Matahari kian meninggi dan aku belum menemukan mood dikampus ini, heeeeeeeeeeeeeeeeeeh ntah apa yang ku rasakan, ntah apa juga yang kupikirkan. Semakin ku pikir maka semakin ku tak pernah mengerti apa yang ku pikirkan. Sama dengan mencari apa yang tak dimengerti, mana kuliahnya lagi boring lagi pas lah sudah. Mulai mengerti arti mengapa banyak mahasiswa yang hanya peduli absen dan mahasiswa yang mengejar nilai untuk ditunjukkan pada orang tuanya, meski mereka belum tentu bisa mempertanggung jawabkan nilai itu nantinya.
Allah akan mengangkat beberapa derajat orang-orang yang berilmu
Namun akan mengangkat lebih bagi yang mengaplikasikannya
Perut mulai berdering dengan irama nada handphone yang meminta untuk diisi, ku tengok arah jam dan terlihat jam kuliah tinggal 15 menit lagi. "Sabar yah, bukan km aja yg tersiksa, ane juga lapar om" ku serukan pada perutku. Mulai memikirkan menu makanan dan sama siapa yah?? masa ama cowok mulu, kayaknya sekali-klai perlulah sama cewek nih. Biar ndak dikira homo, ku ambil Hp dan ku cari siapa yang kira2nya bisa diajak makan, di random wae wes kalo gitu
"Posisi dimana??" SMS ku kirim
"Kost pie??"
"Kuliah jo"
"Rumah"
"Kantin, sini aja "
Variasi yah balasannya, dan yah kebetulan yang dikantin ada jadi ya bisalah buat temanin makan. Peduli orang ntar mau ngomong apa, aku dah lapar.
Akhirnya jam berakhir dan aku langsung menuju kantin, ntah perasaan aku aja apa memang hal ini benar. Via telah menunggu disana dan menatapku dengan senyum-senyum ndak jelas hingga saat aku mendekat maka semua mata penghuni kantin menatapnya hingga penjaga kantin pun ikutan. Serasa aneh aja gitu, ini orang kenapa??? batinku.
"G da kuliah po?? kok udah disini?" tanyaku
" Tadi udah kok tapi cuma bentar aja dan ntar lanjut lagi" jawab Via
"Oh, yo wes tak pesan makan, Kau dah makan belum?" mencoba menawarkan
"Udah kok, ini piringnya aja masih disini" tolaknya
Ada yang aneh padanya dan aku g peduli karena aku lapar jadi enggan berfikir lebih keras dari biasanya. Hanya seporsi nasi kuning dengan ayam dan es teh aja, menu sarapan siang hari ini, dan sesekali kulihat si Via yang senyum-senyum ndak jelas juga.
"Kamu kenapa toh?? kok senyam senyum ndak jelas gitu." lagi sakit po??" tanya ku
"Mana da orang sakit senyum-senyum, LALALALALALALALAL" jawabnya aneh
"Jatuh cinta po?? apa habis ditembak orang (dinyatakan cinta lho bukan di bedil)??" timpalku
"HAHAHHAHAA, ya begitulah. Dan orang itu ada disini!!!" jawabnya
"Mana-mana??*clingak-clinguk mencari sosok yang di maksud"
Nafsu makanku udah hilang tapi ku terusin aja makannya karena takut mubazir. Tak peduli apa yang dikatakannya karena memang bukan aku, tapi Dia yang disana yang ntah anak mana dan seperti apa rupanya. Jatuh cinta adalah proses mengenali wujud tulang rusuk yang Allah ambil dari kaum adam. Tak ada yang salah dengan proses itu. Namun, kenapa aku cemburu atas apa yang tak aku miliki??? Mungkinkah ini???
# 3 hari kemudian'
Malam yang tenang dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang berubah sedikit saat kereta melintas didepan ku. Di samping rel kereta tua, tempat biasa ku habiskan penat, ku gantungkan masalah pada kereta yang melintas agar tersesat bersama kereta lewat. Atau ku lukis di langit malam agar segera menghilang saat pagi menjelang. Manusia tak pernah lepas dari masalah selama hidupnya, g tau juga saat ia mati karena aku belum pernah merasakan apa itu mati. Kupesan sebuah Kopi susu ABC (bukan promosi) karena pahit dan manis akan seimbang jika takarannya pas. tiba-tiba bermunculan SMS menanyakan lokasiku, 3 buah SMS menanyakan hal yang sama, salah satunya juga Via "Posisi dimana??". "Ngupi di rel" balasku singkat ke semuanya.
Tak ada alasan khusus
Tak ada tujuan modus
Untuk aku menyukai
Untuk aku merasa nyaman
Tak harus mewah
Tak harus besar
Tak harus mahal
Yang penting ikhlas
Ditempat ini
Aku merasa kedamaian
Meski bukan hanya aku
Tapi ini adalah tempatku
Tempat aku mengenalmu
Tempat aku mengertimu
Tempat aku menggambarmu
Meski dalam sebuah kertas usang
Jika orang memaknai cinta adalah mendapatkan
Tapi untukku cinta adalah menyerahkan
Sampai kapan semua ini berjalan??
Saat dimana secercah cahaya tak kunjung datang meski titik jenuh kian melonjak semua batas
-untuk langit malam ini-
Aku memang g pandai dalam merangkai lisan, karena aku memang tak berbakat menjadi pembohong atau pengacara sekalipun. Saat puisi ini selesai ku tulis, merekapun datang merapat ada 8 orang jumlah kami dan menjadi pusat kegiatan disana. Orang-orang ajaib dengan kepribadian yang unik dan anehlah, mungkin memang kami yang bisa dikatakan gila untuk mahasiswa dengan jurusan SAINS. Kami tidak berpethok pada akademik karena "NILAI AKADEMIK AKAN BERBANDING TERBALIK DENGAN KENYAMANAN" dan kami memilih kenyamanan dulu baru nilai akademik jadi yah wajar kalo nilai kami tergolong pas-pas saja.
"Betah amat sendirian disini? g takut po klo ada bencongan lewat macam AIU lewat" tanya Rino
"Aku suka disini karena memang steril dari makhluk begituan apa lagi disini enak lihatin bulan kalo pas utuh" jawabku sekenanya
"Pesenin kopilah kalo gitu" kata Ari
"Ini duit, noh yang jualan kopi disitu" balasku
Forum bebas pun dimulai, dari apa yang tak ada menjadi ada, dari yang semula ada menjadi mengada ada. Belajar memaknai hidup dengan cara berbeda, dengan mencoba menelaah lebih dalam dari sudut pandang yang berbeda, dari waktu dan situasi yang berbeda. Topik yang menarik untuk di share adalah
"DIbalik Pria Hebat PASTI Ada Wanita Hebat Dibelakangnya"
Yang jadi permasalahanya adalah bagaimana menentukannya?? Orang pandai menyebutnya dan hanya mengatakan jangan menyia-nyiakan wanita yang ada bersamamu. Itu terlalu jauh, kita perlu menentukan dahulu siapa wanitanya, mungkin buat yang baca tulisan ini bisa memberikan tanggapan karena kami membahas ini 4 jam namun belum mendapatkan argumen yang pas. Jadi mohon bantuannya yak....
-bersambung-