Semua bermula secara kebetulan
meski kita tahu bahwa tidak ada yang kebetulan melainkan sebuah rencana tuhan
yang telah dirancang dengan rapi tnapa ada cacat didalamnya. Begitu juga dengan
cerita aku kali ini. Jika kalian percaya bahwa kita semua terlahir berbeda
untuk saling menganal dan berdampingan. Maka disaat itulah keajaiban tuhan akan
muncul secara perlahan. Kisah ini bermula satu bulan lalu......
Puasa masih kurasakan dan
kujalankan sebagai seorang hamba tuhan yang memiliki keyakinan akan keberadaan
sebuah sang pencipta dialam semsesta ini. 13 juni adalah hari dimana aku mulai
meninggalakan lokasiku untuk mencari lokasi merayakan hari lebaran. Hari dimana
kita semua merayakan kemenangan atas nafsu yang mampu kita kalahkan selama satu
bulan penuh. Ntah kemana akan kumulai dan kuakhiri cerita ini nantinya biarlah
tetap menjadi sebuah aliran air yang ntah kemana dia akan berhenti nantinya.
Badau
Kota pertama persinggahan setelah
aku meninggalkan lokasiku. Dikota ini aku hanya bermalam satu hari (13 juni) karena
memang tidak ada keperluan yang begitu mendesak selain mengirimkan uang bulanan
untuk orang tua. Dan kota ini hanya berjarak 3 jam dari lokasiku bertugas.
Malam ini aku menemukan sebuah kenyataan keberadaan mereka yang mencurahkan
diri dan semua yang mereka miliki hanya untuk berlajar bagaimana hidup didunia
yang katanya tidak adil ini. Aku mengenalnya dalam sebuah kecelakaan yang tidak
perlu diceritakan kronologisnya. Dia berasal dari negara yang sama denganku
hanya kami memiliki darah dari keturunan yang berbeda. Jauh jauh melarikan diri
dari negara kami hanya untuk mencari pembenaran atas upaya yang mereka lakukan
disini. Sangat kusayangkan karena masih banyak cara yang lebih baik dan kuyakin
dia bisa melakukannya. Tapi memang tuhan mempertemukan kami untuk sebuah
alasan. Dan benar adanya bahwa aku harus belajar bahwa hidup adalah tentang
memilih dan bukan pasrah untuk dipilihkan oleh keadaan. Pertemuan singkat malam
itu tak kulanjutkan karena memang seharusnya aku tidak pernah berada disana atas
keinginanku sendiri.
Malam berakhir dengan aku balik
ke hotel ditempat aku menginap malam itu untuk melanjutkan perjalanan esok pagi
kekota berikutnya.
Silat
Hilir
Bukan kota yang ramai atau bukan
tempat yang kubayangkan tapi disanalah aku bisa menemukan makna lebaran yang
sebenarnya. Setidaknya seperti itulah yang ingin kurasakan nantinya. Jalan
penuh sawit dengan suhu yang teramat panas untuk dunia ini dan panjang tanpa
ada tempat nyaman untuk beristirahat sejenak meregangkan oto pantat ini. 4-5
jam perjalanan kami tempuh ditengah siang bolong untuk sebuah pencapaian yang
kami rencanakan. Sawit demi sawit kami lewati tanpa kami tau kapan itu akan
berakhir nantinya kecuali ada suara keramaian diujung jalan yang beraspal
normal atau semen yang dibentuk untuk jalan dikotaitu. Tiba dikota pinggiran
sungai kapuas dimana ini adalah sungai terpanjang di negara ini. Matahari yang
akan terbenam memberikan makna yang berarti dengan pantulan cahaya yang cantik
dan memukau. Seolah aku ingin menari bersamanya didalam segarnya air tapi
kusadari bahwa kecocokan dengan air sangatlah kecil dan tidak akan kulakukan
hal yang membuatku akan mati dalam sekejap karena cerita ini harus ada yang
menyelesaikannya. Menyelam dipinggiran sungai, menjaring ikan untuk mendapatkan
uang dihari lebaran dan menjual kue sudah kulakukan ditempat ini. Keluarga yang
telah dipisahkan dengan kepala keluarga tentu membaut mereka menjadi lebih kuat
dari kami yang diberikan hak lebih lama dibandingkan mereka.
Disini juga aku belajar arti
mengenal budaya dan cara mereka hidup sebagai seorang yang memiliki jenis darah
yang berbeda. Tapi tidak ada yang mainstream selain memang nyaris tidak kutemui
ada orang yang berpuasa dikota ini. 5 hari (14-18 juni)aku dikota ini dan
kurasakan sudah waktunya melanjutkan perjalanan untuk melanjutkan cerita agar
sedikit lebih panjang dari biasanya. Aku belajar bagaimana hidup menjadi
minoritas dan makhluk asing ditempat ini
tanpa menarik perhatian tapi aku mendapatkan perhatian mereka semua. Semua itu
hanyalah proses hidup didunia yang sepertinya adil ini.
