Selasa, 30 Desember 2014

Harapan awalku adalah awal rasa sakitku

 Rante Mario 3478 mdpl

Lama sudah semenjak aku terpenjara dalam sistem yang memaksa untuk menjadi seorang individual. Dipaksa menjadi seseorang yang bahkan tak pernah bisa menolak apa yang sedang mengalir disana. Banyak hal yang berubah dari apa yang ditinggalkan beberapa waktu lalu. Dimana aku menanggalkan semua karakterku disaat aku masuk kedalam sana. Seolah mati rasa tanpa ada sebuah kepedulian dari hati dan pikiranku. Sahabatku kini telah kembali dan aku bebas menggunakan kembali semua yang pernah ku tanggalkan dulu baik itu hati, pikiran, karakter, dan semua yang menjadi ciri khas ku.

Senin, 8 Desember 2014
Malam itu kuputuskan untuk pergi meninggalkan semua yang membautku tak nyaman. 4 bulan tertahan dalam keadaan yang menyiksa batin. Bertemu dengan orang baru yang silih berganti dan terus berganti tapi tidak akan pernah bisa menggantikan yang telah menetap lebih lama. Ku beli tiket pesawat menuju Makassar, tempat dimana mimpiku akan kubawa kedunia nyata. Keraguan datang begitu besar hingga tapi karena memang dasarnya aku bukanlah seseorang yang peka dengan sebuah pertanda apa lagi pertanda dari Tuhan. Aku harus istirahat total 4 hari sebelum berangkat karena penyakitku adalah pertanda yang pertama. Restu orang tua yang sulit kudapat dan tak seeprti biasanya adalah pertanda yang kedua. Hujan yang senantiasa tak kunjung berhenti beberapa waktu menjelang keberangkatanku adalah pertanda yang ketiga. Seolah semua tidak akan ebrjalan seperti biasanya namun aku tak bisa pungkiri bahwa ego ini kian meledak-ledak setelah sekian lama ditahan dan ditinggalkan.

Jam 21.00
Ku pilih bus yang berangkat menuju surabaya karena aku mengejar penerbangan pagi hari yang pertama agar dapat menikmati negeri orang lebih lama (setidaknya seperti itulah yang ada didalam bayanganku). Harapan awalku adalah awal dari rasa sakitku kepadanya. Apapun yang akan terjadi, apapun yang akan kuhadapi, apapun yang akan dilalui, kupasrahkan pada pemilik Hidup yang sedang duduk manis melihat rintihan umatnya dalam doa.

Sehari sebelumnya.....
Aku menemui mereka yang mampu memberikan sebuah janji untuk perjalanan yang mungkin tidak mudah untuk kami yang berasal dari luar daerah. Perbedaan adat, budaya, etika dan bahasa sekalipun menjadi sebuah pembeda yang besar. Aku memang selalu buta tapi aku tetap memiliki mata kalian untuk mewakiliku melihat keadaan disana. Janjia kalian yang kupegang dan menjadi sebuah tanda hijau untuk bisa tidaknya aku melangkahkan kakiku untuk sampai disana. Tak ada sedikitpun rasa curiga atas apa yang terlontar dari bibirnya karena aku mempercayai kalian yang kuanggap sebagai saudaraku ditanah rantau ini. Hingga sore itu juga kubeli semua tiket yang kubutuhkan untuk berangkat kesana.

Mudah percaya dan Sulit percaya pada seseorang adalah hal yang sama
Dibedakan dengan keadaan yang terkadang memaksa kita menjilat ludah sendiri
Berpasrah dengan semua yang akan terjadi
Sekalipun kita tidak akan kembali untuk emngucapkan selamat jalan

Jangan tinggalkan identitasmu
Jangan biarkan mereka menunggu
Jangan biarkan mereka berubah
Jika tidak ingin kehilangan jati diri

Tamparan demi tamparan kudapatkan disini
Pukulan demi pukulan kurasakan disini
Dipaksa untuk berfikir lebih keras
Dituntut untuk bersabar lebih banyak dari biasanya

Kita tidak pernah tahu apa yang akanterjadi nanti
ROP pun terkadang menjadi sampah semata
Teruslah membuat harapan harapan yang besar
Sekalipun itu adalah awal dari rasa sakitmu kelak

Rabu, 12 November 2014

Ikuti Saja Alurnya

Aku masih menyukai menulis tentang hal absurd
Tanpa ada sebuah ejaan yang harus ku sempurnakan
Aku tidak ingin menjadi sempurna
Susah payah dan berat untuk dijalani

Mengupayakan yang berlebihan tidaklah baik
Karena TIADA manusia yang sempurna
Dari situ saja sudah jelas bahwa aku tidak akan mencapainya
Akankah masih mengupayakan hal yang sia-sia?

Terlahir didunia dalam bentuk utuh tanpa sebuah kecacatan
Adalah bagian dari sempurna yang aku miliki secara fisik
Tumbuh menjadi seorang laki-laki yang utuh
Tanpa ada sedikitpun bagian dari lawan jenis yang mengkontaminan diri

Sebuah jawaban yang telah lama ku nantikan
Hingga kini belum juga dikatakan apa yang sebenarnya
Sampai kapan semua akan mengulang
Sampai kapan semua akan dimulai

Akhir-akhir ini aku semakin pendiam
Sifat dan anluri kembali terusik
Dimana aku merasa tak nyaman
Aku akan diam saat aku tak bisa merubahnya

Menunggu hingga saat itu tiba
Saat dimana smeua menjadi mungkin untuk bisa dirubah
Tapi terkadang merubahnya bukanlah pilihan terbaik
Mengikuti arus dan merasakan bahwa semua akan lebih baik

Sama halnya dengan aliran sungai
Bukan pilihan baik untuk melawan arus
Mengikutinya adalah sisa pilihan yang wajib diikuti
Bukan lagi sebuah pengharapan bahwa arus akan kembali untuk yang terlewati

Semua mulai kembali pada zona nyaman sebelumnya
Zona dimana kita bisa menjadi dan menikmati semuanya sendiri
Sisa waktu yang nyaris habis kini sudah tak lagi berarti
Setidaknya untukku masih memiliki arti

Aku hanya ingin semua menjadi alasan untuk kembali suatu hari nanti
Aku juga menginginkan apa yang ditinggalkan adalah sebuah tujuan
Menjadi semangat dan bagian potret hidup beberapa tahun silam
Karena semua yang berkumpul akan bercerai pada akhirnya

Tuhan yang memisahkan
Atau Kita yang memisahkan sendiri
Keadaan yang menciptakan
Atau Kita yang membangunnya sendiri

Rabu, 05 November 2014

Different not be Freak

Kau hanya bisa melihat apa yang terlihat
Tanpa pernah melihat apa yang sebenarnya terjadi
Hanya dengan melihat sekilas lantas bisa menyimpulkan
Itu baik atau buruk untuk seseorang

Menetapkan pilihan untuk orang lain
Hanya karena merasa orang lain sebagai saudara
Kau bukanlah satu-satunya yang merasakan hal itu
Bahkan kami pun berhak atas rasa yang sama

Apa yang salah dengan semua ini
Apa yang benar dengan semua itu
Seolah kau adalah tuhan yang menentukan hidup orang lain
Padahal kau dan kami adalah sama sama orang asing baginya

Ujian yang datang tidaklah sebesar kemampuan kita
Terlihat besar karena kita mengecilkan kemampuan diri
Terlihat berat karena kita meremehkan kemampuan diri
Terlihat sulit karena kita enggan untuk memikirkannya

Sebuah harapan selalu ada bagi mereka yang bertahan
Sehina apakah orang yang bertahan hingga nafas terakhirnya
Sehina itukah hingga jarang kita temui lagi mereka yang seperti itu
Sebuah hal yang terasingkan dalam kemunafikan manusia

Jika ada yang bertanya tentang apa dan siapa kita
Jawabannya ada disini *nunjuk hati
Kita yang tak pernah bisa terlahir tanpa orang lain
Kita yang tak pernah bisa berdiri tanpa bantuan orang lain

Lelah ini membuatku gemetar
Penat ini membuatku enggan
Rasa haus membuatku berhenti
Menengadah keatas berharap hujan turun seperti tadi malam

Sebuah harapan yang selalu hadir untuk kita
Para manusia yang bertahan dalam pilihan
Sekalipun terasingkan sudah menjadi hal rutin
Sekalipun sendirian sudah mendarah daging sejak lahir

Apakah semua akan berhasil
Apakah semua hanya sebuah jalan buntu
Apakah semua akan dialihkan
Atau semua hanya sebuah iklan layaknya selingan acara tipi

Aku akan tetap berada dijalurku
Benar atau salah itu urusan nanti dan TUHAN
Dunia terus berubah tapi tidak jalurku yang selalu mengubah
Merubah semua yang ku butuhkan (yang kudapatkan) menjadi yang ku inginkan (yang ku mimpikan)

Jumat, 31 Oktober 2014

Jaminan Kesehatan Nasional



From the past, health is the problem was difficult to resolved so need to developed of policies to cover all the community. Ever happened where patient was returned home from the hospital forcefully because they do not have a fee for medical treatment. There are also the ignored patients in the hospital lobby was consequence the patient of among the poor people. Is it deliberate or a paid regulations of preferred their health. The most tragically is when grandmother who passed down in the middle of the street by one of the private hospital ambulance.
First we know the Health Insurance or HI, JAMSOSTEK and now began to apply NHI or National Helath Insurance where equalization of the all health care around in indonesia. It prepared to anticipate service and event like that will not be reoccured. Extent to which it was give effect to the poor people until today after the policy was issued. Is there anything else to spend money again for all the costs that should have been covered by government. How far the people understanding about the new health system.
NHI or National Helath Insurance is a helath system was adapted to severity of disease experienced of each diagnosis in determining the cost. If the current maintenance the cost needed exceed the cost of the covered government, the hospital should to bear the cost of NHI’s patient required. But if the patient were not covered by government then the patient must be pay the excess of the cost were charging. Sometimes, the public perception was claims about meaning of covering by government the all of payment in hosptal is free without discriminate and needed refrences from the PHS (Primary Helath Service)  where patient lived.
Patients who want to get in NHI, could ask for a referral letter from health center or a family doctor (level one PHS) to be treated at the Regional General Hospital (level two PHS). If the level two PHS has not been unable to cope, then can be referred to the more advanced of hospital (level three PHS). NHI simplify of the government service to reach people but it can be maximal without support and role of the community to maximal of the gocerment service in processto increase health quality in Indonesia.

Kamis, 30 Oktober 2014

They Need Us



Indonesia is a country with many of diversity of the island , the sea , the mountain , animals , plants , culture , religion and others. The diversity makes much the perception on a problems one is health. Health is the thing that can't be separated but still find it in the treatment or way which relies on many things are not rational as traditional healers or visit the grave. Indonesia including countries that had a lot of volcanoes at the risk of the mountain. It’s have many rivers with the threat of a big flood that luminance heavy rains down. It’s have a stretch of an ocean of laus with the potential tsunami and an earthquake that can come any time. Where disaster when it came then contemplated safety is no longer the health and that our role has been charged to exis.

The tsunami aceh in 2002 where the granting of antibiotics due to excessive where each one is sick are given an antibiotic indiscriminately. Some years later found the case known that many acehnese immune to antibiotics and requires the use of antibiotics levelnya with higher cost of more expensive. Whereas disaster if drugs can be managed with good then things like that can be avoided as well as reporting drug will regulations will be more clearly that reduce drugs unused. In any disaster medicines have not had experienced selection so that all direct they collected both requirements and not. When in the condition required things disaster and relief needed to make lessen the density and to increase security and convenient for disaster victims.

Earthquake that destroys jogja 2006 almost part of a city jogja and claimed many fatalities. Where there is no longer needed a blood relationship or not , brother or not , acquaintance or not , but a call people to go back there and help carry what they feel when it happen. See a family , kindred now lying lifeless in the street , see house to protect them from the weather is fused to the ground. As if no more hope for them but the role that we are as a fellow to there for her and helped him recuperate better off physically, emotional, traumatic and soul, because we not just a health workers but work in health.

Selasa, 28 Oktober 2014

Sorry TuT

Esok adalah hari dimana masa kuliahmu segera berakhir kawan
Apa yang kita inginkan sejak pertama menapakkan kaki disini
Sebuah alasan untuk bisa melewatinya bersama
Tapi sebuah jawaban yang datangnya berbeda

Sebuah kehormatan untuk meihatmu berjuang disana
Sebuah kemuliaan bisa mendampingimu kawan
Tapi apalah daya dimana tuntutan menjad rantai belenggu
Sebuah pemberontakan tak selalu berpihak pada yang benar

Memang tak selamanya semua akan berjalan sesuai keinginan
Tapi tetap ada batasan dimana semua itu harus dipaksakan
Sejauh mana itu hanya kita lah yang bisa memastikannya
Tapi tak ada yang bisa dipastikan hingga saatnya tiba nanti

Aku kurang beruntung karena melewatinya terlebih dahulu
Aku yang membenci mereka yang meninggalkan
Tapi aku yang terpaksa mengalaminya
Aku minta maaf akan semua kejadian yang telah ditakdirkan

Apapun yang terjadi esok adalah sebuah pembuktian
Apa yang kita sebut sebut jauh sebelum moment ini datang
Apa yang sering kita perdebatkan dikala bulan menjadi hakim saat itu
Semoga tak ada yang berubah setelah hari esok terlewati

Kau adalah tanggungan terakhir disisa sisa waktu kita dikampus
Semakin lega dan ringan untuk melankahkan kaki
Menuju tempat selanjutnya yang akan menjadi awal baru
Awal yang akan membuat mimpi kita terwujud satu demi satu

Maaf yo jo kalo apa yang terucap tak akan bisa dibuktikan
Karena lidah tak bertulang
Dia mengucapkan yang kita inginkan dan kita rasakan
Tanpa melihat masa depan yang akan terwujud apa nggak (karena g punya mata)

Aku terjebak dalam belenggu dimana kuncinya adalah mereka
Mereka yang sama sama terikat dalam satu rantai
Mereka yang berorientasi berbeda
Mereka yang mencari hal yang berbeda

Ada saatnya dimana kita ingin sendirian
Ada saatnya dimana kita ingin bersama
Merasakan sebuah moment bersamaan
Menikmatinya secara pribadi sebagai bagian dari mereka

Aku memang terkadang tak bisa bersamamu
Tapi aku tak pernah meninggalkanmu
Aku memang terkadang tak bisa menopangmu
Tapi aku tak pernah membiarkanmu terjatuh

Minggu, 26 Oktober 2014

Buang Buang Waktu

Waktu adalah benda yang terus berjalan
Tanpa pernah peduli kita menginginkannya
Atau kita membencinya sekalipun
Dia akan terus bergerak kearah dimana semua akan berlanjut

Menahanku disana untuk sebuah keadaan dan moment yang ingin dirasakan
Tapi semua bukanlah sebuah keinginan
Melainkan sebuah keterpaksaan atas kehendak orang lain
Mengikuti sistem dan memang seperti itu kondisinya

Kita tak bisa mutlak bergerak atas keinginan pribadi
Tanpa bernanung dalam sistem yang telah ada
Sekalipun kita menolak semua akan tetap ada sistemnya
Jangan menghindari dan berpaling seolah mampu berjalan tanpa sistem

Aku memang membenci sesuatu yang mengekang
Terlahir dengan hanya mengikuti alur bukanlah yang kuinginkan
Bukan juga sebuah kedewasaan yang ingin kutonjolkan
Aku hanya menginginkan sebuah kedamaian yang sulit ku jelaskan

Tidak semua akan mengerti
Banyak juga yang akan menolaknya
Tapi aku tidak peduli
Karen ini tentang cara dan hidupku

Aku tak peduli apa yang akan mereka katakan
Apa yang mereka keluhkan
Apa yang mereka lakukan
Yang aku pedulikan hanyalah semua berjalan sesuai keingina amsing-masing

Aku tak akan menghambat kalian saat aku tak bisa membantu kalian
Dan hal itu berlaku sebaliknya
Tak ada kompromi dan sebuah negosiasi
Dimana kita harus dimengerti tanpa mau mengerti orang lain

Akhir-akhir ini memang banyak waktu yang ku buang
Hanya untuk sekedar formalitas
Tanpa pernah aku merasa semua akan berguna
Setidaknya dengan begitu aku tidak menghambat mereka

Terkadang kita memang harus menjadi orang lain yang ada dalam diri
Hanya untuk menyenangkan orang lain
Inikah yang disebut pengorbanan
Atau ini yang disebut kepalsuan

Yang mana yang dipilih bukan lagi hal yang penting
Menjadi jahat untuk kebaikan
Atau menjadi baik untuk kejahatan
Keduanya juga akan dinilai buruk oleh mereka yang tak mengenal proses

Kita akan hidup bersama mereka yang akan selalu berkomentar
Hanya itu yang mampu mereka lakukan
Karena mereka hanya melihat apa yang terlihat
Bukan mengenal apa yang terjadi sebenarnya (Manusia Sampah)

Rabu, 22 Oktober 2014

Selalu Ada Alasan Untuk Begitu

Selalu ada alasan untuk duduk dan berbicara
Bukan menunggu ada masalah atau bahasan
Tapi hanya sekedar melepas rindu dan kembali
Mengulang apa yang pernah terjadi diwaktu itu

Semua akan kembali pada pemiliknya
Untuk didunia akan kembali pada pembuatnya
Apa yang kita buat itulah yang kita dapat
Apa yang kita tanam itu pula yang kita panen (HayDay)

Terima kasih untuk semua kesempatan yang diberikan
Baik yang terlewatkan atau dilewatkan
Karenamu aku belajar peka akan sekitar
Darimu aku belajar untuk menghargai meski sedikit

Kita tak pernah tahu mana yang sebenarnya baik atau buruk
Baik untuk kita tapi tidak kita sukai
Buruk untuk kita tapi kita nyaman dengan hal itu
Dan semua seolah hanya manipulasi semata

Sejenak aku teringat akan semua yang lama tersirat
Tetes hujan membuka sebuah cerita dikala itu
Dikala semua masih abu-abu dan tak pernah jelas
Warna yang selalu buram tanpa bisa dipastikan

Hidup memang seperti itukah
Berdiri dalam ketidakjelasan
Berjalan dalam ketidaktahuan
Dan menunggu dalam ketidakpastian

Apa yang ku genggam akan terlepas suatu hari nanti
Berpindah ke genggaman yang lain yang seolah berhak
Berhak menikmati atau sekedar memiliki tuk sementara
Apa yang pernah kualami akan mereka alami juga

Kisah kita memang tak mungkin serupa
Tapi nilai dan esensi yang dirasa tidaklah jauh berbeda
Sejauh mana kita memaknainya juga berbeda
Tapi disitulah semuanya bermula

Dikala senja tak lagi menjadi idaman
Tertutup dalam ruangan yang menjadikan kita bukan manusia
Menjadikan kita hanyalah seonggok daging yang bergerak sendiri
Tanpa rasa dan asa yang membuat kita berbeda dengan yang lain

Aku merindukan apa yang telah hilang untuk beberapa waktu ini
Kembali atau tidak setidaknya aku telah mengupayakannya
Terulang atau tidak setidaknya aku telah mencobanya
Terlewatkan kembali seprti biasa dikala ketidakpekaan menjadi naluri

Minggu, 19 Oktober 2014

Biarkan Mengalir

Saat semua menjadi seolah di DIKTE
Kemanakah sebuah kebebasan berfikir
Disinilah semua seolah dimatikan
Atau di non-aktifkan untuk beberapa waktu

Saat dimana kita telah mengetahui akan mendapatkannya
Apakah masih tersisa sebuah usaha untuk mengusahakannya
Apakah masih akan membuang waktu untuk memperjuangkannya
Hampir tak ada lagi yang bisa diupayakan

Lelah
Capek
Jenuh
Engkau bukan satu-satunya

Hindari mengistimewakan diri
Dengan mencari pembenaran atas sebuah kejadian
Hadapi dan akui semuanya menjadi sebuah pengakuan
Kelemahan manusia adalah mengakui kalao dia salah

Manusia tercipta dari tanah
Dengan berbagai macam unsur yang bersatu didalamnya
Air yang membuatnya mengalir
Udara yang membuatnya mampu bebas

Jangan pernah membandingkan yang dirasa
Jangan pernah memaksakan untuk merasa hal yang sama
Meski dengan bentuk dan kejadian yang sama
Semua bukan sebuah hal yang sama untuk dirasa

Bukan lagi tentang melupakan
Karena masa lalu adalah alasan kita ada di masa sekarang
Melepas dengan rela tanpa pernah mengungkit
Karena kebahagiaan saat ini sbanding dengan rasa sakit kemarin

Hidup ini singkat dan jangan buang-buang percuma
Memaksakan keinginan tak akan membuat kita berkembang
Bukan untuk menyia-nyiakan insting dan maksud hati
Sedikit rasional dan nyata dalam memandang segalanya

Aku masih menolak tunduk pada siapapun
Aku menerima karena memang ada tanggung jawab yang dititipkan
Bukan lagi sekedar melunturkan kewajiban
Tapi sejauh mana semua itu masih dalam kondisi normal

Menolak adalah keinginanku
Rasa tak seirama dan selaras dengan perasaan
Saat celah kepalsuan mulai terbuka
Disitulah hanya ada pilihan yang telah ditetapkan untuk digunakan

Senin, 13 Oktober 2014

Sepaham *hanya malam ini

Apa yang kita inginkan adalah apa yang kita perjuangkan
Meninggalkan ditengah usaha adalah sebuah pilihan
Dimana ending datang lebih cepat
Atau hasil akhir telah ditentukan sebelumnya

Mentari tetap akan bersinar sampai usianya benar benar berakhir
Meski dia tahu ending dari usahanya menyinari dunia
Gelap juga akan datang pada akhirnya
Lantas apakah dia menyerah?

Dia yang tahu akan akhir dari usahanya masih tetap berjuang hingga akhir
Hanya untuk sebuah kemungkinan yang nyaris tak mungkin didapat
Terkadang sebuah alasan menjadi jawaban atas hal ini
Dan itulah yang membuat semuanya terjadi

Tidak ada yang salah
Apalagi benar
Semua hanya bersifat relatif
Tergantung dari mana kita melihat

Matahari pasti akan padam
Terang akan berganti gelap
Gelap dalam arti sesungguhnya
Bukan gelap dalam makna kiasan

Dia masih terus menerangi meski nantinya akan gelap
Dia masih bertahan meski akan padam pada akhirnya
Semua hanya demi sebuah harapan
Harapan yang tertinggal dalam sebuah proses

Sesuatu akan ada saat yang lain telah tiada
Sesuatu akan datang saat yang lain telah pergi
Untuk malam ini aku sepaham dengan isi kepalaku
Dan ntah kenapa lain rasanya

Sudah lamakah bahwa kita tak jalan bersama
Meski berdampingan dan menuju tempat yang sama
Seolah tak saling kenal hanya karena berbeda
Cara dan yang terlihat meski bendanya sama

Seseorang hanya mampu melihat dan kita yang merasa
Tak ada yang perlu dirisaukan tentang mereka
Karena kita hidup bukan karena mereka
Kita juga tidak bergantung pada mereka

Sejenak ku berharap pada Tuhan tentang sebuah mimpi
Mimpi yang akan menjadi kenyataan suatu hari nanti
Meski bentuknya berbeda tapi itu adalah yang kita butuhkan
Jangan pernah ragukan yang dirimu inginkan

Minggu, 05 Oktober 2014

Pemeran Ketiga

Tidak ada yang bisa menghentikan sebuah pikiran
Mungkin memang ada yang bisa menahannya
Tapi sejauh apa mereka mampu menahannya
Sejauh itu pula semua akan merusaknya

Jiwaku adalah tulisanku
Keinginanku adalah coretan-coretanku
Tanpa ada embel-embel yang menyertainya
Spontan dari luapan hati dikala itu

Apa yang ku dapatkan dimasa lampau adalah semua bekal ternyata
Bekal untuk menghadapi apa yang akan terjadi esok hari
Seperti hari ini tentunya
Saat dimana selama 2 bulan aku akan berada disana

Sebuah jalan yang dinantikan sebuah panggilan jiwa
Sebuah bekal yang harus kudapatkan untuk sebuah impian
Sebuah cara untuk mampu merealisasikan semuanya
Sebuah alasan untuk tetap bertahan dalam sebuah keputusan

Dia yang dihadirkan oleh dia yang satu lagi
Dia yang selama ini kunantikan
Dia yang selama ini kuinginkan
Atau dia yang sengaja dimasukkan dalam cerita ini

Sosok pemeran ketiga terkadang menjadi dilema
Sebuah alur yang terpaksa harus diimprovisasi agar tetap selaras
Tidak kehilangan pemeran utama
Tidak juga kehlangan pemeran kedua

Kehadirannya membawa warna lain dalam cerita ini
Semua yang direncanakan akan segera diubah
Menyelaraskan semua menjadi satu
Bukan lagi memilah dan menyisihkan ketiganya

Entah apa yang dipikirkan semua akan tetap berjalan
Hanya masalah waktu hingga semua terjawab
Apa yang diinginkan dan apa yang diharapkan
Bukan lagi tentang kita atau mereka

Sejauh mana semua akan baik-baik saja
Sejauh itu pula kita akan membuat semuanya bersama
Bersama untuk waktu yang tak lagi lama
Hingga semua kembali ke dunia yang lama ditinggalkan

Untunglah semua yang tercipta adalah buatan TUHAN
Jika buatan cina tentulah semua akan rusak dalam waktu sekejap
Saat kita tak mampu melakukannya maka pasrahkan pada Pembuatnya
Kita tak pernah sendirian didunia ini, egolah yang memaksa kita berfikir bahwa kita itu SENDIRIAN

Senin, 29 September 2014

HBD buat kita

24 September 1991......
Selasa pagi tepat 23 tahun yang lalu, saat dimana aku dilahirkan dari rahim seorang Tuhan yang ada di bumi. Seolah tak diinginkan tapi begitulah hidup, dimana apa yang diinginkan tak selalu menjadi harapan yang menjadi kenyataan. Dengan tangisan yang memecah ruangan mewakilkan kehadiranku didunia ini, isak tangisku menjadi bahagia mereka. Butuh beberapa hari yang tak sebentar untuk mencerna semua.

Saat dimana semua mengingatku
Apakah semua juga mengingatmu ?
Saat semua berdoa untukku
Apakah semua berdoa untukmu ?

24 September 2008
Rabu pagi saat usiaku mencapai 17 tahun, dia juga dilahirkan disuatu tempat sana hingga takdir yang akan menunjukkan kemana kita akan bertemu suatu hari nanti. Terlahir ditanggal dan bulan yang sama apakah sebuah kebetulan akan sifat dan karakter yang sama? Apa itu berarti karakter dan sifat seseorang hanya ada sejumlah hari yang ada dalam 1 tahun?

Perasaan tak adil mungkin adalah rasa yang sama
Rasa yang pernah kita hujatkan pada NYA
Rasa yang pernah kita tuntut keadilannya
Saat dimana keadaan tak lagi berbaik pada kita

Semua memang adalah sebuah proses
Dan jalan yang kita lalui adalah jalan yang terjal
Karena kita adalah kaum minoritas
Yang mampu melewati jalan itu

Ntah kapan dan dimana
Seperti apa keadaannya
Bagaimana wujudnya
Tetap akan menjadi sebuah alasan untuk menunggu

Janji yang telah dibuat akan tetap dipegang
Karena kita sama sama membenci penantian yang tak berguna
Karena kita juga sama sama memiliki cara yang sama
Percayalah dan teruslah percaya

Karena hanya dengan percaya maka semua akan mungkin
Karena hanya itu modal yang kita butuhkan untuk menjaha
Dan juga hanya itu yang bisa kita lakukan untuk saat ini
Hingga saat yang telah ditentukan suatu hari nanti

Happy Birthday For me, For You and For us (24 September)

Rabu, 10 September 2014

Bebasku adalah Bahagiaku

Saat senja berlalu seolah dia memang berjalan meski tak menginginkannya
Saat itulah semua rutinitas mulai membatu dalam hati
Tak ada yang ingin dihentikan atau diteruskan karena memang harus berjalan
Ntah itu berjalan kedepan, kebelakang atau kemana saja

Terlalu lama di suatu tempat memang tidak tepat untukku
Ibarat sebuah wadah yang memiliki batas untuk menerima
Seperti itulah wadah yang membatasiku
Sebesar apapun tempatnya, sebesar itu pula wadahnya

Bicara soal kebebasan yang tak pernah bisa dibendung
Bertindak sesuka hati adalah cara menjalani
Toleransi tetap wajib dijunjung tinggi
Bagi mereka yang berani berkata untuk protes

Kebenaranku adalah mutlak untukku pribadi
Bukan untuk orang lain apalagi untuk TUHAN
Tuhan telah menetapkan semua termasuk yang akan ku terima
Aku hanya memilih mana yang telah dirancang Tuhan untukku

Bentar lagi dia bertambah usia
Apa yang akan terjadi saat waktu hidupnya berkurang setahun lagi
Apa yang bisa ia berikan
Apa yang bisa ia tinggalkan

Kenangan atau Kebencian
Kesan atau Peran
Suka atau Luka
Semua itulah yang membuatku hidup hingga hari ini

Banyak yang ditinggalkan memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan
Tapi bertahan dengan kejenuhan bukan lagi sebuah pilihan bijak
Semua itu hanya titipan dan hadiah dari Tuhan
Ibarat kado untuk hari Ulang tahunnya

Disaat yang mulai meragukan keberadaannya
Aku adalah orang yang akan tetap mempercayainya
Meski tak pernah mengucapkan
Meski tak pernah mendengarkan

Aku tak pernah sanggup memberi tarif kebebasanku
Karena bahagiaku adalah kebebasanku
Saat aku tak mendapatkannya
Merubah sudut pandangnya atau meninggalkannya

Bahagia itu sederhana
Sesederhana aku bisa bernafas dengan bebas
Sesederhana aku berhak menentukan kemana aku berjalan
Dan dengan siapa aku menjalaninya

Selasa, 02 September 2014

Sudah Tiba Saatnya

Ku dongakkan kepalaku sedikit keatas
Lelah karena menunduk dan lama menatapnya
Kebiasaan memang sulit dihilangkan
Cara lama memang masih menjadi dewa baginya

Seolah hidup hanya akan berhenti
Saat dia menginginkannya
Saat dia menentukannya
Tapi semua hanya lah sebuah perkiraan

Siapa yang bertahan dialah yang pantas berbicara
Bukan dia yang pergi sambil berkomentar
Bukan lagi kita yang meninggalkan tanpa berkata "Selamat Tinggal"
Memang pantas dan bukan katanya sudah pantas

Disaat aku mulai berhenti melakukannya
Disaat itulah egoku mulai datang untuk dimanja
Bukan karena bosan atau pindah haluan
Mungkin memang disitulah tanda batasnya mulai muncul

Dia yang datang duluan bukan berarti dia yang terakhir
Dia yang datang terakhir juga bukan dia yang akan pergi duluan
Hanya saja apapun itu adalah sebuah bagian testimoni Tuhan untuk umatnya
Tuhan memiliki banyak cara untuk kita

Cara ku adalah bgaian dari sekian banyak cara yang Tuhan berikan
Mana saja yang ku pilih semua akan memberikan sebuah jawaban
Masalah terjawab atau tidak adalah beda persoalan
Setidaknya aku masih bisa bergerak atas keinginanku

Disaat mata mulai terpejam
Disaat itulah kejadian itu kembali terulang
Sangat jelas terasa
Dan seolah hal itu kembali nyata

Memang tak semua yang kita rasakan adalah sebuah kebaikan
Tapi keburukan tak selalu memberi dampak yang jelek
Ibarat warna hitam dan putih
Dimana tak akan pernah ada salah satunya jika tak ada bagian yang lain

Hitam tak akan ada tanpa ada putih
Putih tak akan terlihat berbeda tanpa ada hitam
Saat semua menjadi sama lantas apa yang mereka ingin tonjolkan
Saat tak ada yang menghargai sebuah perbedaan

Sia sia semua yang akan kau lakukan
Jika merasa mampu melakukan semua sendirian
Lihatlah dirimu yang bahkan tak berani menghirup udara dibalik jendela
Apa yang kau lakukan hanyalah sebuah pelarian

Rabu, 27 Agustus 2014

Kemana Pergi nya?

Mulai harus membuang harga diri
Mengkaji kembali harga mati
Memikirkan lagi ego diri
Semua akan berubah cepat atau lambat

Sejauh apapun rasa itu
Sebesar apapun rasanya
Semua akan luntur dan hambar
Rasa jenuh akan datang menggantikannya

Saat seseorang menyukai sesuatu
Akan selalu melakukannya
Menjadi kebiasaan yang berulang
Memang tak ada yang salah, namun

Kejenuhan datang menggerogoti semuanya
Hembusan angin malam membisikkan sejenak
"Mau sampai kapan seperti ini?"
"Hidup bukan hanya tentang ini!"

Kemana sisa otak ini
Berkutat dengan satu urusan yang sebenarnya selesai dengan sendirinya
Terlalu dalam ternyata sudah tanpa disadari
Sesak yang dialami ternyata ini penyebabnya

Akan ada masanya
Akan tiba waktunya
Memang tak  ada tandanya
Tapi jelas gejalanya

Mungkin memang harus diakhiri
Semua atau tidak sama sekali
Setengah-setengah hanya membuat semakin runyam
Membawa andil perasaan hanya membuat pilihan semakin berat

Aku tak mau lagi melakukannya
Aku sudah tak bisa lagi berharap padanya
Perasaan negatif sudah tak bisa diberlakukan lagi seperti kemarin
Harus rasional dan bukan lagi gambling seperti biasa (karena aku lemah dalam perjudian)

Memang mulai dari sekarang di tata kembali
Semua akan segera terjadi
Benar benar tenggelam dan akan mati
Ntah nanti akan dilahirkan kembali dimana

Disuatu tempat yang baru
Bersama para orang orang yang baru
Dengan keadaan yang berbeda
Bersama para tuntutan yang tak lagi sama

"Setidaknya berjalan dijalan yang sama adalah sebuah cerita kita,
Apa yang kita lewati adalah sebuah persiapan untuk hari ini.
Hari dimana kita tak lagi meminjam kaki orang lain, menggunakan tangan orang lain, memasang telinga orang lain. Sebuah keinginan yang tak bisa dilanjutkan dan tak mudah untuk disudahi,
hanya bisa dijaga untuk tetap menjadi tradisi KITA."

Selasa, 19 Agustus 2014

Sebatas Ini Kah?

Dirgahayu Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke 69
di Kaliadem, Kepuharjo, Sleman, Yogyakarta

Jiwa yang mula luntur
Hati yang mulai termakan zaman
Keinginan yang mulai terlupakan
Dan harapan pendahulu yang telah diabaikan

Jika ada yang bilang negara kita telah merdeka
Itu dulu dan hanya berlaku untuk mereka yang berperang
Tapi apakah maknanya dengan kita adalah sama?
Atau kita membuat makna sendiri dari kata tersebut

Merdeka adalah sebuah kebebasan dari penjajahan (bagi mereka)
Merdeka adalah saat kita berhak menentukan keinginan kita (bagi kita)
Sangatlah berbeda dengan apa yang para pendahulu harapkan
Sangatlah melenceng dari apa yang mereka inginkan
 
Saat bendera menjadi sebuah asesoris
Saat lambang negera tak lagi dihargai dengan layak
Saat pengorbanan pendahulu hanya dianggap angin lalu
Saat itu pula budaya terima kasih tak lagi ada dinegeri ini
 
Tak pernah ada seseorang yang terlahir untuk sendirian
Hanya cara kita mencari dan menemukan
Bukan dicari dan ditemukan
Kebersamaan yang diinginkan bersama mereka yang dianggap sama
 
Tanpa pernah kita tahu
Tanpa pernah kita sadari
Bahwa kesendirian kita adalah kesendirian mereka
Kesendirian yang sama ditempat yang berbeda

Terus berjalan meski sendiri
Mencari dan menemukan yang diingikan
Atau berhenti diam dan menanti
Dicari dan ditemukan orang yang diinginkan
 
Merdeka adalah hal yang diinginkan
Merdeka dari paksaan melakukan yang diperintahkan
Bergerak atas dasar ketidakrelaan
Berfikir karena kesenangan dan kenyamanan

Merdeka atau dimerdekakan
Kita yang merasakan atas apa yang mereka perjuangkan
Kita yang melupakan atas apa yang mereka korbankan
Sebatas inikah rasa terima kasih kita

Tidak tahu malu rasanya diri ini
Menunduk dan tak berani menatap wajah mereka
Senja yang terlupakan sebutan kita kepada mereka
Tangan yang masih kokoh ini tak berdaya dibandingkan tangan mereka yang bahkan sudah gemetar untuk menjabat tangan

Kamis, 14 Agustus 2014

3805 mdpl (part 2)

Jum'at, 11 Juli 2014
01.45 Dini hari (Stasiun Pasar Senen)
Banyak yang bilang jakarta identik dengan keras, jahat, sadis banjir dan segala macam seperti yang sering kita tonton di tipi-tipi. Untuk pertama kali dalam hidup menginjakkan kaki disini, di kota yang tak pernah kuinginkan untuk datang berkunjung karena terkenal macet. Masih ada 6 jam lagi sebelum penerbangan kekota tujuan berangkat. Masih harus ke stasiun gambir dimana transport ke bandara mudah untuk ditemui. Berjalan kesana kemari mencari tempat terenak untuk menyandarkan barang bawaan

Carrier yang selalu dibawa dipunggung
Beban yang selalu dipikul
Tak harus selalu dijunjung selamanya
Letakkan sejenak untuk mengenang kenapa beban itu ada


03.00 (Bandara Internasional Soekarno-Hatta)
Tempat dengan banyak pintu untuk memisahkan, memilah dan membagi mereka sesuai kebutuhan dan tujuan yang diinginkan. Tak ada yang bisa ku lakukan ditempat macam ini dimana sejak matahri belum terbit rasa gerah memang sudah menyelimuti tempat ini. Tidur adalah pilihan terbaik untuk saat ini, persetan dengan mereka yang lalu lalang tanpa peduli siapa, kenapa dan apa yang menjadi tujuan individual masing-masing.

Secara alamiah kita memang akan terpilah
Dia yang suka dengan kenyamanan
Mereka yang mencintai tantangan
Kami yang mencari sebuah jawaban

Kita tidak akan pernah bersama jika tidak mengorbankan ego
Saling berada disisi individu tanpa pernah menyebrang
Saling menatap dan berteriak seolah mengenal tanpa melambaikan tangan
Terkadang suara terdengar tanpa diketahui siapa yang mengucapkannya

Dan saat itu akhirnya tiba (08.45)juga dimana semua akan berjalan sesuai rencana tanpa pernah kita tahu hasil mana yang akan kita peroleh nantinya disana. Semua yang terjadi adalah apa yang kita inginkan atas ridho Tuhan, dan jika tidak terjadi maka Tuhan belum meridhoinya.

10.00 (Touch Down Bandara Internasional Minangkabau, Padang)
Sampai dipitstop berikutnya sebelum menempuh 6jam perjalanan lagi menuju tempat yang diinginkan, sebuah tempat yang diimpikan. Siapa yang akan dijemput, Apa yanng akan didapatkan, kapan akan diperoleh hanyalah sebuah misteri namun satu hal yang jelas adalah Tuhan tak mungkin membiarkanku sampai kesini tanpa suatu alasan *setidaknya begitu

Aku sadar bahwa aku sampai disini karena kalian
Berjalan bersama kalian mengasah mentalku
Bertengkar dengan kalian mengasah pikiranku
Dan beradu dengan kalian membentuk caraku

Mengorbankan diri untuk kalian adalah sebuah pembuktian
Sebuah alasan untuk bisa bersama
Sebuah cara untuk bisa setara
Meski tak akan bisa sebanding

Kota padang dengan ciri khas bangunan yang penuh dengan lincip-lincip diatapnya, dan hampir semuanya mirip baik itu bangunan kecil atau yang besar. Termenung dalam keramaian dan kepadatan kota sebelum masuk kehutan melewati danau menuju tempat di provinsi yang berbeda. Ntah kenapa hanya kosong yang dirasa, tak ada lagi alasan dan tujuan selain berkunjung. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan saat aku berkunjung ke timur (3676 mdpl) dan timurnya lagi (3726 mdpl).

Semua yang telah terjadi biarkan semua terjadi, maafkan diri karena belum mampu memuaskan diri karena cepat puas membuat diri enggan untuk berusaha lebih dari yang seharusnya

Senin, 11 Agustus 2014

Hanya Kebetulan

Dikala mendung masih saja menghiasi langit kota ini
Sendu masih saja datang terus dan terus tanpa pernah menghilang
Apakah yang kupilih adalah sebuah kesalahan
Atau memang belum waktunya untuk benar

Saling mengenal tapi tak pernah tahu
Saling berhubungan tapi tak pernah tahui
Saling tak mengenal tapi saling mengerti
Saling tak berhubungan tapi saling mendoakan

Seseorang hanya akan datang
Atau dia akan pergi
Saat dimana waktunya memang datang
Ditambah lagi keadaan yang mendukungnya

Akan tetapi semua kembali
Atau dipaksa untuk kembali
Inikah yang diinginkan
Atau yang keadaan inginkan

Serasa semua mulai kembali
Saat dimana dia yang menghilang telah muncul kembali
Sejenak atau selamanya
Bukan lagi hal yang penting untuk dipatenkan

Selama apa yang dilakukan menghampiri yang kita inginkan
Apa yang dipikirkan sudah menuju arah keinginan kami
Buat kita sudah jauh lebih cukup
Dan sudah jelas untuk menjawab pertanyaan yang ada

Akan jadi apa
Akan terjadi kapan
Akan menjadi bagaimana
Biarlah semua mengalir kembali ke jalurnya

Saat semua telah diberikan
Saat itulah semua akan terjawab
Semua akan kembali
Dari yang nol akan menjadi nol kembali

Memang tak bisa dipungkiri
Apa yang biasa didapatkan akan menjadi sebuah kebiasaan
Apa yang jarang dilakukan akan menjadi hal yang tidak diinginkan
Menghindari bukan sebuah pembenaran atas apa yang dijalani

Aku memang tak selamanya ada disisi
Tapi akan ada untuk sekedar mendengarkan
Bukan lagi menemani apalagi mendampingi
Karena kita hanya kebetulan melewati jalan yang sama

Kamis, 07 Agustus 2014

Isi Kepala Mu?

Terlampau jauh dari keramainan kota
Hening ngebuat kita mengerti
Bahwa apa yang kita pikirkan adalah roda
Terus berputar dan terus dipikirkan hingga sampai tujuan

Untuk apa semua itu
Untuk siapa kita melakukan itu
Apa yang ingin dicari
Apa yang ingin didapatkan

Serasa semua akan segera berakhir
Atau memang sudah mulai berakhir
Tersisa menjadi yang terakhir bukanlah yang terbaik
Harus melihat semua kembali menjadi nol

Dari nol kembali menjadi nol
Haruskah mutlak seperti itu
Bahkan anak TK sekalipun tak pernah memikirkan hal itu
Kecerdasan yang berlebihan yang kau miliki adalah penyebabnya

Kecerdasan yang tak mampu diimbangi rasa percaya
Kecerdasan yang tak bisa diterima orang lain
Bukan karena hal itu salah
Hanya saja hal itu tidak bisa dibenarkan

Apa yang kau lihat adalah yang kau hindari
Apa yang terjadi adalah akibat dari yang dilakukan
Semua ada masanya
Dan ntah sampai kapan batasannya

Adakah yang bisa kulakukan untukmu
Selain menghapus air matamu?
Air mata yang tak mungkin keluar lagi karena persoalan yang berbeda
Tangan ini masih basah untuk menghapus karena masalah yang sama

Tangan ini memang tak mungkin lebih indah dari tangan-NYA
Setidaknya akan ada lebih dari sepasang tangan untuk membawanya
Apa yang biasa kau bawa sendiri
Akan menjadi setengah, seperempat dan sepersekian jika diterima

Keberadaannya adalah karena keinginannya dan atas ijin Tuhan tentunya
Tapi kepergiannya adalah murni keinginannya
Bahkan binatang sekalipun akan pergi mencari daerah baru untuk hidup
Kepergian bisa dikatakan sebuah naluri alamiah

Keadaan terkadang tak sesuai keinginan (WAJAR)
Memaki keadaan dan tenggelam dalam dendam kepadanya (Kurang Ajar)
Sudah mulai dewasa dimana kanak-kanak mulai pudar
Masihkah mengistimewakan diri dengan menggunakan kanak-kanakmu yang telah hilang (Setidaknya Begitu)

Jumat, 25 Juli 2014

Hanya tentang Pilihan

Lepaslah apa yang tak mampu digenggam
Raihlah apa yang kita inginkan
Meski terlihat tak mungkin bagi orang
Tapi jangan berharap lebih atas hal itu

Aku merasa mampu
Aku merasa bisa
Aku merasa siap
Tapi ternyata bukan disitu intinya

Terkadang kita merasa
Hanya sekedar persepsi pribadi
Hanya sebuah pemikiran singkat yang sepintas
Tanpa kita tahu benar kah ini yang ditakdirkan-Nya

Aku pergi hanya untuk mengerti apa yang ada disana
Bukan untuk mendapatkan apa yang ada disana
Dan kita memang diminta untuk mengkaji sendiri apa yang tersirat
Karena kita terlalu jauh untuk mendapatkan hal itu secara tersurat

Sendirian memang sudah biasa
Ditinggal dan terabaikan memang harus dimaklumi
Apa yang dipilih bukanlah jalan yang mudah
Bukan juga jalan yang disukai banyak orang

Dengan mengorbankan apa yang disebut perasaan
Baik perasaan sendiri maupun perasaan orang lain
Teringat sebuah kata orang tentang apa itu berkorban
Barter yang tidak terlihat dan tak terwakili dengan barang

Tuhan telah menuliskan semuanya
Semua yang akan terjadi
Semua yang telah terjadi
Semua yang sedang terjadi

Sejauh mana kita mengerti akan proses
Sejauh itu pula kita memiliki andil dan peran didalam takdir kita
Kalau kita hanya pasrah dengan keadaan tanpa bisa menolak
Kita hanya akan menjadi boneka yang bergerak atas keinginan orang lain

Hidupku adalah tentang diriku
Mimpiku adalah evolusi dari keinginanku
Terjatuh dan terbuang adalah resikoku
Dikenal atau dilupakan adalah seleksiku

Tidak ada yang percuma
Terkadang seseorang pergi untuk kembali
Saat waktu dan momentumnya tepat
Bukan lagi sekedar datang, sampai lantas pulang tanpa ada kata berpisah

Rabu, 16 Juli 2014

3805 mdpl (part 1)

Apa yang ku idam-idamkan
Apa yang ku impi-impikan
Apa yang kutuliskan
Itulah yang ku wujudkan dan semua bermula dari sini

Beberapa hari sebelumnya sebelum Kamis, 10 Juli 2014

Kegalauan kian melanda hebat hingga tak ada sebuah jawaban yang jelas, bahkan sebuah opini tak lagi menjadi sebuah bala bantuan. Keinginan ini begitu besar hingga tak ada yang bisa menolaknya, sekalipun itu diri ini sendiri. Disaat kita belajar untuk tidak menyerah hingga kemungkinan itu benar-benar menjadi 0 %. Disaat itu pula sebuah keyakinanmu di uji oleh pembuat keputusan. Manusia hanya memilih proses dan bukan menetapkan apa yang diperoleh nantinya. Hasil akhir telah ditentukan jauh sebelum kita berpikir untuk melakukannya.

Tuhan tentu memberikanku sebuah alasan hingga Ia membiarkan aku memilih jalan ini

Kamis, 10 Juli 2014
14.00
Perjalanan dimulai dari kamar berukuran 3x3 m yang selama hampir 5 tahun terus menjadi saksi bisu tentang apa, kenapa, kapan, dimana, bagaimana dan dengan siapa semua kisah perjalanaku dimulai. Aku diantar oleh mereka yang menganggapku sebagai saudara meski kami tak pernah terlahir dalam rahim yang sama dan dalam ikatan garis yang sedarah. Apa yang mereka miliki detik itu, dengan hal itu pula yang mereka berikan untuk mendukung apa yang kupilih meski mereka hanya bisa mengiyakan atas protes yang mereka berikan pada awalnya. Ada yang memberikan rokok terakhirnya hanya untuk agar aku tidak kesepian digerbong kereta malam ini. Ada yang memberikan beberpa rupiah dalam bentuk pulsa agar ada yang bisa dihubungi jika merasa bingung ditanah orang. Ada juga yang mengirimkan transferannya dari jauh hanya untuk memastikan ada biaya untuk membeli kolak dijalan. Dan sisanya yang tak bisa dijelaskan satu per satu hanya untuk memenuhi kertas ini sampe tuntas.

16.30
Step pertama dimulai dengan meninggalkan jogja untuk kembali kejogja pada akhirnya. karena jogja adalah tujuan pulang untuk trip kali ini. Apa yang akan aku dapat nantinya, Apa yang aku alami nantinya, Aku pasrahkan pada-Nya

Tuhan pasti memberikan yang terbaik
Dan inilah takdirku
Jalan yang ku pilih
Jalan yang Tuhan ridhoi

Tanpa ada yang tahu
Tanpa ada yang mengerti
Ini adalah impian
Ini adalah harapan

Seseorang yang hanya menunggu
Adalah tanda dari rasa pasrah
Berbeda dengan dia yang berusaha
Dalam ketidakpastian sebuah jawaban

 
Tidaklah kita bergerak dan menuju suatu arah
tanpa ada campur tangan Tuhan serta tujuan yang tersirat didalamnya.
Agar kita berpikir bahwa hidup adalah tentang menjalani dan bukan menghakimi