaple (adopsi dari jepang)
Indonesia punya remi (adopsi dari poker)
Nasib negara kita ditentukan hari ini
Nasib desa kita dipertaruhkan hari ini
Nasib kita kelak dipengaruhi hari ini
Nasib anak kita esok dipastikan hari ini
Jika kita tidak ikut menentukan
Jangan protes karena tidak ikut andil
Jangan jadi manusia bayangan
Bersuara dibelakang tanpa menunjukkan diri
Nasib dirimu dititipkan orang lain
Segitu tak berharganya kah nasibmu hingga harus dititipkan rang lain
Apa hanya nafsu dan ego yang lebih berharga
Hingga 2 hal itu yang digenggam erat dibanding hal lainnya
Selamat malam indonesia
Apapun yang terjadi padamu
Aku akan tetap menjadi warga setia mu
Aku tak akan keluar negri hanya untuk meninggalkanmu
Masih banyak keindahan dalam kebobrokanmu
Masih banyak kebenaran dalam kesalahan pemimpinmu
Masih banyak masa depan cerah dibandingkan masa surammu
Tetaplah tersenyum INDONESIA ku
Gambling yang tersirat dalam demokratis
Sedikit dibuat berbeda dengan unsur unsur politik
Namun tetap gambling pada dasarnya
Setiap orang memiliki hak untuk memilih
Termasuk memilih untuk tidak memilih
Yang memilih belum tentu benar
Yang tidak memilih belum tentu salah
Jangan menyalahkan prinsip seseorang
Dengan prinsip yang kita memiliki
Macam prinsip kita MAHA benar saja
Mata kita tidak satu untuk melihat dari satu sisi
Terlanjur sakit hati mungkin dengan apa yang dikatakan gambling
Kita bukan penjudi yang baik
Makanya dulu dijajah sama belanda dan jepang
Karena mereka pandai dalam berjudi
Belanda punya poker
Jepang punya mahyong
Indonesia punya gaple (adopsi dari jepang)
Indonesia punya remi (adopsi dari poker)
Nasib negara kita ditentukan hari ini
Nasib desa kita dipertaruhkan hari ini
Nasib kita kelak dipengaruhi hari ini
Nasib anak kita esok dipastikan hari ini
Jika kita tidak ikut menentukan
Jangan protes karena tidak ikut andil
Jangan jadi manusia bayangan
Bersuara dibelakang tanpa menunjukkan diri
Nasib dirimu dititipkan orang lain
Segitu tak berharganya kah nasibmu hingga harus dititipkan rang lain
Apa hanya nafsu dan ego yang lebih berharga
Hingga 2 hal itu yang digenggam erat dibanding hal lainnya
Selamat malam indonesia
Apapun yang terjadi padamu
Aku akan tetap menjadi warga setia mu
Aku tak akan keluar negri hanya untuk meninggalkanmu
Masih banyak keindahan dalam kebobrokanmu
Masih banyak kebenaran dalam kesalahan pemimpinmu
Masih banyak masa depan cerah dibandingkan masa surammu
Tetaplah tersenyum INDONESIA ku
Masih Back To Lawu (again)
lanjutan kemarin-->
Jadilah orang yang idealis, namun jangan menutup diri terhadap perubahan
Tak ada yang sifatnya mutlak kecuali Tuhan yang Maha Sempurna
Suatu bahan yang jarang banget disampaikan diruangan dalam keadaan formal. Namun tidak untuk hari ini, diktat bukan lagi buku mantra yang wajib dibawa kemana-mana untuk menjawab sebuah pertanyaan. Saat dimana orang lain baru memikirkannya, kami telah melakukannya jauh sebelum hal ini dipikirkan orang lain. Kami adopsi hal ini dari dia yang tak pernah kami tahu namanya. Nilai bukanlah hal utama yang kami inginkan untuk menjadi bekal kehidupan. Level yang paling rendah adalah IQ (kita sebut IP saja biar enak dimengerti), lalu EQ (emotional) dan SQ (Spiritual). Jika kata orang dunia dan akhirat harus seimbang, maka aku termasuk yang tidak sepaham dengan hal itu (dosenku juga g sepaham yang ini) karena apapun yang dilakukan didunia bisa ditujukan untuk akhirat jadi kenapa kita harus membuat benteng untuk memisahkan mereka jika kita bisa membuatnya berjalan bersamaan.
Ada diantara mereka yang ingin berjalan bersama
Ada yang menunggu didepan dan meninggalkan yang lain
Ada yang menyamankan dirinya baru menyamankan orang lain
Ada banyak orang seperti itu disekitar kita
Sebuah pengakuan itu datang dari orang lain
Bukan dari diri sendiri karena merasa mampu
Diri ini terlalu sombong dan merasa hebat
Dan sakit hati saat apa yag diinginkan tak diperoleh
Kami belajar EQ dan SQ diluar bangku pendidikan karena hal ini tak pernah ada dibahas dan kurang penting karena tidak ada hitam diatas putih. Bersama dengan mereka yang bisa disebut makhluk lintas batas, ntah dari mana asalnya, ntah bagaimana bentuknya, ntah bagaimana caranya, tapi satu hal yang jelas adalah makhluk ini bukan kalkulator yang main itung-itungan dan bukan makhluk yang datang hanya karena sebuah kepentingan. Alasan itu lah yang membuatku nekad berangkat menyusul mereka yang telah jalan sejak tadi siang. Banyak hal yang yang tak mungkin dibahas satu per satu disini karena aku yakin tak akan ada habisnya dan capek juga terlalu mengumbar cerita seolah kalian percaya meski aku tak pernah peduli dengan hal itu.
21.30 (5 April 2014)
Tiba ditempat yang telah dijanjikan, terlihat dengan jelas wajah mana yang penuh harap, mana yang flat, mana yang ndak jelas. Tidak semuanya adalah orang yang mengakui kita, lantas kita mau apa? (woles aja men). Sampe tkp aja kaki sudah nggak sehat sebenarnya, secangkir kupi panas, sebatang rokok menemani ku prepare dan packing untuk memulai perjalanan. Yang lain hanya bisa mengitari seolah aku menjadi tontonan ditengah kedinginan mereka semua haahahhaha. Insiden kami sebelum sampai di tkp menjadi cerita pribadi untuk kami dan mereka yang menunjukkan wajah penuh harap saat kami datang (berle dikit gpp lah). Semua persiapan beres dan tinggal berangkat,
22.00
Perjalanan kita mulai dengan berdoa dan meminta keselamatan pada pemilik hidup. Romobongan memang sengaja kita bagi karena kami yang memang penikmat alam berbeda dengan mereka yang menyebut dirinya pendaki gunung jadi kami berada di paling belakang. Disinilah semua dimulai, sejak langkah pertama dimulai karakter asli telah muncul sekalipun kita menyangkal bahkan tidak mengakuinya. Kita tidak hidup dengan mereka yang sepaham saja tapi dengan mereka yang tidak sepaham juga jadi sukailah apa yang tidak kita sukai dimulai dari hal kecil ini
Dimana ada kawan pasti ada lawan
Dimana ada suka pasti ada benci
Sejak lahir kita memang diberi dua hal yang bertentangan secara bersamaan
Agar kita sadar bahwa kita harus belajar memaknai bukan menghakimi
23.45 (POS I)
Malam kian larut dan akan segera berganti tanggal, memang jauh dari apa yang ditulis namun tidak jauh dari apa yang diperkirakan. Dari sini kami telah sepakat untuk tidak menjadikan puncak sebuat target karena kami sudah dapatkan apa yang kami targetkan dalam perjalanan ini yaitu mengobati kerinduan. Tak berselang lama saat kesepakatan itu telah ditetapkan, mencari tanah lapang untuk tidur adalah jawaban yang telah disepakati.
Kerinduan adalah sebuah penyakit
Obatilah selagi obat itu ada didunia
Buat apa menyiksa diri karena malu dan ego
Siapa yang akan peduli dengan kerinduanmu selain dirimu
02.15 (POS II)
Disini kami memutuskan tidur dan tidak berjalan kepuncak seolah waktu tak lagi ada di hari esok. Banyak hal unik yang kutemukan disini, baik yang pertama atau yang kesekian dan sisi lain malam hari, sisi egois kabut gunung dan para penghuni lainnya disini. Sangat jelas terekam dalam memory saat dimana apa yang diucapkan dengan yang ditunjukkan itu berbeda seolah mencari pembenaran oleh siapa dan untuk apa itu hanya dia yang tahu.
08.30-11.30 (3 jam menuju mbok yem)
Sebenarnya aku ingin tinggal di pos untuk lebih mengobati rasa rindu ini, namun apalah daya karena memang tak ada yang peduli satu dengan lainnya saat keinginan telah terpenuhi. Mungkin jika aku tak membawa 2 orang saudara ku yang baru mungkin aku juga bakalan sama dengan yang lain. Hanya mereka berdua alasan aku menata hati dan niat untuk memastikan mereka menuntaskan apa yang menjadi target dan keinginan mereka. Dan alhamdulillah Tuhan mengizinkan kami untuk menuntaskan semua tujuan kami.
12.00 (puncak Lawu)
13.30-15.00(turun sampe pos II)
17.40 (Basecamp)
Tak semua bisa dibagi
Tak semua bisa dikatakan
Hanya bisa dirasakan untuk kita yang mengerti
Hanya bisa dimengerti bagi mereka yang peduli
The End
Senin, 07 April 2014
Back To Lawu (again)
Gugurnya sebuah janji adalah saat dimana janji itu sudah sampai jatuh tempo
Dan dia yang tak mau merealisasikannya
Sore itu, kita bergegas berangkat menuju tempat dimana kita berjanji untuk berkumpul dan berjumpa. Mengulas semua cerit lama, membuat cerita baru, dan merancang cerita masa depan kelak (bukan bakalan menikah). Namun kita memisahkan diri dari rombongan karena ada sesatu hal yang memang tak bisa kita tinggalkan. Nggak penting untuk diceritakan namun yang jelas sayangilah kedua orang tua kita selagi mereka masih ada, habiskan lebih banyak waktu bersama mereka (kalau bisa) dan jangan mengabaikan keberadaannnya.
Mereka yang berani meninggalkan zona nyamannya
Mereka yang bersedia mendaki gunung
Adalah mereka yang bersedia menunjukkan jati dirinya
Kepada semua orang dan juga kepada dunia
Mendaki bukan soal puncak
Bukan tentang target atau modus
Mendaki soal menikmati
Melainkan merindu dan bercumbu dengan hangat dalam dingin
Secangkir kupi
Sebatang rokok
Secarik kisah lama
Menu utama dalam perjalanan kali ini
Berjalan berdua menuju lokasi yang telah ditetapkan yaitu basecamp cemoro sewu Gn Lawu di Magetan. Memang bukan jarak yang jauh karena kami sudah biasa melaluinya dulu saat kami masih muda tapi beda cerita untuk kali ini. Terakhir aku kesini sekitar sebulan yang lalu hanya untuk merasakan ngupi disini tengah malam. Awalnya kita pikir semua berjlan lancar tapi dasar manusia yang takabur sejak lahir. Tuhan berkata lain untuk kali ini, memberikan kami cerita plus lagi (terakhir dapat cerita plus itu 2 tahun yang lalu di bandung, 3 tahun lalu disemarang ). Mungkin hanya kami yang memiliki cerita ini, dan orang lain hanya bisa tertawa seolah tak percaya dan mereka tak pernah bisa merasa dalam benak khayal mereka.
Tuhan selalu memberikan masalah dengan solusinya
Terkadang apa yang tak sengaja terucap juga masuk dalam ujiannya
Kita sendiri juga sudha lupa dengan apa yang diucapkan
Tapi itulah hidup yang selalu penuh kejutan
Ini tentang apa yang kita inginkan
Dari mereka yang menginginkan kita
Setidaknya saat mereka tidak sepaham dengan kita
Mereka tidak menghalangi jalan kita
Berkunjung lagi untuk mengenang
Kembali untuk menyapa
Sebuah kenangan yang tak ingin ku ganti
Dengan kenangan lainnya
Andai engkau ada disini
Hanya tetap menjadi sebuah perandaian
Tanpa bentuk nyata dan jelas
(Lagi ngelamun diatas batu)
2 tahun lalu, kami pernah mengumpat dan menghujatnya. "g bakal mau aku balik lagi kesini" kata yang pernah kita lontarkan bersama saat pergi kesini. Tapi ntah kenapa kita harus menelan ludah kami sendiri bahkan mnjilat kembali. Kali ini bukan karena lawu tapi demi mereka yang telah berangkat lebih dahulu, ada 2 orang keluarga baru ku dan orang tua yang ingin menjenguk mboknya setelah 8 tahun tidak berkunjung.
