Sabtu, 10 Januari 2015

Akan Terjadi Nanti

Rasa rindu yang lama tak terobati
Rasa kangen yang kian menjadi
Rasa sayang yang tak perlu dikatakan
Rasa cinta yang tak perlu diceritakan

Kita bertahan untuk sebuah kebersamaan
Kita melangkah untuk sebuah kesamaan
Kita berpegangan untuk sebuah kekeluargaan
Suka cita tangis air mata kita alami bersama dalam satu pelukan

Kita tidak pernah tahu bahwa semua akan berbeda
Berjalan dijalan yang sama
Menempuh proses yang sama
Tapi tiba diujung yang berbeda

Adakah yang salah dengan proses kami?
Adakah yang keliru dengan apa yang kami alami?
Benarkah semua memang takdir
Atau angin yang menyimpangkan tujuan kami

Diperjuangkan atau memperjuangkan terkadang menjadi sebuah dilema. Disaat semua sedang berproses untuk menetapkan sebuah tujuan yang telah ditentukan dihari yang lalu. Aku, dia, kami dan kita adalah sekumpulan manusia yang memiliki tujuan yang sama dikala itu. Tapi semua ternyata berubah seiring waktu yang terus berjalan kedepan tanpa pernah peduli apa yang dilewatinya.

Terbuat dari apakah dirimu? Setahu aku kita terbuat dari bahan yang sama jika berbicara tentang Sang Khalik tapi yang membedakan hanyalah dari rahim siapa dan bagaimana latar belakang keluarga kita. Aku tak pernah mendapatkan semua yang kuinginkan sekalipun aku menangis darah karena aku tak membutuhkannya. Sama halnya denganmu yang menangis tentang hal yang sama namun air mata itu tak akan pernah keluar karena orang tuamu tak ingin melihatnya terjatuh begitu saja karena mereka sadar akan kehadiranmu yang istimewa, menjadi penutup dalam keluargamu. Kesempurnaan dalam keluarga yang mencukupkan apa yang mereka miliki hingga saat ini.

Hanya sebuah ketidaktahuan akan rasa susah yang tak pernah kau miliki. Semua yang kau butuhkan selama hidup telah dipersiapkan disampignku setelah mereka mendengar tangis pertamamu. Rasa iri atau takdir akan perbedaan nasib setiap manusia menjadi ironi disana. Akankah sebuah pilihan bisa dijadikan sebauh ikatan yang akan selalu dipegang hingga nanti?

Terlalu sering mengurusi orang lain hingga lupa bahwa ada manusia yang perlu diurusi melebihi orang lain yaitu dirinya sendiri. Semua yang terjadi memang bukan selalu yang diinginkan akan tetapi semua yang terjadi adalah yang dibutuhkan. Saat suara tak lagi didengar oleh sepasang telinga maka yakinlah masih banyak jutaan pasang telinga. Saat mata tak mampu mengenali apa yang ingin ditunjukkan maka yakinlah bahwa itu bukan sebuah pura-pura untuk mencari sebuah alasan untuk pembenaran yang dilakukannya.

"Aku meyakini apa yang kusepakati, apa yang kukatakan, apa yang kudengar
dan apa yang kulihat dari indera yang sama denganmu. Tapi aku tidak berfikir hal yang sama denganmu karena mungkin cara kita menerimanya yang berbeda"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar