Rabu, 26 Juni 2013

Potongan Surat Cinta

To Patricia

Maaf sayang, waktuku kemarin tak banyak untuk mengungkapkan semua yang ada dalam benak ini.
Maaf membuatmu menunggu bagian yang tertinggal hingga kau tak mampu membalas sepotong-sepotong. Terakhir aku menyampaikan dimana aku berada bersama potongan yang ku ambil untukmu. Disana aku terkapar dalam pelukan sang malam, diselimuti dinginnya harapan dan ketidak pastian sebuah jawaban. Aku cuma bisa berharap semua akan baik-baik saja dan dapat kutemukan apa yang kucari, hingga aku dapat pulang dengan bangga, aku pulang dengan senyum keberhasilan bukan dengan tangan hampa.

Mata ini enggan terpejam karena aku tidak pindah tidur kesana, aku mencari apa yang bisa kutemukan disana dan itu yang akan kuberikan nantinya. Aku tak sendirian disini, dirumah beratapkan langit yang Tuhan ciptakan untuk kami sang penikmat alam. Mereka yang pergi bersama orang-orang yang sepaham dan sejalan dengannya, bercanda mesra ditengah kedinginan ini. Dalam hati aku hanya bisa merintih malu, saat dimana tak ada yang mau berjalan disampingku untuk hal yang sama. Apa jalanku terlalu ekstrem hingga tak ada yang berani, atau jalanku hanyalah menyiksa diri karena meninggalkan apa yang telah dimiliki dizona nyaman mereka?? Aku tak tau karena memang aku tak pernah tau apa yang mereka inginkan atas semua tindakan mereka. Jangan biarkan mereka jadi penghalang saat mereka tak sejalan denganmu, setidaknya begitulah caraku menjalani hidupku

Kesepian melanda ditengah keramaian dan gemericik kayu yang dilahap api ditengah-tengah kami. Rasa sepi ada karena kita mengabaikan orang-orang disekitar kita. Untuk penghujung malam, bukan suara yang tak terdengar, tapi kerendahan hati dari kami yang tidur karena cemas akan hari esok. Kuputuskan menyingkir karena aku tetap tak paham apa yang terjadi disana meski telah kucoba memahaminya. 

Disini, tepat diatas bongkahan batu ini ku curi apa yang kuberikan padamu. Aku terpaksa merenggut kebahagiaannya berkumpul bersama keluarganya, hidup damai didunianya untukmu yang lebih membutuhkannya. Aku tak pernah bisa melihatmu, dizalimi oleh tanganmu sendiri. Semoga apa yang kuberi ini dapat meredakan sedikit rasa sakit yang kau alami selama ini. Akhirnya tuhan menjawab perjuanganku selama ini, diapun muncul dengan megahnya dan langit pun memberikan jalan agar ia menampakkan diri dalam wujud sempurna dan tak ada cacat disaat itu. Tak ku sia-siakan moment itu, kuambil spot terbaik untuk mengambil secuil dirinya dan ku masukkan dalam kotak pandora yang sengaja ku bawa. Aku tak yakin apa ini akan berharga untukmu karena di bawah sana, dengan uang Rp 5000,- kita bisa mendapatkan 3 buah. Tapi aku ingin memberikan apa yang kudapat dengan tangan ini bukan tangan mereka atau tangan siapapun juga. Kau berhak membuangnya jika tak menginginkan, setidaknya aku telah memberimu dengan tulus pikirku sambil turun untuk pulang. Aku tak sabar segera mengirimkannya untukmu.

"kau mencurinya kan" suara keras melengking menghujam kepadaku, tak tau darimana arah suara itu
"apa yang kucuri dari kalian?" tanyaku setelah mencari arah suara ituu
"kau mengambil apa yang bukan hakmu" tegasnya
"apa yang bukan hakku??" tanyaku gusar, aku tak pernah dituding serendah ini sebelumnya
"itu yang didalam kotak merahmu, aku yakin kau mengambil saat kami semua lengahkan!!" tuduhan itu semakin meruncing
"aku memang mengambil sesuatu tapi aku tidak mengambil dari mu orang tua" tegasku
"BOHONG, aku sudah seringa mendengar alasan yang sama, aku ingin kau mengembalikannya" geramnya
Aku tak pernah sehina ini, aku tak ingin memukul orang tua dan menjadi kurang ajar. Aku juga tak ingin barang-ku disentuh siapapun karena aku tak suka privasiku diganggu. Kuabaikan dan pergi mendekati motorku yang hendak ku keluarkan dan pergi segera dari sana.
"Kau mau kemana? Aku tak membiarkan pencuri pergi begitu saja dari sini. Aku akan memberimu pelajaran atas apa yang kau perbuat dasar pencuri!! katanya kasar
"Aku bukan pencuri, dan aku tak melakukan hal ini sperti itu!! jawabku dengan nada tinggi
"Lantas kenapa tak kau tunjukkan apa isinya, kau bahkan terlihat cukup kaya untuk membeli semua yg ada disini, tapi ini bukan soal uang anak muda" tegasnya
"Sudahlah pak, biarkan anak ini pergi. Dia sudah mengerti kesalahannya" relai orang disana
"Aku tidak mencurinya, dan aku tak pernah melakukan hal hina itu" jawabku
"Sudahlah nak, akui saja dan mintalah maaf pada bapak ini" ungkap orang tua itu dengan halus
"Maling ndak ada yang ngaku, dan aku akan memberi pelajaran pada anak ini" tegas bapak itu
Ia melayangkan pukulan dengan batang kayu, dan aku menahannya dengan tanganku. Hantaman kayu telak mengenai tangan kananku, aku menyingrai kesakitan. Aku tak akan mengakui apa yang tidak kulakukan, sekalipun aku harus disakiti. Sebuah rasa sakit tak akan merubah kenyataan,
Saat pukulan berikutnya hendak melayang aku sudah bersiap menahannya, aku udah takut jika itu akan mengenai kepalaku tapi ia berhenti mengayunkan pukulannya. Ia diberitahu seseorang ternyata istrinya yang menjualnya tanpa sepengetahuannya. Ia sempat terdiam dan tak percaya bahwa ia telah memukul orang yang salah.

Aku tak menghiraukannya, dan aku pergi tak menghiraukan semua orang disana. Tak cuma batin, fisik pun tak luput dari rasa memar dan bentuknya yang membiru. Begitulah aku mendapatkan semua yang ku berikan padamu, semoga kau tak kecewa saat mengetahuinya. Patricia yang manis, patricia yang lucu, patricia yang sendu, aku tau kau akan baik-baik saja, jangan lupa dibalas surat ini ya.

Semua bisa memiliki patricia masing-masing dan memberikan yang terbaik untuk Patricia kalian semua. Jaidkan ia gadis istimewa yang menghiasi hidupmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar