Minggu, 11 Mei 2014

Aku Memang Lari Darinya

Ini tentang kamu, gelas dan puncak yang disana (Lagi)

Alasan aku tak ingin mengulanginya hanyalah karena aku tak ingin menggantikan kenangan yang pertama dengan kenangan lainnya. Sebuah kata yang diberikan sesepuh Teknik Lingkungan yang telah kembali ke tanah kelahirannya diborneo sana. Salam hangat dari kota indah Yogyakarta. Dan itu yang kulakukan meski aku berada ditempat yang sama berulang kali. Jarang bicara tentang ketinggian yang telah dicapai denganku karena ketinggian hanya tentang angka nominal, bukan tentang kehebatan apalagi keangkuhan dari apa yang telah kita capai. Diatas langit masih ada langit, dibawah tanah masih ada yang jauh lebih dalam. Lantas darimana keangkuhan itu kita dapatkan? Apakah itu sebuah warisan dari mereka yang menjadi kiblat kita?

Kronologis mungkin sama
Tapi moment tak mungkin terulang
Secangkir minuman yang sama dengan rasa dingin yang sama
Namun kehangatannya jelas sangat berbeda

Puncak memang pelipur lara
Sambutannya memalingkan pikiran
Terlalu indah untuk berpaling
Terlalu hangat untuk diabaikan

Saat dimana ego menjadi opsional
Memiliki semua ini tanpa ingin berbagi
Padahal pemilik sah tak berharap pamrih dariku
Lantas apakah aku harus berharap pamrih darimu?

Bermodalkan cahaya bulan dan beberapa batang lilin yang dipotong kecil-kecil agar bertahan hingga esok pagi menjelang waktu yang dinantikan tiba diatas sini (bacanya puncak ini). Berbagi dalam kesederhanaan dibawah langit berbintang tadi malam yang jika kalian perhatikan banyak dari mereka yang turun karena ingin bergabung dengan kita kawan (bacanya bintang jatuh). Rasa kecewa ini sudah terlalu dalam atas waktu yang telah diluangkan, atas janji yang telah diabaikan, atas tanggung jawab yang telah kugadaikan berharap belajar keadilan atas apa yang diucapkan. Benar kata orang bahwa keadilan sejati hanya ada dilangit, yang ada dibumi hanyalah kepalsuan saja.

10-11 Mei 2014 di Gn. Andong (1726 mdpl)
Mungkin kalian tak mengenal tempat ini karena dulu memang tidak terkenal dan bahkan desa tetangga setahun yang lalu nggak ada yang kenal dengan namanya. Kupikir tempat ini masih sepi seperti setahun yang lalu tapi ternyata 6 bulan terakhir sudah ada basecamp dan sudah menjadi tempat pendakian sama seperti Gn. Merbabu dan Gn. Merapi (diselatan), Gn. Sindoro dan Gn. Sumbing (dibarat), Gn. Telomoyo (di timur), dan terakhir Gn. Ungaran (diutara). 

Aku adalah orang pertama yang datang tadi malam karena memang ingin mencari spot terbaik menikmati sunsite dan sunrise, namun sunsite.nya tak menunggu kami yang terjebak macet dijalan ahhhhssuuuuudahlah. Tiada rotan akarpun jadi, dimana nggak ada sunsite maka sunrise pun boleh setidaknya itu alasan yang paling logis untuk menghibur diri. Mereka adalah anak kampung sawit (anak desa situ maksudnya), usia mereka antara 10-14 tahun. Mereka adalah pemain jaranan (budaya tradisonal jawa) dan dari merekalah aku belajar banyak semalaman.

Apa itu kebersamaan dalam perbedaan
Apa itu kenyamanan dalam ketiadaan
Apa itu kenikmatan dalam pemberian
Apa itu kebodohan dalam persetujuan

Saat dimana usia bukan lagi hal yang membatasi keinginan untuk tertawa
Ditanggalkan semua kasta dan jabatan yang dibawah sebelum naik ke atas
Saat dimana kekayaan tak lagi dipandang sebagai tanda untuk penguasa
Tak ada lagi pembeda bagi kita semua yang berada disini (IYA DISINI kata dod*t)

Tawa yang tak ditemukan dikampus
Kejujuran yang tak ditunjukkan dikampus
Kebahagiaan yang terpancar dari kesederhanaan mereka
Diimbangi dengan lagu melankolis yang terselubung dalam ayat suci alquran yang mereka lantunkan.

Sejak awal kedatangan mereka sudah membuatku terhibur dan tertawa, bukan meremehkan lho yah. Mereka datang setengah jam setelah kami tiba dan langsung membuat lubang untuk mnancapkan tiang untuk mendirikan tenda tanpa memikirkan arah angin akan datang. Sebuah tenda yang dibuat hanya dari terpal untuk melindungi mereka dari hujan (saja) dan bukan dari angin bahkan rasa dingin. Umur segitu aku masih jalan kesana-kemari mencari kesenangan jalanan. Mereka membangun tenda seadanya dengan cara semampunya namun tertawa, tersenyum dan saling memaki dengan bersamaan. Menyalakan petasan untuk memecah kesunyian dari atas sini adalah cara mereka menarik perhatian sang malam.

" Lari dari kenyataan memang bukan jawaban tapi hal itu adalah solusi untuk bisa
menyiapkan sebuah jawaban terbaik suatu saat nanti "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar