Rabu, 26 Februari 2014

Kalian Temanya

Semalam jogja terasa dingin sekali apalagi dibumbui rintik hujan yang tak kunjung berhenti bermain di langit langit. Tak terasa sudah berjalan 5 tahun aku ada disini bersama dengan kalian yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Terbang dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk belajar mengenali kalian, mencoba bersanding dengan kalian dan memantaskan diri untuk berjalan dengan kalian.

Kalian adalah makhluk ciptaan Tuhan
Sama denganku juga sama dengan mereka
Tapi kalian berbeda dengan mereka
Meski kalian dan mereka adalah yang terbaik diantaranya

Ntah kenapa kalian adalah yang ingin ku bahas
Ingin ku kobarkan cerita tentang kalian
Agar mereka mengenal kalian
Meski mereka tak melihat wajah kalian

Saat kita berhenti menerima keberadaan seseorang yang baru
Saat itulah dunia kita akan berakhir
Kita tak akan terkurung dalam sempitnya tembok tembok
Yang bahkan kita akan lupa bahwa snar matahari itu ada

Terkadang kita menggunakan pikiran kita bukan untuk berhubungan dengan orang lain
Melainkan untuk menyatakan siapa diri kita dimata orang lain
Terkesan angkuh dan sombong
Padahal apa yang kita punya bukanlah sesuatu yang mutlak (padahal hanya pemberian Tuhan)

Mencoba untuk mengerti bukanlah sebuah hal yang mustahil
Aku juga tak bilang ini adalah hal mudah
Saat kita mengerti siapa diri kita
Kita juga bisa mengerti orang lain

Dia yang tidak mengerti orang lain
Belum tentu dia egois atau apalah kalian menyebutnya
Dia hanya belum menemukan rasa yang pas
Dan kalian tak bisa melihat dari dekat

Keterbatasan mata manusia adalah melihat yang dekat
Melihat terlalu jauh kedepan yang sering disebut khayalan 
Yang dekat juga tertutup dengan yang terlihat
Meski yang terlihat belum tentu sebuah kebenaran

Bukan sebuah kebenaran yang ada disana
Jika kita melihat dengan kebenaran
Melainkan sebuah kepalsuan belaka
Layaknya sulap yang ditutupi hiasan mata

Sejenak kuingin mengabadikan kalian dalam sebuah memory
Agar kelak akan ada yang kuingat untuk sisa hidupku
Meski selalu ada tempat istimewa untuk kalian di hati ini
Karena kalian adalah bagian dari hidup ini

Selasa, 25 Februari 2014

Mulai Lupa

Semua rasa ini kian memuncak
Semua keluhann kian menumpuk
Semua rasa ini mulai membludak
Semoga semua masih bisa pada jalannya

Mulai disibukkan dengan apa yang disebut tuntutan
Mulai diracuni dengan apa yang disebut keterpaksaan
Dan semua itu kulalui karena kalian
Alasan terbaik untuk terus berjalan

Banyak yang bilang berbeda
Banyak yang bilang berubah
Banyak yang tak percaya
Banyak juga yang tak peduli

Tapi bukan sebuah alasan untuk berhenti
Kembali pada apa yang tidak seharusnya
Karena hidup bukan berjalan mundur
Layaknya sebuah timer yang dihitung terbalik

Bertemu dengan kalian dimasa lalu
Bertemu dengan kalian yang baru dismasa ini
Bertemu dengan kalian yang nanti dimasa depan
Adalah sebuah takdir

Tak ada yang perlu disesali
Karena kalian dimasa lalu, masa ini dan masa depan
Adalah yang terbaik yang pernah ada
Yang terbaik yang pernah diberikan (meski belum semua)

Belajar untuk menerima dengan logika
Meski terkadang sering merasa aneh
Karena tidak semua bisa dipikirkan dengan layak
Keterbatasan pikiran seorang manusia ternyata nyata

Terkadang kita percaya
Atas apa yang kita lihat
Tanpa pernah mengerti lebih jelas
Dan memujanya layaknya dewa

Apa yang tak pernah diasah akan tumpul
Apa yang tak pernah ditulis akan lupa
Apa yang tak pernah disapa akan menghilang
Dan semua akan terlambat saat kita menyadarinya

Kamis, 20 Februari 2014

Belum Layak (Saya)

Sedari tadi mentari masih mengintip dibalik ventilasi kampus tercinta.
Bangun sedikit terlambat dari seharusnya meski tak kujung terlambat masuk kuliah.
Berkutat dengan keyboard untu beberapa jam kedepan, tak ku sangkali bahwa aku menyukainya
tapi bosan pasti akan datang ntah itu cepat atau lambat.
Bagian terbaik dari skenario Tuhan adalah mendapatkan yang diinginkan.
Menghujat, mencaci, memaki adalah pilihan dari manusia untuk mengekspresikan apa yang dia rasa
akibat apa yang diinginkan tidak menjadi kenyataan.

Lama tak menyapamu
Hingga terkadang aku terlambat menyadari kehadiranmu
Lama juga tak melihatmu
Ntah peduli atau tidak sudah tak berbeda

Bencana itu masih jelas berasa
Baik bentuk, bekas dan ceritanya
Hanya sekedar mengingat kembali
Bukan berarti pernah melupakan

Ntah apa yag dirasa saat ini
Ingin sekali memeluknya
Meski tangan tak mampu menyentuhnya
Doa akan selalu menyelimutinya

Me review atau mengulas kembali
Sejenak mengingat kembali
Mengenang apa yang baru saja berlalu
Seolah menyapa dan tegur menegur

Memang tak akan ada yang terlupa
Mungkin sejenak mengendap dipermukaan
Tapi tak ada yang benar benar hilang
 Sekali pun itu rasa sakit

Rasa sakit dan bahagia tak ada yang berbeda
Sama sama memberikan warna dalam kertas hidup kita
Tak masalah apa itu benar atau salah
Karena kita hidup dalam pilihan

Belajar tentang kelayakan
Sudahkah kita layak
Sudahkah mereka layak
Jika boleh jujur jawabnya tidak kawan

Diri sendiri bukanlah parameter untuk menjawabnya
Orang lain juga bukan acuan sebuah patokan
Lantas siapa yang layak menjadi patokan?
Dia yang membuatmu lebih baik dan lebih berguna

Sejauh apa kita sudah jadi lebih baik
Sejauh mana kita sudah menjadi berguna
Tak ada batasan untuk semua itu
Dan tak ada batasan untuk terus melampauinya

Teruslah berusaha menjadi lebih layak untuk hidup
Hidup bukan karena takut mati
Tapi hidup karena kita memilihnya
Memilih berguna untuk orang lain dengan hidup

Senin, 10 Februari 2014

Ini Jalanku (katanya)

Sebuah aturan yang tak perlu dituliskan
Tidak perlu juga untuk dijelaskan
Cukup sekedar dipikirkan
Dan dirasa untuk kita yang punya hati

Mataharipun terkadang datang terlambat
Tapi dia pasti akan datang
Tak semua berjalan mulus
Tapi kewajiban membuatnya bertahan

Terkadang kita lupa kenapa dan untuk apa
Karena kita menganggapnya hanya formalitas
Bukan sebuah panggilan hati
Apa lagi menjadikannya sebuah tanggung jawab

Hanya mengikuti yang banyak orang lakukan
Ntah itu benar apa salah
Karena banyak maka dianggap benar
Atau tak ada lagi salah yang dibenarkan

Aku tak perlu sejajar dengannya
Aku tak perlu lebih tinggi darinya
Aku tak perlu lebih rendah darinya
Aku hanya perlu sampai pada tujuan yang sama dengannya

Paradigma dan mindsetku telah bergeser
Aku tak harus berjalan bersamanya
Begitu banyak jalan yang disiapkan
Aku hanya harus menemukan jalanku sendiri

Jika memang jalanku melintas dijalannya
Bukan berarti aku mengikutinya
Takdir yang mengarahkannya
Dan aku hanya tinggal mengikutinya

Ikuti saja yang menurutmu benar
Bukan menurut orang lain
Karena mereka tak akan bertanggung jawab akan itu
Karena mereka hanya mengikuti orang lain

Sabtu, 08 Februari 2014

Salah Fokus (Hujan)

Hujan masih bersama kita semua
Dia menyita waktu kita sekarang
Karena kahir-akhir ini kita disibukkan
Melupakan dan mengabaikan keberadaannya

Memang kita dipaksa fokus akan satu hal
Tapi memilih tidak fokus adalah pilihan
Sejenak merenung dan berharap
Tentang sebuah kejadian dimasa depan

Tak ada yang salah soal mengkhayal
Tak ada yang aneh tentang bermimpi
Tak ada yang benar juga tentang semua itu
Yang benar hanya ada dilangit kalo kata GIE

Hujan selalu punya alasan untuk bersama kita
Dia bisa datang kapanpun dia mau
Kapan pun dia rindu
Dan hanya dia dan tuhan yang tahu alasan pastinya

Jangan pusingkan apa yang belum terjadi
Karena surprise tak lagi menjadi kejutan
Dan tak ada yang menarik esok
Hidup tak lagi menyenangkan

Misteri esok membuat kita ingin hidup
Bukan sekedar takut mati dan takut tak berarti
Setiap manusia terlahir untuk berarti
Tidak harus untuk orang banyak (min ortu lah)

Melihat akan banyak orang yang kutemui
Membuat keinginan untuk tetap hidup semakin ada
Karena ku yakin kalian melihat apa yang tak kulihat
Karena ku tahu kalian memiliki apa yang tak kumiliki

Tetapi kenapa hanya hal baik saja yang ditunjukkan
Dan yang buruk seolah ditutupi begitu rapat
Tidak ada hal baik tanpa ada hal buruk
Tak ada yang menjadi pembeda diantaranya

Ibarat dua sisi mata uang
Tak bisa dipisahkan dan dijauhkan
Dimana ada yang suka pasti ada yang tidak
Semua hanyalah siklus yang bergulir

Apa yang buruk aja bisa diterima darimu
Apalagi hal baik yang kamu miliki
Tapi tidak berlaku sebaliknya
Dan buanglah mereka yang hanya setengah memandangmu

Selasa, 04 Februari 2014

Ini Mau Ku

Suasana malam kota jogja
Saat dimana hati gundah gulana
Dia yang ditunggu tak kunjung datang
Malah pergi tanpa memberi kabar

Emas yang berkilau dalam batu
Apa dia masih menjadi emas
Atau menjadi batu seperti lingkungannya
Hanya dia dan tuhan yang tahu

Apa yang bisa dilakukan saat dia memilih bertahan disana
Dan menyalahkan kita yang tak membantunya keluar dari sana
Apa yang bisa dilakukan saat bukan kita yang diinginkan
Dan menyalahkan kita atas apa yang menimpanya

Egoiskah
Salahkah
Benarkah
Atau sudahlah

Sadarkah bahwa kita adalah hal terbaik yang dia punya
Tapi sayang dia tak berfikir seperti itu
Kita memang tidak memberikan kebaikan diatas kertas
Tapi kita memberikan semua yang baik lebih dari secarik kertas

Kita bisa berubah jadi apapun yang kamu butuhkan
Tapi kita tak akan berpalsu ria dengan itu
Kita akan tanggung apa yang kita ucapin
Kita tak akan meninggalkan mu sendirian

Sekalipun kamu menginginkan
Sekalipun kamu memintanya
Kami mengerti karena kami pernah merasakannya
Bukan karena sebuah keadaan yang menakdirkan kita

Aku tahu dirimu jenuh akan semua ini
Begitupun dengan kami
Tapi kami tahu bahwa saat ini kamu tak sadar
Dan akan menyesal dikemudian hari

Hasil akhir bukan sesuatu yang perlu disesali
Karena itu adalah takdir
Kita hanya ingin merubah takdir itu
Tapi hal itu tak akan mungkin tanpa campur tangan mu dan TUHAN

Takdir tak akan berubah
Jika bukan dia yang punya takdir yang merubahnya
Dan itu yang kita ingin realisasikan
Bukan sekedar ucapan tanpa suara

Apa Itu Benar?

Aku adalah emas dalam batu
Berkilau tanpa mampu mengkilaukan
Berharga tanpa bisa menunjukkannya
Apa memang aku tak berharga

Perasaan itu kian nyata
Karena tak ada suara yang pernah ku dengar
Seolah semua menghindar
Atau memang mulai menghilang

Aku ingin lepas dan berharga
Aku ingin membentuk diriku sendiri
Aku ingin dipandang dari dekat
Sama seperti kalian semua

Terkadang rasa iri itu datang
Tak jarang rasa sepi itu mampir
Terkadang rasa takut itu datang
Tak jarang pula rasa ini semakin tak dimengerti

Tapi aku tak bisa
Aku menunggu sang waktu membelai kilauku
Tapi aku juga tak ingin
Selamanya terjebak didalam sini

Aku ingin melihat mentari
Aku ingin melihat rembulan
Aku ingin mendengar suara ombak
Aku ingin berbaring dipadang rumput

Dari sini aku bisa mendengar
Dari sini aku bisa melihat
Dari sini aku bisa merasa
Namun semua itu hanya persepsiku

Mungkin aku tidak seberuntung kalian
Untuk kehidupan yang kudapatkan
Tapi kalian juga belum tentu seberuntung diriku
Untuk kehidupan yang tak kalian rasakan

Rumput tentangga memang lebih hijau
Karena rumput kita terasa gersang
Bukan berarti rumput tetangga lebih baik
Bersyukur adalah solusi terbaik yang bisa ku sampaikan

Kita selalu punya pilihan soal hidup
Kita selalu punya hati untuk membantu memilih
Kita selalu punya otak untuk membantu berfikir
Kita selalu punya mereka yang percaya pada apa pilihan kita

Sabtu, 01 Februari 2014

Pantulan Cermin

Siang yang panas disaat matahari begitu semangat
Semangat ini pun tak kalah dengannya
Hanya rasa bosan dan kesepian yang melanda
Hingga enggan beranjak dari apa yang dibuat tidur

Sedikit tergugah saat pantulan cahaya mendarat dimuka
Sedikit cahaya masuk melalui ventilasi
Terpantul cermin yang terpapang ditembok
Seolah memaksa untuk dilirik

Terlihat dari kejauhan
Apa yang ada disana
Adalah pantulan nyata bentuk obyeknya
Apakah itu juga yang ada saat kita yang bercermin

Terkadang kita sering nyuruh orang bercermin
Tapi kita tak pernah liat cermin mana yang digunakan
Hanya menuntut benar tanpa menunjukkan yang benar
Hanya bisa menyalahkan tanpa bisa meluruskan yang salah

Seolah tak peduli dengan apa yang orang katakan
Seolah tak perlu bersanding dengan mereka
Manusia yang merasa paling benar
Manusia yang merasa paling hebat

Aku hanya peduli dengan diriku
Mereka yang menganggapku saudara
Mereka yang menggapku teman
Bahkan mereka yang menghargai orang lain

Memang tak lagi banyak jumlah orang seperti mereka
Sulit untuk ditemukan bukan berarti sulit untuk dilakukan
Mereka pasti ada disuatu tempat diluar sana
Mereka tak akan datang sendiri atau Tuhan menjatuhkan dari langit

Cermin masih menyilaukan mata
Memaksa mata tuk sedikit menolehnya
Apa yang ingin dia tunjukkan
Apa yang ingin aku ketahui darinya

Sebelum berbicara tentang orang lain
Lihatlah dirimu, apakah dirimu berbeda dengannya
Lantas apa kata itu pantas kamu ucapkan padanya
Apa diri itu sudah layak melakukannya (kata cermin)

Beda atau sama bukanlah hal penting
Begitu juga dengan pantas atau tidaknya seseorang berucap
Yang lebih penting adalah cara mengatakannya
Karena mencela tanpa solusi adalah PALSU

Manusia terlahir dengan keistimewaan masing-masing
Jangan ada yang disamakan apa lagi wanita
Tapi mereka bisa menjadi sama sama istimewa
Bukan diistimewakan dengan cara yang sama