Minggu, 16 Agustus 2015

Percayalah Meski Itu Tak Mungkin

Semua bermula secara kebetulan meski kita tahu bahwa tidak ada yang kebetulan melainkan sebuah rencana tuhan yang telah dirancang dengan rapi tnapa ada cacat didalamnya. Begitu juga dengan cerita aku kali ini. Jika kalian percaya bahwa kita semua terlahir berbeda untuk saling menganal dan berdampingan. Maka disaat itulah keajaiban tuhan akan muncul secara perlahan. Kisah ini bermula satu bulan lalu......
Puasa masih kurasakan dan kujalankan sebagai seorang hamba tuhan yang memiliki keyakinan akan keberadaan sebuah sang pencipta dialam semsesta ini. 13 juni adalah hari dimana aku mulai meninggalakan lokasiku untuk mencari lokasi merayakan hari lebaran. Hari dimana kita semua merayakan kemenangan atas nafsu yang mampu kita kalahkan selama satu bulan penuh. Ntah kemana akan kumulai dan kuakhiri cerita ini nantinya biarlah tetap menjadi sebuah aliran air yang ntah kemana dia akan berhenti nantinya.
Badau
Kota pertama persinggahan setelah aku meninggalkan lokasiku. Dikota ini aku hanya bermalam satu hari (13 juni) karena memang tidak ada keperluan yang begitu mendesak selain mengirimkan uang bulanan untuk orang tua. Dan kota ini hanya berjarak 3 jam dari lokasiku bertugas. Malam ini aku menemukan sebuah kenyataan keberadaan mereka yang mencurahkan diri dan semua yang mereka miliki hanya untuk berlajar bagaimana hidup didunia yang katanya tidak adil ini. Aku mengenalnya dalam sebuah kecelakaan yang tidak perlu diceritakan kronologisnya. Dia berasal dari negara yang sama denganku hanya kami memiliki darah dari keturunan yang berbeda. Jauh jauh melarikan diri dari negara kami hanya untuk mencari pembenaran atas upaya yang mereka lakukan disini. Sangat kusayangkan karena masih banyak cara yang lebih baik dan kuyakin dia bisa melakukannya. Tapi memang tuhan mempertemukan kami untuk sebuah alasan. Dan benar adanya bahwa aku harus belajar bahwa hidup adalah tentang memilih dan bukan pasrah untuk dipilihkan oleh keadaan. Pertemuan singkat malam itu tak kulanjutkan karena memang seharusnya aku tidak pernah berada disana atas keinginanku sendiri.
Malam berakhir dengan aku balik ke hotel ditempat aku menginap malam itu untuk melanjutkan perjalanan esok pagi kekota berikutnya.
Silat Hilir
Bukan kota yang ramai atau bukan tempat yang kubayangkan tapi disanalah aku bisa menemukan makna lebaran yang sebenarnya. Setidaknya seperti itulah yang ingin kurasakan nantinya. Jalan penuh sawit dengan suhu yang teramat panas untuk dunia ini dan panjang tanpa ada tempat nyaman untuk beristirahat sejenak meregangkan oto pantat ini. 4-5 jam perjalanan kami tempuh ditengah siang bolong untuk sebuah pencapaian yang kami rencanakan. Sawit demi sawit kami lewati tanpa kami tau kapan itu akan berakhir nantinya kecuali ada suara keramaian diujung jalan yang beraspal normal atau semen yang dibentuk untuk jalan dikotaitu. Tiba dikota pinggiran sungai kapuas dimana ini adalah sungai terpanjang di negara ini. Matahari yang akan terbenam memberikan makna yang berarti dengan pantulan cahaya yang cantik dan memukau. Seolah aku ingin menari bersamanya didalam segarnya air tapi kusadari bahwa kecocokan dengan air sangatlah kecil dan tidak akan kulakukan hal yang membuatku akan mati dalam sekejap karena cerita ini harus ada yang menyelesaikannya. Menyelam dipinggiran sungai, menjaring ikan untuk mendapatkan uang dihari lebaran dan menjual kue sudah kulakukan ditempat ini. Keluarga yang telah dipisahkan dengan kepala keluarga tentu membaut mereka menjadi lebih kuat dari kami yang diberikan hak lebih lama dibandingkan mereka.
Disini juga aku belajar arti mengenal budaya dan cara mereka hidup sebagai seorang yang memiliki jenis darah yang berbeda. Tapi tidak ada yang mainstream selain memang nyaris tidak kutemui ada orang yang berpuasa dikota ini. 5 hari (14-18 juni)aku dikota ini dan kurasakan sudah waktunya melanjutkan perjalanan untuk melanjutkan cerita agar sedikit lebih panjang dari biasanya. Aku belajar bagaimana hidup menjadi minoritas dan  makhluk asing ditempat ini tanpa menarik perhatian tapi aku mendapatkan perhatian mereka semua. Semua itu hanyalah proses hidup didunia yang sepertinya adil ini.
Sintang
Siang itu aku sudah prepare untuk melanjutkan kekota berikutnya. Meski tanpa ada sebuah tanda aku akan diterima baik dikota ini. Tapi show must go on dan aku harus tetap berjalan meski aku tidak tahu didepan aku akan mengalami apa. Karna sudah biasa ku temukan hal seperti ini. Inilah pelajran sesungguhnya yang menguras pikiranku “teruslah percaya sekalipun tidak mungkin untuk percaya dengan keadaan yang disediakan. Namun selalu ada cara ajaib tuhan untuk menjawab semua keyakinan itu”. Benar adanya aku satu hari terlantar dikota ini tanpa arah dan tujuan yang jelas. Mereka yang tadinya memintaku datang malah mengabaikan apa yang mereka ucapkan sendiri. Kesibukan memaksa mereka melupakan janji yang mereka buat sendiri tanpa sebuah paksaan. Tapi biarlah semua memang seperti ini cerita yang harus diceritakan. Sore itu (19 juni) menunggu bus yang akan mengantarku ke kota selanjutnya. Kota yang mungkin akan memiliki cerita yang berbeda dengan kota yang lain tentunya.
Singkawang
Pagi ini adalah pagi pertama kurasakan hujan setelah sekian lama (20 juni). Hanya berselang beberapa menit setelah aku turun dari bus dan tanpa ku tahu aku harus kemana dan menemui siapa karena ku tidak bisa menghubungi siapapun dikala itu. Hujan deras memaksaku memesan secangkir kopi hangat daripada tidak ada yang membuatku bertahan dari dinginnya suasana diterminal kota amoi. Amoi adalah gadis keturunan cina yang beranjak dewasa dan belum menikah atau telah menikah itu disebut amoi. Tapi kata amoi memiliki persepsi lain dikota ini. Amoi persepsi lain adalah sama dengan mereka yang kutemui di kota badau saat perjalananku kali ini.
Dia yang menjadi kontak terakhir dari hp sejuta umat mungilkulah yang menjemputku dari rinainya hujan yang mengguyur kota ini setelah sekian lama. Sejenak membersihkan diri dan mengisi perut lalu aku beranjak ke tempat yang dijanjikan dia yang menjadi saudaraku selama dijogja. Ikatan yang terjalin dalam pendakian dan perjuangan mempelajari ilmu kehidupan bersama alam pulau jawa telah kami tempuh ber SKS tanpa kami melewatkan jadwal remidi untuk mengulanginya kembali. Berulang kami mendatangi kelas (bacanya gunung) yang sama hanya untuk merasakan hal yang sama meski kami tak pernah menemukan kesamaan rasanya. Kenangan yang tercipta disetiap pendakian membuatku mengerti bahwa moment adalah hal unik yang tidak akan terulang meski kita berulang kali melakukannya.
Dikota ini aku menyelesaikan misiku, pantai dan menelusuri sisi barat pulau ini. Dikota inilah terjawab dari rasa percaya yang kupertahankan untuk tetap pergi tanpa kepastian yang nyata. Setidaknya dari sekian banyak yang berjanji masih ada mereka yang tulus memenuhi janjinya bukan karena terpaksa namun karena itu adalah yang seharunya dilakukan karena mereka mengerti bahwa seseorang tidak akan pernah mampu hidup sendiri (bukan berarti aku mampu hidup sendiri).
Berjalan dari satu tempat ke tempat lain yang bisa kudatangi setiap hari. Mendapatkan sebuah cerita yang tak mungkin kuselesaikan sendirian (20-24 juni). Ingin sebenarnya lebih lama disini namun apa daya semua akan ada masanya untuk menghabiskan sisa-sisa puing yang masih ditinggalkan berserakan. Selalu ada cara untuk kembali ketempat yang telah ditancapkan bekas diri
Sambas
Kota yang kusinggahi karena berada dikota sebelumnya mengantarku menapakkan kaki dikota ini. Kota yang bagus dan disini juga aku menemukan keluarga baru seperti semua kota yang kusinggahi sebelumnya. Disini aku terpaksa berkelana menyebrangi sungai untuk sekedar menghindari kempunan (kesialan karena tidak mendapatkan sesuatu yang sudah didepan mata). Tidak banyak yang bisa kuceritakan karena hanya 12 jam aku dikota ini lantas kembali kekota sebelumnya.
Sintang Part II
Perjalanan kembali selalu memberikan arti lebih karena kemanapun kita pergi maka tidak ada gunanya jika kita tidak mampu kembali. Setinggi apapun kita mendaki tidaklah berarti jika kita tidak mampu turun untuk kembali kerumah dengan selamat. Sejauh apapun kita merantau maka tidak berguna jika kita tidak dapat kembali kekampung halaman dengan senyuman. Sebanyak apapun kita mengumpulkan harta dan tahta tidaklah berkilau jika kita tidak dapat menggunakannya dengan bijak. Disini aku mendapatkan respon yang lebih baik dari sebelumnya sehingga aku bisa tinggal lebih lama dari yang sebelumnya (25-26 juni). Ditempat ini aku belajar berdagang dipasar dan mendapat sebuah pelajaran hidup. Mengapa kita membatasi mimpi menjadi seorang yang nantinya menjadi bawahan orang lain. Kenapa kita melebihi batasan itu untuk dapat menjadi bosny? Adakah diantara kalian yang saat kecil diajarkan untuk menjadi pemiliki pesawat atau pemilik rumah sakit? Tentu TIDAK jawabnya. Kalian pasti diminta untuk menjawab menjadi dokter atau pilot. Pelajaran yang hanya kudapatkan didalam pasar yang terbakar beberapa tahun lalu. Membakar sate dipagi buta, tidak ada tempat bermain lagi hanya tersisa wajah sayu yang mencoba bertahan dalam keterbatasan yang diberikan sebagai belas kasih pemerintah daerah. Disinilah bagian istimewanya dimana perjalanan dari kota ini kekota selanjutnya menjadi jawaban atas rasa sabar yang dilakukan seorang manusia.
Aku tidak mendapatkan bus untuk minggu pagi (26 juni) lantas kuputuskan menunggu bus malam. Aku tiba ditempat bus malam biasa berhenti namun saat aku datang bus itu telah pergi, ingin rasanya kukejar namun biarlah mungkin itu bukan jodoh. Mengejar sesuat yang telah pergi sama halnya mengikat dia yang bukan jodoh. Sia-sia dan bukan yang terbaiklah yang menjadi keadaan. Bus berikutnya datang dikala tegukan kopi terakhirku dan kurasa aku siap melanjutkan perjalanan. Tapi tak ada lagi yang dapat kududuki didalam sana dan hanya tersisa atap yang terbuka jika ingin tetap melanjutkan perjalanan saat itu. Tidak ada pilihan lain dan tidak menjamin yang berikutnya akan memberikan yang lebih baik dari ini. Dan hari sudah mulai larut, so disinilah semua bermula.
Bus yang tadi meninggalkanku mengalami pecah ban dan menabrak tiang listrik. Didalam sana ada seseorang yang kukenal dan sudah ku anggap kakak sendiri dinegara baru yang aku singgahi ini selama 2 tahun. Bersyukur aku tidak berada didalamnya akibat memaksakan untuk mengejar sesuatu yang telah pergi meninggalkanku. Tapi dingin ini memang jauh lebih baik jika kita mampu mensyukuri semua yang terjadi disini.
Putussibau
Masih ingat dengan teori yang pertama ku sampaikan tentang rasa percaya? Pasti akan terbalas tidak pernah kurang, pasti cukup dan bahkan lebih yang diberikan untuk kita. Dikota terakhir sebelum aku kembali ke lokasi disini aku mendapat bonusnya (27-29 juni). Mendapatkan keluarga bule dari perancis membuka jalan untukku dan temanku untuk mengenal internasional. Temanku yang melanjutkan studi akan punya teman baru dan aku akan punya cerita baru. Aku membantu menyiapkan segala keperluannya untuk berangkat ke Tanjung Lokang sebuah hutan yang masih natural dan belum terekspose secara langsung. Butuh 2 hari perjalanan untuk sampai ke sana menggunakan perahu bermesin dan butuh 8 hari untuk menembusnya sampai dengan mahakam, kaltim. Max dan Pierre adalah mahasiswa berumur 21 dan 23 tahun. Banyak kelucuan yang tercipta dimana aku dan mereka sama-sama tidak fasih berbahasa inggris. Dan sambil menunggu keberangkatan mereka aku diminta mengantar mereka ke salah satu air terjun tersembunyi disini. Butuh 1 jam jalan kaki dengan melewati 3 aliran sungai yang deras dengan ketinggian sepinggang. Sebuah perjuangan ditengah hujan yang memaksa kami terus berjalan karena tidak mungkin menunggu reda dan membuat baju kering kembali tanpa adanya matahari. Hujan terus mengguyur sepanjang perjalanan kami hingga sampai di air terjun. Motor bahkan setengah tenggelam untuk mencapai desa terakhir untuk mengurus perijinan dan menitipkan kendaraan kami. Puas dan bahagia tentulah kurasakan karena atas semua yang kurasakan dalam ketidakpastian itu membuatku bersabar dan terus percaya hingga menghadirkan sebuah balasan yang jauh lebih dari cukup untuk sebuah pemberian dalam bentuk sabar itu sendiri

kita hanya bisa mendapatkan puncak jika kita bersabar
dan terus berjalan mendakinya. 
kita hanya bisa mendapatkan hal baru
jika kita keluar dari hal lama yang kita miliki.
dan kita hanya bisa membuat cerita baru
jika kita berani membuang waktu untuk sekedar mencari arti kepuasan diri(ogikun, 2015)

Jumat, 01 Mei 2015

Berawal Dari Sini


Kami adalah orang-orang yang memilih meninggalkan zona nyaman,
meninggalkan kehidupan bersama orang tua, meninggalkan orang-orang yang dicintai.
Hanya untuk sebuah keluarga baru yang ntah ada dimana keberadaan mereka,
seperti apa bentuk rupa mereka, seperti apa kebiasaan hidup disana
dan akankah kita diterima atau tidak disana.
Tapi kami mengambil resiko itu hanya untuk sebuah panggilan
yang jiwa kami miliki disetiap hembusan nafas
adalah hanya untuk 
Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Berawal dari ketidaksamaan, bermodalkan sebuah harapan yang berbeda tapi kami dipersatukan oleh sebuah jalan yang kami sebut takdir. Tidak mudah untuk mencapainya dan tidak banyak juga yang mempercayainya. Air mata, harapan, emosional dan doa mewarnai perjuangan kami semua disini. Ada yang harus merelakan adiknya tidak mampu membayar SPP hanya untuk memiliki ongkos untuk mengikuti seleksi. Ada yang membuang uang tabungannya hanya untuk datang sebagai peserta cadangan dan berharap sebuah keajaiban dimana peserta utama tidak datang hari itu. Ada yang bermodal uang seadanya dan t testidur dimana saja disaat malam menjelang hari seleksi itu tiba.


Ada yang berasal dari Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Palembang, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Nusa Tenggara Timur. Dibalik semua perbedaan itu kami bertahan dalam sebuah team yang disebut Nusantara Sehat oleh Kementrian Kesehatan RI. Jumlah kami 144 dan berkurang 1 orang karena tidak kembali ditengah pelatihan jadi total kami 143 orang. Terbagikan dari dokter, bidan, perawat, ahli gizi, kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, farmasi dan analis kesehatan.


Kami ditempatkan di 20 puskesmas yang berbatasan langsung dengan negara lain baik berbatasan secara darat atau secara laut. Kita tidak akan kembali selama 2 tahun dan setelah itu nanti akan ada surprise bagi kita semua, ntah ada yang menikah diantara kami atau ada yang menjadi warga lokal dilokasi penempatan. Kami disebar dalam 8 provinsi yang berbatasan langsung yakni Aceh, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat dan Papua. Satu bulan telah kami lewati bersama dan begitu banyak suka cita yang kami alami bersama. Sulit untuk dijelaskan namun sebuah chemistry keluarga telah terjalin diantara kami.

Kami mungkin menjual keinginan kami, tapi kami mendapatkan cerita
yang tidak mungkin dapat kalian beli dimanapun kalian mencarinya.

Selasa, 14 April 2015

Dikala Jenuh Menjadi Alibi



Kian hari kian menjadi
Kian hari kian terbukti
Apa yang menjadi harapan
Serta apa yang menjadi ketakutan

Kita tidak akan pernah kalah
Karena kita terlahir untuk menang
Kekalahan hanya untuk mereka yang menyerah terhadap keadaan
Tapi kita akan selalu maju meski kita tidak jarang menoleh kebelakang

Aku tidak menyesali
Aku tidak berharap lebih
Aku hanya mencoba percaya
Semua akan indah pada waktunya

Bersama mereka semua
Dengan semua yang kami punya
Semua akan baik-baik saja seperti kelihatannya
Semua akan berjalan sesuai irama dan ketukan tangan TUHAN

Adakah yang pernah merasakan takut
Adakah yang tak pernah merasa gentar
Tidak ada manusia yang seperti itu
Karena hati manusia terlalu lembut untuk menolak rasa itu

Tangan ini punya perasaan untuk mengangkat mereka
Kaki ini punya kehendak sendiri untuk melangkah bersama mereka
Telinga ini punya cara sendiri untuk mendekat di bibir mereka
Dan hati ini yang selalu terbuka untuk mereka

Aku kasian pada kalian
Yang tak memiliki kesempatan untuk merasakannya
Aku iba pada kalian
Yang hanya bisa belajar tanpa mengerti arti esensi sebuah profesi

Mungkin aku memang kaum minoritas disana
Tempat dimana kalian menjadi raja
Mungkin aku memang termarjinalkan disana
Tempat dimana kalian menjadi penguasa

Kini semua akan menjadi kebenaran
Kampus bukan tempat menjadi raja
Melainkan siapa yang akan menjadi robot terbaik
Yang hanya akan bergerak sesuai yang diinginkan oleh system

“aku terjajah karena keadaan
bukan berarti selamanya kan terjajah oleh keinginan kalian”

Senin, 13 April 2015

Sepertinya Memang Disini

Berawal dari keinginan hati
Meski kadang tidak ada yang mengerti
Meski kadang tidak ada yang percaya
Tapi itulah kenyataannya

Nusantara Sehat

Sebuah pilihan yang tak pernah ku tahu apa itu sebenarnya. Yang ku tahu itu adalah sesuatu yang membuat gejolak didalam hati ini. Inikah yang disebut panggilan jiwa?? Atau sebuah pelarian atas rasa bimbang yang tak pernah berujung akan kemana setelah menyelesaikan kuliahku.

NS adalah sebuah program dari KEMENKES dimana nantinya mereka yang bergabung akan ditempatkan didaera Terpencil/ Sangat Terpencil Perbatasan Kepalauan. Sebuah tempat diujung indonesia yang ntah seperti apa bentuknya dan mungkin tidak pernah tertulis secara jelas didalam peta indonesia sekalipun. Tak pernah kupercaya juga sebelumnya bahwa aku akan bergabung didalamnya, awalnya aku hanya iseng mengisi pendaftaran online yang diberikan dari kementrian. Mengisi seadanya dengan essay yang ku buat sesuai bahasa ku sendiri yang mungkin hanya aku yang mengerti dan mengenal maksud didalamnya dengan baik.

Tapi memang jalan yang kupilih bukanlah jalan yang banyak dipilih orang-orang. Ibarat jalan terjal yang menjulang penuh dengan ketidak pastian dan ancaman akan sebuah ketidakjelasan namun dibalik itu semua pastilah ada puncak yang senantiasa memberikan keindahan jawaban pada akhirnya. Tahap II seleksi dimana dari 6671 pendaftar terpilih 630 orang untuk melakukan psikotes dan FGD bersama 8 profesi lainnya.

Untuk pertama kali dimana kita berkolaborasi dengan profesi kesehatan lainnya yang mungkin hanya akan kita dengar dibangku kuliah. Dokter, Bidan, Perawat, Kesehatan Lingkugnan, Kesehatan Masyarakat, Ahli Gizi, Analis Kesehatan dan tentunya Farmasi itu sendiri. Kami digabung dalam 1 team yang ditempatkan dalam sebuah Unit Pelayanan Kesehatan Pertama di Satu Kabupaten yang telah ditentukan. Ntah apa jadinya nanti kita akan bersama dalam jangka waktu 2 tahun, apapun yang terjadi nanti biarlah semua mengalir seperti seharusnya.

Tapi beberapa hal yang pasti kurasakan saat ini adalah memang disini rupanya temapt yang tepat untukku. Tuhan memberikan ku waktu agak lama untuk mengerti bahwa yang kubutuhkan bukan disamping kalian wahai dunia lama ku tapi dunia baruku adalah yang kubutuhkan untuk sebuah perubahan dan balas dendam atas apa yang pernah kita rasakan bersama. Kita akan buktikan suatu hari nanti bahwa apa yang dunia ucapkan tentang kita adalah sebuah kesalahan dan aku akan membuat dunia menyadari bahwa dia salah besar tentang kita.

"Cintailah mereka seolah mereka adalah bagian dari tubuh kita.
Mulailah dari yang mereka miliki dan bukan memaksa mereka mencari yang tidak mereka miliki. Jangan paksakan apa yang kita inginkan
melainkan apa yang mereka butuhkan dari kita"

Senin, 06 April 2015

cahaya terang

akan ada masa dimana semua menjadi nyata
apa yang telah dikatakan
apa yang telah dipikirkan
apa yang telah dirasakan

bermimpilah setinggi-tingginya
jangan takut jatuh dan terpuruk rasa sakit
karena kau akan jatuh dalam bintang-bintang nantinya
bung karno pun berkata demikian

suasana ini semakin menjadi
rasa cinta ini bukan ilusi
keinginan ini telah lama dinanti
terwujud dalam ridho sang pemberi

demam yang kian meninggi
sesak selalu berasa tiap hembusan nafas
hingga kapan semua berakhir
berharap segera usai

disana kami berdiri
menatap langit yang sama
untuk sebuah kebanggaan
dari pilihan yang kami tentukan

jangan sampai kita kehilangan lagi
seseorang yang kita anggap saudara
hanya karena dia kehilangan hak
serta kemerdekaan didalam rumah sendiri

rasa ini bukan lagi sebuah pilihan
tapi kita yang membuatnya
kita yang menciptakannya
dengan dua buah tangan yang kita miliki

ibarat senja yang kembali keperaduan
memeluk erat kedua tangan
seolah penantian akan segera berakhir
dikala ia kembali dipagi hari

kini rasa yang hilang telah kembali
kutanggalkan semua kepalsuan semata
untuk sebuah kesejatian warga negara
berdiri dengan gagah jauh dari peradaban

aku tidak butuh dihormati hanya karena sebuah huruf
aku akan membangun dari mana bisa kulakukan
bukan sebuah kenyamanan yang kuinginkan
melainkan sebuah kebanggan dalam arti sebenarnya

"kita terlahir untuk memulai dan menyelesaikan, bukan mengakhiri tanpa kejelasan"

Senin, 02 Maret 2015

Tidak berhenti disini

aku memang bukan seperti mereka
aku tidak bisa membuat semua menjadi indah
ucapanku saja tak pernah merdu ditelinga orang
tulisanku juga tidka berbeda dengannya

aku hanya bisa memberikan sebuah kebenaran
tanpa ada sebuah bagian yang dipalsukan
aku nggak bisa memperindah lisanku
aku nggak bisa memilih kata dengan baik

dikala semua memanis maniskan lisannya
disaat semua memerindah dirinya
hanya untuk sebuah pandangan baik
memanipulasi keadaan untuk menjadi aman

tulisan ku tidak akan pernah mati
karena dia abadi
tanpa pernah ada yang membunuh
tanpa ada yang mampu menghapusnya

jujur semua menjadi berat
dan akan semakin berat
memberatkan langkah
membebani tangan

tapi semua adalah proses
kita tidak selamanya bersama dalam waktu yang sama
hanya sekejap mata dan semua berakhir
hanya seucap kata dan semua terhenti

tapi tidak semuanya berakhir disaat badan ini terpisah
kenangan, suka cita, tawa, canda, gurauan akan selalu menjadi bagian dalam diri
sebuah alasan untuk dapat kembali
bukan esok tapi suatu hari nanti

tak ada janji yang berani ku katakan meski hati menginginkannya
tak ada ucapan yang kusampaikan meski lidah ingin mengatakannya
tak ada keinginan yang kubenarkan meski ego ingin menahannya
semua hanya akan terbenam hingga kelak terbit jika tuhan mengijinkannya

tidak perlu mengenalkan diri untuk bisa dikenal
tidak perlu bersama untuk memberikan kenangan
tidak perlu tinggal seatap untuk bisa mengaku saudara
tidak perlu makan dari piring yang sama untuk bisa dianggap teman

semua sudah ada tempat disini
tempat terbaik yang pernah ada
tidak ada tempat untuk hal yang tidak penting
kalian saja sudah cukup mengisi semua itu (dalam hati ini)

Kamis, 05 Februari 2015

Sebatas Itu

Terlalu banyak merencanakan berakhir pada sbeuah wacana
Terlalu banyak wacana juga tak akan menuju sebuah rencana
Rencanakan apa yang telah diwacanakan
Bukan lagi mewacanakan hal yang akan direncanakan

Sebuah radio yang kau putar berulang kali
Sebuah kisah lama yang tak mungkin kembali
Sebauh alibi untuk pembenaran diri
Menganggap kami adalah orang jahatnya


Aku mendapatkan yang kuinginkan
Aku mendapat yang kuperlukan
Bukan dari pemberian orang tua
Bukan juga belas kasian orang lain

Dari tiap keringat yang dikeluarkan
Dari tiap kata yang diucapkan
Dari tiap sikap yang ditunjukkan
Bukti dari apa yang dikatakanlah yang menjadi ukuran

Sebesar apapun kita berbicara
Just nothing jika hanya bersembunyi dalam lisan
Apalah guna semua itu jika hanya dipendam sendiri
Menyalahkan keadaan dan membenarkan diri tanpa koreksi

Saat semua menjadi tak berarti
Jangan merasa menjadi bagian yang penting
Ada tidak adanya diri tetap semua masih berjalan
Berjalan dengan semestinya bukan seharusnya (versi manusia)

Belajarlah memberikan yang terbaik
Upayakan yang bisa kita berikan untuk sebuah moment yang ada
Moment tak akan terulang sekalipun kita mengulanginya
Moment datang diwaktu yang tepat

Batasan yang dulu kita buat sebagai jembatan
Sekarang berdiri menatang dengan kesombongannya
Jauh lebih tinggi dari yang seharusnya
Jauh lebih arogan dari yang semestinya

Sudah tak layak lagi berbicara soal hak
Karena tak ada kewajiban yang terlaksanakan
Tak ada kebenaran selain cerita karangan
Tak lebih dari pelarian untuk sebuah ketidakwarasan

"Semua mulai tumpul saat tak lagi digunakan.
Begitupun dengan lisan yang tak pernah diasah untuk kebenaran
tanpa ada embel-embel kepentingan pribadi"

Kamis, 22 Januari 2015

Gelas Kosong

Kamu adalah bagian dari kado terindah
Yang kota ini berikan diakhir-akhir sisa waktuku
Bohong jika aku berkata semua baik baik saja
Ibarat sebuah gelas kosong yang hanya menjadi pajangan

Aku hanya harus terus berjalan kedepan
Karena waktu tidak pernah melihat kebelakang
Menyukai hal yang tidak kusukai tidak semudah
Saat aku mengatakannya kepadamu

Tidak ada yang bisa dilakukan
Tidak ada yang bisa dikatakan
Sudah selesai hingga batas yang ditentukan
Batasan yang dibuat hanya untuk menjaga

Malah menjadi sebuah penjara untuk kami
Disaat kita tidak mampu lagi melakukan yang diinginkan
Disaat sebuah kata pun tak bisa menembusnya
Apalagui hanya sebuah coretan yang tak pernah sampai kepadanya

Kesepakatan atau perjanjian tanpa hitam diatas putih
Sebuah keterikatan tanpa saksi
Memegang apa yang dikatakan
Bertaruh pada rasa yang orang bilang kepercayaan

Kesepakatan ada karena keinginan dua orang manusia
Bukan salah satu diantara kami yang manusia
Dan yang lain bukan manusia
Hanya karena tidak ditemukan lagi dimana keberadaannnya

Kesepakatan bisa dirubah jika keduanya menginginkannya
Bukan salah satu diantara kami yang menginginkannya
Tapi terkadang mereka melakukannya sesuka hati
Karena tak pernah ada bukti otentik yang nyata

Perbedaan cara berfikir menjadi jurang pemisah
Awal dari semua mulai terbuka jarak
Fikiran putih yang sangat mudah disumbangin warna oleh orang lain
Perasaan polos tanpa pernah tahu sebelum menemukan

Terkadang aku merindukan keadaan yang dulu
Dimana kasta bukan lagi sebuah pembeda
Keramahan tanpa alasan
Kehangatan tanpa kemunafikan

Rasa itu telah sampai pada batasnya
Batas yang kita tetapkan
Bukan waktu untuk menyudahi semuanya
Alibi terbaik yang kau berikan untuk mundur dengan aman (menurutnya begitu)

Minggu, 18 Januari 2015

Bagian demi bagian

Semenjak semua menjadi tak berarti
Semenjak itu pula semua mulai berubah
Baik yang terlihat
Baik yang terdengar

Bagian demi bagian aku mulai kehilangannya
Dari waktu yang tak bisa digenggamnya
Hingga lisan yang keluar dari bibirnya
Bahkan sosoknya bukan lagi sesuatu yang bisa ditemukan secara nyata

Apa yang terucap hanyalah sebuah kalimat yang tidak nyata
Baginya hanyalah sebuah bualan yang akan menguap
Bagianya hanya sebuah tulisan yang tidak terjamah dalam hururf yang bisa dibaca
Alasan klasik untuk sebuah kepalsuan

Semua memang tidak ada yang abadi didunia ini
Semua juga akan berakhir seiring waktu yang akan mengakhirinya
Tapi kita berhak menahan hingga akhir waktu yang kita miliki dalam sisa usia
Hak kita juga untuk mengkahirinya sekejap saat kita tidak ingin melihatnya

Waktu adalah sebuah alasan terbaik untuk meninggalkan atau ditinggalkan
Meninggalkan yang seharusynya ditinggalkan
Dan ditinggalkan untuk mereka yang pantas meninggalkan
Tak ada lagi sebuah alasan untuk saling mengenal

Mereka yang dulu berjalan bersama
Mereka yang dulu melewati jalan yang sama
Namun berpisah untuk sebuah tujuan yang berbeda
Jalan yang hanya sejenak dilalui namun begitu berarti

Bisa dikenali dari caranya yang menceritakan masa lalu
Bisa dicerna dari cara dia kembali menikmati jalan yang dilalui
Sekalipun tak ada lagi kalimat yang mereka berdua katakan
Tak adalagi pikiran yang biasanya sama dalam sebuah rencana

Tuhan selalu mempertemukan dan memisahkan disaat yang tepat
Disaat semua menjadi sesuatu yang tidak bisa dikendalikan
Menjadi sebuah alasan untuk membangkang pada dunia
Setidaknya memang disitulah ketakutannya

Untuk sebuah kejadian yang tidak diketahui kebenarannya
Untuk sebuah ketakutan yang hanya menjadi spekulasi belaka
Untuk sebuah alasan yang tidak bisa ditreuskan
Untuk sebuah alibi yang tidak bisa dihentikan

Hanya sebuah ketakutan
Dan akan menjadi ketakuan semata
Mengkhawatirkan esok hari dihari ini
Sama halnya dengan membunuh hari ini demi esok hari

Sabtu, 10 Januari 2015

Akan Terjadi Nanti

Rasa rindu yang lama tak terobati
Rasa kangen yang kian menjadi
Rasa sayang yang tak perlu dikatakan
Rasa cinta yang tak perlu diceritakan

Kita bertahan untuk sebuah kebersamaan
Kita melangkah untuk sebuah kesamaan
Kita berpegangan untuk sebuah kekeluargaan
Suka cita tangis air mata kita alami bersama dalam satu pelukan

Kita tidak pernah tahu bahwa semua akan berbeda
Berjalan dijalan yang sama
Menempuh proses yang sama
Tapi tiba diujung yang berbeda

Adakah yang salah dengan proses kami?
Adakah yang keliru dengan apa yang kami alami?
Benarkah semua memang takdir
Atau angin yang menyimpangkan tujuan kami

Diperjuangkan atau memperjuangkan terkadang menjadi sebuah dilema. Disaat semua sedang berproses untuk menetapkan sebuah tujuan yang telah ditentukan dihari yang lalu. Aku, dia, kami dan kita adalah sekumpulan manusia yang memiliki tujuan yang sama dikala itu. Tapi semua ternyata berubah seiring waktu yang terus berjalan kedepan tanpa pernah peduli apa yang dilewatinya.

Terbuat dari apakah dirimu? Setahu aku kita terbuat dari bahan yang sama jika berbicara tentang Sang Khalik tapi yang membedakan hanyalah dari rahim siapa dan bagaimana latar belakang keluarga kita. Aku tak pernah mendapatkan semua yang kuinginkan sekalipun aku menangis darah karena aku tak membutuhkannya. Sama halnya denganmu yang menangis tentang hal yang sama namun air mata itu tak akan pernah keluar karena orang tuamu tak ingin melihatnya terjatuh begitu saja karena mereka sadar akan kehadiranmu yang istimewa, menjadi penutup dalam keluargamu. Kesempurnaan dalam keluarga yang mencukupkan apa yang mereka miliki hingga saat ini.

Hanya sebuah ketidaktahuan akan rasa susah yang tak pernah kau miliki. Semua yang kau butuhkan selama hidup telah dipersiapkan disampignku setelah mereka mendengar tangis pertamamu. Rasa iri atau takdir akan perbedaan nasib setiap manusia menjadi ironi disana. Akankah sebuah pilihan bisa dijadikan sebauh ikatan yang akan selalu dipegang hingga nanti?

Terlalu sering mengurusi orang lain hingga lupa bahwa ada manusia yang perlu diurusi melebihi orang lain yaitu dirinya sendiri. Semua yang terjadi memang bukan selalu yang diinginkan akan tetapi semua yang terjadi adalah yang dibutuhkan. Saat suara tak lagi didengar oleh sepasang telinga maka yakinlah masih banyak jutaan pasang telinga. Saat mata tak mampu mengenali apa yang ingin ditunjukkan maka yakinlah bahwa itu bukan sebuah pura-pura untuk mencari sebuah alasan untuk pembenaran yang dilakukannya.

"Aku meyakini apa yang kusepakati, apa yang kukatakan, apa yang kudengar
dan apa yang kulihat dari indera yang sama denganmu. Tapi aku tidak berfikir hal yang sama denganmu karena mungkin cara kita menerimanya yang berbeda"

Rabu, 07 Januari 2015

Sebuah Kaki Yang Melangkah

Rante Mario 3478 mdpl

Hujan masih saja terus memberikan alasan untuk bertahan pada sebuha keyakinan yang telah ditetapkan untuk dipilih. Malam itu aku masih terombang ambing dalam ketidakpastian. andai aku tahu bahwa semua yang mereka katakan adalah sebuah keterpaksaan mungkin saja semua tidak akan seperti ini. ROP yang kubuat bukan berdasarkan keterpaksaan dan merupakan kesepakatan yang mereka ucapkan didepanku tapi tidak dibelakangku.

Rabu, 10 Desember 2014 ( jam 9 malam)
Apa yang sebenarnya terjadi tidak ku mengerti hingga aku tiba disana. Ketidakjelasan dari apa yang sempat kerasakan mulai terjawab satu demi satu. Dia yang menjanjikan, dia juga yang menyalahkan. Aku yang mempasrahkan semua kepada apa yang dikatakannya karena aku tidak tahu hraus percaya pada siapa lagi disini. Tanah yang asing bagiku dan untuk kepribadianku. Terluntung lantung tanpa kejelasan yang mana dan dengan siapa aku akan pergi. Kupasrahkan dengan apa yang tuhan takdirkan nantinya. Jika memang harus sendiripun aku rela kok karena memang seperti itulah biasanya aku bepergian.

Berjalan dalam ketidakpastian jauh lebih menyenangkan
Dibanding dalam rasa pasti namun diabaikan begitu saja
Seolah semua menjadi tak ada harganya
Seolah menjadi bukan bagian darinya

Kepalsuan adalah hal yang memuakkan
Memang indah didepan
Namun tidak dibelakang
Kepalsuan adalah penolakan secara halus

(jam 11 malam)
Tak kutemukan apa yang mereka katakan dan tak kumengerti apa yang mereka bicarakan. Aku hanya mengerti bahwa semua mulai memburuk malam ini tapi pasti ada jalan lain yang Tuhan tunjukkan. Berpindah dari satu sekret ke sekret lain, dari satu KPA ke KPA lain. Berkenalan dengan satu sama lain para penghuni sekret yang menceritakan kisah mereka dan apa yang mereka alami selama ini bersama saudara-saudara mereka. Telpon sana sini berharap akan menemukan seseorang yang akan bersedia menemaniku berjalan bersama mendaki gunung yang menjadi bagian dari impianku. Keikhlasan dalam berjalan bukan hanya sebuah kaki yang bergerak melainkan sebuah pengorbanan yang diberikan untuk sebuah langkah kaki yang dilakukan.

(jam 3 pagi)
Sebuah suara yang tak begitu jelas kudengar disaat asemua harapan kian memudar dan seolah akan berhenti disana. "Si ini yang akan menemanimu berangkat", suara terakhir sebelum mata ini benar-benar terpejam disudut ruangan itu dikala hujan juga membuat bising seisi ruangan. 

Benar atau salah
Dia atau bukan
Terwujud atau tidak
Berhasil atau tidak

Bukan lagi hal yang penting untukku
Aku hanya memiliki misi yang harus kulakukan
Dengan tanpa mengurangi rasa hormat
Tak ada sanggahan atau protes yang kulakukan

Karena memang sejak awal sudah kupercayakan pada mereka
Percaya yang tak seharusnya diberikan seutuhnya
Percaya hanya pada tuhan dan tidak dibagi atau berbagi
Selain pada mereka yang layak dan pantas untuk diberikan

"Saat aku tak bisa sedikit melunakkan hatiku, setidaknya aku tidak memperkeras pikiranku"