Minggu, 09 Juni 2013

Namaku Lala

# Namaku Lala setidaknya begitu orang tuaku memanggilku. Aku baru saja menyelesaikan studiku disalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) ternama dikotaku. Aku tinggal dipesisir yang dekat dengan pantai dan jauh dari kebisingan kota, aku merasa beruntung karena orang tuaku mampu membiayai pendidikanku meski kami hanya keluarga nelayan. Aku memiliki seorang adik yang perempuan cute (bahasa jaman sekarang), dan dia memiliki pipi tomat bulet (chubby). Setiap orang yang melihatnya dari dekat pasti mencubit pipinya sebelum berkata "ini adik kamu??" sebuah basa-basi untuk dapat menjamahnya. Dan dia selalu marah dan merengut akibat sakit pipinya dicubit, dia takut makin bulet aja itu pipi.

Tiga hari yang lalu, aku baru saja merayakan kelulusanku. Alhamdulillah semua murid lulus tanpa meninggalkan teman seperjuangan sendiri meratapi kegagalan. Aku tak berlama-lama terjebak dalam euforia kelulusan dengan mencorat-coret seragamku dan berkonvoi bersama-sama dijalanan. Karena kelak seragam ini mungkin bisa digunakan adikku tersayang, dan aku ingin segera pulang karena aku ingin merayakan semua ini dengan keluargaku. Adikku terlihat bulat dari kejauhan sedang berdiri didepan pintu menunggu kepulanganku, ia tak sabar mendengar kabar apa yang ku bawa untuknya.
"kakak pulang.....kakak pulang.... ibu lihat kakak sudah pulang" teriaknya dari jauh. Seolah mendapat hadiah duren runtuh, sebuha kebahagiaan yang terlihat jelas. Dan untungnya aku bisa membalas kebahagiaan itu dengan kelulusanku. Tak sadar tanganku sudah ditarik-tariknya dan dibawa masuk ke dalam rumah sambil dia mbulet aja disekitar badanku.
"kakak lulus ngga??kakak nilainya berapa?? dapat ranking g??habis ini sekolah lagi g?apa mau nikah??"tanyanya tak berujung jeda dan koma.
Karena gregetan lantas kupegang kedua pipinya dan kudekatkan mukaku
"iya kakak lulus, nilainya bagus, enak aja nikah. Dasar anak kecil" sambil kucubit pipinya
"mama............kakak jahat, masa pipiku diewer-ewer kayak mainan" lari ke belakang
"hahahhahahahahha......."lucu juga kelakuan makhluk kecil satu ini

"iya nanti ibu marahin kakakmu, kamu lulus nak??" tanya ibu lembut
"Iya bu, makasih bu atas dukungan dan doanya selama ini" sambil ku peluk ibu
"aku g dipeluk uga sih kak??" celetuk suara adikku yang terlupakan
"hahahhahahhah, iya sini" kudekap mereka semua dan hangat nya kebahagiaan saat itu namun sayang ayahku belum pulang saat itu. Tak sabar akan ku bagi kebahagiaan ini kepadanya
"bu, aku ke kamar dulu ya mau istirahat dulu" kataku
"iya nak, jangan lupa seragamnya dilepas meski sudah g digunakan lagi" kata ibu.
Aku langsung pergi kekamar dan ingin merebahkan badan ini yang penat akan 3 tahun berkutat dengan pelajaran di bangku sekolah menengah. 3 tahun ku lewati bersama mereka semua teman, sahabat, guru dalam susah senang maupun duka. Namun aku tak bisa memegang mereka semua untuk tetap disampingku untuk menghadapi jenjang berikutnya, dan aku harus terbiasa tanpa mereka semua. Aku tau ada saat dimana semua akan berpisah dan berjalan dijalannya masing-masing.

1 Bulan sebelumnya
# Hari ini adalah hari terakhir dimana kita akan melewati Ujian Akhir Sekolah, dan setelah ini konsistensi kita bertemu akan berkurang. Apa aku bisa berjalan sendiri tanpa tangan kalian yang selalu bersamaku??? Meski aku tau banyak dari kita yang akan memilih jalan-jalan yang berbeda karena kondisi kehidupan kita berbeda-beda. Amin akan membantu ayahnya untuk menjadi nelayan dan tidak melanjutkan sekolahnya lagi, Anis akan ikut ibunya kekota untuk kerja disana. Tak ada tawar menawar dengan hidup, aku tau mereka masih ingin sekolah, merasakan bangku pendidikan lebih lama namun apa disangka mereka tak bisa berdamai dengan kerasnya hidup dan mereka tumbang dalam pilihan hidup. Terlalu egois juga jika memaksakan tanpa melihat kondisi orang tua mereka. Kita akan putuskan semua setelah pulang sekolah ditepi pantai tempat kita biasa menghabiskan hari bersama sunset dan mereka setuju.

Selepas pulang sekolah
# Aku pergi bersama Wildan dan Amin langsung ke tempat yang disepakati, Anis menyusul karena dia harus membeli titipan ibunya setelah pulang sekolah, dan Sarah ada urusan lain. Kami berlima sejak kecil bermain bersama meski latar belakang keluarga kami berbeda-beda. Akhirnya kami bertiga tiba lebih dulu dipantai, layaknya anak kecil yang bertemu banyak mainan, begitu riang dan berlari-lari ndak jelas saat itu. Tak lama kemudian Anis dan Sarah datang tak berselang berapa lama dan kami siap berbicara serius saat itu. Sudah dapat terbaca bahwa kabar ndak enak akan terucap dan aku harus siap dengan segala kemungkinan terburuk.
"Udah-udah ayo kita duduk sambil bakar nih ikan, aku tadi dapat dari nelayan disana kebetulan kenalan bapakku jadi lumayan buat makan siang kita semua" kata Amin memecah kesunyian
"Beruntung banget kamu min dapat ikan gratis, sering-sering aja kalo gitu" kata Wildan
"Setuju" sahut ku Sarah dan Anis
"Apa yang bakal kalian lakuin setelah lulus nanti??' tanyaku
"Aku belum tau karena aku belum bilang orang tuaku" jawab Anis
"Sama, aku juga" jawab Wildan dan Sarah
"Kalo kamu min??" tanyaku
"Mungkin aku bantuin bapak aja deh jadi nelayan, biar adikku tak putus akibat kesulitan biaya" sambil menyodorkan ikan yang telah dibakar kepada kami semua
"Tak inginkah kalian melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi?? peluang kita akan lebih besar untuk mengangkat kehidupan kita semua." ujarku dan berharap mereka akan tergerak hatinya
"makan ini aja dulu, kita nikmati waktu kita yang semakin sedikit ini" ujar amin.

Hingga sore menjelang tak ada yang disepakati kala itu. Pilihan hidup yang berat memang dan tak mudah tuk diputuskan dengan segera. Niat baik tak selalu disambut dengan baik juga, dan terkadang yang baik selalu kalah dari yang dibutuhkan. Dan kita pulang bersama, berpencar di persimpangan jalan. Ku tatap satu-satu wajah mereka dan cermati dan berharap wajah itu yang akan bersamaku berjuang untuk hidup yang lebih mapan.

to be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar