Jum'at, 11 Juli 2014
01.45 Dini hari (Stasiun Pasar Senen)
Banyak yang bilang jakarta identik dengan keras, jahat, sadis banjir dan segala macam seperti yang sering kita tonton di tipi-tipi. Untuk pertama kali dalam hidup menginjakkan kaki disini, di kota yang tak pernah kuinginkan untuk datang berkunjung karena terkenal macet. Masih ada 6 jam lagi sebelum penerbangan kekota tujuan berangkat. Masih harus ke stasiun gambir dimana transport ke bandara mudah untuk ditemui. Berjalan kesana kemari mencari tempat terenak untuk menyandarkan barang bawaan
Carrier yang selalu dibawa dipunggung
Beban yang selalu dipikul
Tak harus selalu dijunjung selamanya
Letakkan sejenak untuk mengenang kenapa beban itu ada
03.00 (Bandara Internasional Soekarno-Hatta)
Tempat dengan banyak pintu untuk memisahkan, memilah dan membagi mereka sesuai kebutuhan dan tujuan yang diinginkan. Tak ada yang bisa ku lakukan ditempat macam ini dimana sejak matahri belum terbit rasa gerah memang sudah menyelimuti tempat ini. Tidur adalah pilihan terbaik untuk saat ini, persetan dengan mereka yang lalu lalang tanpa peduli siapa, kenapa dan apa yang menjadi tujuan individual masing-masing.
Secara alamiah kita memang akan terpilah
Dia yang suka dengan kenyamanan
Mereka yang mencintai tantangan
Kami yang mencari sebuah jawaban
Kita tidak akan pernah bersama jika tidak mengorbankan ego
Saling berada disisi individu tanpa pernah menyebrang
Saling menatap dan berteriak seolah mengenal tanpa melambaikan tangan
Terkadang suara terdengar tanpa diketahui siapa yang mengucapkannya
Dan saat itu akhirnya tiba (08.45)juga dimana semua akan berjalan sesuai rencana tanpa pernah kita tahu hasil mana yang akan kita peroleh nantinya disana. Semua yang terjadi adalah apa yang kita inginkan atas ridho Tuhan, dan jika tidak terjadi maka Tuhan belum meridhoinya.
10.00 (Touch Down Bandara Internasional Minangkabau, Padang)
Sampai dipitstop berikutnya sebelum menempuh 6jam perjalanan lagi menuju tempat yang diinginkan, sebuah tempat yang diimpikan. Siapa yang akan dijemput, Apa yanng akan didapatkan, kapan akan diperoleh hanyalah sebuah misteri namun satu hal yang jelas adalah Tuhan tak mungkin membiarkanku sampai kesini tanpa suatu alasan *setidaknya begitu
Aku sadar bahwa aku sampai disini karena kalian
Berjalan bersama kalian mengasah mentalku
Bertengkar dengan kalian mengasah pikiranku
Dan beradu dengan kalian membentuk caraku
Mengorbankan diri untuk kalian adalah sebuah pembuktian
Sebuah alasan untuk bisa bersama
Sebuah cara untuk bisa setara
Meski tak akan bisa sebanding
Kota padang dengan ciri khas bangunan yang penuh dengan lincip-lincip diatapnya, dan hampir semuanya mirip baik itu bangunan kecil atau yang besar. Termenung dalam keramaian dan kepadatan kota sebelum masuk kehutan melewati danau menuju tempat di provinsi yang berbeda. Ntah kenapa hanya kosong yang dirasa, tak ada lagi alasan dan tujuan selain berkunjung. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan saat aku berkunjung ke timur (3676 mdpl) dan timurnya lagi (3726 mdpl).
Semua yang telah terjadi biarkan semua terjadi, maafkan diri karena belum mampu memuaskan diri karena cepat puas membuat diri enggan untuk berusaha lebih dari yang seharusnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar