Rabu, 10 September 2014

Bebasku adalah Bahagiaku

Saat senja berlalu seolah dia memang berjalan meski tak menginginkannya
Saat itulah semua rutinitas mulai membatu dalam hati
Tak ada yang ingin dihentikan atau diteruskan karena memang harus berjalan
Ntah itu berjalan kedepan, kebelakang atau kemana saja

Terlalu lama di suatu tempat memang tidak tepat untukku
Ibarat sebuah wadah yang memiliki batas untuk menerima
Seperti itulah wadah yang membatasiku
Sebesar apapun tempatnya, sebesar itu pula wadahnya

Bicara soal kebebasan yang tak pernah bisa dibendung
Bertindak sesuka hati adalah cara menjalani
Toleransi tetap wajib dijunjung tinggi
Bagi mereka yang berani berkata untuk protes

Kebenaranku adalah mutlak untukku pribadi
Bukan untuk orang lain apalagi untuk TUHAN
Tuhan telah menetapkan semua termasuk yang akan ku terima
Aku hanya memilih mana yang telah dirancang Tuhan untukku

Bentar lagi dia bertambah usia
Apa yang akan terjadi saat waktu hidupnya berkurang setahun lagi
Apa yang bisa ia berikan
Apa yang bisa ia tinggalkan

Kenangan atau Kebencian
Kesan atau Peran
Suka atau Luka
Semua itulah yang membuatku hidup hingga hari ini

Banyak yang ditinggalkan memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan
Tapi bertahan dengan kejenuhan bukan lagi sebuah pilihan bijak
Semua itu hanya titipan dan hadiah dari Tuhan
Ibarat kado untuk hari Ulang tahunnya

Disaat yang mulai meragukan keberadaannya
Aku adalah orang yang akan tetap mempercayainya
Meski tak pernah mengucapkan
Meski tak pernah mendengarkan

Aku tak pernah sanggup memberi tarif kebebasanku
Karena bahagiaku adalah kebebasanku
Saat aku tak mendapatkannya
Merubah sudut pandangnya atau meninggalkannya

Bahagia itu sederhana
Sesederhana aku bisa bernafas dengan bebas
Sesederhana aku berhak menentukan kemana aku berjalan
Dan dengan siapa aku menjalaninya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar