Berharap bisa berakhir di situ, saat itu juga
Terhapus oleh rinai hujan yang membasahiku dalam perjalanan pulang
Hujan yang rintik rintik
Dibawah cahaya rembulan
Begitu mesra hingga tak ingin berpisah
Iri pada benda mati adalah pikiranku tadi sore
Gelas atau Hujan
Mengapa dua kata itu tiba-tiba muncul
Seperti bus dan truk yang menyalipku dari lajur kanan
Seperti motor gede yang mendahuluiku dari kiri
Gelas mampu menampung hujan
Namun tidak lebih besar dari ukurannya
Lantas kenapa gelas begitu sombong dengan tangannya
Apa hanya sebuah tangan yang terlihat berarti mutlak?
Padahal hujan mampu menampung gelas
Jauh melebihi ukurannya meski tak ada yang percaya
Hujan tak perlu membuktikannya
Hujan tak perlu menyombongkan dirinya
Hanya karena hal kecil yang terlihat maka dianggap besar
Dan menganggap yang besar tapi tak terlihat adalah tidak ada
Lebih baik dikatain PALSU oleh orang lain
Daripada diri sendiri yang mengatakannya
Aku tak perlu menjadi hujan karena pandai meredam
Atau menjadi gelas yang menunjukkan hal kecil tapi nyata
Aku adalah aku
Meski banyak yang memandang aneh
Lebih baik aku kehilangan mereka
Daripada aku kehilangan diriku
Daripada aku menjadi bukan aku
Karena tak ada yang lebih setia dibandingkannya
Hanya karena hal itu terlihat lantas begitu berharga
Dan yang tak terlihat hanyalah ilusi
Dan yang tak berbentuk hanyalah bualan
Omong kosong layaknya tong tanpa sampah
Dia yang lahir bersama
Dia yang tumbuh bersama
Dia yang sakit bersama
Tapi dia tak menuntut bahagia bersama
Masihkah tega menyalahkan diri atas apa yang telah terjadi?
Masihkah ego terlalu tebal hingga malu
Mengakui aku lemah tanpa diri sendiri
Aku adalah wadah dan diri sendiri adalah jiwa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar