Kamu adalah bagian dari kado terindah
Yang kota ini berikan diakhir-akhir sisa waktuku
Bohong jika aku berkata semua baik baik saja
Ibarat sebuah gelas kosong yang hanya menjadi pajangan
Aku hanya harus terus berjalan kedepan
Karena waktu tidak pernah melihat kebelakang
Menyukai hal yang tidak kusukai tidak semudah
Saat aku mengatakannya kepadamu
Tidak ada yang bisa dilakukan
Tidak ada yang bisa dikatakan
Sudah selesai hingga batas yang ditentukan
Batasan yang dibuat hanya untuk menjaga
Malah menjadi sebuah penjara untuk kami
Disaat kita tidak mampu lagi melakukan yang diinginkan
Disaat sebuah kata pun tak bisa menembusnya
Apalagui hanya sebuah coretan yang tak pernah sampai kepadanya
Kesepakatan atau perjanjian tanpa hitam diatas putih
Sebuah keterikatan tanpa saksi
Memegang apa yang dikatakan
Bertaruh pada rasa yang orang bilang kepercayaan
Kesepakatan ada karena keinginan dua orang manusia
Bukan salah satu diantara kami yang manusia
Dan yang lain bukan manusia
Hanya karena tidak ditemukan lagi dimana keberadaannnya
Kesepakatan bisa dirubah jika keduanya menginginkannya
Bukan salah satu diantara kami yang menginginkannya
Tapi terkadang mereka melakukannya sesuka hati
Karena tak pernah ada bukti otentik yang nyata
Perbedaan cara berfikir menjadi jurang pemisah
Awal dari semua mulai terbuka jarak
Fikiran putih yang sangat mudah disumbangin warna oleh orang lain
Perasaan polos tanpa pernah tahu sebelum menemukan
Terkadang aku merindukan keadaan yang dulu
Dimana kasta bukan lagi sebuah pembeda
Keramahan tanpa alasan
Kehangatan tanpa kemunafikan
Rasa itu telah sampai pada batasnya
Batas yang kita tetapkan
Bukan waktu untuk menyudahi semuanya
Alibi terbaik yang kau berikan untuk mundur dengan aman (menurutnya begitu)
Kamis, 22 Januari 2015
Minggu, 18 Januari 2015
Bagian demi bagian
Semenjak semua menjadi tak berarti
Semenjak itu pula semua mulai berubah
Baik yang terlihat
Baik yang terdengar
Bagian demi bagian aku mulai kehilangannya
Dari waktu yang tak bisa digenggamnya
Hingga lisan yang keluar dari bibirnya
Bahkan sosoknya bukan lagi sesuatu yang bisa ditemukan secara nyata
Apa yang terucap hanyalah sebuah kalimat yang tidak nyata
Baginya hanyalah sebuah bualan yang akan menguap
Bagianya hanya sebuah tulisan yang tidak terjamah dalam hururf yang bisa dibaca
Alasan klasik untuk sebuah kepalsuan
Semua memang tidak ada yang abadi didunia ini
Semua juga akan berakhir seiring waktu yang akan mengakhirinya
Tapi kita berhak menahan hingga akhir waktu yang kita miliki dalam sisa usia
Hak kita juga untuk mengkahirinya sekejap saat kita tidak ingin melihatnya
Waktu adalah sebuah alasan terbaik untuk meninggalkan atau ditinggalkan
Meninggalkan yang seharusynya ditinggalkan
Dan ditinggalkan untuk mereka yang pantas meninggalkan
Tak ada lagi sebuah alasan untuk saling mengenal
Mereka yang dulu berjalan bersama
Mereka yang dulu melewati jalan yang sama
Namun berpisah untuk sebuah tujuan yang berbeda
Jalan yang hanya sejenak dilalui namun begitu berarti
Bisa dikenali dari caranya yang menceritakan masa lalu
Bisa dicerna dari cara dia kembali menikmati jalan yang dilalui
Sekalipun tak ada lagi kalimat yang mereka berdua katakan
Tak adalagi pikiran yang biasanya sama dalam sebuah rencana
Tuhan selalu mempertemukan dan memisahkan disaat yang tepat
Disaat semua menjadi sesuatu yang tidak bisa dikendalikan
Menjadi sebuah alasan untuk membangkang pada dunia
Setidaknya memang disitulah ketakutannya
Untuk sebuah kejadian yang tidak diketahui kebenarannya
Untuk sebuah ketakutan yang hanya menjadi spekulasi belaka
Untuk sebuah alasan yang tidak bisa ditreuskan
Untuk sebuah alibi yang tidak bisa dihentikan
Hanya sebuah ketakutan
Dan akan menjadi ketakuan semata
Mengkhawatirkan esok hari dihari ini
Sama halnya dengan membunuh hari ini demi esok hari
Semenjak itu pula semua mulai berubah
Baik yang terlihat
Baik yang terdengar
Bagian demi bagian aku mulai kehilangannya
Dari waktu yang tak bisa digenggamnya
Hingga lisan yang keluar dari bibirnya
Bahkan sosoknya bukan lagi sesuatu yang bisa ditemukan secara nyata
Apa yang terucap hanyalah sebuah kalimat yang tidak nyata
Baginya hanyalah sebuah bualan yang akan menguap
Bagianya hanya sebuah tulisan yang tidak terjamah dalam hururf yang bisa dibaca
Alasan klasik untuk sebuah kepalsuan
Semua memang tidak ada yang abadi didunia ini
Semua juga akan berakhir seiring waktu yang akan mengakhirinya
Tapi kita berhak menahan hingga akhir waktu yang kita miliki dalam sisa usia
Hak kita juga untuk mengkahirinya sekejap saat kita tidak ingin melihatnya
Waktu adalah sebuah alasan terbaik untuk meninggalkan atau ditinggalkan
Meninggalkan yang seharusynya ditinggalkan
Dan ditinggalkan untuk mereka yang pantas meninggalkan
Tak ada lagi sebuah alasan untuk saling mengenal
Mereka yang dulu berjalan bersama
Mereka yang dulu melewati jalan yang sama
Namun berpisah untuk sebuah tujuan yang berbeda
Jalan yang hanya sejenak dilalui namun begitu berarti
Bisa dikenali dari caranya yang menceritakan masa lalu
Bisa dicerna dari cara dia kembali menikmati jalan yang dilalui
Sekalipun tak ada lagi kalimat yang mereka berdua katakan
Tak adalagi pikiran yang biasanya sama dalam sebuah rencana
Tuhan selalu mempertemukan dan memisahkan disaat yang tepat
Disaat semua menjadi sesuatu yang tidak bisa dikendalikan
Menjadi sebuah alasan untuk membangkang pada dunia
Setidaknya memang disitulah ketakutannya
Untuk sebuah kejadian yang tidak diketahui kebenarannya
Untuk sebuah ketakutan yang hanya menjadi spekulasi belaka
Untuk sebuah alasan yang tidak bisa ditreuskan
Untuk sebuah alibi yang tidak bisa dihentikan
Hanya sebuah ketakutan
Dan akan menjadi ketakuan semata
Mengkhawatirkan esok hari dihari ini
Sama halnya dengan membunuh hari ini demi esok hari
Sabtu, 10 Januari 2015
Akan Terjadi Nanti
Rasa rindu yang lama tak terobati
Rasa kangen yang kian menjadi
Rasa sayang yang tak perlu dikatakan
Rasa cinta yang tak perlu diceritakan
Kita bertahan untuk sebuah kebersamaan
Kita melangkah untuk sebuah kesamaan
Kita berpegangan untuk sebuah kekeluargaan
Suka cita tangis air mata kita alami bersama dalam satu pelukan
Kita tidak pernah tahu bahwa semua akan berbeda
Berjalan dijalan yang sama
Menempuh proses yang sama
Tapi tiba diujung yang berbeda
Adakah yang salah dengan proses kami?
Adakah yang keliru dengan apa yang kami alami?
Benarkah semua memang takdir
Atau angin yang menyimpangkan tujuan kami
Rasa kangen yang kian menjadi
Rasa sayang yang tak perlu dikatakan
Rasa cinta yang tak perlu diceritakan
Kita bertahan untuk sebuah kebersamaan
Kita melangkah untuk sebuah kesamaan
Kita berpegangan untuk sebuah kekeluargaan
Suka cita tangis air mata kita alami bersama dalam satu pelukan
Kita tidak pernah tahu bahwa semua akan berbeda
Berjalan dijalan yang sama
Menempuh proses yang sama
Tapi tiba diujung yang berbeda
Adakah yang salah dengan proses kami?
Adakah yang keliru dengan apa yang kami alami?
Benarkah semua memang takdir
Atau angin yang menyimpangkan tujuan kami
Diperjuangkan atau memperjuangkan terkadang menjadi sebuah dilema. Disaat semua sedang berproses untuk menetapkan sebuah tujuan yang telah ditentukan dihari yang lalu. Aku, dia, kami dan kita adalah sekumpulan manusia yang memiliki tujuan yang sama dikala itu. Tapi semua ternyata berubah seiring waktu yang terus berjalan kedepan tanpa pernah peduli apa yang dilewatinya.
Terbuat dari apakah dirimu? Setahu aku kita terbuat dari bahan yang sama jika berbicara tentang Sang Khalik tapi yang membedakan hanyalah dari rahim siapa dan bagaimana latar belakang keluarga kita. Aku tak pernah mendapatkan semua yang kuinginkan sekalipun aku menangis darah karena aku tak membutuhkannya. Sama halnya denganmu yang menangis tentang hal yang sama namun air mata itu tak akan pernah keluar karena orang tuamu tak ingin melihatnya terjatuh begitu saja karena mereka sadar akan kehadiranmu yang istimewa, menjadi penutup dalam keluargamu. Kesempurnaan dalam keluarga yang mencukupkan apa yang mereka miliki hingga saat ini.
Hanya sebuah ketidaktahuan akan rasa susah yang tak pernah kau miliki. Semua yang kau butuhkan selama hidup telah dipersiapkan disampignku setelah mereka mendengar tangis pertamamu. Rasa iri atau takdir akan perbedaan nasib setiap manusia menjadi ironi disana. Akankah sebuah pilihan bisa dijadikan sebauh ikatan yang akan selalu dipegang hingga nanti?
Terlalu sering mengurusi orang lain hingga lupa bahwa ada manusia yang perlu diurusi melebihi orang lain yaitu dirinya sendiri. Semua yang terjadi memang bukan selalu yang diinginkan akan tetapi semua yang terjadi adalah yang dibutuhkan. Saat suara tak lagi didengar oleh sepasang telinga maka yakinlah masih banyak jutaan pasang telinga. Saat mata tak mampu mengenali apa yang ingin ditunjukkan maka yakinlah bahwa itu bukan sebuah pura-pura untuk mencari sebuah alasan untuk pembenaran yang dilakukannya.
"Aku meyakini apa yang kusepakati, apa yang kukatakan, apa yang kudengar
dan apa yang kulihat dari indera yang sama denganmu. Tapi aku tidak berfikir hal yang sama denganmu karena mungkin cara kita menerimanya yang berbeda"
Rabu, 07 Januari 2015
Sebuah Kaki Yang Melangkah
Rante Mario 3478 mdpl
Hujan masih saja terus memberikan alasan untuk bertahan pada sebuha keyakinan yang telah ditetapkan untuk dipilih. Malam itu aku masih terombang ambing dalam ketidakpastian. andai aku tahu bahwa semua yang mereka katakan adalah sebuah keterpaksaan mungkin saja semua tidak akan seperti ini. ROP yang kubuat bukan berdasarkan keterpaksaan dan merupakan kesepakatan yang mereka ucapkan didepanku tapi tidak dibelakangku.
Rabu, 10 Desember 2014 ( jam 9 malam)
Apa yang sebenarnya terjadi tidak ku mengerti hingga aku tiba disana. Ketidakjelasan dari apa yang sempat kerasakan mulai terjawab satu demi satu. Dia yang menjanjikan, dia juga yang menyalahkan. Aku yang mempasrahkan semua kepada apa yang dikatakannya karena aku tidak tahu hraus percaya pada siapa lagi disini. Tanah yang asing bagiku dan untuk kepribadianku. Terluntung lantung tanpa kejelasan yang mana dan dengan siapa aku akan pergi. Kupasrahkan dengan apa yang tuhan takdirkan nantinya. Jika memang harus sendiripun aku rela kok karena memang seperti itulah biasanya aku bepergian.
Berjalan dalam ketidakpastian jauh lebih menyenangkan
Dibanding dalam rasa pasti namun diabaikan begitu saja
Seolah semua menjadi tak ada harganya
Seolah menjadi bukan bagian darinya
Kepalsuan adalah hal yang memuakkan
Memang indah didepan
Namun tidak dibelakang
Kepalsuan adalah penolakan secara halus
(jam 11 malam)
Tak kutemukan apa yang mereka katakan dan tak kumengerti apa yang mereka bicarakan. Aku hanya mengerti bahwa semua mulai memburuk malam ini tapi pasti ada jalan lain yang Tuhan tunjukkan. Berpindah dari satu sekret ke sekret lain, dari satu KPA ke KPA lain. Berkenalan dengan satu sama lain para penghuni sekret yang menceritakan kisah mereka dan apa yang mereka alami selama ini bersama saudara-saudara mereka. Telpon sana sini berharap akan menemukan seseorang yang akan bersedia menemaniku berjalan bersama mendaki gunung yang menjadi bagian dari impianku. Keikhlasan dalam berjalan bukan hanya sebuah kaki yang bergerak melainkan sebuah pengorbanan yang diberikan untuk sebuah langkah kaki yang dilakukan.
(jam 3 pagi)
Sebuah suara yang tak begitu jelas kudengar disaat asemua harapan kian memudar dan seolah akan berhenti disana. "Si ini yang akan menemanimu berangkat", suara terakhir sebelum mata ini benar-benar terpejam disudut ruangan itu dikala hujan juga membuat bising seisi ruangan.
Benar atau salah
Dia atau bukan
Terwujud atau tidak
Berhasil atau tidak
Bukan lagi hal yang penting untukku
Aku hanya memiliki misi yang harus kulakukan
Dengan tanpa mengurangi rasa hormat
Tak ada sanggahan atau protes yang kulakukan
Karena memang sejak awal sudah kupercayakan pada mereka
Percaya yang tak seharusnya diberikan seutuhnya
Percaya hanya pada tuhan dan tidak dibagi atau berbagi
Selain pada mereka yang layak dan pantas untuk diberikan
"Saat aku tak bisa sedikit melunakkan hatiku, setidaknya aku tidak memperkeras pikiranku"
Langganan:
Postingan (Atom)