Tiap pendakian memiliki moment bersamanya
Berbeda itu pasti dan tidak akan sama
Tidak untuk menggantikan
Melainkan untuk melengkapi
Saat dimana tak ada yang peduli
Keinginan diri adalah jawaban untuk peduli
Siapa lagi yang akan peduli pada kita
Jika bukan diri kita sendiri
to be continued
Kamis, 03 April 2014
Tidak Semua Sama
Kita terlahir dengan ukuran cara berfikir yang berbeda
Kita juga tak selalu memberikan respon yang sama
Atas apa yang kita terima
Atas apa yang orang berikan ke kita
Aku menolak disama ratakan
Aku menolak dianggap sama
Aku menolak menyamakan diri
Karena sejak lahir kita terlahir berbeda
Aku memang bukan orang baik
Lantas kalian tak mengakuiku
Aku nggak peduli dengan hal itu
Aku hanya peduli dengan mereka yang peduli
Waktu kita sering habis sia-sia
Untuk orang yang kita pedulikan namun tidak sebaliknya
Menunggu sebuah kesadaran tanpa batas waktu
Orang hidup aja ada batasnya lantas kenapa hal sia-sia ini tidak dbatasi
Awalnya aku merasa betapa bodohnya orang itu
Apa yang diinginkannya
Apa yang dirasakannya
Apa itu hal terakhir yang dilakukannya
Alasanku memilih bertahan
Aku tidak ingin melewaatkn tingkah lakunya
Saat ku mulai menorehkan sebuah tinta diatas kertas
Pertanda alami bahwa aku sedang memikirkannya
Manusia sekarang memang termanjakan oleh jaman
Saat lahir semua kebutuhannya sudah ada
Beranjak dewasa ada kebutuhan baru dan sudah terpenuhi
Saat ini semua yang dirasa butuh harus terpenuhi
Memilih yang sesuai dan menyampingkan yang tidak
Aku tak akan menjadi orang baik hanya untuk bisa dianggap ada
Sama halnya dengan menjadi palsu hanya untuk dilihat
Menggadaikan diri untuk bisa bersama orang lain
Saat tidak menemukan kenyamanan
Pergilah dan manjauhlah
Disitu bukan tempatmu
Disitu bukan jalanmu
Jangan janjikan apapun terhadap dirimu
Jika itu hanya ingin membuatnya senang
Memalsukan diri bukan lah jawaban
Menyamakan semuanya bukan lah logis
Kita juga tak selalu memberikan respon yang sama
Atas apa yang kita terima
Atas apa yang orang berikan ke kita
Aku menolak disama ratakan
Aku menolak dianggap sama
Aku menolak menyamakan diri
Karena sejak lahir kita terlahir berbeda
Aku memang bukan orang baik
Lantas kalian tak mengakuiku
Aku nggak peduli dengan hal itu
Aku hanya peduli dengan mereka yang peduli
Waktu kita sering habis sia-sia
Untuk orang yang kita pedulikan namun tidak sebaliknya
Menunggu sebuah kesadaran tanpa batas waktu
Orang hidup aja ada batasnya lantas kenapa hal sia-sia ini tidak dbatasi
Awalnya aku merasa betapa bodohnya orang itu
Apa yang diinginkannya
Apa yang dirasakannya
Apa itu hal terakhir yang dilakukannya
Alasanku memilih bertahan
Aku tidak ingin melewaatkn tingkah lakunya
Saat ku mulai menorehkan sebuah tinta diatas kertas
Pertanda alami bahwa aku sedang memikirkannya
Manusia sekarang memang termanjakan oleh jaman
Saat lahir semua kebutuhannya sudah ada
Beranjak dewasa ada kebutuhan baru dan sudah terpenuhi
Saat ini semua yang dirasa butuh harus terpenuhi
Memilih yang sesuai dan menyampingkan yang tidak
Aku tak akan menjadi orang baik hanya untuk bisa dianggap ada
Sama halnya dengan menjadi palsu hanya untuk dilihat
Menggadaikan diri untuk bisa bersama orang lain
Saat tidak menemukan kenyamanan
Pergilah dan manjauhlah
Disitu bukan tempatmu
Disitu bukan jalanmu
Jangan janjikan apapun terhadap dirimu
Jika itu hanya ingin membuatnya senang
Memalsukan diri bukan lah jawaban
Menyamakan semuanya bukan lah logis
Langganan:
Postingan (Atom)