Rabu, 27 Agustus 2014

Kemana Pergi nya?

Mulai harus membuang harga diri
Mengkaji kembali harga mati
Memikirkan lagi ego diri
Semua akan berubah cepat atau lambat

Sejauh apapun rasa itu
Sebesar apapun rasanya
Semua akan luntur dan hambar
Rasa jenuh akan datang menggantikannya

Saat seseorang menyukai sesuatu
Akan selalu melakukannya
Menjadi kebiasaan yang berulang
Memang tak ada yang salah, namun

Kejenuhan datang menggerogoti semuanya
Hembusan angin malam membisikkan sejenak
"Mau sampai kapan seperti ini?"
"Hidup bukan hanya tentang ini!"

Kemana sisa otak ini
Berkutat dengan satu urusan yang sebenarnya selesai dengan sendirinya
Terlalu dalam ternyata sudah tanpa disadari
Sesak yang dialami ternyata ini penyebabnya

Akan ada masanya
Akan tiba waktunya
Memang tak  ada tandanya
Tapi jelas gejalanya

Mungkin memang harus diakhiri
Semua atau tidak sama sekali
Setengah-setengah hanya membuat semakin runyam
Membawa andil perasaan hanya membuat pilihan semakin berat

Aku tak mau lagi melakukannya
Aku sudah tak bisa lagi berharap padanya
Perasaan negatif sudah tak bisa diberlakukan lagi seperti kemarin
Harus rasional dan bukan lagi gambling seperti biasa (karena aku lemah dalam perjudian)

Memang mulai dari sekarang di tata kembali
Semua akan segera terjadi
Benar benar tenggelam dan akan mati
Ntah nanti akan dilahirkan kembali dimana

Disuatu tempat yang baru
Bersama para orang orang yang baru
Dengan keadaan yang berbeda
Bersama para tuntutan yang tak lagi sama

"Setidaknya berjalan dijalan yang sama adalah sebuah cerita kita,
Apa yang kita lewati adalah sebuah persiapan untuk hari ini.
Hari dimana kita tak lagi meminjam kaki orang lain, menggunakan tangan orang lain, memasang telinga orang lain. Sebuah keinginan yang tak bisa dilanjutkan dan tak mudah untuk disudahi,
hanya bisa dijaga untuk tetap menjadi tradisi KITA."

Selasa, 19 Agustus 2014

Sebatas Ini Kah?

Dirgahayu Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke 69
di Kaliadem, Kepuharjo, Sleman, Yogyakarta

Jiwa yang mula luntur
Hati yang mulai termakan zaman
Keinginan yang mulai terlupakan
Dan harapan pendahulu yang telah diabaikan

Jika ada yang bilang negara kita telah merdeka
Itu dulu dan hanya berlaku untuk mereka yang berperang
Tapi apakah maknanya dengan kita adalah sama?
Atau kita membuat makna sendiri dari kata tersebut

Merdeka adalah sebuah kebebasan dari penjajahan (bagi mereka)
Merdeka adalah saat kita berhak menentukan keinginan kita (bagi kita)
Sangatlah berbeda dengan apa yang para pendahulu harapkan
Sangatlah melenceng dari apa yang mereka inginkan
 
Saat bendera menjadi sebuah asesoris
Saat lambang negera tak lagi dihargai dengan layak
Saat pengorbanan pendahulu hanya dianggap angin lalu
Saat itu pula budaya terima kasih tak lagi ada dinegeri ini
 
Tak pernah ada seseorang yang terlahir untuk sendirian
Hanya cara kita mencari dan menemukan
Bukan dicari dan ditemukan
Kebersamaan yang diinginkan bersama mereka yang dianggap sama
 
Tanpa pernah kita tahu
Tanpa pernah kita sadari
Bahwa kesendirian kita adalah kesendirian mereka
Kesendirian yang sama ditempat yang berbeda

Terus berjalan meski sendiri
Mencari dan menemukan yang diingikan
Atau berhenti diam dan menanti
Dicari dan ditemukan orang yang diinginkan
 
Merdeka adalah hal yang diinginkan
Merdeka dari paksaan melakukan yang diperintahkan
Bergerak atas dasar ketidakrelaan
Berfikir karena kesenangan dan kenyamanan

Merdeka atau dimerdekakan
Kita yang merasakan atas apa yang mereka perjuangkan
Kita yang melupakan atas apa yang mereka korbankan
Sebatas inikah rasa terima kasih kita

Tidak tahu malu rasanya diri ini
Menunduk dan tak berani menatap wajah mereka
Senja yang terlupakan sebutan kita kepada mereka
Tangan yang masih kokoh ini tak berdaya dibandingkan tangan mereka yang bahkan sudah gemetar untuk menjabat tangan

Kamis, 14 Agustus 2014

3805 mdpl (part 2)

Jum'at, 11 Juli 2014
01.45 Dini hari (Stasiun Pasar Senen)
Banyak yang bilang jakarta identik dengan keras, jahat, sadis banjir dan segala macam seperti yang sering kita tonton di tipi-tipi. Untuk pertama kali dalam hidup menginjakkan kaki disini, di kota yang tak pernah kuinginkan untuk datang berkunjung karena terkenal macet. Masih ada 6 jam lagi sebelum penerbangan kekota tujuan berangkat. Masih harus ke stasiun gambir dimana transport ke bandara mudah untuk ditemui. Berjalan kesana kemari mencari tempat terenak untuk menyandarkan barang bawaan

Carrier yang selalu dibawa dipunggung
Beban yang selalu dipikul
Tak harus selalu dijunjung selamanya
Letakkan sejenak untuk mengenang kenapa beban itu ada


03.00 (Bandara Internasional Soekarno-Hatta)
Tempat dengan banyak pintu untuk memisahkan, memilah dan membagi mereka sesuai kebutuhan dan tujuan yang diinginkan. Tak ada yang bisa ku lakukan ditempat macam ini dimana sejak matahri belum terbit rasa gerah memang sudah menyelimuti tempat ini. Tidur adalah pilihan terbaik untuk saat ini, persetan dengan mereka yang lalu lalang tanpa peduli siapa, kenapa dan apa yang menjadi tujuan individual masing-masing.

Secara alamiah kita memang akan terpilah
Dia yang suka dengan kenyamanan
Mereka yang mencintai tantangan
Kami yang mencari sebuah jawaban

Kita tidak akan pernah bersama jika tidak mengorbankan ego
Saling berada disisi individu tanpa pernah menyebrang
Saling menatap dan berteriak seolah mengenal tanpa melambaikan tangan
Terkadang suara terdengar tanpa diketahui siapa yang mengucapkannya

Dan saat itu akhirnya tiba (08.45)juga dimana semua akan berjalan sesuai rencana tanpa pernah kita tahu hasil mana yang akan kita peroleh nantinya disana. Semua yang terjadi adalah apa yang kita inginkan atas ridho Tuhan, dan jika tidak terjadi maka Tuhan belum meridhoinya.

10.00 (Touch Down Bandara Internasional Minangkabau, Padang)
Sampai dipitstop berikutnya sebelum menempuh 6jam perjalanan lagi menuju tempat yang diinginkan, sebuah tempat yang diimpikan. Siapa yang akan dijemput, Apa yanng akan didapatkan, kapan akan diperoleh hanyalah sebuah misteri namun satu hal yang jelas adalah Tuhan tak mungkin membiarkanku sampai kesini tanpa suatu alasan *setidaknya begitu

Aku sadar bahwa aku sampai disini karena kalian
Berjalan bersama kalian mengasah mentalku
Bertengkar dengan kalian mengasah pikiranku
Dan beradu dengan kalian membentuk caraku

Mengorbankan diri untuk kalian adalah sebuah pembuktian
Sebuah alasan untuk bisa bersama
Sebuah cara untuk bisa setara
Meski tak akan bisa sebanding

Kota padang dengan ciri khas bangunan yang penuh dengan lincip-lincip diatapnya, dan hampir semuanya mirip baik itu bangunan kecil atau yang besar. Termenung dalam keramaian dan kepadatan kota sebelum masuk kehutan melewati danau menuju tempat di provinsi yang berbeda. Ntah kenapa hanya kosong yang dirasa, tak ada lagi alasan dan tujuan selain berkunjung. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan saat aku berkunjung ke timur (3676 mdpl) dan timurnya lagi (3726 mdpl).

Semua yang telah terjadi biarkan semua terjadi, maafkan diri karena belum mampu memuaskan diri karena cepat puas membuat diri enggan untuk berusaha lebih dari yang seharusnya

Senin, 11 Agustus 2014

Hanya Kebetulan

Dikala mendung masih saja menghiasi langit kota ini
Sendu masih saja datang terus dan terus tanpa pernah menghilang
Apakah yang kupilih adalah sebuah kesalahan
Atau memang belum waktunya untuk benar

Saling mengenal tapi tak pernah tahu
Saling berhubungan tapi tak pernah tahui
Saling tak mengenal tapi saling mengerti
Saling tak berhubungan tapi saling mendoakan

Seseorang hanya akan datang
Atau dia akan pergi
Saat dimana waktunya memang datang
Ditambah lagi keadaan yang mendukungnya

Akan tetapi semua kembali
Atau dipaksa untuk kembali
Inikah yang diinginkan
Atau yang keadaan inginkan

Serasa semua mulai kembali
Saat dimana dia yang menghilang telah muncul kembali
Sejenak atau selamanya
Bukan lagi hal yang penting untuk dipatenkan

Selama apa yang dilakukan menghampiri yang kita inginkan
Apa yang dipikirkan sudah menuju arah keinginan kami
Buat kita sudah jauh lebih cukup
Dan sudah jelas untuk menjawab pertanyaan yang ada

Akan jadi apa
Akan terjadi kapan
Akan menjadi bagaimana
Biarlah semua mengalir kembali ke jalurnya

Saat semua telah diberikan
Saat itulah semua akan terjawab
Semua akan kembali
Dari yang nol akan menjadi nol kembali

Memang tak bisa dipungkiri
Apa yang biasa didapatkan akan menjadi sebuah kebiasaan
Apa yang jarang dilakukan akan menjadi hal yang tidak diinginkan
Menghindari bukan sebuah pembenaran atas apa yang dijalani

Aku memang tak selamanya ada disisi
Tapi akan ada untuk sekedar mendengarkan
Bukan lagi menemani apalagi mendampingi
Karena kita hanya kebetulan melewati jalan yang sama

Kamis, 07 Agustus 2014

Isi Kepala Mu?

Terlampau jauh dari keramainan kota
Hening ngebuat kita mengerti
Bahwa apa yang kita pikirkan adalah roda
Terus berputar dan terus dipikirkan hingga sampai tujuan

Untuk apa semua itu
Untuk siapa kita melakukan itu
Apa yang ingin dicari
Apa yang ingin didapatkan

Serasa semua akan segera berakhir
Atau memang sudah mulai berakhir
Tersisa menjadi yang terakhir bukanlah yang terbaik
Harus melihat semua kembali menjadi nol

Dari nol kembali menjadi nol
Haruskah mutlak seperti itu
Bahkan anak TK sekalipun tak pernah memikirkan hal itu
Kecerdasan yang berlebihan yang kau miliki adalah penyebabnya

Kecerdasan yang tak mampu diimbangi rasa percaya
Kecerdasan yang tak bisa diterima orang lain
Bukan karena hal itu salah
Hanya saja hal itu tidak bisa dibenarkan

Apa yang kau lihat adalah yang kau hindari
Apa yang terjadi adalah akibat dari yang dilakukan
Semua ada masanya
Dan ntah sampai kapan batasannya

Adakah yang bisa kulakukan untukmu
Selain menghapus air matamu?
Air mata yang tak mungkin keluar lagi karena persoalan yang berbeda
Tangan ini masih basah untuk menghapus karena masalah yang sama

Tangan ini memang tak mungkin lebih indah dari tangan-NYA
Setidaknya akan ada lebih dari sepasang tangan untuk membawanya
Apa yang biasa kau bawa sendiri
Akan menjadi setengah, seperempat dan sepersekian jika diterima

Keberadaannya adalah karena keinginannya dan atas ijin Tuhan tentunya
Tapi kepergiannya adalah murni keinginannya
Bahkan binatang sekalipun akan pergi mencari daerah baru untuk hidup
Kepergian bisa dikatakan sebuah naluri alamiah

Keadaan terkadang tak sesuai keinginan (WAJAR)
Memaki keadaan dan tenggelam dalam dendam kepadanya (Kurang Ajar)
Sudah mulai dewasa dimana kanak-kanak mulai pudar
Masihkah mengistimewakan diri dengan menggunakan kanak-kanakmu yang telah hilang (Setidaknya Begitu)