Kamis, 20 Februari 2014

Belum Layak (Saya)

Sedari tadi mentari masih mengintip dibalik ventilasi kampus tercinta.
Bangun sedikit terlambat dari seharusnya meski tak kujung terlambat masuk kuliah.
Berkutat dengan keyboard untu beberapa jam kedepan, tak ku sangkali bahwa aku menyukainya
tapi bosan pasti akan datang ntah itu cepat atau lambat.
Bagian terbaik dari skenario Tuhan adalah mendapatkan yang diinginkan.
Menghujat, mencaci, memaki adalah pilihan dari manusia untuk mengekspresikan apa yang dia rasa
akibat apa yang diinginkan tidak menjadi kenyataan.

Lama tak menyapamu
Hingga terkadang aku terlambat menyadari kehadiranmu
Lama juga tak melihatmu
Ntah peduli atau tidak sudah tak berbeda

Bencana itu masih jelas berasa
Baik bentuk, bekas dan ceritanya
Hanya sekedar mengingat kembali
Bukan berarti pernah melupakan

Ntah apa yag dirasa saat ini
Ingin sekali memeluknya
Meski tangan tak mampu menyentuhnya
Doa akan selalu menyelimutinya

Me review atau mengulas kembali
Sejenak mengingat kembali
Mengenang apa yang baru saja berlalu
Seolah menyapa dan tegur menegur

Memang tak akan ada yang terlupa
Mungkin sejenak mengendap dipermukaan
Tapi tak ada yang benar benar hilang
 Sekali pun itu rasa sakit

Rasa sakit dan bahagia tak ada yang berbeda
Sama sama memberikan warna dalam kertas hidup kita
Tak masalah apa itu benar atau salah
Karena kita hidup dalam pilihan

Belajar tentang kelayakan
Sudahkah kita layak
Sudahkah mereka layak
Jika boleh jujur jawabnya tidak kawan

Diri sendiri bukanlah parameter untuk menjawabnya
Orang lain juga bukan acuan sebuah patokan
Lantas siapa yang layak menjadi patokan?
Dia yang membuatmu lebih baik dan lebih berguna

Sejauh apa kita sudah jadi lebih baik
Sejauh mana kita sudah menjadi berguna
Tak ada batasan untuk semua itu
Dan tak ada batasan untuk terus melampauinya

Teruslah berusaha menjadi lebih layak untuk hidup
Hidup bukan karena takut mati
Tapi hidup karena kita memilihnya
Memilih berguna untuk orang lain dengan hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar