Rante Mario 3478 mdpl
Lama sudah semenjak aku terpenjara dalam sistem yang memaksa untuk menjadi seorang individual. Dipaksa menjadi seseorang yang bahkan tak pernah bisa menolak apa yang sedang mengalir disana. Banyak hal yang berubah dari apa yang ditinggalkan beberapa waktu lalu. Dimana aku menanggalkan semua karakterku disaat aku masuk kedalam sana. Seolah mati rasa tanpa ada sebuah kepedulian dari hati dan pikiranku. Sahabatku kini telah kembali dan aku bebas menggunakan kembali semua yang pernah ku tanggalkan dulu baik itu hati, pikiran, karakter, dan semua yang menjadi ciri khas ku.
Senin, 8 Desember 2014
Malam itu kuputuskan untuk pergi meninggalkan semua yang membautku tak nyaman. 4 bulan tertahan dalam keadaan yang menyiksa batin. Bertemu dengan orang baru yang silih berganti dan terus berganti tapi tidak akan pernah bisa menggantikan yang telah menetap lebih lama. Ku beli tiket pesawat menuju Makassar, tempat dimana mimpiku akan kubawa kedunia nyata. Keraguan datang begitu besar hingga tapi karena memang dasarnya aku bukanlah seseorang yang peka dengan sebuah pertanda apa lagi pertanda dari Tuhan. Aku harus istirahat total 4 hari sebelum berangkat karena penyakitku adalah pertanda yang pertama. Restu orang tua yang sulit kudapat dan tak seeprti biasanya adalah pertanda yang kedua. Hujan yang senantiasa tak kunjung berhenti beberapa waktu menjelang keberangkatanku adalah pertanda yang ketiga. Seolah semua tidak akan ebrjalan seperti biasanya namun aku tak bisa pungkiri bahwa ego ini kian meledak-ledak setelah sekian lama ditahan dan ditinggalkan.
Jam 21.00
Ku pilih bus yang berangkat menuju surabaya karena aku mengejar penerbangan pagi hari yang pertama agar dapat menikmati negeri orang lebih lama (setidaknya seperti itulah yang ada didalam bayanganku). Harapan awalku adalah awal dari rasa sakitku kepadanya. Apapun yang akan terjadi, apapun yang akan kuhadapi, apapun yang akan dilalui, kupasrahkan pada pemilik Hidup yang sedang duduk manis melihat rintihan umatnya dalam doa.
Sehari sebelumnya.....
Aku menemui mereka yang mampu memberikan sebuah janji untuk perjalanan yang mungkin tidak mudah untuk kami yang berasal dari luar daerah. Perbedaan adat, budaya, etika dan bahasa sekalipun menjadi sebuah pembeda yang besar. Aku memang selalu buta tapi aku tetap memiliki mata kalian untuk mewakiliku melihat keadaan disana. Janjia kalian yang kupegang dan menjadi sebuah tanda hijau untuk bisa tidaknya aku melangkahkan kakiku untuk sampai disana. Tak ada sedikitpun rasa curiga atas apa yang terlontar dari bibirnya karena aku mempercayai kalian yang kuanggap sebagai saudaraku ditanah rantau ini. Hingga sore itu juga kubeli semua tiket yang kubutuhkan untuk berangkat kesana.
Mudah percaya dan Sulit percaya pada seseorang adalah hal yang sama
Dibedakan dengan keadaan yang terkadang memaksa kita menjilat ludah sendiri
Berpasrah dengan semua yang akan terjadi
Sekalipun kita tidak akan kembali untuk emngucapkan selamat jalan
Jangan tinggalkan identitasmu
Jangan biarkan mereka menunggu
Jangan biarkan mereka berubah
Jika tidak ingin kehilangan jati diri
Tamparan demi tamparan kudapatkan disini
Pukulan demi pukulan kurasakan disini
Dipaksa untuk berfikir lebih keras
Dituntut untuk bersabar lebih banyak dari biasanya
Kita tidak pernah tahu apa yang akanterjadi nanti
ROP pun terkadang menjadi sampah semata
Teruslah membuat harapan harapan yang besar
Sekalipun itu adalah awal dari rasa sakitmu kelak
