Jumat, 27 September 2013

Anonim (Senja Kedua)

Semua masih terasa hangat seolah baru bebreapa detik berlalu, namun kejadian itu sudah seminggu berlalu. Ia tak sempat pergi kesana karena begitu banyak pekerjaan rumah yang hrus ia kerjakan akhir-akhir ini semenjak ibunya mulai jatuh sakit. Ia menyadari bahwa ibunya tak lagi muda, raut wajahnya mulai keriput dan tubuhnya sedikit kurus dan kering karena tidak terawat. Fatimah tinggal dirumah dengan ibunya karena ayahnya sering keluar kota untuk berdagang sehingga ia lebih banyak tinggal dirumah dengan ibunya.

"Nak, sini nak. duduk dekat ibu" kata ibunya dengan lemah
"iya bu " jawabnya dengan cepat sambil mendekat dan duduk dismping ibunya
"Sudah seminggu ibu perhatikan kamu nampak gelisah dan terkadang sering senyum-senyum sendiri. Apa ada yang kau sembunyikan nak??" tanya ibunya penuh cemas
"AH...tidak ada apa-apa kok bu" jawabnya
" Ibu juga pernah muda nak, ibu juga pernah merasakan apa yang dibilang jatuh cinta, jadi jangan engkau bohong nak. Mungkin engkau bisa membohongi semua orang tapi engkau tidak bisa membohongi hatimu nak " ujar ibunya dan mebuatnya diam tanpa bisa membalas apa-apa

Terkadang kita memang disihir
Terjebak dalam suasana tidak pasti
Sulit untuk dijelaskan
Sukar untuk dikatakan

Bukan maksud berbohong
Hanya semua belum jelas
Daripada salah mengartikan
Lebih baik diam dan menunggu

Terjaga lebih awal karena mendengar suara berisik di sekitar dapur. Suara beradu antara perlatan dapur
"Siapa yang pagi-pagi udah berisik?, apa mungkin ayah baru pulang atau ibu" menggerutu dengan setengah sadar
Dan saat kesadarannya kembali terisi ia tersadar dan segera mencapai dapur untuk melihat siapa yang ada disana.
"Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu" teriaknya
"Kamu kenapa e?? pagi-pagi sudah teriak-teriak. Maaf ya udah membangunkan mu" ujar ibu
"Ibu sudah sehat?" tanyanya
"Iya ibu sudah enakan, jadi ibu bisa menyiapkan makanan untukmu nak saat ini" kata ibu
"terima kasih, ibu" ujarnya bahagia dan seolah takpercaya apa yang dilihatnya

Pagi itu Fatimah memang disambut dengan kebahagiaan sejak matanya terbuka. Hari ini ia bisa kembali menyentuh senja ditempat biasa. Dan bertemu dengan laki-laki yang lupa ia tanyakan namanya saat itu. Lelaki yang memiliki kesamaan untuk menikmati senja dan tenggelam bersamanya, kegiatan yang banyak di hujat orang karena dianggap sia-sia dan membuang-buang waktu. Tapi ia tak pernah peduli karena apa yang disukainya adalah hak dan tak pengaruh dengan orang lain.

Jangan pernah terintimidasi
Jangan pernah terprovookasi
Jangan pernah berpaling
Atas apa yang menjadi pilihan hati

Manusia tidak diciptakan sendiri
Meski manusia terlahir sendiri-sendiri
Manusia tidak hidup sendiri
Meski terkadang banyak yang ingin sendiri

Rasa ingin mengulang kejadian yang sama
Rasa ingin bertemu dengan orang yang sama
Rasa ingin merasakan kebahagiaan yang sama
Rasa yang banyak orang sebut dengan CINTA

Mungkin terlalu cepat jika ia merasakan cinta karena ia baru bertemu dengannya sekali dan itu hanyalah kebetulan. Padahal tak ada yang namanya kebetulan, sebuah telah menjadi skenario Tuhan sejak kita lahir hingga kelak mati dan setelahnya. Rasa yang aneh karena pertama kalinya rasa ini dirasakannya, senyum-senyum ndak jelas menjadi gejala awal yang ia rasakan saat ini. Rasa tak sabar menunggu saat senja itu datang seolah waktu bergulir lebih lambat dari biasanya. Bunga tak selamanya manunggu kumbang datang, bunga pun berhak menghadap kearah cahaya dan menuju arah kumbang datang.

Saat yang dinanti akhirnya datang juga, dan dengan tergesa-gesa ia pergi meninggalkan rumah setelah meminta ijin dengan ibunya. Memang tak bisa dipungkiri bahwa rasa rindu itu memang nyata, hal itu bisa dilihat dari cara dia menyembunyikannya dan cara dia mengatasinya. Dengan perasaan penuh harap menuju tempat dimana ia biasa menghabiskan waktu bersama senja yang dulunya hanya ia dan senja, sekarang ia berharap adanya orang ketiga yang ia ingin ada kehadirannya disaat ini. Dengan susah payah ia mencapai bukit itu, dan apa yang diharapkannya tidak membalas dengan kekecewaan. Laki-laki itu masih dengan posenya yang sama saat fatimah bertemu dengannya utnuk pertama kali. Sebagian wajahnya berpadu dengan cahaya senja dan mata yang tenggelam dalam suasana dikala itu.

"Ah......... Kamu" ujar lelaki itu yang menyadari kedatangan fatimah karena suara nafasnya yang tak beraturan
"iya, kita bertemu lagi, sudah lama disini??" tanyanya
"Sejak saat itu, aku selalu menunggumu tiap sore disini bertanya pada senja secara pribadi" ujar laki-laki itu
Serasa tak percaya akan apa yang didengarnya saat itu, sebuah ucapan spontan dari seorang laki-laki yang ia inginkan kehadirannya.
"Mengapa kamu lakukan itu padahal kita belum mengenal satu sama lain bahkan untuk sekedar namapun tidak" katanya tak percaya
"Sejak saat itu, aku selalu punya alasan untuk kembali kesini dan mengobrol tentangmu bersama senja" jawab laki-laki itu
"Bukannya kamu memang sering kesini sebelumnya??" tanyanya
"Aku hanya memperhatikanmu dari jauh, tempat yang berbeda. Dan hari itu adalah pertama kalinya aku datang kesini. Esoknya aku kembali kesini dan tidak menemukanmu datang, hingga hari ini tiba. Namaku Gio. Boleh tau siapa namamu?" tanya laki-laki itu
"Fatimah. Jadi sejak saat itu, kamu terus menungguku disini!!!" tegasnya
"Iya.... Meski aku sempat cemas karena beberapa hari kamu tak datang kesini seperti biasanya. Aku juga tidak tahu dimana kamu tinggal, agar aku bisa tahu alasan kamu tak datang lagi kemari." jelas laki-laki itu
"Beberapa hari yang lalu ibuku sakit, jadi aku tak bisa meninggalkannya sedangkan ayahku berdagang di kota lain jadi hanya aku yang mengurus pekerjaan dirumah. " jelasnya
"Yang penting aku bisa bertemu denganmu lagi disini dan menikmati hal yang sama seperti hari itu" kata laki-laki itu

Suasana lembayung senja menghiasi percakapan mereka. Senja perlahan menjauh dan membiarkan mereka berdua menghabiskan waktu sendiri. Senja mulai memudar dan mereka sadar waktu mereka hampir habis karena mereka harus pulang kerumah masing-masing.

Penantian yang tidak terduga
Jawaban selalu ada ditiap pertanyaan
Hanya butuh sedikit usaha
Dan secuil keajaiban Tuhan

to be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar