Sabtu, 24 Mei 2014

Surat Untuk Tuhan

24 Mei 1992

Hari itu hari minggu, hari dimana giliran diriku dan saudara-saudaraku diijinkan mesuk kedunia ini. Aku adalah gadis yang Engkau berikan kehidupan dan waktu untuk bisa merasakan apa yang disebut Dunia. Aku dilahirkan dalam keluarga yang sangat menarik dimana ibuku adalah anak tunggal, begitu juga dengan nenek dan buyutku yang lainnya. Usiaku kini mencapai 22 tahun andai aku masih hidup dan aku kembali lebih awal 5 tahun yang lalu tepatnya tahun 2009. 

Terlahir sendiri memang sebuah takdir
Namun tumbuh dan berjalan sendiri itu adalah sebuah pilihan
Aku tak mengenal siapapun
Aku tak tahu apapun sebelumnya

Apakah ini yang dinamankan keberuntungan
Hingga semua orang menginginkan apa yang diberikan padaku
Apakah ini yang disebut kebahagiaan
Hingga semua orang ingin merebutnya dariku

Ambillah jika kalian menginginkannya
Itu hanyalah sampah yang terbuat dari emas
Memang indah, berkilau dan mahal
Namun disitulah kegunaannya sebagai sampah

Sejak aku membuka mata untuk pertama kali, sejauh mata memandang hanya ada harta, kekayaan dan barang mewah. Tapi aku tak mengenal apa yang orang lain sebut cinta, kasih sayang, bahagia dan kusadari bahwa hal itu tak bisa kubeli dan kutukar dengan apa yang orang tuaku miliki serta apa yang Tuhan berikan padaku. Saat itu aku merasa Tuhan Maha Adil itu nggak benar hingga saat ini baru kusadari setelah kulihat sendiri dengan mata ini dan dari atas sini. Apa yang tuhan berikan padaku saat itu tidak akan kudapat meski aku bekerja selama 100 tahun kelak, namun pemberian itu memang diberikan diawal agar aku bisa merasakannya tanpa perlu bekerja keras selama itu. Tuhan memang tak mengijinkanku terlalu lama karena banyak orang jahat yang tak menginginkan keberadaanku.

Apa yang kulakukan hingga mereka membenci kehadiranku
Aku tak mengenal mereka semua
Aku hanya ingin merasakan bahagia, dicintai dan mencintai layaknya orang normal
Apa permintaan ku terlalu berlebihan dibandingkan harta yang Engkau berikan

Tuhan Maha Adil dan kini aku percaya
Rencanaya jauh lebih indah dari yang kubayangkan
Apa yang ditunjukkan hanyalah sebagian kecil dari endingnya
Yang buruk bukan berarti tidak baik

Yang kusesali adalah aku terlambat menemukan bahagia lebih cepat
Mendekati akhir waktu baru kutemukan sebuah arti bahagia dari dia
Dia yang tak pernah kutemui, tak pernah kudengar suaranya
Dia yang memberiku cinta, kasih sayang dan bahagia yang orang lain sebut-sebut

Terima Kasih Tuhan atas kesempatan darimu untuk sejenak merasakannya


Rabu, 21 Mei 2014

Peraturan Itu Kita Yang Buat

Gelas hanyalah sebuah tempat untuk minum
Hujan hanyalah tetasan air yang turun dari langit
Kamu hanyalah sekumpulan daging yang bernama
Dan aku sedikit berbeda denganmu yang disana

Hanya karena menganal sekian tahun
Bukan berarti kita mengenalnya selama itu
Kita memang dekat namun jangan dipikir kita sedekat itu (peraturan pertama)
Mau bagaimana pun jika kita terlahir di waktu yang berbeda

Mereka yang hanya bisa menerima kebaikan
Adalah mereka yang berteman dengan cara menfaatkanmu
Cepat atau lambat mereka jug akan pergi
Mereka yang tinggal ada lah mereka yang tak bisa menerima kebaikanmu cuma-cuma (peraturan kedua)

Apa yang diciptakan lidah ini
Adalah sebuah jebakan
Pastikan jebakan itu bisa kita lewati (peraturan ketiga)
Dan jangan sampai mempercundangi diri sendiri

Aku tak peduli dengan apa yang mereka pikirkan
Aku hanya peduli dengan apa yang mereka katakan (peraturan keempat)
Aku bukan para normal yang bisa membaca pikiran seseorang
Namun aku bukan batu kok yang akan tutup telinga dengan komnetar

Sebuah kesalahan dan kebenaran itu dikoreksi diakhir
Dan bisa saja hasil itu berubah seiring waktu yang berjalan
Memarahi hasil bukanlah sebuah cara bijak (peraturan kelima)
Dan aku pernah gagal dalam menerapkannya

Setidaknya aku pernah memiliki seseorang dibelakangku
Dia yang bisa mnejadi tempat meminta sebuah jawaban
Dia yang menjadi tujuan terdekat untuk urusan mendesak
Dia juga yang menjadi alasan untuk merasa memiliki saudari

Ketidakdewasaan hanyalah sebuah ungkapan
Tak ada form khusus untuk menilai seseorang telah menjadi dewasa
Mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sudah lama ditinggalkan
Dan menjadi tidak dewasa itu katanya menyenangkan

Tak perlu menjadi dewasa agar bisa menjadi anak-anak
Tak perlu memikirkan dunia mana yang akan dihadapinya
Selama masih bisa tersenyum untuk esok berarti semua akan baik-baik saja
Selama masih bisa bermimpi maka masih ada yang dikerjakan untukhari esok

Marahalah jika ingin marah
Bencilah jika ingin benci
Pergilah jika ingin pergi
Karena hidup bukan hanya disini, saat ini dan untuk hal ini

"Janjilah pada diri bahwa hidup ini untuk dinikmati dan bukan untuk diratapi.
Semua sudah direncanakan jauh lebih indah dibanding apa yang ditunjukkan"

Apalah INI

Setiap yang datang pasti akan pergi pada akhirnya
Seperti mereka yang akan terus silih berganti dnegan mereka yang lainnya
Sebuah alasan untuk tetap belajar
Memahami mereka yang pergi dan mereka yang akan datang sebentar lagi

Ntah apa yang mereka cari dari sini
Sebuah coretan yang bisa kusebut sampah miliku
Apa mereka menjadi pemulung didunia maya
Karena malu menjadi pemulung didunia nyata

Kepala ini terasa sangat berat
Disaat badan tak lagi kompromi
Disaat itu puola semua mulai pergi
Diuji disaat ketidakberdayaan seorang manusia

Memang kita akan diuji pada saat dua waktu
Saat kita dalam tak berdaya
Saat kita memiliki segalanya
Sejauh mana kita akan belajar bersyukur karenanya

Jangan batasi pikiranmu
Namun jangan biarkan dia terlalu ngawur dan liar
Banyak hal yang tak bisa dijelaskan
Namun cukup dimengerti dengan kata IYA

Jika ada yang bertanya tentang apa yang ada dipikiranmu
Jawablah dengan lantang dan jelas
Aku memikirkan apa yang akan kalian pikirkan 5 tahun dari sekarang
Aku tak ada waktu menggalaukan apa yang kalian rasa saat ini

Kepala ini terasa aneh untuk digunakan
Seolah ingin dipindahkan sejenak
Agar bisa merasakan ringan
Atau sekedar melupakan sesuatu

Jangan sekali-kali melupakan sejarah (kata bung karno)
Masa lalu jangan dibiarkan berlalu begitu saja (kata lamload)
Karena diri kita yang sekarng akibat apa yang terjadi dimasa lalu
Tak adakah rasa terima kasih yang kita berikan padanya hingga ingin melupakan

Buruk atau baik semua adalah proses
Namun sayang pembenaran atas ujian tidak diberikan diawal
Hasil selalu diberikan dibelakang dan itu yang menentukan segalanya
Padahal hasil tanpa proses hanya sebuah formalitas

Sebuah pengguguran atas kewajban yang menjadi beban
Beban yang diberikan dan bukan beban yang diiginkan
Berawal menjadi keterpaksaan
Dan berakhir menjadi perbudakan yang menjadi kewajaran

Rabu, 14 Mei 2014

Sia-Sia Katanya

Kubenamkan kepalaku kedalam bak mandi ukuran 1 meter persegi, rasa jenuh kian menusukku dan panas kian menjamahkku. Hari yang tak menyenangkan sama sekali dan sangat monoton. Bagaimana mereka bisa hidup dalam keadaan seperti ini, seprti robot dan sapi perah yang dimanfaatkan untuk sebuah tujuan yang tidak diketahui. Para penguasa yang duduk bersila dengan secangkir kopi dan bacaan tiap paginya hanya untuk hiburan dalam menemani pekerjaannya yang hanya menunggu waktu pulang kerja datang.

Aku memang kurang beruntung dari mereka karena lulus duluan <-- kata yang pernah terucap dariku dikala aku tak bersyukur atas kelulusanku. Dan disaat ini aku masih disini tanpa adanya mereka yang menjadi alasan untuk berkata seperti diatas tuh rasanya gimana gituh. Sama halnya dengan kita meluangkan waktu untuk sebuah janji, janji itu tak lagi dianggap ada untuk ditepati. Mungkin terlihat sia-sia tapi pasti ada sebuah kegunaan dibalik kesia-siaan.

3 hari sebelumnya...
Cuaca yang terik namun tak kunjung hujan, padahal akan sedikit berasa adem jika hujan turun meski hanya bebrapa liter tiap detiknya. Kuhabiskan beberapa puluh menit hanya untuk menikmati sebatang rokok yang ku bakar dan mereka yang lalu lalang tanpa peduli siapa yang ditemui, siapa yang dikenalnya atau siapa yang tak ingin dikenalnya, tak ada bedanya diantara ketiga hal itu. Selama mereka tak berkurang kenyamanannya, mereka tak akan membuang-buang waktu dan tenaga hanya untuk sekedar bertegur sapa. Seperti inikah orang-orang yang ku kenal dulu saat pertama kali membuka gerbang sekolah ini?

Malam hari saat tanggal itu....
Kebosanan dan kejenuhan kian melebihi ambang batas
Haruskah ku setting ulang ambang batasnya
Atau memang harus segera meninggalkannya
Ntah mana yang baik nantinya

Apa yang kucari dahulu kala
Telah kutemukan dengan segala yang kubutuhkan
Namun berbicara tentang cukup atau kurang
Tergantung kapasitas kita mampu menelaahnya

Ibarat lagi makan
Sampai kapanpun kita tetap melakukan makan
Namun apakah hanya untuk makan kita hidup
Masih banyak yang bisa dilakukan selain makan

Berguna atau tidak
Bermanfaat atau tidak
Setidaknya melakukan hal yang sia-sia adalah lebih baik
Dibandingkan pada diam dan menyia-nyiakannya

Semua yang bergerak dari tubuhku dianggep aneh
Terlalu eksentrik untuk dikomentari setiap inchinya
Terlalu mencolok untuk diabaikan setiap gesernya lokasi tubuh
Atau malah terlalu nggak berguna hingga setiap caranya terabaikan

Thomas Alpha Edison pernah berkata
"karena ada ribuan cara sia-sialah yang membuatnya gagal dan menemukan sebuah bohlam lampu"
<jadi jangan takut jika apa yang dilakukan nanti akan terasa sia-sia>

Plato
"pengalaman hanyalah sebuah ingatan dan memory atas apa yang dialaminya didunia"
<sesuatu yang diingat akan jauh lebih cepat hilang dibandingkan dengan apa yang dirasa, hal yang sering kita sebut dengan kenangan>

Aristoteles
"tingkat realitas tertinggi adalah apa yang tertangkap oleh alat indera manusia"
<terkadang kita memang menangkap apa yang dikatakan dan bukan apa yang dimaksud
karena indera manusia berbatas pada pesepsi subyektif>

Minggu, 11 Mei 2014

Aku Memang Lari Darinya

Ini tentang kamu, gelas dan puncak yang disana (Lagi)

Alasan aku tak ingin mengulanginya hanyalah karena aku tak ingin menggantikan kenangan yang pertama dengan kenangan lainnya. Sebuah kata yang diberikan sesepuh Teknik Lingkungan yang telah kembali ke tanah kelahirannya diborneo sana. Salam hangat dari kota indah Yogyakarta. Dan itu yang kulakukan meski aku berada ditempat yang sama berulang kali. Jarang bicara tentang ketinggian yang telah dicapai denganku karena ketinggian hanya tentang angka nominal, bukan tentang kehebatan apalagi keangkuhan dari apa yang telah kita capai. Diatas langit masih ada langit, dibawah tanah masih ada yang jauh lebih dalam. Lantas darimana keangkuhan itu kita dapatkan? Apakah itu sebuah warisan dari mereka yang menjadi kiblat kita?

Kronologis mungkin sama
Tapi moment tak mungkin terulang
Secangkir minuman yang sama dengan rasa dingin yang sama
Namun kehangatannya jelas sangat berbeda

Puncak memang pelipur lara
Sambutannya memalingkan pikiran
Terlalu indah untuk berpaling
Terlalu hangat untuk diabaikan

Saat dimana ego menjadi opsional
Memiliki semua ini tanpa ingin berbagi
Padahal pemilik sah tak berharap pamrih dariku
Lantas apakah aku harus berharap pamrih darimu?

