Sabtu, 01 Februari 2014

Pantulan Cermin

Siang yang panas disaat matahari begitu semangat
Semangat ini pun tak kalah dengannya
Hanya rasa bosan dan kesepian yang melanda
Hingga enggan beranjak dari apa yang dibuat tidur

Sedikit tergugah saat pantulan cahaya mendarat dimuka
Sedikit cahaya masuk melalui ventilasi
Terpantul cermin yang terpapang ditembok
Seolah memaksa untuk dilirik

Terlihat dari kejauhan
Apa yang ada disana
Adalah pantulan nyata bentuk obyeknya
Apakah itu juga yang ada saat kita yang bercermin

Terkadang kita sering nyuruh orang bercermin
Tapi kita tak pernah liat cermin mana yang digunakan
Hanya menuntut benar tanpa menunjukkan yang benar
Hanya bisa menyalahkan tanpa bisa meluruskan yang salah

Seolah tak peduli dengan apa yang orang katakan
Seolah tak perlu bersanding dengan mereka
Manusia yang merasa paling benar
Manusia yang merasa paling hebat

Aku hanya peduli dengan diriku
Mereka yang menganggapku saudara
Mereka yang menggapku teman
Bahkan mereka yang menghargai orang lain

Memang tak lagi banyak jumlah orang seperti mereka
Sulit untuk ditemukan bukan berarti sulit untuk dilakukan
Mereka pasti ada disuatu tempat diluar sana
Mereka tak akan datang sendiri atau Tuhan menjatuhkan dari langit

Cermin masih menyilaukan mata
Memaksa mata tuk sedikit menolehnya
Apa yang ingin dia tunjukkan
Apa yang ingin aku ketahui darinya

Sebelum berbicara tentang orang lain
Lihatlah dirimu, apakah dirimu berbeda dengannya
Lantas apa kata itu pantas kamu ucapkan padanya
Apa diri itu sudah layak melakukannya (kata cermin)

Beda atau sama bukanlah hal penting
Begitu juga dengan pantas atau tidaknya seseorang berucap
Yang lebih penting adalah cara mengatakannya
Karena mencela tanpa solusi adalah PALSU

Manusia terlahir dengan keistimewaan masing-masing
Jangan ada yang disamakan apa lagi wanita
Tapi mereka bisa menjadi sama sama istimewa
Bukan diistimewakan dengan cara yang sama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar