Rasa ini adalah rasa wajar yang kita semua miliki
Saat dimana rasa itu membuat kita kecil
Membuat kita tersisih dan sendiri
Tapi rasa itu bukanlah hal yang nyata (setidaknya begitu)
Rasa itu memang menyeramkan
Seolah semua akan menjadi malapetaka
Menyerah pada ketidakinginan
Berendam pada penyesalan
Lebih baik kecewa diawal
Daripada menyesal dibelakang
Setidaknya kita pernah berjuang
Setidaknya kita pernah merasa puas
Puas karena memilih hidup
Puas karena berani memilih
Bukan memilih takut mati
Bukan juga dipilihkan oleh mereka
Menghadapi dengan berbagai resiko
Atau menghindar dan melupakannya
Lupa bahwa kita adalah manusia
Lupa bahwa kita bukan boneka
Semua pernah memilikinya
Semua juga pernah merasakannya
Tak semua berhasil mengalahkannya
Tak sedikit juga yang menghindarinya
Ibarat sebuah bayangan
Dia selalu ada dekat dengan kita
Kenapa menjadikannya musuh?
Padahal dia selalu menemani kita
Kenapa menghidarinya terus?
Jika kita bisa berjalan beriringan
Apa yang terlihat buruk
Tak selalu memberikan hal yang tidak baik
Yang ku tahu hanya kita yang mengendalikannya
Bukan dia yang mengendalikan kita
Lebih baik memang menghindar
Daripada tak ingin berjalan bersamanya
Kamis, 26 Desember 2013
Kamis, 19 Desember 2013
Dibalik Layar
Terlintas sejenak tentang siapa kita
Seseorang yang tak pernah terlihat
Seseorang yang tak perlu diingat
Seseorang yang tak butuh dihormati
Mereka hanya sibuk melihat
Apa yang ditampilkan didepan
Mereka hanya perlu mendengar
Apa yang disampaikan yang didepan
Terpaku dengan gemerlapnya suasana
Terpesona dengan hawa keberadaan mereka
Terjebak dalam ilusi yang diberikan
Tanpa pernah tahu siapa dalangnya
Saat semua berwujud baik
Yang didepanlah yang dipuja-puja
Saat semua berwujud kurang baik
Yang dibelakanglah yang diadili
Setiap kejadian yang terjadi didepan
Kucatat dengan jelas
Setiap kejadian yang dibelakang
Kusimpan dengan rapat
Terkadang penonton tak perlu merasakan
Apa yang diperjuangkan dibalik layar
Apa yang dirasakan mereka yang disana
Karena Show Must Go On
Orang mayoritas tetap menjadi mayoritas
Orang minoritas ditahan agar tidak menggantikan mayoritas
Orang mayoritas yang selalu didahulukan
Bukan berarti minoritas akan mengikutinya
Kami punya cara sendiri
Kami punya aturan sendiri
Kami punya tradisi sendiri
Kami punya yang tak dimiliki mayoritas
Karena kami telah temukan dibalik layar itu
Apa yang tak terlihat dari bangku penonton
Karena kami bisa melihat jelas semuanya
Cukup tahu dengan siapa kita, siapa mereka
Bukan membatasi diri
Terkadang keinginan memang terbatasi keadaan
Keadaan mutlak yang tak nyaman
Saat dimana kita dan mereka memang berbeda
Seseorang yang tak pernah terlihat
Seseorang yang tak perlu diingat
Seseorang yang tak butuh dihormati
Mereka hanya sibuk melihat
Apa yang ditampilkan didepan
Mereka hanya perlu mendengar
Apa yang disampaikan yang didepan
Terpaku dengan gemerlapnya suasana
Terpesona dengan hawa keberadaan mereka
Terjebak dalam ilusi yang diberikan
Tanpa pernah tahu siapa dalangnya
Saat semua berwujud baik
Yang didepanlah yang dipuja-puja
Saat semua berwujud kurang baik
Yang dibelakanglah yang diadili
Setiap kejadian yang terjadi didepan
Kucatat dengan jelas
Setiap kejadian yang dibelakang
Kusimpan dengan rapat
Terkadang penonton tak perlu merasakan
Apa yang diperjuangkan dibalik layar
Apa yang dirasakan mereka yang disana
Karena Show Must Go On
Orang mayoritas tetap menjadi mayoritas
Orang minoritas ditahan agar tidak menggantikan mayoritas
Orang mayoritas yang selalu didahulukan
Bukan berarti minoritas akan mengikutinya
Kami punya cara sendiri
Kami punya aturan sendiri
Kami punya tradisi sendiri
Kami punya yang tak dimiliki mayoritas
Karena kami telah temukan dibalik layar itu
Apa yang tak terlihat dari bangku penonton
Karena kami bisa melihat jelas semuanya
Cukup tahu dengan siapa kita, siapa mereka
Bukan membatasi diri
Terkadang keinginan memang terbatasi keadaan
Keadaan mutlak yang tak nyaman
Saat dimana kita dan mereka memang berbeda
Rabu, 18 Desember 2013
Begini Jadinya
Untuk kesekian kalinya
Apa yang terucap dimintai pertanggungjawaban
Saat berbenturan dengan apa yang diyakini
Bertabrakan dengan apa yang terjadi
Terlalu pelik untuk disederhanakan
Terlalu rumit untuk disegerakan
Terlalu banyak yang dipertimbangkan
Terlalu sedikit waktu yang diberikan
Semua ingin dilakukan
Semua ingin dbagikan
Berharap semua tak ada yang dirugikan
Terkecuali dirinya sendiri menjadi tumbal
Ntah apa yang ingin ditunjukkan
Ntah apa yang ingin diwujudkan
Semua hanya dibiarkan mengalir
Seolah semua akan berjalan sesuai inginnya
Apa yang terjadi padanya saat ini
Merupakan hasil dari apa yang dilewatinya dulu
Jangan salahkan dirinya
Karena dia juga dibentuk bukan membentuk
Dibentuk oleh keadaan
Dibentuk oleh didikan
Seperti itulah keadaan menerpanya
Begitu juga didikan yang pernah dirasanya
Lantas kenapa ia disalahkan atas dirinya sekarang?
Padahal seperti itulah didikan yang diterimanya dulu
Berkacalah sebelum mengatakan hal itu
Seolah melihat dirinya dibalik cermin
Siapa yang dijadikan kiblat
Seperti itulah dirinya
Jangan salahkan dirinya jika mirip denganmu
Karena dia terlahir dari didikanmu
Jika tak suka diperlakukan seperti itu
Jangan perlakukan orang lain seperti itu
Hanya karena lebih dulu bukan menjamin apapun
Hanya karena lebih tahu bukan berarti apapun
Masih jelas terekam dalam memori
Dirimu yang dulu adalah dirinya yang sekarang
Jika tidak terima dengan dirinya yang sekarang
Dirimu bukanlah apa-apa dimasa lalu
Apa yang terucap dimintai pertanggungjawaban
Saat berbenturan dengan apa yang diyakini
Bertabrakan dengan apa yang terjadi
Terlalu pelik untuk disederhanakan
Terlalu rumit untuk disegerakan
Terlalu banyak yang dipertimbangkan
Terlalu sedikit waktu yang diberikan
Semua ingin dilakukan
Semua ingin dbagikan
Berharap semua tak ada yang dirugikan
Terkecuali dirinya sendiri menjadi tumbal
Ntah apa yang ingin ditunjukkan
Ntah apa yang ingin diwujudkan
Semua hanya dibiarkan mengalir
Seolah semua akan berjalan sesuai inginnya
Apa yang terjadi padanya saat ini
Merupakan hasil dari apa yang dilewatinya dulu
Jangan salahkan dirinya
Karena dia juga dibentuk bukan membentuk
Dibentuk oleh keadaan
Dibentuk oleh didikan
Seperti itulah keadaan menerpanya
Begitu juga didikan yang pernah dirasanya
Lantas kenapa ia disalahkan atas dirinya sekarang?
Padahal seperti itulah didikan yang diterimanya dulu
Berkacalah sebelum mengatakan hal itu
Seolah melihat dirinya dibalik cermin
Siapa yang dijadikan kiblat
Seperti itulah dirinya
Jangan salahkan dirinya jika mirip denganmu
Karena dia terlahir dari didikanmu
Jika tak suka diperlakukan seperti itu
Jangan perlakukan orang lain seperti itu
Hanya karena lebih dulu bukan menjamin apapun
Hanya karena lebih tahu bukan berarti apapun
Masih jelas terekam dalam memori
Dirimu yang dulu adalah dirinya yang sekarang
Jika tidak terima dengan dirinya yang sekarang
Dirimu bukanlah apa-apa dimasa lalu
Selasa, 17 Desember 2013
Sadar Atau Tidak
Rintik hujan baru saja menyapa
Meski hanya berapa meter dari pintu kamar
Sangat khas dan jelas
Begitulah ciri dan caranya menyapa ku
Lebih milih dicintai atau mencintai
Mencintai orang yang mencintai orang
Dicintai orang yang dicintai orang
Tentukan pilihanmu sendiri
Bosan dengan cinta yang orang sebut-sebutkan
Bosan dengan masalah yang tak kunjung usai
Bosan dengan keadaan yang tak akan berubah
Tanpa ada sebuah gerakan yang sedikit berbeda
Masih ditempat yang sama seperti biasa
Masih dalam keadaan dan kebiasaan yang sama
Masih dengan cara dan ciri yang dulu
Hanya keadaan dan waktu yang tak lagi sama
Mendengar saja cukup tanpa perlu melihat
Merasa saja cukup tanpa perlu berkata
Merasa tak perlu bukan berarti tak butuh
Ntah apa yang diinginkan dari kepalsuan ini
Jika memang butuh katakan butuh
Jika memang perlu katakan perlu
Jangan bertindak seolah semua berbalik
Jangan berkata seolah semua baik-baik saja
Menyesali bukanlah sebuah pilihan
Pasrah juga bukan sebuah pelarian
Lari adalah menghindar dari keadaan
Mengabaikan dan membiarkan semua tergeletak tak terurus
Layaknya sebuah sampah yang dilempar begitu saja
Apa dulu sampah ini juga yang kau inginkan
Apa dulu sampah ini juga yang kau lihat
Atau salah mengambil karena terlalu berambisi memungutnya
Melihat seseorang tanpa ia melihat kita
Mendengarkan seseorang tanpa ia mendengar kita
Merasakan seseorang tanpa ia tahu akan keberadaan kita
Dia tahu saja itu sudah cukup (palsu amat)
Terkadang kita berharap lebih dari apa yang diucapkan
Menginginkan yang banyak dibanding yang diberikan
Memang dasar manusia yang sulit mengenal arti benar atau salah
Karena memang manusia tak pernah mengerti mana yang terbaik
Semua akan disadari bahwa memang telah berlalu
Jangan ada kata "seandainya dulu aku milih itu"
Sesal ada bukan untuk diratapi
Dia ada untuk menjadi bahan pikiran
Meski hanya berapa meter dari pintu kamar
Sangat khas dan jelas
Begitulah ciri dan caranya menyapa ku
Lebih milih dicintai atau mencintai
Mencintai orang yang mencintai orang
Dicintai orang yang dicintai orang
Tentukan pilihanmu sendiri
Bosan dengan cinta yang orang sebut-sebutkan
Bosan dengan masalah yang tak kunjung usai
Bosan dengan keadaan yang tak akan berubah
Tanpa ada sebuah gerakan yang sedikit berbeda
Masih ditempat yang sama seperti biasa
Masih dalam keadaan dan kebiasaan yang sama
Masih dengan cara dan ciri yang dulu
Hanya keadaan dan waktu yang tak lagi sama
Mendengar saja cukup tanpa perlu melihat
Merasa saja cukup tanpa perlu berkata
Merasa tak perlu bukan berarti tak butuh
Ntah apa yang diinginkan dari kepalsuan ini
Jika memang butuh katakan butuh
Jika memang perlu katakan perlu
Jangan bertindak seolah semua berbalik
Jangan berkata seolah semua baik-baik saja
Menyesali bukanlah sebuah pilihan
Pasrah juga bukan sebuah pelarian
Lari adalah menghindar dari keadaan
Mengabaikan dan membiarkan semua tergeletak tak terurus
Layaknya sebuah sampah yang dilempar begitu saja
Apa dulu sampah ini juga yang kau inginkan
Apa dulu sampah ini juga yang kau lihat
Atau salah mengambil karena terlalu berambisi memungutnya
Melihat seseorang tanpa ia melihat kita
Mendengarkan seseorang tanpa ia mendengar kita
Merasakan seseorang tanpa ia tahu akan keberadaan kita
Dia tahu saja itu sudah cukup (palsu amat)
Terkadang kita berharap lebih dari apa yang diucapkan
Menginginkan yang banyak dibanding yang diberikan
Memang dasar manusia yang sulit mengenal arti benar atau salah
Karena memang manusia tak pernah mengerti mana yang terbaik
Semua akan disadari bahwa memang telah berlalu
Jangan ada kata "seandainya dulu aku milih itu"
Sesal ada bukan untuk diratapi
Dia ada untuk menjadi bahan pikiran
Cover
Kenapa saat kita menginginkannya kita selalu berusaha mendapatkannya
Kenapa saat kita dibutuhkan dan kita tak selalu bisa memenuhinya
Inilah manusia
Aku, Kamu, Kita, dan Mereka
Kita tak pernah tahu
Kapan, dimana dan dengan siapa
Kita akan bertemu siapa
Kita akan bersama siapa
Semua hanyalah sebuah cover tanpa isi
Semua hanya kanvas tanpa tinta
Dan kita kah yang menggambarnya
Atau kita melihat gambarannya
Jangan pernah membahas sebuah prinsip
Memaksakan sebuah keinginan
Menyisipkan sebuah harapan
Tanpa pernah peduli dengan apa yang dirasa
Ini bukan lagi tentang sikap
Bukan juga tentang tegas tidaknya
Tidak juga tentang jelas tidaknya
Tapi ini tentang ciri dan caranya
Dulu aku hanya tau ini milikku
Tanpa pernah merasa bahwa ini milik kita
Disaat pemilik lain datang dan berkumpul
Apa ini saat yang tepat untuk pergi atau menyambutnya
Setidaknya pernah dipikirkan
Bahwa semua yang terjadi adalah bagian yang pernah kita pikirkan
Namun kenapa kita jarang bisa menerima saat hal tu terjadi
Padahal sudah tau sejak awal
Dibilang kecewa dan sakit hati, iya
Tapi kita tak berhak menyalahkan siapapun dan menghujatnya
Kita hanya berhak marah, memaki tanpa pernah ditujukan untuk siapa
Tanpa ada yang protes nantinya
Kita hanya bisa memilih
Meneruskan yang tak bisa diteruskan
Atau meninggalkan yang tak bisa ditinggalkan
Semua kembali pada kalian yang katanya memiliki perasaan
Kenapa saat kita dibutuhkan dan kita tak selalu bisa memenuhinya
Inilah manusia
Aku, Kamu, Kita, dan Mereka
Kita tak pernah tahu
Kapan, dimana dan dengan siapa
Kita akan bertemu siapa
Kita akan bersama siapa
Semua hanyalah sebuah cover tanpa isi
Semua hanya kanvas tanpa tinta
Dan kita kah yang menggambarnya
Atau kita melihat gambarannya
Jangan pernah membahas sebuah prinsip
Memaksakan sebuah keinginan
Menyisipkan sebuah harapan
Tanpa pernah peduli dengan apa yang dirasa
Ini bukan lagi tentang sikap
Bukan juga tentang tegas tidaknya
Tidak juga tentang jelas tidaknya
Tapi ini tentang ciri dan caranya
Dulu aku hanya tau ini milikku
Tanpa pernah merasa bahwa ini milik kita
Disaat pemilik lain datang dan berkumpul
Apa ini saat yang tepat untuk pergi atau menyambutnya
Setidaknya pernah dipikirkan
Bahwa semua yang terjadi adalah bagian yang pernah kita pikirkan
Namun kenapa kita jarang bisa menerima saat hal tu terjadi
Padahal sudah tau sejak awal
Dibilang kecewa dan sakit hati, iya
Tapi kita tak berhak menyalahkan siapapun dan menghujatnya
Kita hanya berhak marah, memaki tanpa pernah ditujukan untuk siapa
Tanpa ada yang protes nantinya
Kita hanya bisa memilih
Meneruskan yang tak bisa diteruskan
Atau meninggalkan yang tak bisa ditinggalkan
Semua kembali pada kalian yang katanya memiliki perasaan
Minggu, 15 Desember 2013
Pergi Apa Tinggal
Mungkin
aku akan memikirkan mengapa orang yang satu-satunya kuberi tahu
Justru hanya membalasnya dengan 3 kata
Alhamdulillah,
Puji Syukur saya ucapkan kepada ALLAH SWT karena atas rahmat dan hidayahnya aku bisa bertahan sampe sekarang. Tak terasa juga tulisan yang ini adalah postingan ke-200, sudah banyak sampah yang aku ciptakan. Semoga maaf selalu ada untukku yang masih akan mengotori lingkungan sekitar. Jika ada yang keberatan dengan sampahku, bisa dilaporkan saja (dianggap setuju kalo tidak ada protes). Secara jumlah mungkin jauh dibandingkan profesional karena memang masih amatir, dan dimataku udah banyak kok itu.
Terbentuk dari kaca yang berkilau
Saat mentari merengkulnya tiap sore
Membiaskan cahaya yang menembusnya
Memberi efek penglihatan didalamnya
Apa Yang Bakal Kamu Lakuin
Saat Dimana Gelas Kaca Yang Diletakkan Ditanganmu
Tak Bisa Dikembalikan Dan Tak Bisa Diterima
Dan Juga Akan Hancur Jika Melepaskannya
Terkadang kita tidak menginginkannya
Tapi malah mendapatkannya
Ingin mengabaikan dan tak mengaanggapnya
Tapi terlalu dekat dan tak bisa dihindari
Kita tahu dan mengerti akan apa itu resiko
Apa yang menjadi tanggung jawab
Apa yang menjadi balasan
Apa yang disebut pantas dan tidak pantas
Memegang apa yang tak ingin dimiliki
Berbeda dengan memegang apa yang tak bisa dimiliki
Meski menyangkal keberadaannya
Hal seperti itu memang ada disini
Aku tak peduli dengan ada atau tidak ada
Ini soal ingin atau tidak
Bukan soal bisa atau tidak
Bisa melakukan diawali dari ingin melakukan
Mau dibilang jahat terserah
Daripada dibilang baik tapi terpaksa
Mau mundur perlahan atau balik kanan
Atau menghilang tanpa sempat pamitan
Mau salah atau benar
Tak ada bedanya lagi sekarang
Karena semua memiliki alasan
Jawaban yang pasti ada jika dipertanyakan
Pergi ya pergi aja
Tinggal ya tinggal aja
Tinggal dulu terus pergi
Pergi dulu terus tinggal
Setidaknya memang menginginkannya
Bukan lari atau menghindar darinya
Bukan sembunyi atau menahannya
Apalagi terpaksa dalam menjalaninya
Gelas Ditengah Hujan
Berharap bisa berakhir di situ, saat itu juga
Terhapus oleh rinai hujan yang membasahiku dalam perjalanan pulang
Hujan yang rintik rintik
Dibawah cahaya rembulan
Begitu mesra hingga tak ingin berpisah
Iri pada benda mati adalah pikiranku tadi sore
Gelas atau Hujan
Mengapa dua kata itu tiba-tiba muncul
Seperti bus dan truk yang menyalipku dari lajur kanan
Seperti motor gede yang mendahuluiku dari kiri
Gelas mampu menampung hujan
Namun tidak lebih besar dari ukurannya
Lantas kenapa gelas begitu sombong dengan tangannya
Apa hanya sebuah tangan yang terlihat berarti mutlak?
Padahal hujan mampu menampung gelas
Jauh melebihi ukurannya meski tak ada yang percaya
Hujan tak perlu membuktikannya
Hujan tak perlu menyombongkan dirinya
Hanya karena hal kecil yang terlihat maka dianggap besar
Dan menganggap yang besar tapi tak terlihat adalah tidak ada
Lebih baik dikatain PALSU oleh orang lain
Daripada diri sendiri yang mengatakannya
Aku tak perlu menjadi hujan karena pandai meredam
Atau menjadi gelas yang menunjukkan hal kecil tapi nyata
Aku adalah aku
Meski banyak yang memandang aneh
Lebih baik aku kehilangan mereka
Daripada aku kehilangan diriku
Daripada aku menjadi bukan aku
Karena tak ada yang lebih setia dibandingkannya
Hanya karena hal itu terlihat lantas begitu berharga
Dan yang tak terlihat hanyalah ilusi
Dan yang tak berbentuk hanyalah bualan
Omong kosong layaknya tong tanpa sampah
Dia yang lahir bersama
Dia yang tumbuh bersama
Dia yang sakit bersama
Tapi dia tak menuntut bahagia bersama
Masihkah tega menyalahkan diri atas apa yang telah terjadi?
Masihkah ego terlalu tebal hingga malu
Mengakui aku lemah tanpa diri sendiri
Aku adalah wadah dan diri sendiri adalah jiwa
Kamis, 12 Desember 2013
Jangan Tanya Kenapa (Lagi)
Kamu mau meninggalkanku apa kamu minta aku pergi
Pertanyaan yang tak terjawab tapi tak boleh ditanyakan
Segelas kupi alfabet panas dan serepnya
Sebatang rokok jalang dan wadahnya
Segenap fasilitas online yang gratis
Suasana damai tanpa kebisingan kota
Bersiap membuang semua sampah yang tak berguna
Berharap pemulung jadi kayak saat mentari terbit esok
Hingga ia tak perlu memungut semua sampahku
Ia pun tak perlu berebut rejeki dengan waktu
Bukan tentang siapa yang datang
Bukan juga tentang siapa yang pergi
Bukan tentang siapa yang bertahan
Bukan juga tentang siapa yang menyerah
Semua hanyalah trik Tuhan
Semua bagian dari kejutan yang disiapka
Semua telah digariskan
Semua telah direlakan
Kita tak pernah punya alasan untuk datang
Kita juga tak punya jawaban untuk pergi
Kita hanya punya pilihan
Untuk bertahan atau menyerah
Kita tak bisa memilih keduanya
Kita tak bisa menjalaninya bersamaan
Bertahan untuk menyerah dengan keadaan
Menyerah untuk bertahan dalam pilihan
Jangan serakah dan tamak saudaraku
Pilihlah satu dan lepaskan satu
Karena pilihan satunya ada untuk orang lain
Ia juga berhak atas pilihan yang diberikan untuk kita
Tidurlah dalam damaimu
Tanpa pernah berkata sedikitpun
Pilihan yang kau tentukan kau simpan layaknya harta
Seolah harta akan setia saat dirimu mati kelak
Rasa sakit tak lagi perlu pereda nyeri
Rasa dingin tak lagi perlu selimut tebal
Seolah mati rasa atau memang sudah biasa
Membiasakan diri atau tak ada lagi harapan
Saat dimana benda hidup tak menjalani kodratnya
Mereka yang menyebut dirinya makhluk sempurna
Padahal mereka kalah dengan benda mati (dalam urusan ini)
Saat kodrat tak dipenuhi maka kita bukanlah makhluk sempurna
Baik Baik Yah Disana
Setelah melewati ketidakjelasan, entah ke mana, dengan siapa, dan akan ke mana
Semua tidak kutanyakan dan kuserahkan pada waktu untuk menjawab semua itu
Hujan masih belum selesai membasahi kota
Dingin masih nyata bersinggungan dengan badan
Hujan meredam semua suara dan kebisingan
Menjadikan suara khas yang menghipnotis
Biarkan rasa sakit itu meredup
Biarkan rasa sesal itu menguap
Biarkan rasa sedih itu luntur
Terbawa tiap tetesan hujan malam ini
Tak ada yang mengerti
Tak ada yang tau
Karena memang tak ada yang disampaikan
Serta tak ada yang pernah diucapkan
Tak ada tujuan
Tak ada teman
Tak ada alasan
Semua mengalir seolah tergerak sendirinya
Menyesalkah karena sudah dilahirkan
Begitu sakitkah karena tidak mendapat yang diinginkan
Begitu menyedihkankah hidup yang selama ini dirasa
Akankah semua berhenti disini
Merendam diri dalam apa yang dibilang meratapi
Berkata pergi tapi masih berendam disana
Berkata sudah tapi masih berlanjut dalam diam
Ntah apa yang diinginkan dan apa yang dirasakan
Semua berasa nyata saat tetes hujan merajam
Semua berasa damai saat hembusan angin menyapa lembut
Tak ada kedamaian disaat semua berasa berhenti
Tak ada keramaian disaat semua kembali bersuara
Membolak balikkan sebuah pilihan
Mempermainkan sebuah harapan
Berharap mempercundangi dunia
Dengan trik lidah tak bertulang
Apa yang diucapkan berbeda dengan yang ditunjukkan
Apa yang diinginkan berbeda dengan yang dipikirkan
Apakah sebuah pengakuan yang diharapkan
Atau lebih dari sekedar rasa hormat
Memang semua telah ditetapkan
Bukan berarti tidak bisa diwujudkan
Apa yang menjadi harapan
Apa yang menjadi impian
Senin, 09 Desember 2013
Waktunya Kembali
Tanpa pernah bertatap muka
Dia mampu membuatku banyak bicara dan banyak bertanya
Terbawa untuk mau banyak tahu tentang dirinya
Disaat otakku kian berkarat dan usang
Tangan tak lagi kuat bergerak
Kaki tak lagi kekar berdiri
Dan hati seolah mulai rabun
Terlalu lama dianggurin
Terlalu lama dikekang
Terlalu lama diabaikan
Terlalu lama berpura-pura
Setidaknya hujatan itu menancap tanpa rasa disini
Lemparan itu telak mengena meski tanpa bekas
Semua menjadi tak berarti
Saat aku kehilangan dia
Aku tak benar benar melupakanmu
Aku hanya mengistirahatkanmu lebih lama
Dan sedikit terlambat sepertinya
Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali
Mau bagaimanapun juga dirimu tetaplah bagianku
Sampai kapanpun juga dirimu adalah diriku
Dan diriku tetaplah diriku
Aku tetap hormat kepadamu
Jika dirimu merasa tak berguna
Aku akan menjadi lebih tak berguna darimu
Jika dirimu merasa paling berkuasa
Aku akan tetap dibawahmu
Tak ada yang akan berubah
Tak akan seperti hujan dan pelangi
Yang bergantian datang dengan waktunya masing-masing
Aku akan tetap menghormatimu
Tak ada modus
Tak ada tipu daya
Tak ada trik sulap
Semua berjalan natural
Aneh memang
Dan begitu dunia melihatnya
Begitu juga dunia mengenalnya
Tak ada yang akan berubah (setidaknya bagi yang tidak bisa dirubah)
Inilah Yang Kupunya
Setidaknya tidak ada yang berani mengganggu
(walaupun pada akhirnya mengganggu diri sendiri
karena harapan yang tak beriringan dengan fakta yang ada)
Merasa sepi di keramaian
Merasa ramai dalam kesepian
Rasa yang sering dialami
Terutama bagi kami kaum minoritas
Kami yang tak pernah megambil pusing
Kami yang tak pernah berfikir berat
Kami yang bertahan dalam tradisi
Kami yang selalu berdiri meski terus dijatuhkan
Disini tanah kami
Disana juga tanah kami
Kami memiliki apa yang tak kami miliki
Kami merasakan apa yang tak perlu dirasakan
Apa yang kami ucapkan
Apa yang kami lakukan
Apa yang kami perjuangkan
Tidak lain dan tidak bukan tetaplah untuk kami
Saat pagi tak lagi hangat
Saat siang tak lagi panas
Saat malam tak lagi dingin
Tak ada yang akan berubah dalam penantian
Terkadang dan memang tak jarang ditemui
Dirasa nyata meski tak percaya
Kenyataan tak pernah berpihak pada harapan
Tapi harapan yang harus nurut pada kenyataan
Nggak adil kan?
Apakah juga adil saat kita diberikan hati namun tak bisa memilih
Apakah adil saat kita memiliki hak namun tak bisa digunakan
Keadilan sejati memang hanya ada dilangit
Kami butuh banyak waktu yang tak pernah kami miliki
Kami hanya percaya bahwa apa yang kami punya saat ini
Adalah hal terpantas yang bisa kami jaga saat ini
Berharap lebih bukanlah jalur teraman saat ini
Selasa, 03 Desember 2013
Ini Jalanku, Mana Jalanmu
Setiap yang kujalani adalah apa yang terbaik untukku
Walaupun aku selalu berusaha memahamkan diriku
Bahwa itulah yang terbaik dan itulah jalan yang sebenarnya.
Jangan pernah salahkan apa yang menjadi pilihan
Kita tak pernah tau mengapa ia memilihnya
Jangan pernah bandingkan apa yang telah dipilihnya
Karena keadaan dan kondisinya tak ada yang sama
Awalnya memang berat
Awalnya memang asing
Tapi itulah resikonya
Pilihan tak selalu menawarkan yang kita mau
Namun keadaan akan mengikuti
Keadaan akan mengalir dan menyesuaikan
Dengan apa yang kita inginkan
Hanya masalah waktu jika masih diawal
Hanya sekedar kata mau
Dan semua mungkin akan berbeda
Hanya sentuhan kecil
Dan semua mungkin akan berwarna
Aku pernah memiliki dunia
Begitu juga dengan kalian
Aku menjadi tuhan akan diriku
Begitu juga dengan kalian
Apakah semua itu cukup?
Apa aku tidak membutuhkan orang lain?
Apa aku akan bertahan meski hasil akhir telah ku ketahui?
Apa aku akan dikenal jika aku tak mengenal?
Aku terlahir sendirian, kalianpun sama
Tapi aku tak mau hidup sendirian
Bukan berarti kalian juga berpikiran sama
Aku hanya ingin kalian tau apa yang ku pilih
Meski aku tak peduli dengan apa yang akan terjadi
Yang kutahu hanyalah aku memilih dan aku menjalani
Bukan meratapi dan terjebak dalam persepsi pribadi
Hingga tak mampu keluar dari sana kecuali mati
Terlalu anarkis dan tak mengenal etika
Terlalu arogan dan tak mau peduli
Terlalu sok dan tak mau disalahkan
Karena ini pilihanku bukan kalian
Aku pahamkan diriku untuk kalian
Bukan aku pahamkan kalian untuk diriku
Pilihlah jalan kalian sesuai yang kalian inginkan
Menjadi apa di hari esok tergantung apa yang kalian tentukan hari ini
Dia Itu Masalah
Permasalahan hidup yang tak pernah bermuara pada satu titik yang menjawab segala pertanyaanku
Bagi mereka aku hanyalah bocah yang tak perlu dihiraukan saat merengek menginginkan sesuatu.
Begitu indah pagi ini
Secangkir kopi hangat
Sebatang rokok yang indah
Selantun lagu kangen yang bergema
Mentari memang tak bersinar sejak tadi
Bukan berarti pagi tak ikutan datang
Pagi tak pernah ingkar soal kedatangannya
Pagi akan selalu datang seusai malam (sesuai janjinya)
Dia akan penuhi janjinya
Meski bukan dengan bentuk yang sama
Setidaknya janji tetap dipenuhi
Meski terkadang bukan yang dijanjikannya saat itu
Hidup memang tak pernah sepi
Permasalahan, Solusi, Beranak dan Berkelanjutan
Begitulah seterusnya hingga akhir
Begitulah yang kita jalani setiap detik karena kita hidup
Permasalahan ibarat air yang tak pernah diam
Selalu bergerak dan menuju suatu tempat
Tak hanya satu dan tak bisa di prediksi
Tapi masalah bukanlah sebuah jawaban
Dibaliknyalah jawaban yang sesungguhnya diberikan
Kita tak akan mengerti maksudnya tanpa mengenalnya
Kita tak akan menerima keinginannya tanpa merangkulnya
Kita tak akan bersahabat tanpa menerimanya
Dia itu egois
Dia itu kurang ajar
Dia itu sok sokan
Tapi dialah gurunya
Dia yang membuat kita berkembang
Dia yang membuat kita berbentuk
Dia yang membuat kita berdiri
Dia yang membuat kita menjadi makhluk (yang beneran hidup)
Senin, 02 Desember 2013
Beginilah Aku
Untuk Kalian Semua yang telah menjanjikan puncak dan telah menepati janji itu.
Terima kasih untuk itu dan terima kasih untuk kisah singkat yang terus ikut bersama hatiku
dalam setiap langkah demi langkah yang kujalani menuju ‘puncak hidupku’ semangat itu akan selalu ada.
Teringat saat semua bermula
Disini, ditempat ini, dan dikala itu
Ibarat sebuah kerikil yang kecil dan tak berbentuk
Berada ditengah lapang tanpa ada bentuk yang sama
Kita disatukan dalam sebuah wadah
Kita diterpa dalam didikan yang panas
Didikan yang membuat kita pantas
Didikan yang membuat kita keras (bacanya solid)
Seperti senja yang kita liat
Sesaat kembali teringat pada semua yang terlewat
Pernah mengira bertemu dengan malaikat
Saat semua bersa istimewa
Aku belum melakukan apapun
Meski kalian telah memberi banyak padaku
Karena yang bisa kulakukan hanyalah mengatakan 'terima kasih'.
Maafkan aku.
Maaf yang terucap ini bukan berarti lemah
Banyak makna yang bisa kalian gunakan
Kita akan menciptakan banyak kata disini
Karena kita tak pernah sepaham selain urusan ini
Aku adalah raja diduniaku
Kamu adalah raja diduniamu
Kita raja dibidangnya
Dan kita tak perlu berperang layaknya masa lalu
Kita tak pernah meremehkan meski berseberangan
Kita tak pernah saling menjatuhkan meski tak sejalan
Kita tak pernah menyabotase meski berbeda jalan
Kita hanya melakukan peranan ditempatnya
Kita saling menunggu untuk sampai ditujuan
Kita saling mengingatkan disaat semua mulai goyang
Kita saling menghujat disaat bercanda adalah harga mati
Kita tak pernah membawa perasaan pribadi dalam urusan ini
Kita tak pernah takut sendirian
Kita tak pernah takut ditinggalkan
Kita tak pernah lemah berjalan disana
Karena kita yang menciptakannya
Banyak yang meneriaki dari jauh
Banyak yang menghujat dibalik layar
Banyak yang mencibir dari alam lain (bacanya dunia lain)
Tak akan memepengaruhi apa yang diyakini
Pergilah jika ingin pergi
Bertahanlah jika ingin bersama
Kita tidak pernah memaksa
Kita tidak ingin ada kepalsuan
Kita tidak membutuhkan hitam diatas putih
Karena kita menggunakan hati
Ikatan yang tak perlu dituliskan secara jelas
Namun berasa sangat nyata dan membekas
Minggu, 01 Desember 2013
gelas tanpa tangan
“Gelasku”.. yang telah mengantarkan dan
mengiringi langkahku menuju puncak pertamaku.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan
menjadi referensi
dalam memandang sisi lain kehidupan dari sudut pandang
penulis ☺
Jika ada yang bertanya kenapa dan untuk apa
Jawablah dengan lantang
Ini urusan hati dan kalian tak akan mengerti
Ini tentang hati aku dan dekapannya
Setidaknya aku mengerti dengan merasakannya sendiri
Bukan karena dikasih tau orang lain atau dari buku
Bukan karena provokasi atau hasutan mayoritas
Sedikit lebih berarti daripada tidak sama sekali
Banyak yang tak mengerti itu wajar
Sedikit yang menerima itu biasa
Abaikan seolah hal itu tak berguna
Karena ini hanya tentang aku dan dia
Dia sengaja membuatku bingung dan tak mengerti
Memaksaku untuk mencari tau lebih jauh
Menuntunku mengenal lebih dalam
Membiarkanku memilih dengan terpaksa (pada awalnya)
Berawal dari terpaksa
Beranjak menjadi biasa
Berlanjut menjadi kebiasaan
Berakhir pada kebutuhan
Aku tak pandai memilih kata yang tepat
Untuk menjelaskan apa yang terlihat jelas
Aku juga tak pintar menggambarkan keadaan
Untuk menerangkan apa yang terpampang luas
Kita memiliki dua buah mata
Mengapa hanya menggunakan salah satunya
Tak banyak yang menyadarinya
Tak sedikit juga yang mengacuhkannya
Dua mata untuk melihat dua sisi
Bisa juga lebih banyak sisi
Setidaknya tidak diktator dalam memandang
Tidak juga anarkis dalam melihat
Melihat dengan cara berbeda
Bukan subyeknya yang berbeda
Memberi pertimbangan dalam memikirkan
Karena terjebak dalam persepsi pribadi tidaklah menyenangkan
Jangan Tanya Kenapa
Masih jelas terasa dipikiran kita semua
Terutama aku dia dan mereka
Yang berinteraksi secara langsung dikala itu
Saat dimana kita yang tak pernah bertemu dipertemukan
Dia yang tak pernah tau akan bertemu siapa
Aku yang tak pernah tau mengantar siapa
Dan mereka yang tak pernah tau akan bersama siapa
Yang kami tau hanyalah semua harus dijalani
Besar dijalan membuatku sadar
Rumah itu kecil sekalipun itu istana
Rumah tempat kita kembali
Bukan tempat kita pergi (bacanya dituju)
Apa yang kita dapat dirumah
Hanyalah pesan untuk bertahan diluar sana
Apa yang tak kita dapatkan dirumah
Berupa berbagai macam bentuk kebutuhan hidup
Kita tak akan berkembang jika hanya dirumah
Kita tak akan mengerti jika hanya disana
Tak ada yang bisa diukur
Tak ada yang bisa dibanggakan
Rumah bukan sebuah pembatas
Rumah bukan sebuah penjara
Rumah bukan sebuah gua
Rumah adalah tempat terbuka
Tempat dimana kita bisa melakukan apapun
Tempat dimana kita bisa mengekspresikan apa saja
Tanpa ada yang membatasi dan menyabotase
Tanpa ada yang mencibir dan memandang rendah
Apa yang membentuk dirimu
Adalah apa yang diberikan rumahmu
Segitulah bekalmu dan segitulah persiapanmu
Sisanya hanya tinggal dibeli (bacanya didapatkan) sambil jalan
Jika ada yang bilang bahwa dunia ini selebar daun kelor
Hanya orang yang tak ingin kemana-mana yang berkata demikian
Dunia ini begitu luas hingga mata tak akan sampai melihat ujungnya
Dunia ini begitu misteri hingga ada sejarah dan ramalan
Menjadi tidak peka itu takdir
Tapi menjadi tidak peduli itu pilihan
Aku memang tidak peka
Bukan berarti aku juga tidak peduli
Jangan tanya soal cara bicara
Jangan ungkit soal cara bersikap
Jangan pertanyakan apa itu benar atau tidak
Tentukan sendiri jawabnnya
Apa yang ditulis terkadang bukan apa yang dirasakan
Hanya mengalirkan apa yang tersumbat
Hanya menyampaikan yang diinginkan
Hanya sekedar menjalankan takdir
Terutama aku dia dan mereka
Yang berinteraksi secara langsung dikala itu
Saat dimana kita yang tak pernah bertemu dipertemukan
Dia yang tak pernah tau akan bertemu siapa
Aku yang tak pernah tau mengantar siapa
Dan mereka yang tak pernah tau akan bersama siapa
Yang kami tau hanyalah semua harus dijalani
Besar dijalan membuatku sadar
Rumah itu kecil sekalipun itu istana
Rumah tempat kita kembali
Bukan tempat kita pergi (bacanya dituju)
Apa yang kita dapat dirumah
Hanyalah pesan untuk bertahan diluar sana
Apa yang tak kita dapatkan dirumah
Berupa berbagai macam bentuk kebutuhan hidup
Kita tak akan berkembang jika hanya dirumah
Kita tak akan mengerti jika hanya disana
Tak ada yang bisa diukur
Tak ada yang bisa dibanggakan
Rumah bukan sebuah pembatas
Rumah bukan sebuah penjara
Rumah bukan sebuah gua
Rumah adalah tempat terbuka
Tempat dimana kita bisa melakukan apapun
Tempat dimana kita bisa mengekspresikan apa saja
Tanpa ada yang membatasi dan menyabotase
Tanpa ada yang mencibir dan memandang rendah
Apa yang membentuk dirimu
Adalah apa yang diberikan rumahmu
Segitulah bekalmu dan segitulah persiapanmu
Sisanya hanya tinggal dibeli (bacanya didapatkan) sambil jalan
Jika ada yang bilang bahwa dunia ini selebar daun kelor
Hanya orang yang tak ingin kemana-mana yang berkata demikian
Dunia ini begitu luas hingga mata tak akan sampai melihat ujungnya
Dunia ini begitu misteri hingga ada sejarah dan ramalan
Menjadi tidak peka itu takdir
Tapi menjadi tidak peduli itu pilihan
Aku memang tidak peka
Bukan berarti aku juga tidak peduli
Jangan tanya soal cara bicara
Jangan ungkit soal cara bersikap
Jangan pertanyakan apa itu benar atau tidak
Tentukan sendiri jawabnnya
Apa yang ditulis terkadang bukan apa yang dirasakan
Hanya mengalirkan apa yang tersumbat
Hanya menyampaikan yang diinginkan
Hanya sekedar menjalankan takdir
Langganan:
Postingan (Atom)