Bermodalkan cahaya bulan dan beberapa batang lilin yang dipotong kecil-kecil agar bertahan hingga esok pagi menjelang waktu yang dinantikan tiba diatas sini (bacanya puncak ini). Berbagi dalam kesederhanaan dibawah langit berbintang tadi malam yang jika kalian perhatikan banyak dari mereka yang turun karena ingin bergabung dengan kita kawan (bacanya bintang jatuh). Rasa kecewa ini sudah terlalu dalam atas waktu yang telah diluangkan, atas janji yang telah diabaikan, atas tanggung jawab yang telah kugadaikan berharap belajar keadilan atas apa yang diucapkan. Benar kata orang bahwa keadilan sejati hanya ada dilangit, yang ada dibumi hanyalah kepalsuan saja.

10-11 Mei 2014 di Gn. Andong (1726 mdpl)
Mungkin kalian tak mengenal tempat ini karena dulu memang tidak terkenal dan bahkan desa tetangga setahun yang lalu nggak ada yang kenal dengan namanya. Kupikir tempat ini masih sepi seperti setahun yang lalu tapi ternyata 6 bulan terakhir sudah ada basecamp dan sudah menjadi tempat pendakian sama seperti Gn. Merbabu dan Gn. Merapi (diselatan), Gn. Sindoro dan Gn. Sumbing (dibarat), Gn. Telomoyo (di timur), dan terakhir Gn. Ungaran (diutara). 

Aku adalah orang pertama yang datang tadi malam karena memang ingin mencari spot terbaik menikmati sunsite dan sunrise, namun sunsite.nya tak menunggu kami yang terjebak macet dijalan ahhhhssuuuuudahlah. Tiada rotan akarpun jadi, dimana nggak ada sunsite maka sunrise pun boleh setidaknya itu alasan yang paling logis untuk menghibur diri. Mereka adalah anak kampung sawit (anak desa situ maksudnya), usia mereka antara 10-14 tahun. Mereka adalah pemain jaranan (budaya tradisonal jawa) dan dari merekalah aku belajar banyak semalaman.

Apa itu kebersamaan dalam perbedaan
Apa itu kenyamanan dalam ketiadaan
Apa itu kenikmatan dalam pemberian
Apa itu kebodohan dalam persetujuan

Saat dimana usia bukan lagi hal yang membatasi keinginan untuk tertawa
Ditanggalkan semua kasta dan jabatan yang dibawah sebelum naik ke atas
Saat dimana kekayaan tak lagi dipandang sebagai tanda untuk penguasa
Tak ada lagi pembeda bagi kita semua yang berada disini (IYA DISINI kata dod*t)

Tawa yang tak ditemukan dikampus
Kejujuran yang tak ditunjukkan dikampus
Kebahagiaan yang terpancar dari kesederhanaan mereka
Diimbangi dengan lagu melankolis yang terselubung dalam ayat suci alquran yang mereka lantunkan.

Sejak awal kedatangan mereka sudah membuatku terhibur dan tertawa, bukan meremehkan lho yah. Mereka datang setengah jam setelah kami tiba dan langsung membuat lubang untuk mnancapkan tiang untuk mendirikan tenda tanpa memikirkan arah angin akan datang. Sebuah tenda yang dibuat hanya dari terpal untuk melindungi mereka dari hujan (saja) dan bukan dari angin bahkan rasa dingin. Umur segitu aku masih jalan kesana-kemari mencari kesenangan jalanan. Mereka membangun tenda seadanya dengan cara semampunya namun tertawa, tersenyum dan saling memaki dengan bersamaan. Menyalakan petasan untuk memecah kesunyian dari atas sini adalah cara mereka menarik perhatian sang malam.

" Lari dari kenyataan memang bukan jawaban tapi hal itu adalah solusi untuk bisa
menyiapkan sebuah jawaban terbaik suatu saat nanti "

Rabu, 07 Mei 2014

Keterpaksaan bukan Dipaksakan

Ini tentang kamu, gelas dan puncak yang disana

Berawal dari sebuah keterpaksaan untuk berangkat kesana. Hanya demi sebuah janji yang bisa dibilang nggak sengaja saat itu. Terkadang apa yang kita ucapkan baik sengaja atau tidak, serius atau bercanda akan dianggap sebauh janji yang harus ditepati suatu hari nanti. Dan itulah awal mula sebuah keterpaksaan. Tak ada alasan untuk bergerak namun apa daya semua telah terjadi. Jumat malam 21.00, dengan berat hati ku coba menerima kenyataan bahwa janji itu harus tetap ditepati. Ntah dengan siapa dan akan jadi seperti apa tidak kupikirkan sama sekali, yang jelas aku harus membawa mereka semua pulang tanpa kurang satu hal apapun itu. Ternyata Tuhan memberikan rencana dibalik keterpaksaan ku,

Bertemu dengan orang baru bukan hal baru lagi untukku
Tinggal diterasingan bukan lagi hal yang aneh
Aku tak akan bergerak bila tak merasa nyaman
Atau memaksa nyaman demi sebuah kemaslahatan umat

Bertemu dengannya yang berasal dari dunia antah berantah, sangat jelas terlihat dari matanya. Dia tinggal dalam sangkar yang hanya seluas jangkauan matanya. padahal Dunia itu jauh lebih luas dari seluruh jangkauan pasang mata yang ada dibumi. Tak ada yang ku spesialkan untuk mereka karena tak ada satu pun yang ku kenal kecuali dia yang sengaja ku ajak untuk menemaniku berangkat jadi semisal aku malas akan ada yang menjadi penggantiku untuk terus berjalan menemani mereka semua. Melalui perjalanan dengan seseorang yang dibonceng tanpa diiringi sebuah percakapan basa basi busuk tidak lah afdol karena kita terlalu arogan jika melakukannya.

Dia beruntung bertemu denganku
Sebuah kesalahan dan kebenaran dalm satu wadah
Sebuah keanehan dan keunikan dalam satu wujud
Minimal menjadi sample dari sekian contoh yang ada

Ntah apa yang dipikirkannya, aku tak peduli
Ntah apa yang dirasakannya, aku tak tahu
Ntah apa yang diamatinya, aku tak mau tau
Dia seperti anak kecil yang dilepas ke halaman, haus akan rasa ingin tahu

Dia memang lahir lebih dulu dariku dan baru saja ulang thaun kemarin meski aku lupa tanggalnya yang jelas kini ia semakin tua dan jarak usia semakin melebar. Sejak kecil aku hidup disegala kalangan usia tanpa membatasi diri namun tetap menghormati sesuai jauh dekatnya jarak umur diantara kita. Namun dia ternyata adalah sisa-sisa dari kehidupan yang ada, semua kebebasan, keinginan, harapan telah didominasi oleh saudara-saudaranya yang terlahir lebih awal. Mungkin itu adalah takdir seorang anak terakhir (aku juga anak terakhir tapi g gitu-gitu amat jadi itu hanya persepsi SUBYEKTIF). Tentukan keinginanmu dari sekarang dan apapun yang terjadi jangan pernah keinginanmu berubah karena akan ada cobaan atas yang kamu inginkan sampai keinginan itu terwujud.

Tuhan hanya menunda keinginan kita
Memberikan keinginan lain untuk melupakan keinginan awal
Menguji seberapa kuat keinginan kita saat itu
Karena keinginan berbeda dengan kemauan

Saat keinginan tak begitu kuat
Akan mudah berpaling
Akan mudah berganti
Seiring berjalan waktu akan terlupakan

Keteguhan memegang keinginan
Mewakili kekuatan kita mempertahankan keingiinan
Semakin kuat berarti semakin teguh
Semakin lemah juga semakin plin plan

Tiba di  lokasi transit mulai berasa
Apa yang selama ini kurindukan
Apa yang selama ini kuinginkan
Tersembunyi dibalik keterpaksaan yang tadi ternyata

Jangan membenci hal yang tak diketahui hanya karena tidak menyukainya
Jangan bermain persepsi dalam membuat kesimpulan imajinasi
Jangan menolak jika memang menginginkanya
Jangan berjalan jika hanya ingin berhenti dan berbalik jika tak sepaham

AKUrapopo

Ntah rasa kecewa atau sakit yang pernah dirasa
Yang jelas, bekasnya teramat sangat dalam
Bekas yang tak mungkin hilang
Rasa sakit yang akan selalu terasa

Kalian tak akan pernah tahu
Kalian tak melihat meski ada mata kalian terbuka disana
Kalian tak mendengar meski telinga kalian terpasang disana
Kalian tak merasa karena hati kalian bukan disana

Kami memang bukan peletak batu pertam
Kami juga bukan pembuka jalur pertama
Tapi kami pernah menjadi kuli bangunannya
Dan keringat, darah, waktu dan tenaga ada didalamnya

Kita tidak akan hitung-hiitungan
Karena kita tidak pandai dalam urusan itu
Kita tidak akan ungkit-ungkitan
Karena bukan kita yang berhak membahasnya

Ku pikir kalian terlalu pintar atau terlalu bodoh
Ntah mana yang paling benar diantaranya
Melakukan semua sendiri tanpa informasi
Atau mengabaikan informasi demi mandiri

Berapa kali harus dikatakan
Diatas langit masih ada langit
Sebelum ada kita, merekalah yang pernah ada disana
Wajar jika mereka mengerti dan bukan sok tahu

Aku pantang menjilat ludah sendiri
Sekali berkomitmen maka itulah menjadi pegangan
Sekalipun tak lagi berada dalam rumah yang sama
Tak lagi bekerja dengan orang yang sama

Impian kita terlalu mewah dikala itu
Membuat dunia sendiri dengan cara sendiri
Jangankan dunia, membangun rumah aja belum benar
Hanya karena mampu mendirikan sebuah tiang bukan berarti mampu membangun rumah

Tak semudah kelihatannya
Memikirkan jauh lebih mudah dari mengucapkannya
Mengucapkan jauh lebih ringan dari melakukannya
Niat tanpa proses tak akan menjadi hasil yang baik

Jika kalian protes, katakan pada yang ingin diprotes
Jika kalian menuntut, sampaikan pada mereka yang ingin kalian tuntut
Teknologi memang memfasilitasi operator untuk menyampaikan
Bukan berarti kalian akan berpangku tangan atas apa yang kalian inginkan

Senin, 05 Mei 2014

"Setidaknya kearoganan mereka menguntungkan ku"


"Setidaknya kearoganan mereka menguntungkan ku"

Aku bukan penemu layaknya orang hebat diluar sana
Aku hanya belajar memaknai apa yang mereka mau
Dari sudut pandang perspektifku
Dan tentu saja cara subyektifku

Terserah ingin disebut dengan apa
Hitam kah, Putih kah, Abu-abu kah
Sendiri itu bukan berarti sebatang kara
Bersama juga bukan berarti banyak orang

Jangan terlalu cepat memutuskan
Selalu ada jawaban bagi mereka yang bertanya
Selalu ada cahaya juga disetiap gelapnya malam
Selalu ada tangan yang siap mengangkatmu

Entah sejak kapan rasanya hingga hampir lupa
Namun semua terasa baru saat aku kembali mengingatnya
Syukur barang-barang peninggalannya tak lagi kugunakan
Hanya sisa buku kosong yang ia tinggalkan untukku

Keinginan itu kian anarkis
Kemauan itu kian brutal
Tapi tembok pembatas masih jelas tak mampu dilewatinya
Berteriaklah hingga keinginan itu tak lagi terdengar

Aku tahu ini salah
Tapi aku tak akan belajar benar tanpa adanya salah
Kesalahan bukan sebuah tulisan merah dirapot dikala aku SD
Dia adalah jalan benar yang tak sempat dibuktikan

Aku tak pernah mau kehilanganmu
Begitu juga dengan mereka yang tak ingin kehilangan perhatianmu
Aku tak bisa mengingat kapan tanggal bahagiamu
Bagimu bahagia bukan berarti tanpa ada duka yang datang bersamanya

Aku berharap hujan layaknya malam itu dipinggiran kota
Sangat deras hingga tak ada yang saling memperhatikan
Kecuali mereka yang saling berebut jalan untuk segera sampai kerumah
Tak akan ada yang memperhatikan tingkah lakumu

Hujan akan membersihkan darah akibat luka ini
Tanpa ada yang tahu bahwa air hujan telah tercemar
Mereka hanya melihat air hujan yang akan jatuh
Bukan tetesan hujan yang telah sampai dibumi

Minggu, 04 Mei 2014

Untuk Ayah

"Sabar adalah hal terbaik yang bisa dilakukan saat tak bisa melakukan apapun"

Ayah...
Mengapa pensil ini sulit menggambarkan wajah tampanmu diatas kanvas
Mengapa untuk menulis tentangmu pun, tanganku kian kaku
Padahal semua telah kau berikan untuk anakmu ini

Aku tahu engkau pemalu...
Engkau malu mengatakan aku lelah saat kami menyambutmu didepan pintu.
Engkau malu mengatakan tidak ada saat kami diam-diam iri pada anak tetangga
Engkau malu mengatakan lapar saat kami masih ingin menambah lauknya

Tapi umur tidak bisa berdusta ayah
Sekuat apaun pengabdianmu terhadap keluargamu
Umur tetap akan mbuatmu tersungkur...
Tapi mengapa kau tak pernah mau untuk jujur..
 
Sementara dari bahasa tubuhmu saja, dia lelah dengan perjuanganmu..
Saya tahu itu sakit ayah..
Saya pun kian malu dalam wujudku
Saya...saya...ingin memnjadi dirimu ayah...
‪#‎Tercipta‬ setelah kudengar suaranya mlalui telfon... (by Taufiq Ahmad)

Bertatap muka denganmu tak lagi mudah
Bercanda denganmu tak lagi lama
Bahkan nyaris ku lupakan bahwa engkau yang menghidupiku selama ini
Sibuk menghabiskan kesenangan ditempat ini

Maafkan aku ayah
Maaf... Maaf.. dan Maaf
Aku tak kunjung selesai disini bukan berarti aku betah disini.
Aku hanya tak ingin engkau akan lebih terbebani kelak saat usiaku tak lagi bisa dihitung dengan jari
Kerinduanmu yang begitu dalam pada putramu
Akan jauh lebih dalam jika aku adalah putri bagimu
Engkau takut menggangguku hingga menunggu aku menghubungimu lebih dahulu
Menatap telepon dengan penuh harap berharap akan ada kabar dari kami putra putrimu

Engkau bangun sebelum kami bangun
Mempersiapkan kebutuhan kami tiap hari
Engkau tidur setelah kami terlelap
Berharap kami mendapatkan semua hari ini

Engkau berangkat sebelum kami sempai melihat wajahmu
Dan engkau terkadang pulang setelah kami tertidur hingga kami tak sempat melihat wajah lelahmu
Engkau tak ingin kami melihatnya
Taku kami khawatir akan keadaanmu

Terakhir aku mencium tanganmu
Kulitmu tak lagi mulus seperti dahulu
Terakhir kupeluk tubuhmu
Tak kurasa kekarnya badanmu yang dulu

Ayah adalah orang yang kuinginkan bangga dengan apa yang kujalani
Ayah tak akan meminta namun kitalah yang harus mengerti
Seberapa kita menanyakan kesehatannya dibandingkan dia menanyakan kesehatan kita?
Seberapa sering dia berdoa untuk kita dibandingkan dengan kita mendoakannya?

Kita hanya bisa berlisan untuk membahagiakan orang tua
Belum ada hal konkret yang bisa membenarkan hal itu
Kita ingin meringankannya tapi kita masih boros dengan keuangan
Kita ingin membahagiakannya tapi waktu kita hanya beberapa menit  untuknya

Waktu yang termakan usia
Atau usia yang termakan waktu
Adalah dua hal yang tak mungkin bisa dikembalikan
Penyesalan tak akan membuat semua lebih baik

Jika tak ingin ada penyesalan, jangan ada hal sia-sia yang diprioritaskan
Uang yang tak digunakan masih bisa kita simpan
Apa waktu yang tak digunakan akan bisa kita simpan layaknya uang?
Aku tak bisa menjamin hal seperti itu

Ijinkan aku membahagiakan mu Ayah sebagai wujud aku adalah putramu, dan aku ingin ibu tersenyum bahagia melihatku mampu melakukan baktiku padamu.

Kamis, 01 Mei 2014

Sebuah Kutipan

Rasa rindu membuat kita sadar bahwa hidup bukan hanya tentang aku dan masing-masing individu dari kita. Rasa rindu menunjukkan bahwa masing-masing dari kita membutuhkan orang lain dan orang lain membutuhkan kita bukan mengambil butuh atas keduanya saja. Dan mungkin hanya Tuhan yang tahu akan rasa rindu yang dirasa saat ini karena tak ada yang bisa disampaikan karena tak ada yang berubah dengan disampaikannya rindu itu atau tidak. Itulah kenapa Rindu itu soal merasakan dan bukan tentang mengatakan.

Bagi dia, aku mungkin hanya bocah yang tak perlu dihiraukan saat aku menginginkan sesuatu. Aku terus mencoba memahamkan diriku atas apa yang terjadi padaku karena memang seperti itulah kesepakatannya. Sebuah kesepakatan yang sulit untuk dibuat, lebih sulit lagi menjalankannya dengan segala beban yang ditinggalkannya. Kesepakatan untuk tetap pada jalurnya meski sedang berjalan dijalan yang sama dan bersama. Namun siapa, kapan dan bagaimana bermula tak ada yang tahu hingga semua berakhir dengan banyak sampah yang ditinggalkannya dijalan.

Mencoba menyibukkan diri dengan cahaya baru
Bukan lagi memaksakan cahaya yang telah meredup
Bukan lagi berharap cahaya yang redup akan bersinar kembali
Mungkin memang usia cahaya itu tak pernah lama sejak awal

Berusaha memaknai tanpa menyertakan perasaan
Namun semakin diacuhkan
Semakin diabaikan
Malah semakin menyesatkan hati dan pikirannya

Harapan awalku adalah kekecewaanku padanya
Saat apa yang diinginkan dan itu tak akan pernah menjadi kenyataan
Dan kenyataan itu diketahui sejak awal
Namun masih dijalani atas dasar pasrah

Tak ada persahabatan (bacanya kebersamaan) yang kekal didunia
Sebuah kenangan dan moment yang tercipta
Selama kebersamaan itulah yang katanya bias menjadi kekal
Sebuah moment untuk diingat dan akan terus teringat

Kesepakatan tetaplah sebuah kesepakatan
Seorang laki-laki harus bisa memegang ucapannya
Sulit itu pasti dan berat itu jelas karena sebuah tanggung jawab
Lari dan menghindar itu adalah pilihan (pilihan not rekomended) bagi pecundang

(dikutip dari Kamu, Puncak, Gelas dan Hujan)

Rumahku Yang Hina (Katanya)

Dulu saat aku masih disana, aku dengan bangga menyebutkan siapa diriku, asal dan rumahku.
Tapi kenapa saat ini mereka yang menghuni rumahku justru terkesan hina untuk mengakuinya.
Apa rumah yang masih kurawat dan ku jaga hingga kini ternyata hanya kotak kardus usang tempat mereka berteduh. Segitu hinakah rumahku?

Secara akademis atau hitam diatas putih
Mungkin aku tidak memiliki nilai sebagus kalian
Tapi soal pengalaman ya jelas ndak kalah
Karena bagaimanapun aku lahir sebelum dirimu

Menggunakan baju yang sama
Menempati rumah yang sama
Berbahasa dnegan cara yang sama
Bertingkah mengikuti kebiasaan yang sama

Tak menjamin apapun akan dirimu
Justru hanya terkesan menjiplak
Ketidakpercayaan dirimu atas kemampuanmu
Membuatmu meniru seseorang yang keren dimatamu

Mengikuti dan meniru seseorang
Dari A sampai Z
Bahkan jauh lebih baik dari yang ditiru
Tidak akan membuatmu menjadi sepertinya

Sekeras apapun kamu mencoba
Sejauh apapun kamu mencoba
Semirip apapun kamu dengannya
Kamu tetaplah hanya peniru

Terjebak dalam ketidakmampuan dirimu
Memakai topeng orang lain untuk menunjukkan dirimu
Kenyamananmu akan hal itu membuatmu bertahan
Hingga kamu tak pernah tahu apa yang bisa dilakukan kecuali meniru

Orang lain hanya bisa melihat punggungmu
Tanpa pernah mereka tahu bagaimana wajahmu
Apapun yang kamu lakukan
Hanya akan mengingatkannya pada orang lain

Kebaikan yang kamu lakukan hanya akan berdampak pada dirimu
Namun tidak berlaku sebaliknya
Keburukan yang kamu lakukan tidak berdampak semata pada dirimu, melainkan dia yang kamu tiru juga akan merasakannya

Lantas apa yang ingin kamu tunjukkan dengan semua itu? Saat kamu gagal menirunya, lelah menjadi dirinya, lantas kamu membencinya karena dirimu tak mampu mendapatkan apa yang dimilikinya. Apa yang dimiliki orang lain terkadang memang menggiyurkan mata jika dibandingkan dengan apa yang kita miliki saat ini  (*rumput tetangga selalu lebih hijau) karena kita tak bersyukur atas apa yang kita miliki.

Tetaplah jadi dirimu sendiri
Bukan meniru orang lain dengan caramu (Lantas bersorak its me)
Diriku adalah aku dengan keterbatasanku
Dirimu adalah kamu dengan kepalsuanmu (Setidaknya begitu)