Minggu, 08 September 2013

Akhirnya Terang Juga

Cahaya adalah sumber kehidupan
Gelap adalah bagian dari cahaya
Sering terlupakan
Karena tidak diinginkan

Dua sisi yang tidak bis terpisahkan
Dua bagian yang berjalan bersamaan
Dua keadaan yang bertolak belakang
Dan tidak ingin saling mengenal

Terlahir ditempat gelap bukanlah sebuah harapan. Siapa yang ingin dilahirkan tanpa bisa melihat secara utuh?? Tapi itulah takdir-Nya. Dia berumur setengah abad, badannya tak lagi kekar, kakinya kian gemetar saat menapaki jalan setapak untuk mencapai ladang dibalik rumahnya. Hanya itu jalan satu-satunya untuk mencapai dimana ia dapat meneruskan hidupnya dan keluarganya

Jiwanya yang besar
Meski dia bukan lah orang kaya
Kekuatan hati yang besar
Meski badannya mulai membungkuk

Terabaikan oleh zaman
Terlupakan oleh waktu
Terintimidasi oleh lingkunga
Terisolasi oleh cahaya

Namanya tak lagi penting
Karena tak akan ada yang mendengar
Kondisinya tak lagi tau
Karena tak ada yang ingin tau

Tak bisa dipercaya oleh mata ini, seumur hidupnya ia yang hidup dalam gelapnya  pulau jawa. Ia masih bisa memberikan kehidupan yang layak untuk keluarganya, memberikan pendidikan hingga jenjang yang tinggi untuk anaknya dan tidak meminta belas kasihan sedikitpun dari orang lain. Tak ada sekatapun yang menunjukan arti penyesalan, mengeluh dan menghujat sang PENCIPTA atas apa yang ia terima selama hidupnya.

Jujur saya malu dengan dengan diri ini dan apa yang ada didepan mata. Saya tak akan sanggup jika harus hidup disana dengan kondisi seperti itu, dengan segala keterbatasan akses yang ada. Hanya bertahan dengan apa yang ada, apa yang selama ini sudah ku lakukan. Mengeluh, menghujat TIDAK ADIL, Merasa paling menderita dan segalanya ingin dibenarkan selalu.

Orang hebat memang tidak harus kaya
Orang besar tidak harus sukses (materi)
Menjalani hidup dengan ikhlas
Menjalani takdir tanpa menyalahkan

Terkadang sebuah pilihan itu bersifat memaksakan. Mereka dipaksa memilih bertahan disana karena memang hanya disana tanah kelahiran yang mereka punya. Meski bencana kian datang melanda, bisa menghilangkan nyawa siapa aja termasuk orang-orang yang dicintainya. Namun rasa takut itu tidak sedikitpun ada di raut dan bahasa tubuh mereka semua.

Apa yang mereka tunggu sepanjang hidupnya mulai terjawab, pasokan listrik akhirnya datang meneriangi desa ini, tepatnya sebulan yang lalu sebelum kami datang berkunjung. Sebuah desa diujung pelosok timur kab. pemalang, kec. watu kumpul, desa cikadu, dukuh tembelang bawah. Seolah mendapat mukjizat Tuhan karena itulah yang menjadi harapan untuk bibit-bibit yang akan menerusakan cahaya di desa mereka. Jalan yang berbatu, menanjak dan tidaklah lebar hanya seukuran sebuah mobil.

Cahaya kian memancar
Meski tak besar dan membara
Berharap inilah awal dari sebuah lentera
Untuk kalian dan tanah kelahiran kalian semua

Kalian termasuk dalam draf orang hebat yang kami punya
Kami belajar dari kalian semua
Dan kami bukan apa-apa jika dibandingkan
Dan kami tidak ada apa-apanya meski kami punya apa yang tidak kalian miliki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar