Minggu, 30 Juni 2013

Malam tadi Malam Minggu

Malam yang panjang kata orang tua
Bintang tetap eksis seperti biasanya
Secercah hamparan cahaya memberi warna
Sesi pemotretan langit sedang berlangsung

Teringat kata om bob marley
Saat hujan kita sudah pasti basah
Namun apakah kita hanya memilih untuk basah
Tanpa pernah ingin menikmatinya

Aku menghabiskan malam ku berbeda
Tidak selalu sama seperti makhluk mayoritas
Rokok menari diantara kami dengan anggun
Begitu menggoda untuk dijamah

Banyak warna dalam gelapnya malam
Semoga rindu kita terselip diantaranya
Tanpa ada yang tau dan melihat
Setidaknya itu akan berasa jika sampai pada tuannya

Tanpa perlu mengenal sosoknya
Tanpa perlu melihat bentuknya
Tanpa perlu merasa kehadirannya
Tapi dia selalu ada bersama

Mencoba merasakan apa yang ia sebut cinta
Kehendak bebas tanpa ada yang bisa mengatur
Namun telah disediakan untuk dipilih
Dan diambil pada akhirnya

Berfikirlah dengan rasional
Bukan dengan emosianal
Jangan mendahulukan ego
Karena kita dianugerahkan Hati

Rabu, 26 Juni 2013

Potongan Surat Cinta

To Patricia

Maaf sayang, waktuku kemarin tak banyak untuk mengungkapkan semua yang ada dalam benak ini.
Maaf membuatmu menunggu bagian yang tertinggal hingga kau tak mampu membalas sepotong-sepotong. Terakhir aku menyampaikan dimana aku berada bersama potongan yang ku ambil untukmu. Disana aku terkapar dalam pelukan sang malam, diselimuti dinginnya harapan dan ketidak pastian sebuah jawaban. Aku cuma bisa berharap semua akan baik-baik saja dan dapat kutemukan apa yang kucari, hingga aku dapat pulang dengan bangga, aku pulang dengan senyum keberhasilan bukan dengan tangan hampa.

Mata ini enggan terpejam karena aku tidak pindah tidur kesana, aku mencari apa yang bisa kutemukan disana dan itu yang akan kuberikan nantinya. Aku tak sendirian disini, dirumah beratapkan langit yang Tuhan ciptakan untuk kami sang penikmat alam. Mereka yang pergi bersama orang-orang yang sepaham dan sejalan dengannya, bercanda mesra ditengah kedinginan ini. Dalam hati aku hanya bisa merintih malu, saat dimana tak ada yang mau berjalan disampingku untuk hal yang sama. Apa jalanku terlalu ekstrem hingga tak ada yang berani, atau jalanku hanyalah menyiksa diri karena meninggalkan apa yang telah dimiliki dizona nyaman mereka?? Aku tak tau karena memang aku tak pernah tau apa yang mereka inginkan atas semua tindakan mereka. Jangan biarkan mereka jadi penghalang saat mereka tak sejalan denganmu, setidaknya begitulah caraku menjalani hidupku

Kesepian melanda ditengah keramaian dan gemericik kayu yang dilahap api ditengah-tengah kami. Rasa sepi ada karena kita mengabaikan orang-orang disekitar kita. Untuk penghujung malam, bukan suara yang tak terdengar, tapi kerendahan hati dari kami yang tidur karena cemas akan hari esok. Kuputuskan menyingkir karena aku tetap tak paham apa yang terjadi disana meski telah kucoba memahaminya. 

Disini, tepat diatas bongkahan batu ini ku curi apa yang kuberikan padamu. Aku terpaksa merenggut kebahagiaannya berkumpul bersama keluarganya, hidup damai didunianya untukmu yang lebih membutuhkannya. Aku tak pernah bisa melihatmu, dizalimi oleh tanganmu sendiri. Semoga apa yang kuberi ini dapat meredakan sedikit rasa sakit yang kau alami selama ini. Akhirnya tuhan menjawab perjuanganku selama ini, diapun muncul dengan megahnya dan langit pun memberikan jalan agar ia menampakkan diri dalam wujud sempurna dan tak ada cacat disaat itu. Tak ku sia-siakan moment itu, kuambil spot terbaik untuk mengambil secuil dirinya dan ku masukkan dalam kotak pandora yang sengaja ku bawa. Aku tak yakin apa ini akan berharga untukmu karena di bawah sana, dengan uang Rp 5000,- kita bisa mendapatkan 3 buah. Tapi aku ingin memberikan apa yang kudapat dengan tangan ini bukan tangan mereka atau tangan siapapun juga. Kau berhak membuangnya jika tak menginginkan, setidaknya aku telah memberimu dengan tulus pikirku sambil turun untuk pulang. Aku tak sabar segera mengirimkannya untukmu.

"kau mencurinya kan" suara keras melengking menghujam kepadaku, tak tau darimana arah suara itu
"apa yang kucuri dari kalian?" tanyaku setelah mencari arah suara ituu
"kau mengambil apa yang bukan hakmu" tegasnya
"apa yang bukan hakku??" tanyaku gusar, aku tak pernah dituding serendah ini sebelumnya
"itu yang didalam kotak merahmu, aku yakin kau mengambil saat kami semua lengahkan!!" tuduhan itu semakin meruncing
"aku memang mengambil sesuatu tapi aku tidak mengambil dari mu orang tua" tegasku
"BOHONG, aku sudah seringa mendengar alasan yang sama, aku ingin kau mengembalikannya" geramnya
Aku tak pernah sehina ini, aku tak ingin memukul orang tua dan menjadi kurang ajar. Aku juga tak ingin barang-ku disentuh siapapun karena aku tak suka privasiku diganggu. Kuabaikan dan pergi mendekati motorku yang hendak ku keluarkan dan pergi segera dari sana.
"Kau mau kemana? Aku tak membiarkan pencuri pergi begitu saja dari sini. Aku akan memberimu pelajaran atas apa yang kau perbuat dasar pencuri!! katanya kasar
"Aku bukan pencuri, dan aku tak melakukan hal ini sperti itu!! jawabku dengan nada tinggi
"Lantas kenapa tak kau tunjukkan apa isinya, kau bahkan terlihat cukup kaya untuk membeli semua yg ada disini, tapi ini bukan soal uang anak muda" tegasnya
"Sudahlah pak, biarkan anak ini pergi. Dia sudah mengerti kesalahannya" relai orang disana
"Aku tidak mencurinya, dan aku tak pernah melakukan hal hina itu" jawabku
"Sudahlah nak, akui saja dan mintalah maaf pada bapak ini" ungkap orang tua itu dengan halus
"Maling ndak ada yang ngaku, dan aku akan memberi pelajaran pada anak ini" tegas bapak itu
Ia melayangkan pukulan dengan batang kayu, dan aku menahannya dengan tanganku. Hantaman kayu telak mengenai tangan kananku, aku menyingrai kesakitan. Aku tak akan mengakui apa yang tidak kulakukan, sekalipun aku harus disakiti. Sebuah rasa sakit tak akan merubah kenyataan,
Saat pukulan berikutnya hendak melayang aku sudah bersiap menahannya, aku udah takut jika itu akan mengenai kepalaku tapi ia berhenti mengayunkan pukulannya. Ia diberitahu seseorang ternyata istrinya yang menjualnya tanpa sepengetahuannya. Ia sempat terdiam dan tak percaya bahwa ia telah memukul orang yang salah.

Aku tak menghiraukannya, dan aku pergi tak menghiraukan semua orang disana. Tak cuma batin, fisik pun tak luput dari rasa memar dan bentuknya yang membiru. Begitulah aku mendapatkan semua yang ku berikan padamu, semoga kau tak kecewa saat mengetahuinya. Patricia yang manis, patricia yang lucu, patricia yang sendu, aku tau kau akan baik-baik saja, jangan lupa dibalas surat ini ya.

Semua bisa memiliki patricia masing-masing dan memberikan yang terbaik untuk Patricia kalian semua. Jaidkan ia gadis istimewa yang menghiasi hidupmu.

Senin, 24 Juni 2013

Surat Cinta

Untuk Patricia,

Bersama surat ini, kukirimkan padamu sebongkah kabut dengan hawa dinginnya, segaris warna merah orange dan matahari terbit, apa ada bagian yang tertinggal saat dirimu menerimanya???

Seperti saat matahari hendak terbit, ada suara angin, dinginnya kabut gunung, rumput yang bergoyang-goyang, batu bercahaya seperti berlian, kehangatan yang khas tapi itu belum semuanya karena aku tak punya banyak waktu untuk merekamnya satu demi satu saat aku menulis surat ini disana. Seharunya ada ucapan, angan dan harapan yang kita panjatkan disana, namun aku tak sempat mengurainya dan berharap hal itu akan menjadi kenyataan kelak.

Patricia yang cantik, aku kemas surat ini dalam amplop dari jenis kertas yang sama karena aku tak ingin amplop yang berbeda kertas akan iri terhadapnya. Semoga kamu menerimanya utuh tanpa ada yang tertinggal dan berkurang selama pengiriman surat ini. Sudah banyak kata-kata yang kuberikan padamu selama ini dan untuk kali ini mungkin lebih dari sekedar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Patricia, dan kata-kata ternyata tidak mengubah apa-apa. Semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya atau tidak. Meksi ku tau bahwa dirimu juga terkadang hanya ingin didengar saja, tapi aku bukan benda mati yang tak bisa memberi solusi atas apa yang ku dengar.

Ku kirimkan padamu siluet berwarna asli tanpa editan dan tanpa hiasan rasa dingin yang baru. Patricia yang lugu,Patricia yang manis, akan ku ceritakan bagaimana aku bisa mendapatkanya dan membawanya kesini untuk ku berikan padamu

Saat itu, aku memikirkan apa yang harusnya kuberi untukmu. Bukan karena apa yang kau berikan untukku. Aku hanya ingin memberimu yang lebih dari sekedar kata-kata, meski terkadang kata-kata itu jauh lebih awet dari tulisan atau gambaran. Maknanya juga dapat kita modifikasi sesuai keinginan dan harapan kita saat ini, saat esok dan seterusnya. Bermalam-malam kuhabiskan waktu hingga pagi tuk memikirkan apa yang bagus tuk kuberikan padamu, tapi aku g peernah punya barang bagus dalam ruanganku untuk kuberikan padamu. Hingga akhirnya kutempuh jalan yang murni, tanpa ada alasan dibalik keadaan yang memaksaku.

Tempat dimana kutemukan banyak benda, banyak warna, banyak pilihan dan banyak perasaan. Aku pergi tanpa meminta ijin darimu karena jika aku pergi aku tak akan meninggalkan beban terhadapmu. Langkah demi langkah kutapaki jalan berbatu, jalan berkelok, jalan berlumpur hingga jurang yang licin. Ada harapan ditiap langkah yang ku tempuh, setidaknya begitu saat dimana aku memikirkanmu, aku merenungkanmu, aku berada disini untukmu. Bukan hal mudah ternyata, saat kita berusaha menempuh cara yang tidak lazim untuk menunjukkan yang tidak biasa.

Badai menyambutku dengan bringas, menguji seberapa kuat tekadku untuk mencapai apa yang ku mau. Dinginnya hembusan yang ia berikan terhadapku, basah dan lembab yang mempersulit jalanku, kencangnya angin yang ia hempaskan pada badanku ini. Bertahan adalah kondisi terbaik karena badai pasti berlalu dan akan ada pelangi setelah badai itu pergi. Badaipun akhirnya menyerah dan mengijinkanku meneruskan perjalananku.

Tak selamanya mulus akan menjadi kenyataan dalam hidup, begitu banyak persimpangan jalan yang harus dilalui tanpa ada petunjuk jalan yang jelas. Saat dimana hatilah yang harus menentukan, hatilah yang harus menuntun dan hati juga yang dijadikan pedoman. Hati bukan GPS yang memberikan jalan terdekat, jalan tercepat dan jalan ternyaman, aku sampai pada sisi jurang yang salah. Dan hanya ada 2 pilihan, memutar balik dengan jarak yang amat jauh atau menyisir sisi jurang untuk segera mencapainya. Pilihan yang tak mudah dan hati telah mengantarku kesini maka kulalui jurang ini bersama denganmu hati. Aku tak bisa mengkhianati hati yang telah kusuruh memilih untuk hidupku dan meninggalkannya saat harus melewati hal yang berat sendirian.

Aku tak bisa mengirimkan semua dalam satu kertas, aku takut kau akan bingung mana yang harus dibaca terlebih dahulu, jadi sengaja ku kirim dalam beberapa bagian. Jangan bosan menunggu apa yang ku beri untukmu karena aku bukan orang kaya yang akan memberimu dalam satu kali kesempatan.


Minggu, 23 Juni 2013

Rembulan

Apa yang kau lihat malam ini
Apa yang mereka lihat malam ini
Apa yang aku lihat malam ini
Bulan yang sama meski beda tempat

Tapi apa yang kau rasakan
Apa yang mereka rasakan
Dan apa yang ku rasakan
Apakah sama secara kasat mata??

Tak ingin beranjak pergi menghindar
Tak ingin berbalik arah tuk berlari
Tak ingin mengedipkan tuk menghilangkan
Setiap rincian moment yang diberikan

Sangatlah sulit mencari moment
Yang tepat dan bermakna
Butuh waktu dan keadaan yang mendukung
Lingkungan dan individu yang menunjang

Kau sungguh istimewa
Memberi tanpa harus menerima
Kepada semua yang ada
Tanpa memandang siapa dan dari mana

Nggak penting moment ini berjalan lama
Atau hanya beberapa saat saja
Karena kau dapat memberikan kebahagiaan
Dan tak sedikit yang cemburu terhadapmu

Kita semua punya versi masing-masing
Cara kita menilai dan memandang
Apa yang ia berikan secara tulus
Terkadang membuat kita agresif

Pergilah dan temui orang yang bersangkutan
Bicaralah dan katakan 
"Saya punya perasaan seperti ini sekarang"
"Dan kita perlu bicara agar perasaan saya lebih baik dalam menghadapi situasi ini"

thanks to rembulan malam ini

Jumat, 21 Juni 2013

Manusia (Katanya)

Manusia terlahir dengan bentuk spesial
Satu set organ yang full set
Satu paket takdir kehidupan
Dan beberapa bagian yang terpisah

Bentuk yang fleksibel
Menyesuaikan pertumbuhan
Organ yang komplit sesuai kebutuhan
Takdir yang memang ditulis sebelum lahir

Tapi ada satu bagian yang sengaja dipisah
Dititipkan pada seseorang yang berbeda
Seseorang yang akan menjadi pendamping
Seseorang yang dibilang jodoh TUHAN

Aku terbentuk atas apa yang ku alami
Dan tiap manusia menjadi individu yang berbeda
Tak ada yang sama meski menghampiri sama
Dan aku tak mempermasalahkan semua itu

Aku bersyukur dengan apa yang aku alami
Sakit, susah, duka, lara
Bahagia, tertawa, menyenangkan
Ibarat melengkapi warna sebuah pelangi

Jangan pernah minder atas apa yang kau punya
Jangan pernah takut atas apa yang kau tak punya
Teruslah berjalan dengan tegak
Bersuaralah dengan lantang

-efek nungguin hujan-

Jika ada yang pernah merasakan
Apa yang orang sebutkan
Apa yang orang katakan
Namun kita masih membayangkan

Apa yang hendak ku lakukan???
Percaya???
Mencoba??
Atau pasrah dengannya??

Tak pernah ada yang tau
Apa akhir dari setiap pilihan
Ujung dari setiap jalan
Ending setiap moment

Kita tak berhak disalahkan
Atas apa yang dipilihnya
Atas apa yang diinginkannya
Atas apa yang dirasakannya

Akhir-akhir ini
Hanya kesalahan dan kesalahan
Hanya itukah yang bisa diingat??
Kebaikan dan kebenarannya

Mengapa kesalahan sangat mencolok
Meski porsinya kecil dan tak seberapa
Kebenaran tak lagi berharga dan terlihat
Itulah yang orang bilang dengan topeng

Menunjukkan kesalahan orang lain
Hanya untuk menutupi kesalahannya
Merendahkan orang lain
Untuk meninggikan dirinya

Setinggiapapun sebuah kepalsuan
Tetap akan menjadi kepalsuan
Tak akan pernah menjadi kenyataan
Meski lama dan menjadi kebiasaan

Kamis, 20 Juni 2013

Tau belum tentu Ngerti

Aku pernah jatuh
Aku pernah tersandung
Aku pernah tersungkur
Aku pernah terjebak

Tapi aku pernah dipuncak
Aku pernah diatas
Aku pernah didepan
Aku pernah disampingmu

Terkadang kita baru bisa mengerti
Saat kita pernah merasakannya
Apa kita perlu jatuh dulu
Untuk mengerti apa itu sakit?

Apa kita tak bisa mengerti dan paham
Tanpa perlu merasakannya secara nyata
Dan tak banyak orang seperti itu
Setidaknya sulit menemukan diantara kita semua

Seseorang cenderung nyaman
Cenderung memihak dan memilih
Bersama mereka yang memang tau
Bukan mereka yang cukup tau

Apa kita bakal paham gimana rasanya sakit tanpa mengalami?
Cuma tau teori dari orang jika sakit tu rasanya begini begitu
Kalau ada orang lain yg praktek ya kita dapat teorinya doank
Sekedar ngerti tapi praktek sendiri lah yang bikin paham (Miss esage)

Bukan soal proses bagaimana kamu terjatuh
Atau bagaimana ending kamu bangkit nanti
Tapi ini soal apa yang masih di pertahankan
Apa yang hendak di tata atas apa yang dipertahankan

Rabu, 19 Juni 2013

Tetesan Hujan

Hujan terus mengguyur kota kami
Basah dan aromanya yang khas
Ritme dan suara yang jelas
Dan masih memberi alasan untuk bersabar

Terkadang seseorang
Kebanyakan orang
Menangkap apa yang dikatakan
Dan bukan apa yang dimaksud

Sering kita bertengkar
Sering kita berperang
Sering kita berdebat
Tentang hal yang sama tapi beda

Meributkan hal yang g penting
Merebutkan hal yang g ada
Begitu konyol dan tak berguna
Layaknya manusia tanpa dosa

Disaat aku enggan berbicara
Pada makhluk yang katanya manusia
Manusia yang paling sempurna daripadanya
Makhluk lain yang diciptakan-NYA

Dia selalu ada dan tak pernah protes
Dia selalu diam dan menyimak
Dia selalu bersedia tanpa alasan
Tapi dia tetap tak memberi jawaban terbaik

Selasa, 18 Juni 2013

Namaku Lala(Semua bermula disini)

# Teringat janji manis kita semua yang kita buat saat kita belum mengerti bahwa dunia itu sangat kejam. Lebih kejam dari binatang yang memakan anaknya sendiri pada beberapa karnivora dialam liar sana. Jika ada yang bertanya tentang apa dan mengapa?semua itu hanya waktu yang akan menjawab pada akhirnya. Kita hanya bisa memilih yang menurut kita paling mendekati apa itu benar dan enak untuk KITA bukan untuk dia atau pun orang lain. Ntah kenapa rasa ini begitu berat, banyak yang harus dikorbankan untuk apa yang kita butuhkan. Tak siapkah?? Apa hanya belum bisa berjalan sendiri tanpa adanya penopang??

# Hari ini adalah hari pertama aku masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) di salah satu sekolah ternama di kotaku. Asing berada disini dengan asal ku yang bukan dari kalangan orang kaya, dan teman-temanku juga pada memutuskan untuk memmbantu orang tua mereka. Kelak aku akan membawa kalian semua kearah sukses dengan cara ku, aku tak ingin pendidikan ini akan tak berguna bagi siapapun. Aku masuk diruang X C, ntah kenapa aku ditempatkan disana. Rumornya hanya anak-anak orang kaya yang masuk di kelas A dan kelas B berisikan orang-orang yang orang tuanya bekerja sebagai guru dan karyawan disekolah ini. Dan dikelas C sisa-sisanya. Aku tak peduli dengan semua itu, bisa melanjutkan sekolah saja itu sudah jauh dari kata cukup. Tak banyak yang bisa ditangkap selain soal MOS (Masa Orientasi Siswa) yang akan diadakan 3 hari dan menginap disekolah. Orientasi terhadap apa?? perkenalan tentang apa?? yang kutau MOS hanyalah ajang perploncoan karena tak ada nilai-nilai yang ditanamkan didalamnya. Sangat ironi karena mereka tak mengenal arti perkenalan yang sesungguhnya, hanya image yang ditanamkan dan mereka ingin dikenal adik-adiknya seperti itu.

Hari pertama
Jam 6.00 kita sudah disuruh datang semua dan harus mengikuti semua kegiatan yang ada. Seorang ketua Mos (Sebut saja MAKI), dia membuka acara dengan membacakan semua peraturan dan larangan-larangan serta sangsi yang ada. Baru dia menjelaskan apa yang akan kita lakukan hari ini sampe nanti malam. Belum selesai dia menjelaskan, kami dikagetkan dengan siswa-siswi baru yang terlambat datang sontak semua bergerumbul dan memarahi mereka berdua menjadi bulan-bulanan panitia lainnya.
"Kalian ndak punya jam apa, ini sekarang sudah jam berapa? baru masuk aja berlagak!!! bentak panitia
"Maaf kak, tadi ban motornya kempes jadi telat" ungkap siswa itu
"Alasan kalian ini, udah hukum aja. Gantung di tiang bendera!" pinta salah satu panitia
"jangan kak, kami g tau kalau bakalan seperti tadi" jelas siswi yang hampir menagis
"Udah, udah langsung masuk ke barisan aja. bentar lagi Kepsek ngasih pembukaan soalnya" ujar ketua Mos
Tak kusangka kata-kata itu keluar dari mulutnya, dia terlihat dingin, arogan dan sombong tanpa ada senyum sedikit pun buat kami yang akan menjadi bagian dari sekolahan mereka. Kukira seorang kepala sekolah itu botak, gemuk dan agak pendek tapi yang ini berbeda. Dia tinggi dan belum terlalu tua, rambutnya hitam dan bagus. Tak seseram dan jauh dari apa yang ada dalam benakku.

Jam 12.00
Jenuh otak mendengarkan apa yang kurang penting dari pagi hanya mendengar ceramah. Ini adalah jam makan siang dan semua peserta membawa bekal sesuai yang diminta. Namun ada 1 cewek yang kebetulan tidak bisa makan sehingga harus membawa bekal yang lain untuk dimakannya siang itu. Panitia sewot dan merasa itu hanyalah sebuah alasan dan gadis itu tak diijinkan memakan bekalnya lantas dibiarkan pergi. Aku mendekatinya dan membagi bekalku dengannya, ia memakan apa yang bisa ia makan dan kami berbagi seadanya siang itu. Namanya Melati, gadis cantik dengan rambut lurus, badan tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk juga. Jika dilihat sekilas mungkin kita akan tertipu dengan penampilannya yang biasa karena ku tahu bahwa dia tergolong anak orang kaya. Perkenalan singkat kami tak disangka menjadi akrab layaknya seorang sahabat karib. Tak dapat dipungkiri bahwasanya dia yang dikenal saat MOS akan menjadi soulmate sepanjang studinya nanti dan kami juga berharap demikian nantinya.

Jam 20.00
Setelah makan malam selesai, kami diminta berkumpul di sekitar api unggun. Semua panitia juga berkumpul kecuali ketua, ntah kenapa sosok itu tak hadir disana padahal menurutku saat yang paling seru adalah saat api unggun. Kenapa aku mencari orang seperti itu?? Semoga ini bukan apa-apa.
"Agenda kita malam ini adalah game, dimana siapa yang nanti masih memegang itu botol saat lagu habis maka dia yang akan kena hukuman. Dan hukumannya itu nanti ada yang dari kita dan ada yang dari peserta." kata panitia. Lagu sudah dimulai dan botol mulai bergulir, berharap itu botol tak berhenti padaku karena aku tak tau hukuman apa yang nantinya ku dapatkan. Tak sesuai harapan karena lagu habis pas aku akan menyerahkan itu botol kepada teman yang lain. Mimpi apa aku semalam sampe harus terjadi hal ini,
"Kamu maju ketengah dan perkenalkan dirimu dulu" kata panitia
"Namaku Lala" kataku singkat
"oke, nama dia lala. dari peserta mungkin mau ngasih hukuman apa? tanya panitia
"suruh joget dangdut aja" jawab peserta cowok
"gimana yang lain?? setuju??" ujar panitia
"setujuuuuuuuuuuuuuuu" sontak semua setuju dan mukaku mulai merah
"tapi kamu yang nyanyi tantangku kepada peserta cowok tadi" min aku g malu sendiri
"ogah, kenapa aku harus ikutan, kan kamu yang dihukum" kata peserta co
"kan kamu yang mulai" ujarku
"daripada kalian berantem, mending kalian berdua yang disini" jelas panitia
sambil menggerutu ia akhirnya maju dan menyanyi sesuai lagu yang diminta, kapok kamu minimal aku g malu sendiri untuk saat ini
"awas yah, ku balas ntar kamu. kata peserta itu
Hukuman pertama selesai dan aku belum lega karena ada yang berikutnya yang mungkin lebih kejam dari panitia. kan mereka memang suka usil.
"Untuk hukuman berikutnya kamu harus nyariin si ketua dan bawa dia kesini. Dia ada di salah satu tempat disekolahan ini. Bawa dia kesini sebelum acara ini selesai, kalo bisa sebelum tengah malam" kata panitia
Mampus aku, sekolah segede ini harus nyari kemana lagi orang satu itu. Mana ruangan kelasnya banyak lagi. Serem pula karena lampunya minim ditiap koridor. Aku langsung mencoba berjalan dilantai pertama dan berharap menemukannya disalah satu sudut tempat. Angin mulai membuat bulu kuduk berdiri dan terasa merinding. Bayangin aja jalan sendiri di sekolah segede istana, aku beranikan diri aja untuk untuk naik kelantai dua dan terlihat sesosok bayangan lewat sebelum aku sampai ke lantai dua. Aku ikuti arah bayangan itu lewat karena memang cepat jadi hilang disudut koridor. Mencoba mendekati ujung koridor dan tiba - tiba terdengar suara...............

to be continued

Senin, 17 Juni 2013

Lawu masih indah

Dinginnya suhu gunung
Rapatnya pepohonan
Ramahnya sentuhan kabut
Dan jalan batu yang masih pada tempatnya

Kenangan lama yang terputar
Nostalgia serasa kembali
Aliran darah tak berhenti
Detak jantung serasa antusias

Merasakan apa yang terlewati
Dengan siapa dan bagaimana
Semua menjadi cerita yang menarik
Semua menjadi aneh jika diingat

Masih dan memang indah
Banyak yang terjadi
Banyak yang dilewati
Namun sedikit yang disesali

Bukan karena tak indah
Bukan karena tak nyaman
Hanya karena terlalu singkat
Mungkin karena terlalu pendek

Moment yang tercipta begitu nyata
Insiden yang ada begitu bermakna
Memang tidak lama
Juga tidak sebentar

Namun cukup memberikan kesan
Arti yang tak harus banyak
Makna yang tak harus jelas
Sudah lebih dari puas bila dibahas

-back to lawu-

Kamis, 13 Juni 2013

Gadis Kecilku (Terus Berlari)

Walaupun kau terluka dan menderita
Kau malah memilih dan mengejar jalan itu
walaupun kau terjebak dan tenggelam
Kau malah bertahan di dalam sana

Setiap kali melihatmu seperti itu
Hatiku jadi bimbang
Pikiranku jadi kacau
Dan rencanaku berantakan

Aku tak harus menghentikanmu
Aku malah membantumu
Melewati jalanmu
Menghadapi pilihanmu

Aku bisa dekat denganmu
Aku bisa kenal denganmu
Aku juga bisa melihatmu
Tumbuh dengan keanggunanmu

Aku terlalu menganggapmu kecil
Tak berdaya dan tak kuasa
Akan takdir tuhan yang menimpamu
Terlalu dini ikut andil dalam bagian kala itu

Tak ada yang lebih membahagiakan
Dari semua yang telah dilewati
Dari semua yang telah dijalani
Kini aku memilih mundur dengan senang hati

Gadis Kecilku (Saat dulu)

Langit masih mendung seperti biasa
Tapi tidak untuk pagi ini
Disanding kaca berukuran besar
Terlihat hamparan awan luas disana

Sayang aku bukan disabana
Sayang aku bukan dipesisir
Sayang aku bukan diatap
Setidaknya aku bisa menikmati rasa 

Sebuah alasan mengapa dan bagaimana
Tak akan jauh-jauh dari sana
Tak juga berbeda dari awalnya
Disaat semua telah berbeda

Kini ku sadar akan satu hal
Kau bukan lagi gadis kecilku
Kau bukan lagi gadis manjaku
Kau bukan lagi gadis yang ceroboh

Apa aneh jika aku  menginginkanmu bahagia
Apa salah jika aku memiliki rencana untukmu
Apa lancang jika aku berjalan mengikutimu
Aku hanya memilih atas apa yang tak dipilihkan

Kini kau telah siap berdiri
Kini kau telah siap melangkah
Kini kau telah siap berlari
Mengejar apa yang kau impikan (setidaknya begitu)

Dengan tangan kiri memegang rumput
Tangan kananmu masih bebas meraih yang lain
Matamu leluasa menggambarkan dunia
Dan kakimu bebas berjalan kemanapun

Aku akan selalu bersamamu
Meski jalan kita berbeda
Kebutuhan nya sekarang berbeda
Dan jalani yang kau inginkan

Minggu, 09 Juni 2013

Puing-Puing Rencana

Engkau baru merasakannya sendiri
Dulu engkau hanya bisa melihat
Dulu engkau hanya bisa mendengar
Dulu engkau hanya bisa membayangkan

Apa yang orang ceritakan
Apa yang orang gambarkan
Apa yang orang rasakan
Tanpa mengerti secara pribadi

Awalnya aku tak ingin
Awalnya aku tak berhak
Melarang dan menghakimi
Apa yang hendak terjadi

Terkadang kita tak mengerti
Apa itu sakit tanpa merasa jatuh
Apa itu bahagia tanpa merasa berhasil
Apa itu berjuang tanpa ada berkorban

Salah kami yang ikut campur
Salah kami yang turun tangan
Salah kami yang ingin peduli
Salah kami yang menetapkan hasil akhir

Kini kau telah merasakannya
Apa yang telah kami ceritakan
Apa yang telah kami tunjukkan
Apa yang telah kami gambarkan

Yang dibutuhin sekarang
Hanya mereka yang bersedia
Hanya mereka yang menerima
Jalan dan pilihanmu

Semua bukan abu-abu
Hitam atau pun ptih
Yang ada hanyalah bekas
Puing-puing rencana yang dibuang

Hanya bisa menitipkanmu pada mereka yang berjalan dijalanmu (by Desta)

Namaku Lala

# Namaku Lala setidaknya begitu orang tuaku memanggilku. Aku baru saja menyelesaikan studiku disalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) ternama dikotaku. Aku tinggal dipesisir yang dekat dengan pantai dan jauh dari kebisingan kota, aku merasa beruntung karena orang tuaku mampu membiayai pendidikanku meski kami hanya keluarga nelayan. Aku memiliki seorang adik yang perempuan cute (bahasa jaman sekarang), dan dia memiliki pipi tomat bulet (chubby). Setiap orang yang melihatnya dari dekat pasti mencubit pipinya sebelum berkata "ini adik kamu??" sebuah basa-basi untuk dapat menjamahnya. Dan dia selalu marah dan merengut akibat sakit pipinya dicubit, dia takut makin bulet aja itu pipi.

Tiga hari yang lalu, aku baru saja merayakan kelulusanku. Alhamdulillah semua murid lulus tanpa meninggalkan teman seperjuangan sendiri meratapi kegagalan. Aku tak berlama-lama terjebak dalam euforia kelulusan dengan mencorat-coret seragamku dan berkonvoi bersama-sama dijalanan. Karena kelak seragam ini mungkin bisa digunakan adikku tersayang, dan aku ingin segera pulang karena aku ingin merayakan semua ini dengan keluargaku. Adikku terlihat bulat dari kejauhan sedang berdiri didepan pintu menunggu kepulanganku, ia tak sabar mendengar kabar apa yang ku bawa untuknya.
"kakak pulang.....kakak pulang.... ibu lihat kakak sudah pulang" teriaknya dari jauh. Seolah mendapat hadiah duren runtuh, sebuha kebahagiaan yang terlihat jelas. Dan untungnya aku bisa membalas kebahagiaan itu dengan kelulusanku. Tak sadar tanganku sudah ditarik-tariknya dan dibawa masuk ke dalam rumah sambil dia mbulet aja disekitar badanku.
"kakak lulus ngga??kakak nilainya berapa?? dapat ranking g??habis ini sekolah lagi g?apa mau nikah??"tanyanya tak berujung jeda dan koma.
Karena gregetan lantas kupegang kedua pipinya dan kudekatkan mukaku
"iya kakak lulus, nilainya bagus, enak aja nikah. Dasar anak kecil" sambil kucubit pipinya
"mama............kakak jahat, masa pipiku diewer-ewer kayak mainan" lari ke belakang
"hahahhahahahahha......."lucu juga kelakuan makhluk kecil satu ini

"iya nanti ibu marahin kakakmu, kamu lulus nak??" tanya ibu lembut
"Iya bu, makasih bu atas dukungan dan doanya selama ini" sambil ku peluk ibu
"aku g dipeluk uga sih kak??" celetuk suara adikku yang terlupakan
"hahahhahahhah, iya sini" kudekap mereka semua dan hangat nya kebahagiaan saat itu namun sayang ayahku belum pulang saat itu. Tak sabar akan ku bagi kebahagiaan ini kepadanya
"bu, aku ke kamar dulu ya mau istirahat dulu" kataku
"iya nak, jangan lupa seragamnya dilepas meski sudah g digunakan lagi" kata ibu.
Aku langsung pergi kekamar dan ingin merebahkan badan ini yang penat akan 3 tahun berkutat dengan pelajaran di bangku sekolah menengah. 3 tahun ku lewati bersama mereka semua teman, sahabat, guru dalam susah senang maupun duka. Namun aku tak bisa memegang mereka semua untuk tetap disampingku untuk menghadapi jenjang berikutnya, dan aku harus terbiasa tanpa mereka semua. Aku tau ada saat dimana semua akan berpisah dan berjalan dijalannya masing-masing.

1 Bulan sebelumnya
# Hari ini adalah hari terakhir dimana kita akan melewati Ujian Akhir Sekolah, dan setelah ini konsistensi kita bertemu akan berkurang. Apa aku bisa berjalan sendiri tanpa tangan kalian yang selalu bersamaku??? Meski aku tau banyak dari kita yang akan memilih jalan-jalan yang berbeda karena kondisi kehidupan kita berbeda-beda. Amin akan membantu ayahnya untuk menjadi nelayan dan tidak melanjutkan sekolahnya lagi, Anis akan ikut ibunya kekota untuk kerja disana. Tak ada tawar menawar dengan hidup, aku tau mereka masih ingin sekolah, merasakan bangku pendidikan lebih lama namun apa disangka mereka tak bisa berdamai dengan kerasnya hidup dan mereka tumbang dalam pilihan hidup. Terlalu egois juga jika memaksakan tanpa melihat kondisi orang tua mereka. Kita akan putuskan semua setelah pulang sekolah ditepi pantai tempat kita biasa menghabiskan hari bersama sunset dan mereka setuju.

Selepas pulang sekolah
# Aku pergi bersama Wildan dan Amin langsung ke tempat yang disepakati, Anis menyusul karena dia harus membeli titipan ibunya setelah pulang sekolah, dan Sarah ada urusan lain. Kami berlima sejak kecil bermain bersama meski latar belakang keluarga kami berbeda-beda. Akhirnya kami bertiga tiba lebih dulu dipantai, layaknya anak kecil yang bertemu banyak mainan, begitu riang dan berlari-lari ndak jelas saat itu. Tak lama kemudian Anis dan Sarah datang tak berselang berapa lama dan kami siap berbicara serius saat itu. Sudah dapat terbaca bahwa kabar ndak enak akan terucap dan aku harus siap dengan segala kemungkinan terburuk.
"Udah-udah ayo kita duduk sambil bakar nih ikan, aku tadi dapat dari nelayan disana kebetulan kenalan bapakku jadi lumayan buat makan siang kita semua" kata Amin memecah kesunyian
"Beruntung banget kamu min dapat ikan gratis, sering-sering aja kalo gitu" kata Wildan
"Setuju" sahut ku Sarah dan Anis
"Apa yang bakal kalian lakuin setelah lulus nanti??' tanyaku
"Aku belum tau karena aku belum bilang orang tuaku" jawab Anis
"Sama, aku juga" jawab Wildan dan Sarah
"Kalo kamu min??" tanyaku
"Mungkin aku bantuin bapak aja deh jadi nelayan, biar adikku tak putus akibat kesulitan biaya" sambil menyodorkan ikan yang telah dibakar kepada kami semua
"Tak inginkah kalian melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi?? peluang kita akan lebih besar untuk mengangkat kehidupan kita semua." ujarku dan berharap mereka akan tergerak hatinya
"makan ini aja dulu, kita nikmati waktu kita yang semakin sedikit ini" ujar amin.

Hingga sore menjelang tak ada yang disepakati kala itu. Pilihan hidup yang berat memang dan tak mudah tuk diputuskan dengan segera. Niat baik tak selalu disambut dengan baik juga, dan terkadang yang baik selalu kalah dari yang dibutuhkan. Dan kita pulang bersama, berpencar di persimpangan jalan. Ku tatap satu-satu wajah mereka dan cermati dan berharap wajah itu yang akan bersamaku berjuang untuk hidup yang lebih mapan.

to be continued

Sabtu, 08 Juni 2013

-efek kena macet-

Ditengah kemacetan kota jogja
Diguyur hujan tetes demi tetes
Meski tak membuat bubar
Malah membuat semakin rapat

Dinginnya udara malam
Meski langit tak bergitu cerah
Namun sayang tuk dilewatkan
Didalam ruangan yang membatasi

Terkait sebuah keterbatasan
Ada sebuah alasan dan pilihan
Mengapa dan Bagaimana
Tak ada yang salah dengan semua itu

Tak mengharap apa yang telah diberikan
Selain semua menjadi lebih baik
Bukan balasan atas apa yang diberikan
Bukan beban atas apa yang diterima

Kini semua telah berbeda
Yang dulu tak lagi sama
Meski dikembalikan
Atau diulang sekalipun

"Ibarat sebuah paku yang tertancap pada sebuah kayu,
meski telah dicabut maka akan tetap meninggalkan sebuah bekas."

Tak perlu disesali akan nasib dia
Tak perlu dirisaukan bagaimana dia
Jangan terima itu sebagai takdir buruk
Terimalah sebagai jawaban atas pilihan

Bakalan indah pada waktunya
Indah tak selalu happy ending
Indah tak selalu hura-hura
Indah tak selalu sesuai harapan

Terkadang melampaui batas normal
Terkadang tak jelas bentuk indahnya
Namun indahnya berasa sampai ke tulang
Merinding dan tak mampu bersua

Apa yang telah terjadi simpanlah
Buang jika tak bisa menyimpan
Ganti dengan yang baru
Jangan sisakan ruang hampa


Senin, 03 Juni 2013

Saat Ini

Saat saat seperti ini
Langka tuk terjadi
Mendapat inspirasi
Seolah mendapat lotre

Dinginnya kota ini
Heningnya suara jalan raya
Api unggun telah tiada
Tak mampu bertahan

Seseorang tak akan bertahan
Tanpa adanya tujuan
Tanpa adanya alasan
Dan mengalir bukanlah jawaban

Membiarkan mengalir adalah pasrah
Pasrah dengan apa yang akan terjadi
Menerima yang tidak seharusnya
Menanggung yang bukan tugasnya

Aku penasaran atas apa yang
Kau lakuin saat ini dan saat esok
Apa yang kau lakukan setelah semua usai??
Akan sangat menarik tentunya

Terkadang ada pernyataan
Yang tak perlu dikomentari
Dan ada beberapa pertanyaan
Yang tak harus dijawab saat ini


Minggu, 02 Juni 2013

Ibarat Sepatu

Bentuk dan rupanya tak sama persis
Namun serasi jika bersama
Tak pernah berjalan bersama
Namun memiliki tujuan yang sama

Posisi tak pernah tertukar
Tapi saling melengkapi
Tak ada yang lebih tinggi
Apa lagi yang lebih rendah

Bila salah satu hilang
Yang satu tak akan berguna
Tak akan ada harganya
Bentuknya juga g sempurna

Mereka memang ditakdirkan sepasang
Terlahir sudah sepasang
Meski berakhir belum tentu bersama
Tapi tetap hanya itu pasangannya

Wanita lebih mempercayai tindakan 
Dari pada sebuah ucapan
Apalagi hanya sebuah Tulisan
Siapa yang akan percaya

Satu Pihak

Matahari bangun lebih awal
Tanpa sempat aku menyambutnya
Bulan pergi duluan
Tanpa sempat mendampingiku

Siklus tak terjaga
Rutinitas tak terurus
Tak ada kapasitas
Tak ada selektivitas

Disaat motivasi melemah
Disaat yang sama pelarian meningkat
Hukum yang selalu seimbang
Mencari keseimbangan tuk bertahan

Dimana ada suka pasti ada duka
Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan
Dimana ada api pasti ada air
Tak ada yang bersifat sepihak

Membutuhkan dua pihak
Agar tidak sekedar menjadi wacana
1 pihak bergerak
1 pihak lainnya mengabaikan

Kita tak pernah akan masuk
Saat yang punya rumah tak mengijinkan