Sintang
Siang itu aku sudah prepare untuk
melanjutkan kekota berikutnya. Meski tanpa ada sebuah tanda aku akan diterima
baik dikota ini. Tapi show must go on
dan aku harus tetap berjalan meski aku tidak tahu didepan aku akan mengalami
apa. Karna sudah biasa ku temukan hal seperti ini. Inilah pelajran sesungguhnya
yang menguras pikiranku “teruslah percaya
sekalipun tidak mungkin untuk percaya dengan keadaan yang disediakan. Namun
selalu ada cara ajaib tuhan untuk menjawab semua keyakinan itu”. Benar
adanya aku satu hari terlantar dikota ini tanpa arah dan tujuan yang jelas.
Mereka yang tadinya memintaku datang malah mengabaikan apa yang mereka ucapkan
sendiri. Kesibukan memaksa mereka melupakan janji yang mereka buat sendiri
tanpa sebuah paksaan. Tapi biarlah semua memang seperti ini cerita yang harus
diceritakan. Sore itu (19 juni) menunggu bus yang akan mengantarku ke kota
selanjutnya. Kota yang mungkin akan memiliki cerita yang berbeda dengan kota
yang lain tentunya.
Singkawang
Pagi ini adalah pagi pertama
kurasakan hujan setelah sekian lama (20 juni). Hanya berselang beberapa menit
setelah aku turun dari bus dan tanpa ku tahu aku harus kemana dan menemui siapa
karena ku tidak bisa menghubungi siapapun dikala itu. Hujan deras memaksaku
memesan secangkir kopi hangat daripada tidak ada yang membuatku bertahan dari
dinginnya suasana diterminal kota amoi. Amoi adalah gadis keturunan cina yang
beranjak dewasa dan belum menikah atau telah menikah itu disebut amoi. Tapi
kata amoi memiliki persepsi lain dikota ini. Amoi persepsi lain adalah sama
dengan mereka yang kutemui di kota badau saat perjalananku kali ini.
Dia yang
menjadi kontak terakhir dari hp sejuta umat mungilkulah yang menjemputku dari
rinainya hujan yang mengguyur kota ini setelah sekian lama. Sejenak
membersihkan diri dan mengisi perut lalu aku beranjak ke tempat yang dijanjikan
dia yang menjadi saudaraku selama dijogja. Ikatan yang terjalin dalam pendakian
dan perjuangan mempelajari ilmu kehidupan bersama alam pulau jawa telah kami
tempuh ber SKS tanpa kami melewatkan jadwal remidi untuk mengulanginya kembali.
Berulang kami mendatangi kelas (bacanya gunung) yang sama hanya untuk merasakan
hal yang sama meski kami tak pernah menemukan kesamaan rasanya. Kenangan yang
tercipta disetiap pendakian membuatku mengerti bahwa moment adalah hal unik
yang tidak akan terulang meski kita berulang kali melakukannya.
Dikota
ini aku menyelesaikan misiku, pantai dan menelusuri sisi barat pulau ini.
Dikota inilah terjawab dari rasa percaya yang kupertahankan untuk tetap pergi
tanpa kepastian yang nyata. Setidaknya dari sekian banyak yang berjanji masih
ada mereka yang tulus memenuhi janjinya bukan karena terpaksa namun karena itu
adalah yang seharunya dilakukan karena mereka mengerti bahwa seseorang tidak
akan pernah mampu hidup sendiri (bukan berarti aku mampu hidup sendiri).
Berjalan
dari satu tempat ke tempat lain yang bisa kudatangi setiap hari. Mendapatkan
sebuah cerita yang tak mungkin kuselesaikan sendirian (20-24 juni). Ingin
sebenarnya lebih lama disini namun apa daya semua akan ada masanya untuk
menghabiskan sisa-sisa puing yang masih ditinggalkan berserakan. Selalu ada
cara untuk kembali ketempat yang telah ditancapkan bekas diri
Sambas
Kota yang
kusinggahi karena berada dikota sebelumnya mengantarku menapakkan kaki dikota
ini. Kota yang bagus dan disini juga aku menemukan keluarga baru seperti semua
kota yang kusinggahi sebelumnya. Disini aku terpaksa berkelana menyebrangi
sungai untuk sekedar menghindari kempunan (kesialan karena tidak mendapatkan
sesuatu yang sudah didepan mata). Tidak banyak yang bisa kuceritakan karena
hanya 12 jam aku dikota ini lantas kembali kekota sebelumnya.
Sintang
Part II
Perjalanan
kembali selalu memberikan arti lebih karena kemanapun kita pergi maka tidak ada
gunanya jika kita tidak mampu kembali. Setinggi apapun kita mendaki tidaklah
berarti jika kita tidak mampu turun untuk kembali kerumah dengan selamat.
Sejauh apapun kita merantau maka tidak berguna jika kita tidak dapat kembali
kekampung halaman dengan senyuman. Sebanyak apapun kita mengumpulkan harta dan
tahta tidaklah berkilau jika kita tidak dapat menggunakannya dengan bijak.
Disini aku mendapatkan respon yang lebih baik dari sebelumnya sehingga aku bisa
tinggal lebih lama dari yang sebelumnya (25-26 juni). Ditempat ini aku belajar
berdagang dipasar dan mendapat sebuah pelajaran hidup. Mengapa kita membatasi
mimpi menjadi seorang yang nantinya menjadi bawahan orang lain. Kenapa kita
melebihi batasan itu untuk dapat menjadi bosny? Adakah diantara kalian yang
saat kecil diajarkan untuk menjadi pemiliki pesawat atau pemilik rumah sakit?
Tentu TIDAK jawabnya. Kalian pasti diminta untuk menjawab menjadi dokter atau
pilot. Pelajaran yang hanya kudapatkan didalam pasar yang terbakar beberapa
tahun lalu. Membakar sate dipagi buta, tidak ada tempat bermain lagi hanya
tersisa wajah sayu yang mencoba bertahan dalam keterbatasan yang diberikan
sebagai belas kasih pemerintah daerah. Disinilah bagian istimewanya dimana
perjalanan dari kota ini kekota selanjutnya menjadi jawaban atas rasa sabar
yang dilakukan seorang manusia.
Aku tidak
mendapatkan bus untuk minggu pagi (26 juni) lantas kuputuskan menunggu bus
malam. Aku tiba ditempat bus malam biasa berhenti namun saat aku datang bus itu
telah pergi, ingin rasanya kukejar namun biarlah mungkin itu bukan jodoh.
Mengejar sesuat yang telah pergi sama halnya mengikat dia yang bukan jodoh.
Sia-sia dan bukan yang terbaiklah yang menjadi keadaan. Bus berikutnya datang
dikala tegukan kopi terakhirku dan kurasa aku siap melanjutkan perjalanan. Tapi
tak ada lagi yang dapat kududuki didalam sana dan hanya tersisa atap yang
terbuka jika ingin tetap melanjutkan perjalanan saat itu. Tidak ada pilihan
lain dan tidak menjamin yang berikutnya akan memberikan yang lebih baik dari ini.
Dan hari sudah mulai larut, so disinilah semua bermula.
Bus yang
tadi meninggalkanku mengalami pecah ban dan menabrak tiang listrik. Didalam
sana ada seseorang yang kukenal dan sudah ku anggap kakak sendiri dinegara baru
yang aku singgahi ini selama 2 tahun. Bersyukur aku tidak berada didalamnya
akibat memaksakan untuk mengejar sesuatu yang telah pergi meninggalkanku. Tapi
dingin ini memang jauh lebih baik jika kita mampu mensyukuri semua yang terjadi
disini.
Putussibau
Masih
ingat dengan teori yang pertama ku sampaikan tentang rasa percaya? Pasti akan
terbalas tidak pernah kurang, pasti cukup dan bahkan lebih yang diberikan untuk
kita. Dikota terakhir sebelum aku kembali ke lokasi disini aku mendapat
bonusnya (27-29 juni). Mendapatkan keluarga bule dari perancis membuka jalan
untukku dan temanku untuk mengenal internasional. Temanku yang melanjutkan
studi akan punya teman baru dan aku akan punya cerita baru. Aku membantu
menyiapkan segala keperluannya untuk berangkat ke Tanjung Lokang sebuah hutan
yang masih natural dan belum terekspose secara langsung. Butuh 2 hari
perjalanan untuk sampai ke sana menggunakan perahu bermesin dan butuh 8 hari
untuk menembusnya sampai dengan mahakam, kaltim. Max dan Pierre adalah
mahasiswa berumur 21 dan 23 tahun. Banyak kelucuan yang tercipta dimana aku dan
mereka sama-sama tidak fasih berbahasa inggris. Dan sambil menunggu
keberangkatan mereka aku diminta mengantar mereka ke salah satu air terjun
tersembunyi disini. Butuh 1 jam jalan kaki dengan melewati 3 aliran sungai yang
deras dengan ketinggian sepinggang. Sebuah perjuangan ditengah hujan yang
memaksa kami terus berjalan karena tidak mungkin menunggu reda dan membuat baju
kering kembali tanpa adanya matahari. Hujan terus mengguyur sepanjang
perjalanan kami hingga sampai di air terjun. Motor bahkan setengah tenggelam
untuk mencapai desa terakhir untuk mengurus perijinan dan menitipkan kendaraan
kami. Puas dan bahagia tentulah kurasakan karena atas semua yang kurasakan
dalam ketidakpastian itu membuatku bersabar dan terus percaya hingga
menghadirkan sebuah balasan yang jauh lebih dari cukup untuk sebuah pemberian
dalam bentuk sabar itu sendiri
“kita hanya bisa mendapatkan puncak jika kita bersabar
dan
terus berjalan mendakinya.
kita
hanya bisa mendapatkan hal baru
jika
kita keluar dari hal lama yang kita miliki.
dan
kita hanya bisa membuat cerita baru
jika
kita berani membuang waktu untuk sekedar mencari arti kepuasan diri”
(ogikun,
2015)
