Rasa ini adalah rasa wajar yang kita semua miliki
Saat dimana rasa itu membuat kita kecil
Membuat kita tersisih dan sendiri
Tapi rasa itu bukanlah hal yang nyata (setidaknya begitu)
Rasa itu memang menyeramkan
Seolah semua akan menjadi malapetaka
Menyerah pada ketidakinginan
Berendam pada penyesalan
Lebih baik kecewa diawal
Daripada menyesal dibelakang
Setidaknya kita pernah berjuang
Setidaknya kita pernah merasa puas
Puas karena memilih hidup
Puas karena berani memilih
Bukan memilih takut mati
Bukan juga dipilihkan oleh mereka
Menghadapi dengan berbagai resiko
Atau menghindar dan melupakannya
Lupa bahwa kita adalah manusia
Lupa bahwa kita bukan boneka
Semua pernah memilikinya
Semua juga pernah merasakannya
Tak semua berhasil mengalahkannya
Tak sedikit juga yang menghindarinya
Ibarat sebuah bayangan
Dia selalu ada dekat dengan kita
Kenapa menjadikannya musuh?
Padahal dia selalu menemani kita
Kenapa menghidarinya terus?
Jika kita bisa berjalan beriringan
Apa yang terlihat buruk
Tak selalu memberikan hal yang tidak baik
Yang ku tahu hanya kita yang mengendalikannya
Bukan dia yang mengendalikan kita
Lebih baik memang menghindar
Daripada tak ingin berjalan bersamanya
Kamis, 26 Desember 2013
Kamis, 19 Desember 2013
Dibalik Layar
Terlintas sejenak tentang siapa kita
Seseorang yang tak pernah terlihat
Seseorang yang tak perlu diingat
Seseorang yang tak butuh dihormati
Mereka hanya sibuk melihat
Apa yang ditampilkan didepan
Mereka hanya perlu mendengar
Apa yang disampaikan yang didepan
Terpaku dengan gemerlapnya suasana
Terpesona dengan hawa keberadaan mereka
Terjebak dalam ilusi yang diberikan
Tanpa pernah tahu siapa dalangnya
Saat semua berwujud baik
Yang didepanlah yang dipuja-puja
Saat semua berwujud kurang baik
Yang dibelakanglah yang diadili
Setiap kejadian yang terjadi didepan
Kucatat dengan jelas
Setiap kejadian yang dibelakang
Kusimpan dengan rapat
Terkadang penonton tak perlu merasakan
Apa yang diperjuangkan dibalik layar
Apa yang dirasakan mereka yang disana
Karena Show Must Go On
Orang mayoritas tetap menjadi mayoritas
Orang minoritas ditahan agar tidak menggantikan mayoritas
Orang mayoritas yang selalu didahulukan
Bukan berarti minoritas akan mengikutinya
Kami punya cara sendiri
Kami punya aturan sendiri
Kami punya tradisi sendiri
Kami punya yang tak dimiliki mayoritas
Karena kami telah temukan dibalik layar itu
Apa yang tak terlihat dari bangku penonton
Karena kami bisa melihat jelas semuanya
Cukup tahu dengan siapa kita, siapa mereka
Bukan membatasi diri
Terkadang keinginan memang terbatasi keadaan
Keadaan mutlak yang tak nyaman
Saat dimana kita dan mereka memang berbeda
Seseorang yang tak pernah terlihat
Seseorang yang tak perlu diingat
Seseorang yang tak butuh dihormati
Mereka hanya sibuk melihat
Apa yang ditampilkan didepan
Mereka hanya perlu mendengar
Apa yang disampaikan yang didepan
Terpaku dengan gemerlapnya suasana
Terpesona dengan hawa keberadaan mereka
Terjebak dalam ilusi yang diberikan
Tanpa pernah tahu siapa dalangnya
Saat semua berwujud baik
Yang didepanlah yang dipuja-puja
Saat semua berwujud kurang baik
Yang dibelakanglah yang diadili
Setiap kejadian yang terjadi didepan
Kucatat dengan jelas
Setiap kejadian yang dibelakang
Kusimpan dengan rapat
Terkadang penonton tak perlu merasakan
Apa yang diperjuangkan dibalik layar
Apa yang dirasakan mereka yang disana
Karena Show Must Go On
Orang mayoritas tetap menjadi mayoritas
Orang minoritas ditahan agar tidak menggantikan mayoritas
Orang mayoritas yang selalu didahulukan
Bukan berarti minoritas akan mengikutinya
Kami punya cara sendiri
Kami punya aturan sendiri
Kami punya tradisi sendiri
Kami punya yang tak dimiliki mayoritas
Karena kami telah temukan dibalik layar itu
Apa yang tak terlihat dari bangku penonton
Karena kami bisa melihat jelas semuanya
Cukup tahu dengan siapa kita, siapa mereka
Bukan membatasi diri
Terkadang keinginan memang terbatasi keadaan
Keadaan mutlak yang tak nyaman
Saat dimana kita dan mereka memang berbeda
Rabu, 18 Desember 2013
Begini Jadinya
Untuk kesekian kalinya
Apa yang terucap dimintai pertanggungjawaban
Saat berbenturan dengan apa yang diyakini
Bertabrakan dengan apa yang terjadi
Terlalu pelik untuk disederhanakan
Terlalu rumit untuk disegerakan
Terlalu banyak yang dipertimbangkan
Terlalu sedikit waktu yang diberikan
Semua ingin dilakukan
Semua ingin dbagikan
Berharap semua tak ada yang dirugikan
Terkecuali dirinya sendiri menjadi tumbal
Ntah apa yang ingin ditunjukkan
Ntah apa yang ingin diwujudkan
Semua hanya dibiarkan mengalir
Seolah semua akan berjalan sesuai inginnya
Apa yang terjadi padanya saat ini
Merupakan hasil dari apa yang dilewatinya dulu
Jangan salahkan dirinya
Karena dia juga dibentuk bukan membentuk
Dibentuk oleh keadaan
Dibentuk oleh didikan
Seperti itulah keadaan menerpanya
Begitu juga didikan yang pernah dirasanya
Lantas kenapa ia disalahkan atas dirinya sekarang?
Padahal seperti itulah didikan yang diterimanya dulu
Berkacalah sebelum mengatakan hal itu
Seolah melihat dirinya dibalik cermin
Siapa yang dijadikan kiblat
Seperti itulah dirinya
Jangan salahkan dirinya jika mirip denganmu
Karena dia terlahir dari didikanmu
Jika tak suka diperlakukan seperti itu
Jangan perlakukan orang lain seperti itu
Hanya karena lebih dulu bukan menjamin apapun
Hanya karena lebih tahu bukan berarti apapun
Masih jelas terekam dalam memori
Dirimu yang dulu adalah dirinya yang sekarang
Jika tidak terima dengan dirinya yang sekarang
Dirimu bukanlah apa-apa dimasa lalu
Apa yang terucap dimintai pertanggungjawaban
Saat berbenturan dengan apa yang diyakini
Bertabrakan dengan apa yang terjadi
Terlalu pelik untuk disederhanakan
Terlalu rumit untuk disegerakan
Terlalu banyak yang dipertimbangkan
Terlalu sedikit waktu yang diberikan
Semua ingin dilakukan
Semua ingin dbagikan
Berharap semua tak ada yang dirugikan
Terkecuali dirinya sendiri menjadi tumbal
Ntah apa yang ingin ditunjukkan
Ntah apa yang ingin diwujudkan
Semua hanya dibiarkan mengalir
Seolah semua akan berjalan sesuai inginnya
Apa yang terjadi padanya saat ini
Merupakan hasil dari apa yang dilewatinya dulu
Jangan salahkan dirinya
Karena dia juga dibentuk bukan membentuk
Dibentuk oleh keadaan
Dibentuk oleh didikan
Seperti itulah keadaan menerpanya
Begitu juga didikan yang pernah dirasanya
Lantas kenapa ia disalahkan atas dirinya sekarang?
Padahal seperti itulah didikan yang diterimanya dulu
Berkacalah sebelum mengatakan hal itu
Seolah melihat dirinya dibalik cermin
Siapa yang dijadikan kiblat
Seperti itulah dirinya
Jangan salahkan dirinya jika mirip denganmu
Karena dia terlahir dari didikanmu
Jika tak suka diperlakukan seperti itu
Jangan perlakukan orang lain seperti itu
Hanya karena lebih dulu bukan menjamin apapun
Hanya karena lebih tahu bukan berarti apapun
Masih jelas terekam dalam memori
Dirimu yang dulu adalah dirinya yang sekarang
Jika tidak terima dengan dirinya yang sekarang
Dirimu bukanlah apa-apa dimasa lalu
Selasa, 17 Desember 2013
Sadar Atau Tidak
Rintik hujan baru saja menyapa
Meski hanya berapa meter dari pintu kamar
Sangat khas dan jelas
Begitulah ciri dan caranya menyapa ku
Lebih milih dicintai atau mencintai
Mencintai orang yang mencintai orang
Dicintai orang yang dicintai orang
Tentukan pilihanmu sendiri
Bosan dengan cinta yang orang sebut-sebutkan
Bosan dengan masalah yang tak kunjung usai
Bosan dengan keadaan yang tak akan berubah
Tanpa ada sebuah gerakan yang sedikit berbeda
Masih ditempat yang sama seperti biasa
Masih dalam keadaan dan kebiasaan yang sama
Masih dengan cara dan ciri yang dulu
Hanya keadaan dan waktu yang tak lagi sama
Mendengar saja cukup tanpa perlu melihat
Merasa saja cukup tanpa perlu berkata
Merasa tak perlu bukan berarti tak butuh
Ntah apa yang diinginkan dari kepalsuan ini
Jika memang butuh katakan butuh
Jika memang perlu katakan perlu
Jangan bertindak seolah semua berbalik
Jangan berkata seolah semua baik-baik saja
Menyesali bukanlah sebuah pilihan
Pasrah juga bukan sebuah pelarian
Lari adalah menghindar dari keadaan
Mengabaikan dan membiarkan semua tergeletak tak terurus
Layaknya sebuah sampah yang dilempar begitu saja
Apa dulu sampah ini juga yang kau inginkan
Apa dulu sampah ini juga yang kau lihat
Atau salah mengambil karena terlalu berambisi memungutnya
Melihat seseorang tanpa ia melihat kita
Mendengarkan seseorang tanpa ia mendengar kita
Merasakan seseorang tanpa ia tahu akan keberadaan kita
Dia tahu saja itu sudah cukup (palsu amat)
Terkadang kita berharap lebih dari apa yang diucapkan
Menginginkan yang banyak dibanding yang diberikan
Memang dasar manusia yang sulit mengenal arti benar atau salah
Karena memang manusia tak pernah mengerti mana yang terbaik
Semua akan disadari bahwa memang telah berlalu
Jangan ada kata "seandainya dulu aku milih itu"
Sesal ada bukan untuk diratapi
Dia ada untuk menjadi bahan pikiran
Meski hanya berapa meter dari pintu kamar
Sangat khas dan jelas
Begitulah ciri dan caranya menyapa ku
Lebih milih dicintai atau mencintai
Mencintai orang yang mencintai orang
Dicintai orang yang dicintai orang
Tentukan pilihanmu sendiri
Bosan dengan cinta yang orang sebut-sebutkan
Bosan dengan masalah yang tak kunjung usai
Bosan dengan keadaan yang tak akan berubah
Tanpa ada sebuah gerakan yang sedikit berbeda
Masih ditempat yang sama seperti biasa
Masih dalam keadaan dan kebiasaan yang sama
Masih dengan cara dan ciri yang dulu
Hanya keadaan dan waktu yang tak lagi sama
Mendengar saja cukup tanpa perlu melihat
Merasa saja cukup tanpa perlu berkata
Merasa tak perlu bukan berarti tak butuh
Ntah apa yang diinginkan dari kepalsuan ini
Jika memang butuh katakan butuh
Jika memang perlu katakan perlu
Jangan bertindak seolah semua berbalik
Jangan berkata seolah semua baik-baik saja
Menyesali bukanlah sebuah pilihan
Pasrah juga bukan sebuah pelarian
Lari adalah menghindar dari keadaan
Mengabaikan dan membiarkan semua tergeletak tak terurus
Layaknya sebuah sampah yang dilempar begitu saja
Apa dulu sampah ini juga yang kau inginkan
Apa dulu sampah ini juga yang kau lihat
Atau salah mengambil karena terlalu berambisi memungutnya
Melihat seseorang tanpa ia melihat kita
Mendengarkan seseorang tanpa ia mendengar kita
Merasakan seseorang tanpa ia tahu akan keberadaan kita
Dia tahu saja itu sudah cukup (palsu amat)
Terkadang kita berharap lebih dari apa yang diucapkan
Menginginkan yang banyak dibanding yang diberikan
Memang dasar manusia yang sulit mengenal arti benar atau salah
Karena memang manusia tak pernah mengerti mana yang terbaik
Semua akan disadari bahwa memang telah berlalu
Jangan ada kata "seandainya dulu aku milih itu"
Sesal ada bukan untuk diratapi
Dia ada untuk menjadi bahan pikiran
Cover
Kenapa saat kita menginginkannya kita selalu berusaha mendapatkannya
Kenapa saat kita dibutuhkan dan kita tak selalu bisa memenuhinya
Inilah manusia
Aku, Kamu, Kita, dan Mereka
Kita tak pernah tahu
Kapan, dimana dan dengan siapa
Kita akan bertemu siapa
Kita akan bersama siapa
Semua hanyalah sebuah cover tanpa isi
Semua hanya kanvas tanpa tinta
Dan kita kah yang menggambarnya
Atau kita melihat gambarannya
Jangan pernah membahas sebuah prinsip
Memaksakan sebuah keinginan
Menyisipkan sebuah harapan
Tanpa pernah peduli dengan apa yang dirasa
Ini bukan lagi tentang sikap
Bukan juga tentang tegas tidaknya
Tidak juga tentang jelas tidaknya
Tapi ini tentang ciri dan caranya
Dulu aku hanya tau ini milikku
Tanpa pernah merasa bahwa ini milik kita
Disaat pemilik lain datang dan berkumpul
Apa ini saat yang tepat untuk pergi atau menyambutnya
Setidaknya pernah dipikirkan
Bahwa semua yang terjadi adalah bagian yang pernah kita pikirkan
Namun kenapa kita jarang bisa menerima saat hal tu terjadi
Padahal sudah tau sejak awal
Dibilang kecewa dan sakit hati, iya
Tapi kita tak berhak menyalahkan siapapun dan menghujatnya
Kita hanya berhak marah, memaki tanpa pernah ditujukan untuk siapa
Tanpa ada yang protes nantinya
Kita hanya bisa memilih
Meneruskan yang tak bisa diteruskan
Atau meninggalkan yang tak bisa ditinggalkan
Semua kembali pada kalian yang katanya memiliki perasaan
Kenapa saat kita dibutuhkan dan kita tak selalu bisa memenuhinya
Inilah manusia
Aku, Kamu, Kita, dan Mereka
Kita tak pernah tahu
Kapan, dimana dan dengan siapa
Kita akan bertemu siapa
Kita akan bersama siapa
Semua hanyalah sebuah cover tanpa isi
Semua hanya kanvas tanpa tinta
Dan kita kah yang menggambarnya
Atau kita melihat gambarannya
Jangan pernah membahas sebuah prinsip
Memaksakan sebuah keinginan
Menyisipkan sebuah harapan
Tanpa pernah peduli dengan apa yang dirasa
Ini bukan lagi tentang sikap
Bukan juga tentang tegas tidaknya
Tidak juga tentang jelas tidaknya
Tapi ini tentang ciri dan caranya
Dulu aku hanya tau ini milikku
Tanpa pernah merasa bahwa ini milik kita
Disaat pemilik lain datang dan berkumpul
Apa ini saat yang tepat untuk pergi atau menyambutnya
Setidaknya pernah dipikirkan
Bahwa semua yang terjadi adalah bagian yang pernah kita pikirkan
Namun kenapa kita jarang bisa menerima saat hal tu terjadi
Padahal sudah tau sejak awal
Dibilang kecewa dan sakit hati, iya
Tapi kita tak berhak menyalahkan siapapun dan menghujatnya
Kita hanya berhak marah, memaki tanpa pernah ditujukan untuk siapa
Tanpa ada yang protes nantinya
Kita hanya bisa memilih
Meneruskan yang tak bisa diteruskan
Atau meninggalkan yang tak bisa ditinggalkan
Semua kembali pada kalian yang katanya memiliki perasaan
Minggu, 15 Desember 2013
Pergi Apa Tinggal
Mungkin
aku akan memikirkan mengapa orang yang satu-satunya kuberi tahu
Justru hanya membalasnya dengan 3 kata
Alhamdulillah,
Puji Syukur saya ucapkan kepada ALLAH SWT karena atas rahmat dan hidayahnya aku bisa bertahan sampe sekarang. Tak terasa juga tulisan yang ini adalah postingan ke-200, sudah banyak sampah yang aku ciptakan. Semoga maaf selalu ada untukku yang masih akan mengotori lingkungan sekitar. Jika ada yang keberatan dengan sampahku, bisa dilaporkan saja (dianggap setuju kalo tidak ada protes). Secara jumlah mungkin jauh dibandingkan profesional karena memang masih amatir, dan dimataku udah banyak kok itu.
Terbentuk dari kaca yang berkilau
Saat mentari merengkulnya tiap sore
Membiaskan cahaya yang menembusnya
Memberi efek penglihatan didalamnya
Apa Yang Bakal Kamu Lakuin
Saat Dimana Gelas Kaca Yang Diletakkan Ditanganmu
Tak Bisa Dikembalikan Dan Tak Bisa Diterima
Dan Juga Akan Hancur Jika Melepaskannya
Terkadang kita tidak menginginkannya
Tapi malah mendapatkannya
Ingin mengabaikan dan tak mengaanggapnya
Tapi terlalu dekat dan tak bisa dihindari
Kita tahu dan mengerti akan apa itu resiko
Apa yang menjadi tanggung jawab
Apa yang menjadi balasan
Apa yang disebut pantas dan tidak pantas
Memegang apa yang tak ingin dimiliki
Berbeda dengan memegang apa yang tak bisa dimiliki
Meski menyangkal keberadaannya
Hal seperti itu memang ada disini
Aku tak peduli dengan ada atau tidak ada
Ini soal ingin atau tidak
Bukan soal bisa atau tidak
Bisa melakukan diawali dari ingin melakukan
Mau dibilang jahat terserah
Daripada dibilang baik tapi terpaksa
Mau mundur perlahan atau balik kanan
Atau menghilang tanpa sempat pamitan
Mau salah atau benar
Tak ada bedanya lagi sekarang
Karena semua memiliki alasan
Jawaban yang pasti ada jika dipertanyakan
Pergi ya pergi aja
Tinggal ya tinggal aja
Tinggal dulu terus pergi
Pergi dulu terus tinggal
Setidaknya memang menginginkannya
Bukan lari atau menghindar darinya
Bukan sembunyi atau menahannya
Apalagi terpaksa dalam menjalaninya
Gelas Ditengah Hujan
Berharap bisa berakhir di situ, saat itu juga
Terhapus oleh rinai hujan yang membasahiku dalam perjalanan pulang
Hujan yang rintik rintik
Dibawah cahaya rembulan
Begitu mesra hingga tak ingin berpisah
Iri pada benda mati adalah pikiranku tadi sore
Gelas atau Hujan
Mengapa dua kata itu tiba-tiba muncul
Seperti bus dan truk yang menyalipku dari lajur kanan
Seperti motor gede yang mendahuluiku dari kiri
Gelas mampu menampung hujan
Namun tidak lebih besar dari ukurannya
Lantas kenapa gelas begitu sombong dengan tangannya
Apa hanya sebuah tangan yang terlihat berarti mutlak?
Padahal hujan mampu menampung gelas
Jauh melebihi ukurannya meski tak ada yang percaya
Hujan tak perlu membuktikannya
Hujan tak perlu menyombongkan dirinya
Hanya karena hal kecil yang terlihat maka dianggap besar
Dan menganggap yang besar tapi tak terlihat adalah tidak ada
Lebih baik dikatain PALSU oleh orang lain
Daripada diri sendiri yang mengatakannya
Aku tak perlu menjadi hujan karena pandai meredam
Atau menjadi gelas yang menunjukkan hal kecil tapi nyata
Aku adalah aku
Meski banyak yang memandang aneh
Lebih baik aku kehilangan mereka
Daripada aku kehilangan diriku
Daripada aku menjadi bukan aku
Karena tak ada yang lebih setia dibandingkannya
Hanya karena hal itu terlihat lantas begitu berharga
Dan yang tak terlihat hanyalah ilusi
Dan yang tak berbentuk hanyalah bualan
Omong kosong layaknya tong tanpa sampah
Dia yang lahir bersama
Dia yang tumbuh bersama
Dia yang sakit bersama
Tapi dia tak menuntut bahagia bersama
Masihkah tega menyalahkan diri atas apa yang telah terjadi?
Masihkah ego terlalu tebal hingga malu
Mengakui aku lemah tanpa diri sendiri
Aku adalah wadah dan diri sendiri adalah jiwa
Kamis, 12 Desember 2013
Jangan Tanya Kenapa (Lagi)
Kamu mau meninggalkanku apa kamu minta aku pergi
Pertanyaan yang tak terjawab tapi tak boleh ditanyakan
Segelas kupi alfabet panas dan serepnya
Sebatang rokok jalang dan wadahnya
Segenap fasilitas online yang gratis
Suasana damai tanpa kebisingan kota
Bersiap membuang semua sampah yang tak berguna
Berharap pemulung jadi kayak saat mentari terbit esok
Hingga ia tak perlu memungut semua sampahku
Ia pun tak perlu berebut rejeki dengan waktu
Bukan tentang siapa yang datang
Bukan juga tentang siapa yang pergi
Bukan tentang siapa yang bertahan
Bukan juga tentang siapa yang menyerah
Semua hanyalah trik Tuhan
Semua bagian dari kejutan yang disiapka
Semua telah digariskan
Semua telah direlakan
Kita tak pernah punya alasan untuk datang
Kita juga tak punya jawaban untuk pergi
Kita hanya punya pilihan
Untuk bertahan atau menyerah
Kita tak bisa memilih keduanya
Kita tak bisa menjalaninya bersamaan
Bertahan untuk menyerah dengan keadaan
Menyerah untuk bertahan dalam pilihan
Jangan serakah dan tamak saudaraku
Pilihlah satu dan lepaskan satu
Karena pilihan satunya ada untuk orang lain
Ia juga berhak atas pilihan yang diberikan untuk kita
Tidurlah dalam damaimu
Tanpa pernah berkata sedikitpun
Pilihan yang kau tentukan kau simpan layaknya harta
Seolah harta akan setia saat dirimu mati kelak
Rasa sakit tak lagi perlu pereda nyeri
Rasa dingin tak lagi perlu selimut tebal
Seolah mati rasa atau memang sudah biasa
Membiasakan diri atau tak ada lagi harapan
Saat dimana benda hidup tak menjalani kodratnya
Mereka yang menyebut dirinya makhluk sempurna
Padahal mereka kalah dengan benda mati (dalam urusan ini)
Saat kodrat tak dipenuhi maka kita bukanlah makhluk sempurna
Baik Baik Yah Disana
Setelah melewati ketidakjelasan, entah ke mana, dengan siapa, dan akan ke mana
Semua tidak kutanyakan dan kuserahkan pada waktu untuk menjawab semua itu
Hujan masih belum selesai membasahi kota
Dingin masih nyata bersinggungan dengan badan
Hujan meredam semua suara dan kebisingan
Menjadikan suara khas yang menghipnotis
Biarkan rasa sakit itu meredup
Biarkan rasa sesal itu menguap
Biarkan rasa sedih itu luntur
Terbawa tiap tetesan hujan malam ini
Tak ada yang mengerti
Tak ada yang tau
Karena memang tak ada yang disampaikan
Serta tak ada yang pernah diucapkan
Tak ada tujuan
Tak ada teman
Tak ada alasan
Semua mengalir seolah tergerak sendirinya
Menyesalkah karena sudah dilahirkan
Begitu sakitkah karena tidak mendapat yang diinginkan
Begitu menyedihkankah hidup yang selama ini dirasa
Akankah semua berhenti disini
Merendam diri dalam apa yang dibilang meratapi
Berkata pergi tapi masih berendam disana
Berkata sudah tapi masih berlanjut dalam diam
Ntah apa yang diinginkan dan apa yang dirasakan
Semua berasa nyata saat tetes hujan merajam
Semua berasa damai saat hembusan angin menyapa lembut
Tak ada kedamaian disaat semua berasa berhenti
Tak ada keramaian disaat semua kembali bersuara
Membolak balikkan sebuah pilihan
Mempermainkan sebuah harapan
Berharap mempercundangi dunia
Dengan trik lidah tak bertulang
Apa yang diucapkan berbeda dengan yang ditunjukkan
Apa yang diinginkan berbeda dengan yang dipikirkan
Apakah sebuah pengakuan yang diharapkan
Atau lebih dari sekedar rasa hormat
Memang semua telah ditetapkan
Bukan berarti tidak bisa diwujudkan
Apa yang menjadi harapan
Apa yang menjadi impian
Senin, 09 Desember 2013
Waktunya Kembali
Tanpa pernah bertatap muka
Dia mampu membuatku banyak bicara dan banyak bertanya
Terbawa untuk mau banyak tahu tentang dirinya
Disaat otakku kian berkarat dan usang
Tangan tak lagi kuat bergerak
Kaki tak lagi kekar berdiri
Dan hati seolah mulai rabun
Terlalu lama dianggurin
Terlalu lama dikekang
Terlalu lama diabaikan
Terlalu lama berpura-pura
Setidaknya hujatan itu menancap tanpa rasa disini
Lemparan itu telak mengena meski tanpa bekas
Semua menjadi tak berarti
Saat aku kehilangan dia
Aku tak benar benar melupakanmu
Aku hanya mengistirahatkanmu lebih lama
Dan sedikit terlambat sepertinya
Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali
Mau bagaimanapun juga dirimu tetaplah bagianku
Sampai kapanpun juga dirimu adalah diriku
Dan diriku tetaplah diriku
Aku tetap hormat kepadamu
Jika dirimu merasa tak berguna
Aku akan menjadi lebih tak berguna darimu
Jika dirimu merasa paling berkuasa
Aku akan tetap dibawahmu
Tak ada yang akan berubah
Tak akan seperti hujan dan pelangi
Yang bergantian datang dengan waktunya masing-masing
Aku akan tetap menghormatimu
Tak ada modus
Tak ada tipu daya
Tak ada trik sulap
Semua berjalan natural
Aneh memang
Dan begitu dunia melihatnya
Begitu juga dunia mengenalnya
Tak ada yang akan berubah (setidaknya bagi yang tidak bisa dirubah)
Inilah Yang Kupunya
Setidaknya tidak ada yang berani mengganggu
(walaupun pada akhirnya mengganggu diri sendiri
karena harapan yang tak beriringan dengan fakta yang ada)
Merasa sepi di keramaian
Merasa ramai dalam kesepian
Rasa yang sering dialami
Terutama bagi kami kaum minoritas
Kami yang tak pernah megambil pusing
Kami yang tak pernah berfikir berat
Kami yang bertahan dalam tradisi
Kami yang selalu berdiri meski terus dijatuhkan
Disini tanah kami
Disana juga tanah kami
Kami memiliki apa yang tak kami miliki
Kami merasakan apa yang tak perlu dirasakan
Apa yang kami ucapkan
Apa yang kami lakukan
Apa yang kami perjuangkan
Tidak lain dan tidak bukan tetaplah untuk kami
Saat pagi tak lagi hangat
Saat siang tak lagi panas
Saat malam tak lagi dingin
Tak ada yang akan berubah dalam penantian
Terkadang dan memang tak jarang ditemui
Dirasa nyata meski tak percaya
Kenyataan tak pernah berpihak pada harapan
Tapi harapan yang harus nurut pada kenyataan
Nggak adil kan?
Apakah juga adil saat kita diberikan hati namun tak bisa memilih
Apakah adil saat kita memiliki hak namun tak bisa digunakan
Keadilan sejati memang hanya ada dilangit
Kami butuh banyak waktu yang tak pernah kami miliki
Kami hanya percaya bahwa apa yang kami punya saat ini
Adalah hal terpantas yang bisa kami jaga saat ini
Berharap lebih bukanlah jalur teraman saat ini
Selasa, 03 Desember 2013
Ini Jalanku, Mana Jalanmu
Setiap yang kujalani adalah apa yang terbaik untukku
Walaupun aku selalu berusaha memahamkan diriku
Bahwa itulah yang terbaik dan itulah jalan yang sebenarnya.
Jangan pernah salahkan apa yang menjadi pilihan
Kita tak pernah tau mengapa ia memilihnya
Jangan pernah bandingkan apa yang telah dipilihnya
Karena keadaan dan kondisinya tak ada yang sama
Awalnya memang berat
Awalnya memang asing
Tapi itulah resikonya
Pilihan tak selalu menawarkan yang kita mau
Namun keadaan akan mengikuti
Keadaan akan mengalir dan menyesuaikan
Dengan apa yang kita inginkan
Hanya masalah waktu jika masih diawal
Hanya sekedar kata mau
Dan semua mungkin akan berbeda
Hanya sentuhan kecil
Dan semua mungkin akan berwarna
Aku pernah memiliki dunia
Begitu juga dengan kalian
Aku menjadi tuhan akan diriku
Begitu juga dengan kalian
Apakah semua itu cukup?
Apa aku tidak membutuhkan orang lain?
Apa aku akan bertahan meski hasil akhir telah ku ketahui?
Apa aku akan dikenal jika aku tak mengenal?
Aku terlahir sendirian, kalianpun sama
Tapi aku tak mau hidup sendirian
Bukan berarti kalian juga berpikiran sama
Aku hanya ingin kalian tau apa yang ku pilih
Meski aku tak peduli dengan apa yang akan terjadi
Yang kutahu hanyalah aku memilih dan aku menjalani
Bukan meratapi dan terjebak dalam persepsi pribadi
Hingga tak mampu keluar dari sana kecuali mati
Terlalu anarkis dan tak mengenal etika
Terlalu arogan dan tak mau peduli
Terlalu sok dan tak mau disalahkan
Karena ini pilihanku bukan kalian
Aku pahamkan diriku untuk kalian
Bukan aku pahamkan kalian untuk diriku
Pilihlah jalan kalian sesuai yang kalian inginkan
Menjadi apa di hari esok tergantung apa yang kalian tentukan hari ini
Dia Itu Masalah
Permasalahan hidup yang tak pernah bermuara pada satu titik yang menjawab segala pertanyaanku
Bagi mereka aku hanyalah bocah yang tak perlu dihiraukan saat merengek menginginkan sesuatu.
Begitu indah pagi ini
Secangkir kopi hangat
Sebatang rokok yang indah
Selantun lagu kangen yang bergema
Mentari memang tak bersinar sejak tadi
Bukan berarti pagi tak ikutan datang
Pagi tak pernah ingkar soal kedatangannya
Pagi akan selalu datang seusai malam (sesuai janjinya)
Dia akan penuhi janjinya
Meski bukan dengan bentuk yang sama
Setidaknya janji tetap dipenuhi
Meski terkadang bukan yang dijanjikannya saat itu
Hidup memang tak pernah sepi
Permasalahan, Solusi, Beranak dan Berkelanjutan
Begitulah seterusnya hingga akhir
Begitulah yang kita jalani setiap detik karena kita hidup
Permasalahan ibarat air yang tak pernah diam
Selalu bergerak dan menuju suatu tempat
Tak hanya satu dan tak bisa di prediksi
Tapi masalah bukanlah sebuah jawaban
Dibaliknyalah jawaban yang sesungguhnya diberikan
Kita tak akan mengerti maksudnya tanpa mengenalnya
Kita tak akan menerima keinginannya tanpa merangkulnya
Kita tak akan bersahabat tanpa menerimanya
Dia itu egois
Dia itu kurang ajar
Dia itu sok sokan
Tapi dialah gurunya
Dia yang membuat kita berkembang
Dia yang membuat kita berbentuk
Dia yang membuat kita berdiri
Dia yang membuat kita menjadi makhluk (yang beneran hidup)
Senin, 02 Desember 2013
Beginilah Aku
Untuk Kalian Semua yang telah menjanjikan puncak dan telah menepati janji itu.
Terima kasih untuk itu dan terima kasih untuk kisah singkat yang terus ikut bersama hatiku
dalam setiap langkah demi langkah yang kujalani menuju ‘puncak hidupku’ semangat itu akan selalu ada.
Teringat saat semua bermula
Disini, ditempat ini, dan dikala itu
Ibarat sebuah kerikil yang kecil dan tak berbentuk
Berada ditengah lapang tanpa ada bentuk yang sama
Kita disatukan dalam sebuah wadah
Kita diterpa dalam didikan yang panas
Didikan yang membuat kita pantas
Didikan yang membuat kita keras (bacanya solid)
Seperti senja yang kita liat
Sesaat kembali teringat pada semua yang terlewat
Pernah mengira bertemu dengan malaikat
Saat semua bersa istimewa
Aku belum melakukan apapun
Meski kalian telah memberi banyak padaku
Karena yang bisa kulakukan hanyalah mengatakan 'terima kasih'.
Maafkan aku.
Maaf yang terucap ini bukan berarti lemah
Banyak makna yang bisa kalian gunakan
Kita akan menciptakan banyak kata disini
Karena kita tak pernah sepaham selain urusan ini
Aku adalah raja diduniaku
Kamu adalah raja diduniamu
Kita raja dibidangnya
Dan kita tak perlu berperang layaknya masa lalu
Kita tak pernah meremehkan meski berseberangan
Kita tak pernah saling menjatuhkan meski tak sejalan
Kita tak pernah menyabotase meski berbeda jalan
Kita hanya melakukan peranan ditempatnya
Kita saling menunggu untuk sampai ditujuan
Kita saling mengingatkan disaat semua mulai goyang
Kita saling menghujat disaat bercanda adalah harga mati
Kita tak pernah membawa perasaan pribadi dalam urusan ini
Kita tak pernah takut sendirian
Kita tak pernah takut ditinggalkan
Kita tak pernah lemah berjalan disana
Karena kita yang menciptakannya
Banyak yang meneriaki dari jauh
Banyak yang menghujat dibalik layar
Banyak yang mencibir dari alam lain (bacanya dunia lain)
Tak akan memepengaruhi apa yang diyakini
Pergilah jika ingin pergi
Bertahanlah jika ingin bersama
Kita tidak pernah memaksa
Kita tidak ingin ada kepalsuan
Kita tidak membutuhkan hitam diatas putih
Karena kita menggunakan hati
Ikatan yang tak perlu dituliskan secara jelas
Namun berasa sangat nyata dan membekas
Minggu, 01 Desember 2013
gelas tanpa tangan
“Gelasku”.. yang telah mengantarkan dan
mengiringi langkahku menuju puncak pertamaku.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan
menjadi referensi
dalam memandang sisi lain kehidupan dari sudut pandang
penulis ☺
Jika ada yang bertanya kenapa dan untuk apa
Jawablah dengan lantang
Ini urusan hati dan kalian tak akan mengerti
Ini tentang hati aku dan dekapannya
Setidaknya aku mengerti dengan merasakannya sendiri
Bukan karena dikasih tau orang lain atau dari buku
Bukan karena provokasi atau hasutan mayoritas
Sedikit lebih berarti daripada tidak sama sekali
Banyak yang tak mengerti itu wajar
Sedikit yang menerima itu biasa
Abaikan seolah hal itu tak berguna
Karena ini hanya tentang aku dan dia
Dia sengaja membuatku bingung dan tak mengerti
Memaksaku untuk mencari tau lebih jauh
Menuntunku mengenal lebih dalam
Membiarkanku memilih dengan terpaksa (pada awalnya)
Berawal dari terpaksa
Beranjak menjadi biasa
Berlanjut menjadi kebiasaan
Berakhir pada kebutuhan
Aku tak pandai memilih kata yang tepat
Untuk menjelaskan apa yang terlihat jelas
Aku juga tak pintar menggambarkan keadaan
Untuk menerangkan apa yang terpampang luas
Kita memiliki dua buah mata
Mengapa hanya menggunakan salah satunya
Tak banyak yang menyadarinya
Tak sedikit juga yang mengacuhkannya
Dua mata untuk melihat dua sisi
Bisa juga lebih banyak sisi
Setidaknya tidak diktator dalam memandang
Tidak juga anarkis dalam melihat
Melihat dengan cara berbeda
Bukan subyeknya yang berbeda
Memberi pertimbangan dalam memikirkan
Karena terjebak dalam persepsi pribadi tidaklah menyenangkan
Jangan Tanya Kenapa
Masih jelas terasa dipikiran kita semua
Terutama aku dia dan mereka
Yang berinteraksi secara langsung dikala itu
Saat dimana kita yang tak pernah bertemu dipertemukan
Dia yang tak pernah tau akan bertemu siapa
Aku yang tak pernah tau mengantar siapa
Dan mereka yang tak pernah tau akan bersama siapa
Yang kami tau hanyalah semua harus dijalani
Besar dijalan membuatku sadar
Rumah itu kecil sekalipun itu istana
Rumah tempat kita kembali
Bukan tempat kita pergi (bacanya dituju)
Apa yang kita dapat dirumah
Hanyalah pesan untuk bertahan diluar sana
Apa yang tak kita dapatkan dirumah
Berupa berbagai macam bentuk kebutuhan hidup
Kita tak akan berkembang jika hanya dirumah
Kita tak akan mengerti jika hanya disana
Tak ada yang bisa diukur
Tak ada yang bisa dibanggakan
Rumah bukan sebuah pembatas
Rumah bukan sebuah penjara
Rumah bukan sebuah gua
Rumah adalah tempat terbuka
Tempat dimana kita bisa melakukan apapun
Tempat dimana kita bisa mengekspresikan apa saja
Tanpa ada yang membatasi dan menyabotase
Tanpa ada yang mencibir dan memandang rendah
Apa yang membentuk dirimu
Adalah apa yang diberikan rumahmu
Segitulah bekalmu dan segitulah persiapanmu
Sisanya hanya tinggal dibeli (bacanya didapatkan) sambil jalan
Jika ada yang bilang bahwa dunia ini selebar daun kelor
Hanya orang yang tak ingin kemana-mana yang berkata demikian
Dunia ini begitu luas hingga mata tak akan sampai melihat ujungnya
Dunia ini begitu misteri hingga ada sejarah dan ramalan
Menjadi tidak peka itu takdir
Tapi menjadi tidak peduli itu pilihan
Aku memang tidak peka
Bukan berarti aku juga tidak peduli
Jangan tanya soal cara bicara
Jangan ungkit soal cara bersikap
Jangan pertanyakan apa itu benar atau tidak
Tentukan sendiri jawabnnya
Apa yang ditulis terkadang bukan apa yang dirasakan
Hanya mengalirkan apa yang tersumbat
Hanya menyampaikan yang diinginkan
Hanya sekedar menjalankan takdir
Terutama aku dia dan mereka
Yang berinteraksi secara langsung dikala itu
Saat dimana kita yang tak pernah bertemu dipertemukan
Dia yang tak pernah tau akan bertemu siapa
Aku yang tak pernah tau mengantar siapa
Dan mereka yang tak pernah tau akan bersama siapa
Yang kami tau hanyalah semua harus dijalani
Besar dijalan membuatku sadar
Rumah itu kecil sekalipun itu istana
Rumah tempat kita kembali
Bukan tempat kita pergi (bacanya dituju)
Apa yang kita dapat dirumah
Hanyalah pesan untuk bertahan diluar sana
Apa yang tak kita dapatkan dirumah
Berupa berbagai macam bentuk kebutuhan hidup
Kita tak akan berkembang jika hanya dirumah
Kita tak akan mengerti jika hanya disana
Tak ada yang bisa diukur
Tak ada yang bisa dibanggakan
Rumah bukan sebuah pembatas
Rumah bukan sebuah penjara
Rumah bukan sebuah gua
Rumah adalah tempat terbuka
Tempat dimana kita bisa melakukan apapun
Tempat dimana kita bisa mengekspresikan apa saja
Tanpa ada yang membatasi dan menyabotase
Tanpa ada yang mencibir dan memandang rendah
Apa yang membentuk dirimu
Adalah apa yang diberikan rumahmu
Segitulah bekalmu dan segitulah persiapanmu
Sisanya hanya tinggal dibeli (bacanya didapatkan) sambil jalan
Jika ada yang bilang bahwa dunia ini selebar daun kelor
Hanya orang yang tak ingin kemana-mana yang berkata demikian
Dunia ini begitu luas hingga mata tak akan sampai melihat ujungnya
Dunia ini begitu misteri hingga ada sejarah dan ramalan
Menjadi tidak peka itu takdir
Tapi menjadi tidak peduli itu pilihan
Aku memang tidak peka
Bukan berarti aku juga tidak peduli
Jangan tanya soal cara bicara
Jangan ungkit soal cara bersikap
Jangan pertanyakan apa itu benar atau tidak
Tentukan sendiri jawabnnya
Apa yang ditulis terkadang bukan apa yang dirasakan
Hanya mengalirkan apa yang tersumbat
Hanya menyampaikan yang diinginkan
Hanya sekedar menjalankan takdir
Rabu, 20 November 2013
Hujan Itu Dijatuhkan Dari Atas
Hujan masih bersama kami
Para penghuni bumi yang disewakan Tuhan
Kita hanya menempati dan meminjam
Tak pantas jika berkeluh kesah dan meghujat pemiliknya
Kita punya apa untuk melakukan itu
Kita bisa ngapain untuk berlaku seperti itu
Kita itu siapa untuk ngelakuin itu
Jawabannya kita bukan apa apa
Mereka yang terlahir sudah kaya
Mereka yang terlahir sudah beruntung
Bukan berarti mereka bisa menjadi Tuhan
Bukan berarti mereka bisa melakukan apapun
Justru mereka terbatasi dengan semua itu
Tak bisa mengenal apa itu berjuang
Tak bisa mengerti apa itu usaha
Terlahir sudah nyaman bukan sebuah parameter bahagia
Hidup gak harus enak (Keadaannya) yang penting bisa dinikmati. (Roki_B)
Dan aku sepakat dengan kata-kata itu
Kita tak bisa memilih keadaan apa yang diberikan Tuhan
Kita hanya bisa menjalaninya sekalipun kita yang menciptakan sendiri rasa itu
Teringat sebuah majas yang memperhalus kalimat
Hiduplah untuk dirimu, bukan orang lain yang menghidupkanmu
Atau bisa menggunakan bahasa anarkis agar jelas
Kamu dilahirkan tuh buat apa?
Terdengar aneh jika terucap dari orang macam aku
Untung ada tulisan yang mampu mewakilinya
Padahal dalam Kitab juga jelas disebutkan
"Jangan lihat orangnya, tapi lihat apa yang diucapkannya"
Tapi itu sudah tidak berlaku bagi mereka (bacanya bukan semua)
Seseorang menilai dari cover, sampul atau apalah mereka menyebutnya
Jangan pedulikan hal nggak penting semacam itu
Meski niat baik tak jarang mendapatkan tanggapan yang tak baik
Tetaplah bertahan atas apa yang diyakini
Bukan mengikuti trend dan banyak tidaknya pengikut
Mereka tak bertanggung jawab juga saat kamu terjatuh
Mereka juga tak membuatkan monumen saat kamu mati
Bukan karena kita masuk suatu daerah
Maka kita diakui sebagai orang daerah
Tapi karena orang daerah mengakui kita
Maka kita bisa masuk ke suatu daerah
Para penghuni bumi yang disewakan Tuhan
Kita hanya menempati dan meminjam
Tak pantas jika berkeluh kesah dan meghujat pemiliknya
Kita punya apa untuk melakukan itu
Kita bisa ngapain untuk berlaku seperti itu
Kita itu siapa untuk ngelakuin itu
Jawabannya kita bukan apa apa
Mereka yang terlahir sudah kaya
Mereka yang terlahir sudah beruntung
Bukan berarti mereka bisa menjadi Tuhan
Bukan berarti mereka bisa melakukan apapun
Justru mereka terbatasi dengan semua itu
Tak bisa mengenal apa itu berjuang
Tak bisa mengerti apa itu usaha
Terlahir sudah nyaman bukan sebuah parameter bahagia
Hidup gak harus enak (Keadaannya) yang penting bisa dinikmati. (Roki_B)
Dan aku sepakat dengan kata-kata itu
Kita tak bisa memilih keadaan apa yang diberikan Tuhan
Kita hanya bisa menjalaninya sekalipun kita yang menciptakan sendiri rasa itu
Teringat sebuah majas yang memperhalus kalimat
Hiduplah untuk dirimu, bukan orang lain yang menghidupkanmu
Atau bisa menggunakan bahasa anarkis agar jelas
Kamu dilahirkan tuh buat apa?
Terdengar aneh jika terucap dari orang macam aku
Untung ada tulisan yang mampu mewakilinya
Padahal dalam Kitab juga jelas disebutkan
"Jangan lihat orangnya, tapi lihat apa yang diucapkannya"
Tapi itu sudah tidak berlaku bagi mereka (bacanya bukan semua)
Seseorang menilai dari cover, sampul atau apalah mereka menyebutnya
Jangan pedulikan hal nggak penting semacam itu
Meski niat baik tak jarang mendapatkan tanggapan yang tak baik
Tetaplah bertahan atas apa yang diyakini
Bukan mengikuti trend dan banyak tidaknya pengikut
Mereka tak bertanggung jawab juga saat kamu terjatuh
Mereka juga tak membuatkan monumen saat kamu mati
Bukan karena kita masuk suatu daerah
Maka kita diakui sebagai orang daerah
Tapi karena orang daerah mengakui kita
Maka kita bisa masuk ke suatu daerah
Dialah Orangnya
Dulu aku disambut dengan bahagia
Dulu aku dipeluk dengan hangat
Dulu aku yang menjadi kebanggannya
Hingga dia tau akhir yang kupilih untukku
Aku tak pernah mengerti apa yang diucapkannya
Hingga saat dimana jawaban itu ku dapat dikemduian hari
Aku hanya bisa percaya bahwa dia mencari pembenaran
Atas apa yang terjadi dikemudian hari
Seolah menjadi tuhan
Seolah mengerti cerita
Seolah membuat keadaan
Seolah paling benar dan tak bisa salah
Ntah apa yang dirasaknnya akan keberadaanku
Apa aku mengganggunya
Apa aku menjadi bebannya
Apa aku menjadi harapannya
Tiada yang tahu akan hal itu
Selain dirinya, otaknya dan hatinya
Dan tak ada yang mengerti
Selain egonya dan kepentingan pribadinya
Tak ada yang bisa kuberikan padanya
Dia yang memungutku dikala itu
Dia yang mendidikku waktu dulu
Dia yang membuatku seperti sekarang
Apa aku memang tak pantas untuknya
Apa aku memang tak berguna baginya
Atau memang aku hanya akan menjadi beban
Atau ternyata aku merupakan pengganggu hidupnya
Disaat aku tak berguna baginya
Aku akan lebih berguna bagi orang lain
Dia memang tak mengucapkannya
Tapi itu yang dia ingin aku mengetahuinya
Aku menyadarinya meski dia enggan mengakuinya
Dia hanya tak berani mengatakannya
Dia hanya ingin dunia membuat persepsi sendiri
Dan dia akan tersenyum dengan semua itu
Setidaknya aku mengerti meski tidak tahu benar atau salah
Dia bukan tak menginginkanku
Dia bukan membuangku
Dia ingin aku lebih berguna untuk orang lain
Hidup tidak untuk diri sendiri
Hidup tidak untuk aku dan dia
Hidup tidak untuk kami dan mereka
Tapi hidup untuk Kita Semua
Dulu aku dipeluk dengan hangat
Dulu aku yang menjadi kebanggannya
Hingga dia tau akhir yang kupilih untukku
Aku tak pernah mengerti apa yang diucapkannya
Hingga saat dimana jawaban itu ku dapat dikemduian hari
Aku hanya bisa percaya bahwa dia mencari pembenaran
Atas apa yang terjadi dikemudian hari
Seolah menjadi tuhan
Seolah mengerti cerita
Seolah membuat keadaan
Seolah paling benar dan tak bisa salah
Ntah apa yang dirasaknnya akan keberadaanku
Apa aku mengganggunya
Apa aku menjadi bebannya
Apa aku menjadi harapannya
Tiada yang tahu akan hal itu
Selain dirinya, otaknya dan hatinya
Dan tak ada yang mengerti
Selain egonya dan kepentingan pribadinya
Tak ada yang bisa kuberikan padanya
Dia yang memungutku dikala itu
Dia yang mendidikku waktu dulu
Dia yang membuatku seperti sekarang
Apa aku memang tak pantas untuknya
Apa aku memang tak berguna baginya
Atau memang aku hanya akan menjadi beban
Atau ternyata aku merupakan pengganggu hidupnya
Disaat aku tak berguna baginya
Aku akan lebih berguna bagi orang lain
Dia memang tak mengucapkannya
Tapi itu yang dia ingin aku mengetahuinya
Aku menyadarinya meski dia enggan mengakuinya
Dia hanya tak berani mengatakannya
Dia hanya ingin dunia membuat persepsi sendiri
Dan dia akan tersenyum dengan semua itu
Setidaknya aku mengerti meski tidak tahu benar atau salah
Dia bukan tak menginginkanku
Dia bukan membuangku
Dia ingin aku lebih berguna untuk orang lain
Hidup tidak untuk diri sendiri
Hidup tidak untuk aku dan dia
Hidup tidak untuk kami dan mereka
Tapi hidup untuk Kita Semua
Kamis, 14 November 2013
Katakan Selagi Sempat
Cinta itu buta karena tidak melihat dengan mata
Cinta itu tuli karena tidak medengar dengan teling
Cinta itu gila karena tidak berfikir dengan otak
Tapi itulah yang sering kita alami
Seseorang dengan hati sekeras batu
Seseorang dengan ego setegar karang
Seseorang dengan pikiran setinggi gunung
Tetap tak berdaya menghadapi cinta
Memang tidak adil saat kita mencintai
Yang dicintai mencintai yang lain
Yang lain juga mencintai yang lainnya
Lantas siapa yang salah dalam siklus ini?
Apa kita salah mecintainya?
Apa dia mencintai orang yang salah?
Apa yang lain salah karena memutuskan yang dicintai?
Itulah kehendak bebas
Sesuatu yang tak pernah bisa dipaksakan
Sesuatu yang tak pernah bisa ditebak
Sesuatu yang tak pernah bisa dinalar
Dengan kata tanya mengapa dan kok harus dia?
Dunia
memang terkadang tidak adil, mengapa bahagia tak pernah datang padaku
renung Niken dikala itu. Hujan masih jelas membasahi lingkugnan
disekitarnya. Niken terlahir dikeluarga kaya raya tanpa sedikitpun
merasa kurang dalam hal materi atau apapun yang dibutuhkan pasti bisa
didapatkan. Namun, ada satu hal yang tak dapat diberikan keluarganya
yang kaya raya itu, yakni kebahagiaan. Kesibukan kedua orang tua
memaksanya untuk tinggal hanya bersama pengasuhnya yang malah menjadi
ibu niken selama ini. Niken adalah anak tunggal dikeluarga ini,
lengkaplah sudah makna kesepian dan rindu kebahagiaan keluarga utuh yang
selalu dimimpikannya.
Kehidupan cinta juga tak
berpihak kepadanya, semua laki-laki yang mendekatinya hanya tergiur pada
harta yang dimilikinya. Cinta, sayang dan perhatian yang diumbar
semata-mata hanya untuk harta. Memang tak dipungkiri dijaman sekarang
bahwa uang berbicara dan semua akan mengalir begitu saja. Niken tak
begitu menggubris semua itu, karena memang bukan itu yang ingin dia
dapatkan selama ini. Hingga tuhan menjawab doa niken selama 16 tahun,
seorang laki-laki yang jauh dari kaya dan berpenampilan biasa-biasa saja
karena memang jam pulang sekolah sudah lama berakhir. Pertemuan pertama
diterminal bus kecil dikala hujan rintik-rintik saat itu.
Setelah
kejadian singkat itu, bisa dibilang 2/3 hati niken telah dimiliki
laki-laki itu. Suatu kejadian yang tidak bisa dipercaya, banyak yang
berasal dari golongan dan kasta yang sama. Lantas mengapa memilih kaum
jelata? Itulah yang dipikirkan semua orang akan pilihan niken saat itu.
Ingin mengulang kejadian yang sama maka setelah selesai sekolah, niken
langsung menunggu ditempat dimana dia bertemu dengan laki-laki itu
kemarin. dan memantapkan niat untuk tidak pulang sebelum bertemu
dengannya. Tik tik tik tik, tetesan hujan mulai menetes diatap halte dan
hembusan angin mulai menjadi dingin. Beberapa bis telah lewat dan
berlalu begitu saja tapi laki-laki itu tak kunjung datang.
Putus
asa mulai menghantui, keraguan mulai memancing niken untuk meninggalkan
tempat itu. Dari kejauhan terlihat sosok seorang laki-laki yang berlari
menuju halte itu. Tak ada suara yang keluar dari bibir kedua anak adam
saat itu hingga angin berhembus lebih kencang dan niken merasa
kedinginan akibat itu. Laki-laki itu lalu memakaikan jaketnya padda
niken meski ia tak mengenalnya saat itu, "biar tidak kedinginan, mau
pulang kemana?" kalimat pertama yang keluar setelah sekian waktu. "ke
daerah stasiun lama" jawab niken. tak banyak yang bisa di ucapkan karena
ntah apa yang menahan bibir niken saat itu. Niken pun tak sanggup
mengatakan bahwa niken menunggu laki-laki itu disana.
Niken pun diantar pulang karena hari mulai gelap dan cuaca tak kunjung membaik hari itu.
Tapi
siapa yang menduga bahwa pertemuan itu menjadi yang pertama dan
terakhir untuk mereka berdua. Hari-hari berikutnya tak ada lagi
pertemuan karena niken dipindahkan ke kota lain oleh orang tuanya. Niken
yang tak sempat mengungkapkan apa yang dirasa, menjelaskan apa yang
dipikirkan, dan hanya jaket laki-laki itu yang ia simpan sampai saat
ini.
Terkadang kita sering berharap pada kesempatan kedua
Tanpa memaksimalkan kesempatan pertama
Mengabaikan kesempatan pertama
Seolah kesempatan kedua pasti ada
Tak ada yang bisa dilakukan saat semua terlambat
Tak ada yang bisa dirubah saat telah ditetapkan
Tak ada yang bisa ditarik saat telah dilepaskan
Tak ada yang bisa diperbaiki saat telah berlalu
Selasa, 12 November 2013
Tak Sempat Merasakan
Dia terlahir didunia tanpa pernah mengenal siapa yang meninggalkannya
disana. Tanpa pernah mengerti mengapa ia ditinggalkan. Tanpa bisa
memilih tersenyum dalam dekapan hangat keluarga. Hujan baru saja
mengguyur kota tercinta ini, suasana dingin masih kerap terasa dalam
menusuk kulit setiap orang dikota ini. Kebanyakan mereka menghabiskan
waktu didekat perapian tanpa pernah peduli banyak yang kedinginan tanpa
atap dan hangat diluar sana. Dia ditinggalkan disana, sebuah yayasan
bagi mereka yang kelahirannya tidak dinginkan. Andai dia bisa memilih,
dia pun tidak ingin dilahirkan tanpa mengenal siapa ayah dan ibunya.
Bersyukurlah kita semua yang mengenal, mengerti, melihat dan bisa
menyentuh wajah kedua tuhan (bacanya ayah dan ibu) di muka bumi ini.
Dimana ada yang pergi, pasti ada yang datang untuk menggantikannya
begitulah alam menjawab.
Seorang wanita mendekat dan
menatap dengan hangat, seolah mengerti rasa yang tak pernah dialaminya.
Diangkat dan digendong anak itu dan dibawa jalan-jalan disekitar
yayasan. Timbul keinginan wanita itu untuk selalu bersama anak itu,
seolah ikatan itu terjalin begitu saja seperti ibu dan anak. Dengan
harap cemas wanita itu mengutarakan apa yang diinginkan kepada suaminya.
Tanpa sepengetahuan suami, wanita itu tiap hari datang dan mengunjungi
anak itu. Wanita itu menghabiskan waktunya bersama anak itu, dan
memperkenalkan diri sebagai ibunya dan suaminya sebagai ayahnya. Wanita
itu memberi anak itu nama "Gio". Apakah semua ini sebuah pertanda? Apa
yang Tuhan rahasiakan dibalik pertemuan wanita ini dengan Gio (nama yang
wanita itu berikan padanya)?
Beberapa bulan kemudian,
kejadian yang tidak pernah diinginkan terjadi pada wanita itu. Tuhan
memanggilnya lebih cepat dari usianya, wajahnya masih muda, kulitnya
belum keriput dan semua begitu cepat terjadi. Gio hanya bisa menangis
berhari-hari karena wanita itu tak lagi mengunjunginya. Wanita yang
setiap hari bermain bersamanya, wanita yang dipanggilnya "mama" dengan
belajar berbicara. Gio tak lagi ceria seperti biasanya semenjak wanita
itu tak lagi mengunjunginya, gio lebih memilih diam karena tenaganya
mulai habis. Tangisnya tak membuat wanita itu datang untuk saat ini.
Beberapa hari setelah kepergian wanita itu, sepucuk surat datang untuk suaminya dari yayasan yang sering dikunjungi wanita itu.
"Sebelum
istri anda meninggal, dia datang dan meminta saya untuk menuliskan
surat ini untuk anda. Dia ingin memberitahukan anda bahwa dia telah
mengangkat anak dan memberinya nama Gio. Mungkin dia tahu bahwa anda tak
pernah menyetujuinya, tapi tanpa anda tahu bahwa istri anda setiap hari
datang kemari dan bermain bersama gio. Istri anda berharap anda bisa
menerimanya seperti anda menerima anak kandung anda sendiri. Jika anda
mencintai istri anda maka anda juga mencintai gio karena istri anda
menaruh harapan besar pada gio"
Seakan tak percaya,
akan apa yang didengar dari surat yang dibuat oleh istrinya. Seolah
istrinya mengerti bahwa usianya tak lagi lama. Inikah alasan
perbincangan waktu itu. Dan Gio telah diadopsi orang lain setelah suami wanita itu mengetahui keinginan istrinya yang terkahir.
Menjadi ayah adalah takdir setiap laki-laki
Menjadi ayah bukanlah hal yang mudah
Menjadikan ayah dari anak adalah harapan seorang wanita
Menjadikan ayah dari anak bukan hal yang sepele
Kesempatan tak selalu datang dengan kejelasan
Kesempatan terkadang tak datang diwaktu yang tepat
Harapan tak selalu diucapkan diawal
Harapan terkadang hadir disaat tak terduga
Kita tak pernah tahu apa yang dilakukannya
Kita tak pernah mengerti apa yang diusahakannya
Kita hanya bisa menuntut tanpa mendengar
Kita hanya bisa meminta tanpa peduli
Beruntunglah kita masih bisa meminta
Beruntunglah kita masih bisa melihat
Beruntunglah kita masih bisa mendengar
Apa yang belum tentu dimiliki orang lain
Tunjukkan bahwa kita memang terlahir untuk berguna
Buktikan bahwa perjuangan mereka (ayah dan ibu) tidaklah sia-sia
Senin, 11 November 2013
Kamu Hidup Kan?
Terlahir sendiri itu pasti
Karena tak mungkin kita semua terlahir dari rahim yang sama
Namun, berjalan sendiri itu pilihan
Itu adalah hak mutlak setiap manusia
Kata itu sering aku gunakan untuk mencerna
Apa yang aku lakukan
Apa yang mereka lakukan
Dan apa yang kita semua lakukan
Bukan cuma mereka yang berjalan disampingku
Bukan cuma mereka yang ada disekitarku
Melainkan mereka semua yang kutemui dijalanku
Menjadi pernak pernik pilihan hidupku
Banyak harapan yang kita bawa
Disini (bacanya pilihan kita), tempat kita mengasingkan diri
Saat semua menatap sinis dan rendah
Tapi derajat kita jauh lebih tinggi dari mereka
Karena kita berani menggunakan apa yang punya
Dan menunjukkan kesemua orang bahwa kita hidup
Bukan menutupi yang diri seolah mati
Tenang dan tengggelam dalam keadaan nyaman
Bukan soal memberontak
Bukan soal mencari onar
Bukan soal mencari kesenangan
Tapi ini soal hati
Hati terbentuk dengan kebebasannya
Bebas dalam segala hal
Bebas dalam bermacam bentuk
Bebas dalam berbagai cara
Tapi sadarlah bahwa semua itu adalah Hidup
Hidup yang tidak hanya diatas kertas
Hidup yang tidak selalu hitam diatas putih
Hidup yang tidak harus digambar dan ditulis
Tunjukkan bahwa kita semua itu terlahir hidup
Bukan dihidupkan layaknya benda mati yang dapat energi
Karena tak mungkin kita semua terlahir dari rahim yang sama
Namun, berjalan sendiri itu pilihan
Itu adalah hak mutlak setiap manusia
Kata itu sering aku gunakan untuk mencerna
Apa yang aku lakukan
Apa yang mereka lakukan
Dan apa yang kita semua lakukan
Bukan cuma mereka yang berjalan disampingku
Bukan cuma mereka yang ada disekitarku
Melainkan mereka semua yang kutemui dijalanku
Menjadi pernak pernik pilihan hidupku
Banyak harapan yang kita bawa
Disini (bacanya pilihan kita), tempat kita mengasingkan diri
Saat semua menatap sinis dan rendah
Tapi derajat kita jauh lebih tinggi dari mereka
Karena kita berani menggunakan apa yang punya
Dan menunjukkan kesemua orang bahwa kita hidup
Bukan menutupi yang diri seolah mati
Tenang dan tengggelam dalam keadaan nyaman
Bukan soal memberontak
Bukan soal mencari onar
Bukan soal mencari kesenangan
Tapi ini soal hati
Hati terbentuk dengan kebebasannya
Bebas dalam segala hal
Bebas dalam bermacam bentuk
Bebas dalam berbagai cara
Tapi sadarlah bahwa semua itu adalah Hidup
Hidup yang tidak hanya diatas kertas
Hidup yang tidak selalu hitam diatas putih
Hidup yang tidak harus digambar dan ditulis
Tunjukkan bahwa kita semua itu terlahir hidup
Bukan dihidupkan layaknya benda mati yang dapat energi
Selasa, 05 November 2013
Hanya Tentang Pilihan
Sudah lama rasanya
Hingga lupa atau amnesia
Banyak berubah dan berbeda
Namun inilah yang menjadi perdebatan
Tujuan yang sama ingin diraih
Namun menempuh jalan yang berbeda
Kultur dan keadaan yang berbeda
Begitu juga tradisi yang dijunjungkan
Aku tak pernah tahu
Benar atau salah yang telah dipilih
Selama ini aku hanya menjalaninya
Tanpa pernah memikirkannya lebih jauh
Saat aku diusir dari rumah
Saat keluargaku tak menganggapku ada
Disaat aku sendiri, termarjinalkan dan menjadi minoritas
Mereka datang menjulurkan tangan
Keluarga tanpa dasar kepentingan
Keluarga tanpa pernah mengenal satu sama lain
Orang asing menjadi keluarga
Keluarga menjadi orang asing
Kenapa hanya mereka yang baik yang dipandang
Dan mereka yang kurang baik dianggap tidak ada
Aku memang bukan contoh yang baik
Tapi aku tak pernah mengajarkan hal yang buruk
Tak peduli apa yang kalian pikir tentangku
Tak penting celotehan kalian dibelakangku
Seseorang hanya dianggap saat dia mengungkapkannya daripada sekedar memikirkannya
Hingga lupa atau amnesia
Banyak berubah dan berbeda
Namun inilah yang menjadi perdebatan
Tujuan yang sama ingin diraih
Namun menempuh jalan yang berbeda
Kultur dan keadaan yang berbeda
Begitu juga tradisi yang dijunjungkan
Aku tak pernah tahu
Benar atau salah yang telah dipilih
Selama ini aku hanya menjalaninya
Tanpa pernah memikirkannya lebih jauh
Saat aku diusir dari rumah
Saat keluargaku tak menganggapku ada
Disaat aku sendiri, termarjinalkan dan menjadi minoritas
Mereka datang menjulurkan tangan
Keluarga tanpa dasar kepentingan
Keluarga tanpa pernah mengenal satu sama lain
Orang asing menjadi keluarga
Keluarga menjadi orang asing
Kenapa hanya mereka yang baik yang dipandang
Dan mereka yang kurang baik dianggap tidak ada
Aku memang bukan contoh yang baik
Tapi aku tak pernah mengajarkan hal yang buruk
Tak peduli apa yang kalian pikir tentangku
Tak penting celotehan kalian dibelakangku
Seseorang hanya dianggap saat dia mengungkapkannya daripada sekedar memikirkannya
Jumat, 25 Oktober 2013
Suara itu Bukan Folatil
Kita terlahir dengan kepribadian berbeda
Kita hidup dengan takdir yang berbeda
Kita memiliki cara pikir yang berbeda
Masihkah ada yang bisa membuat kita sejalan?
Kecewa sering dialami
Sakit sering dirasakan
Marah sering diredam
Batas tetap menjadi sebuah pedoman
Bukan maksud sok tau tapi memang tau
Bukan maksud sok ngerti tapi memang ngerti
Bukan maksud sok pintar tapi memang pintar
Dan itu yang membuat kita berbeda
Tidak mungkin monyet disuruh berenang
Atau ikan harus memanjat pohon
Aku memilih apa yang kalian hindari
Bukan berarti aku tak bisa melampaui kalian
Secara hitam diatas putih kalian diakui
Tapi tidak ada pengakuan dari dunia
Lantas apa yang kalian harapan?
Tulisan bisa direkayasa lantas apa dunia bisa kalian rekayasa
Jangankan sebuah tulisan
Perkataanpun banyak yang dimanipulasi
Muka aja banyak yang menggunakan topeng
Doa aja banyak yang dipalsukan
Bukan karena dia hebat lantas semua orang mengakui
Justru karena semua orang mengakui lantas dia menjadi hebat
Apa hanya sekedar ingin dilihat hebat?
Tanpa tahu arti hebat yang dimaksudkan
Dapatkan pengakuan dunia dengan tindakan
Bukan secarik kertas yang sering disebut ijasah
Bukan sepatah dua patah dan berpatah patah kata
Yang menguap setelah ditutup dengan salam
Kita hidup dengan takdir yang berbeda
Kita memiliki cara pikir yang berbeda
Masihkah ada yang bisa membuat kita sejalan?
Kecewa sering dialami
Sakit sering dirasakan
Marah sering diredam
Batas tetap menjadi sebuah pedoman
Bukan maksud sok tau tapi memang tau
Bukan maksud sok ngerti tapi memang ngerti
Bukan maksud sok pintar tapi memang pintar
Dan itu yang membuat kita berbeda
Tidak mungkin monyet disuruh berenang
Atau ikan harus memanjat pohon
Aku memilih apa yang kalian hindari
Bukan berarti aku tak bisa melampaui kalian
Secara hitam diatas putih kalian diakui
Tapi tidak ada pengakuan dari dunia
Lantas apa yang kalian harapan?
Tulisan bisa direkayasa lantas apa dunia bisa kalian rekayasa
Jangankan sebuah tulisan
Perkataanpun banyak yang dimanipulasi
Muka aja banyak yang menggunakan topeng
Doa aja banyak yang dipalsukan
Bukan karena dia hebat lantas semua orang mengakui
Justru karena semua orang mengakui lantas dia menjadi hebat
Apa hanya sekedar ingin dilihat hebat?
Tanpa tahu arti hebat yang dimaksudkan
Dapatkan pengakuan dunia dengan tindakan
Bukan secarik kertas yang sering disebut ijasah
Bukan sepatah dua patah dan berpatah patah kata
Yang menguap setelah ditutup dengan salam
Senin, 21 Oktober 2013
Kenapa Begitu
Saat yang terlihat tidak sesuai keinginan
Saat yang diinginkan jauh dari harapan
Saat yang dibicarakan tak lagi sama
Saat keadaan berubah berbalik
Sebuah titik balik dari semua
Kebaikan yang berhenti ditengah jalan
Perhatian yang menguap begitu saja
Seakan ditinggal untuk berjalan sendiri
Sejak awal memang tidak diminta
Sejak awal memang tidak dibutuhkan
Dan apa yang dipaksakan
Memang tidak selalu baik
Seolah mental dan berbalik
Apa yang diberikan dipertanyakan
Apa yang dikatakan diragukan
Apa yang dilalui dipandang sebelah mata
Mengapa pilihan selalu meninggalkan resiko
Melepas dan kehilangan adalah bagian taruhan
Rasa tak enak hati menjadi beban
Rasa tak tahu diri menjadi pikiran
Masih saja mempertanyakan apa yang disembunyikan jawabannya
Masih saja mengusakan apa yang hasil akhir telah ditetapkan
Semua tergantung cara mengartikannya
Dan tak ada yang bisa menyalahkan hal itu
Saat yang diinginkan jauh dari harapan
Saat yang dibicarakan tak lagi sama
Saat keadaan berubah berbalik
Sebuah titik balik dari semua
Kebaikan yang berhenti ditengah jalan
Perhatian yang menguap begitu saja
Seakan ditinggal untuk berjalan sendiri
Sejak awal memang tidak diminta
Sejak awal memang tidak dibutuhkan
Dan apa yang dipaksakan
Memang tidak selalu baik
Seolah mental dan berbalik
Apa yang diberikan dipertanyakan
Apa yang dikatakan diragukan
Apa yang dilalui dipandang sebelah mata
Mengapa pilihan selalu meninggalkan resiko
Melepas dan kehilangan adalah bagian taruhan
Rasa tak enak hati menjadi beban
Rasa tak tahu diri menjadi pikiran
Masih saja mempertanyakan apa yang disembunyikan jawabannya
Masih saja mengusakan apa yang hasil akhir telah ditetapkan
Semua tergantung cara mengartikannya
Dan tak ada yang bisa menyalahkan hal itu
Kamis, 17 Oktober 2013
Sayu-Sayu Terdengar
Suara yang lama tak kudengar
Meski aku berada disampingnya
Meski aku sering melihatnya
Dimana ia menyembunyikanya
Namun kemarin
Suara itu kembali
Suara itu terdengar sama
Dan masih tak ada yang berubah
Rasa yang sama
Bentuk yang sama
Jumlah yang sama
Namun kondisinya yang berbeda
Memang masih pada tempatnya
Memang masih sama sejak awal
Dan masih tertata dengan rapi
Hanya saja keadaanya tak lagi baik
Kita semua punya tujuan awal
Mulai berubah seiring berjalannya waktu
Dan mendekati bagian akhir
Apakah akan sama seperti awal atau akan berubah??
Apa dia akan bahagia saat dia bersamaku??
Apa aku akan bahagia saat aku bersamanya??
Aku mengetahui batasan dirinya
Tapi dia jauh lebih mengerti batasan dirinya sendiri
Hidup didunia hanya sebentar
Dan tidak ada gejala renkarnasi (setidaknya begitu)
Membuatnya sia-sia atau memberikan yang terbaik
Setidaknya untuk diri sendiri jika orang lain belum mampu
Memilih bukanlah soal sulit
Hanya mau atau tidak
Menjalani adalah yang lebih sulit
Karena hidup itu menjalani bukan memikirkannya
Jika itu merugikan dirimu
Bukan berarti memberikan keuntungan untukku
Karena aku bukan TUHAN
Yang menentukan yang terbaik untuk setiap manusia
Meski aku berada disampingnya
Meski aku sering melihatnya
Dimana ia menyembunyikanya
Namun kemarin
Suara itu kembali
Suara itu terdengar sama
Dan masih tak ada yang berubah
Rasa yang sama
Bentuk yang sama
Jumlah yang sama
Namun kondisinya yang berbeda
Memang masih pada tempatnya
Memang masih sama sejak awal
Dan masih tertata dengan rapi
Hanya saja keadaanya tak lagi baik
Kita semua punya tujuan awal
Mulai berubah seiring berjalannya waktu
Dan mendekati bagian akhir
Apakah akan sama seperti awal atau akan berubah??
Apa dia akan bahagia saat dia bersamaku??
Apa aku akan bahagia saat aku bersamanya??
Aku mengetahui batasan dirinya
Tapi dia jauh lebih mengerti batasan dirinya sendiri
Hidup didunia hanya sebentar
Dan tidak ada gejala renkarnasi (setidaknya begitu)
Membuatnya sia-sia atau memberikan yang terbaik
Setidaknya untuk diri sendiri jika orang lain belum mampu
Memilih bukanlah soal sulit
Hanya mau atau tidak
Menjalani adalah yang lebih sulit
Karena hidup itu menjalani bukan memikirkannya
Jika itu merugikan dirimu
Bukan berarti memberikan keuntungan untukku
Karena aku bukan TUHAN
Yang menentukan yang terbaik untuk setiap manusia
Tak bermaksud menyuapi
Kecewa adalah rasa yang wajar
Marah adalah cara mengungkapkan
Memang tidak pantas namun itulah adanya
Berbohong tetap tidak dibenarkan
Saat apa yang direncanakan tak sesuai harapan
Saat apa yang diberikan tak mendapat respon yang baik
Saat yang diupayakan mendapat tanggapan yang buruk
Masih bisakah kita menerima??
Pilihan memang hak mutlak setiap manusia
Tapi kami lebih dulu terjun dalam dunia ini
Kami lebih dulu merasakan apa yang tak sempat kalian rasakan
Dan kami pikir kalian tidak perlu merasakan apa yang tak ingin kalian rasakan karena memang zamannya sudah berbeda dikala itu
Kalian tidak perlu jatuh untuk merasa apa itu rasa sakit
Tidak perlu mematikan lampu untuk belajar bertahan dalam gelap
Tidak perlu menjadi batu untuk kuat menahan badai
Tidak perlu menjadi banyak orang untuk dikenal banyak orang
Kalian berhak protes
Kalian berhak memberontak
Kalian berhak mengelak
Tapi kalian tak berhak menghujat karena kalian tidak pernah tau alasan apa yang mendasari hal itu
Marah adalah cara mengungkapkan
Memang tidak pantas namun itulah adanya
Berbohong tetap tidak dibenarkan
Saat apa yang direncanakan tak sesuai harapan
Saat apa yang diberikan tak mendapat respon yang baik
Saat yang diupayakan mendapat tanggapan yang buruk
Masih bisakah kita menerima??
Pilihan memang hak mutlak setiap manusia
Tapi kami lebih dulu terjun dalam dunia ini
Kami lebih dulu merasakan apa yang tak sempat kalian rasakan
Dan kami pikir kalian tidak perlu merasakan apa yang tak ingin kalian rasakan karena memang zamannya sudah berbeda dikala itu
Kalian tidak perlu jatuh untuk merasa apa itu rasa sakit
Tidak perlu mematikan lampu untuk belajar bertahan dalam gelap
Tidak perlu menjadi batu untuk kuat menahan badai
Tidak perlu menjadi banyak orang untuk dikenal banyak orang
Kalian berhak protes
Kalian berhak memberontak
Kalian berhak mengelak
Tapi kalian tak berhak menghujat karena kalian tidak pernah tau alasan apa yang mendasari hal itu
Kamis, 03 Oktober 2013
Tak Lagi Muda
Saat dimana kita sengaja terjaga
Sengaja datang karena panggilan jiwa
Meski berawal dari sebuah kata kebetulan
Keadaan yang memang aneh dan tak terelakan
Kita dituntut mengerti ketidakadilan
Kita dipaksa menerima yang tidak dinginkan
Kita wajib melihat yang tak ingin dilihat
Kita diharuskan menyukai apa yang tidak disukai
Kita memang masih disuapi
Tak ada yang bisa menyangkalnya
Sekalipun ego memaksakannya
Kita tetap mengindahkannya
Usia tak lagi muda
Umur kian bertambah
Waktu tak lagi lama
Menipis seiring berjalannya waktu
Tak ada yang bisa diberikan
Tak ada yang bisa dilakukan
Tak ada yang bisa ditunjukkan
Terjebak dalam pilihan yang telah ditetapkan
Semoga impian semakin dekat
Harapan tak lagi menjauh
Cita dan cinta tak lagi menghindar
Seiring mendekatnya akhir hidup
Banyak yang merayakan
Tak sedikit juga yang mengabaikan
Ada yang berbahagia
Ada pula yang menyayangkan
Lakukan yang membuatmu bahagia
Jangan ikut arus bahagia orang lain
Kamu berhak akan hal itu
Diusia yang menapaki kepala 2
HBD
Sengaja datang karena panggilan jiwa
Meski berawal dari sebuah kata kebetulan
Keadaan yang memang aneh dan tak terelakan
Kita dituntut mengerti ketidakadilan
Kita dipaksa menerima yang tidak dinginkan
Kita wajib melihat yang tak ingin dilihat
Kita diharuskan menyukai apa yang tidak disukai
Kita memang masih disuapi
Tak ada yang bisa menyangkalnya
Sekalipun ego memaksakannya
Kita tetap mengindahkannya
Usia tak lagi muda
Umur kian bertambah
Waktu tak lagi lama
Menipis seiring berjalannya waktu
Tak ada yang bisa diberikan
Tak ada yang bisa dilakukan
Tak ada yang bisa ditunjukkan
Terjebak dalam pilihan yang telah ditetapkan
Semoga impian semakin dekat
Harapan tak lagi menjauh
Cita dan cinta tak lagi menghindar
Seiring mendekatnya akhir hidup
Banyak yang merayakan
Tak sedikit juga yang mengabaikan
Ada yang berbahagia
Ada pula yang menyayangkan
Lakukan yang membuatmu bahagia
Jangan ikut arus bahagia orang lain
Kamu berhak akan hal itu
Diusia yang menapaki kepala 2
HBD
Jumat, 27 September 2013
Anonim (Senja Kedua)
Semua masih terasa hangat seolah baru bebreapa detik berlalu, namun kejadian itu sudah seminggu berlalu. Ia tak sempat pergi kesana karena begitu banyak pekerjaan rumah yang hrus ia kerjakan akhir-akhir ini semenjak ibunya mulai jatuh sakit. Ia menyadari bahwa ibunya tak lagi muda, raut wajahnya mulai keriput dan tubuhnya sedikit kurus dan kering karena tidak terawat. Fatimah tinggal dirumah dengan ibunya karena ayahnya sering keluar kota untuk berdagang sehingga ia lebih banyak tinggal dirumah dengan ibunya.
"Nak, sini nak. duduk dekat ibu" kata ibunya dengan lemah
"iya bu " jawabnya dengan cepat sambil mendekat dan duduk dismping ibunya
"Sudah seminggu ibu perhatikan kamu nampak gelisah dan terkadang sering senyum-senyum sendiri. Apa ada yang kau sembunyikan nak??" tanya ibunya penuh cemas
"AH...tidak ada apa-apa kok bu" jawabnya
" Ibu juga pernah muda nak, ibu juga pernah merasakan apa yang dibilang jatuh cinta, jadi jangan engkau bohong nak. Mungkin engkau bisa membohongi semua orang tapi engkau tidak bisa membohongi hatimu nak " ujar ibunya dan mebuatnya diam tanpa bisa membalas apa-apa
Terkadang kita memang disihir
Terjebak dalam suasana tidak pasti
Sulit untuk dijelaskan
Sukar untuk dikatakan
Bukan maksud berbohong
Hanya semua belum jelas
Daripada salah mengartikan
Lebih baik diam dan menunggu
Terjaga lebih awal karena mendengar suara berisik di sekitar dapur. Suara beradu antara perlatan dapur
"Siapa yang pagi-pagi udah berisik?, apa mungkin ayah baru pulang atau ibu" menggerutu dengan setengah sadar
Dan saat kesadarannya kembali terisi ia tersadar dan segera mencapai dapur untuk melihat siapa yang ada disana.
"Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu" teriaknya
"Kamu kenapa e?? pagi-pagi sudah teriak-teriak. Maaf ya udah membangunkan mu" ujar ibu
"Ibu sudah sehat?" tanyanya
"Iya ibu sudah enakan, jadi ibu bisa menyiapkan makanan untukmu nak saat ini" kata ibu
"terima kasih, ibu" ujarnya bahagia dan seolah takpercaya apa yang dilihatnya
Pagi itu Fatimah memang disambut dengan kebahagiaan sejak matanya terbuka. Hari ini ia bisa kembali menyentuh senja ditempat biasa. Dan bertemu dengan laki-laki yang lupa ia tanyakan namanya saat itu. Lelaki yang memiliki kesamaan untuk menikmati senja dan tenggelam bersamanya, kegiatan yang banyak di hujat orang karena dianggap sia-sia dan membuang-buang waktu. Tapi ia tak pernah peduli karena apa yang disukainya adalah hak dan tak pengaruh dengan orang lain.
Jangan pernah terintimidasi
Jangan pernah terprovookasi
Jangan pernah berpaling
Atas apa yang menjadi pilihan hati
Manusia tidak diciptakan sendiri
Meski manusia terlahir sendiri-sendiri
Manusia tidak hidup sendiri
Meski terkadang banyak yang ingin sendiri
Rasa ingin mengulang kejadian yang sama
Rasa ingin bertemu dengan orang yang sama
Rasa ingin merasakan kebahagiaan yang sama
Rasa yang banyak orang sebut dengan CINTA
Mungkin terlalu cepat jika ia merasakan cinta karena ia baru bertemu dengannya sekali dan itu hanyalah kebetulan. Padahal tak ada yang namanya kebetulan, sebuah telah menjadi skenario Tuhan sejak kita lahir hingga kelak mati dan setelahnya. Rasa yang aneh karena pertama kalinya rasa ini dirasakannya, senyum-senyum ndak jelas menjadi gejala awal yang ia rasakan saat ini. Rasa tak sabar menunggu saat senja itu datang seolah waktu bergulir lebih lambat dari biasanya. Bunga tak selamanya manunggu kumbang datang, bunga pun berhak menghadap kearah cahaya dan menuju arah kumbang datang.
Saat yang dinanti akhirnya datang juga, dan dengan tergesa-gesa ia pergi meninggalkan rumah setelah meminta ijin dengan ibunya. Memang tak bisa dipungkiri bahwa rasa rindu itu memang nyata, hal itu bisa dilihat dari cara dia menyembunyikannya dan cara dia mengatasinya. Dengan perasaan penuh harap menuju tempat dimana ia biasa menghabiskan waktu bersama senja yang dulunya hanya ia dan senja, sekarang ia berharap adanya orang ketiga yang ia ingin ada kehadirannya disaat ini. Dengan susah payah ia mencapai bukit itu, dan apa yang diharapkannya tidak membalas dengan kekecewaan. Laki-laki itu masih dengan posenya yang sama saat fatimah bertemu dengannya utnuk pertama kali. Sebagian wajahnya berpadu dengan cahaya senja dan mata yang tenggelam dalam suasana dikala itu.
"Ah......... Kamu" ujar lelaki itu yang menyadari kedatangan fatimah karena suara nafasnya yang tak beraturan
"iya, kita bertemu lagi, sudah lama disini??" tanyanya
"Sejak saat itu, aku selalu menunggumu tiap sore disini bertanya pada senja secara pribadi" ujar laki-laki itu
Serasa tak percaya akan apa yang didengarnya saat itu, sebuah ucapan spontan dari seorang laki-laki yang ia inginkan kehadirannya.
"Mengapa kamu lakukan itu padahal kita belum mengenal satu sama lain bahkan untuk sekedar namapun tidak" katanya tak percaya
"Sejak saat itu, aku selalu punya alasan untuk kembali kesini dan mengobrol tentangmu bersama senja" jawab laki-laki itu
"Bukannya kamu memang sering kesini sebelumnya??" tanyanya
"Aku hanya memperhatikanmu dari jauh, tempat yang berbeda. Dan hari itu adalah pertama kalinya aku datang kesini. Esoknya aku kembali kesini dan tidak menemukanmu datang, hingga hari ini tiba. Namaku Gio. Boleh tau siapa namamu?" tanya laki-laki itu
"Fatimah. Jadi sejak saat itu, kamu terus menungguku disini!!!" tegasnya
"Iya.... Meski aku sempat cemas karena beberapa hari kamu tak datang kesini seperti biasanya. Aku juga tidak tahu dimana kamu tinggal, agar aku bisa tahu alasan kamu tak datang lagi kemari." jelas laki-laki itu
"Beberapa hari yang lalu ibuku sakit, jadi aku tak bisa meninggalkannya sedangkan ayahku berdagang di kota lain jadi hanya aku yang mengurus pekerjaan dirumah. " jelasnya
"Yang penting aku bisa bertemu denganmu lagi disini dan menikmati hal yang sama seperti hari itu" kata laki-laki itu
Suasana lembayung senja menghiasi percakapan mereka. Senja perlahan menjauh dan membiarkan mereka berdua menghabiskan waktu sendiri. Senja mulai memudar dan mereka sadar waktu mereka hampir habis karena mereka harus pulang kerumah masing-masing.
Penantian yang tidak terduga
Jawaban selalu ada ditiap pertanyaan
Hanya butuh sedikit usaha
Dan secuil keajaiban Tuhan
to be continued
Langganan:
Postingan (Atom)
