Selasa, 12 November 2013

Tak Sempat Merasakan

Dia terlahir didunia tanpa pernah mengenal siapa yang meninggalkannya disana. Tanpa pernah mengerti mengapa ia ditinggalkan. Tanpa bisa memilih tersenyum dalam dekapan hangat keluarga. Hujan baru saja mengguyur kota tercinta ini, suasana dingin masih kerap terasa dalam menusuk kulit setiap orang dikota ini. Kebanyakan mereka menghabiskan waktu didekat perapian tanpa pernah peduli banyak yang kedinginan tanpa atap dan hangat diluar sana. Dia ditinggalkan disana, sebuah yayasan bagi mereka yang kelahirannya tidak dinginkan. Andai dia bisa memilih, dia pun tidak ingin dilahirkan tanpa mengenal siapa ayah dan ibunya. Bersyukurlah kita semua yang mengenal, mengerti, melihat dan bisa menyentuh wajah kedua tuhan (bacanya ayah dan ibu) di muka bumi ini. Dimana ada yang pergi, pasti ada yang datang untuk menggantikannya begitulah alam menjawab.

Seorang wanita mendekat dan menatap dengan hangat, seolah mengerti rasa yang tak pernah dialaminya. Diangkat dan digendong anak itu dan dibawa jalan-jalan disekitar yayasan. Timbul keinginan wanita itu untuk selalu bersama anak itu, seolah ikatan itu terjalin begitu saja seperti ibu dan anak. Dengan harap cemas wanita itu mengutarakan apa yang diinginkan kepada suaminya. Tanpa sepengetahuan suami, wanita itu tiap hari datang dan mengunjungi anak itu. Wanita itu menghabiskan waktunya bersama anak itu, dan memperkenalkan diri sebagai ibunya dan suaminya sebagai ayahnya. Wanita itu memberi anak itu nama "Gio". Apakah semua ini sebuah pertanda? Apa yang Tuhan rahasiakan dibalik pertemuan wanita ini dengan Gio (nama yang wanita itu berikan padanya)?

Beberapa bulan kemudian, kejadian yang tidak pernah diinginkan terjadi pada wanita itu. Tuhan memanggilnya lebih cepat dari usianya, wajahnya masih muda, kulitnya belum keriput dan semua begitu cepat terjadi. Gio hanya bisa menangis berhari-hari karena wanita itu tak lagi mengunjunginya. Wanita yang setiap hari bermain bersamanya, wanita yang dipanggilnya "mama" dengan belajar berbicara. Gio tak lagi ceria seperti biasanya semenjak wanita itu tak lagi mengunjunginya, gio lebih memilih diam karena tenaganya mulai habis. Tangisnya tak membuat wanita itu datang untuk saat ini.

Beberapa hari setelah kepergian wanita itu, sepucuk surat datang untuk suaminya dari yayasan yang sering dikunjungi wanita itu.

"Sebelum istri anda meninggal, dia datang dan meminta saya untuk menuliskan surat ini untuk anda. Dia ingin memberitahukan anda bahwa dia telah mengangkat anak dan memberinya nama Gio. Mungkin dia tahu bahwa anda tak pernah menyetujuinya, tapi tanpa anda tahu bahwa istri anda setiap hari datang kemari dan bermain bersama gio. Istri anda berharap anda bisa menerimanya seperti anda menerima anak kandung anda sendiri. Jika anda mencintai istri anda maka anda juga mencintai gio karena istri anda menaruh harapan besar pada gio"

Seakan tak percaya, akan apa yang didengar dari surat yang dibuat oleh istrinya. Seolah istrinya mengerti bahwa usianya tak lagi lama. Inikah alasan perbincangan waktu itu. Dan Gio telah diadopsi orang lain setelah suami wanita itu mengetahui keinginan istrinya yang terkahir.

Menjadi ayah adalah takdir setiap laki-laki
Menjadi ayah bukanlah hal yang mudah
Menjadikan ayah dari anak adalah harapan seorang wanita
Menjadikan ayah dari anak bukan hal yang sepele

Kesempatan tak selalu datang dengan kejelasan
Kesempatan terkadang tak datang diwaktu yang tepat
Harapan tak selalu diucapkan diawal
Harapan terkadang hadir disaat tak terduga

Kita tak pernah tahu apa yang dilakukannya
Kita tak pernah mengerti apa yang diusahakannya
Kita hanya bisa menuntut tanpa mendengar
Kita hanya bisa meminta tanpa peduli

Beruntunglah kita masih bisa meminta
Beruntunglah kita masih bisa melihat
Beruntunglah kita masih bisa mendengar
Apa yang belum tentu dimiliki orang lain

Tunjukkan bahwa kita memang terlahir untuk berguna
Buktikan bahwa perjuangan mereka (ayah dan ibu) tidaklah sia-sia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar