Ini tentang kamu, gelas dan puncak yang disana
Berawal dari sebuah keterpaksaan untuk berangkat kesana. Hanya demi sebuah janji yang bisa dibilang nggak sengaja saat itu. Terkadang apa yang kita ucapkan baik sengaja atau tidak, serius atau bercanda akan dianggap sebauh janji yang harus ditepati suatu hari nanti. Dan itulah awal mula sebuah keterpaksaan. Tak ada alasan untuk bergerak namun apa daya semua telah terjadi. Jumat malam 21.00, dengan berat hati ku coba menerima kenyataan bahwa janji itu harus tetap ditepati. Ntah dengan siapa dan akan jadi seperti apa tidak kupikirkan sama sekali, yang jelas aku harus membawa mereka semua pulang tanpa kurang satu hal apapun itu. Ternyata Tuhan memberikan rencana dibalik keterpaksaan ku,
Bertemu dengan orang baru bukan hal baru lagi untukku
Tinggal diterasingan bukan lagi hal yang aneh
Aku tak akan bergerak bila tak merasa nyaman
Atau memaksa nyaman demi sebuah kemaslahatan umat
Bertemu dengannya yang berasal dari dunia antah berantah, sangat jelas terlihat dari matanya. Dia tinggal dalam sangkar yang hanya seluas jangkauan matanya. padahal Dunia itu jauh lebih luas dari seluruh jangkauan pasang mata yang ada dibumi. Tak ada yang ku spesialkan untuk mereka karena tak ada satu pun yang ku kenal kecuali dia yang sengaja ku ajak untuk menemaniku berangkat jadi semisal aku malas akan ada yang menjadi penggantiku untuk terus berjalan menemani mereka semua. Melalui perjalanan dengan seseorang yang dibonceng tanpa diiringi sebuah percakapan basa basi busuk tidak lah afdol karena kita terlalu arogan jika melakukannya.
Dia beruntung bertemu denganku
Sebuah kesalahan dan kebenaran dalm satu wadah
Sebuah keanehan dan keunikan dalam satu wujud
Minimal menjadi sample dari sekian contoh yang ada
Ntah apa yang dipikirkannya, aku tak peduli
Ntah apa yang dirasakannya, aku tak tahu
Ntah apa yang diamatinya, aku tak mau tau
Dia seperti anak kecil yang dilepas ke halaman, haus akan rasa ingin tahu
Dia memang lahir lebih dulu dariku dan baru saja ulang thaun kemarin meski aku lupa tanggalnya yang jelas kini ia semakin tua dan jarak usia semakin melebar. Sejak kecil aku hidup disegala kalangan usia tanpa membatasi diri namun tetap menghormati sesuai jauh dekatnya jarak umur diantara kita. Namun dia ternyata adalah sisa-sisa dari kehidupan yang ada, semua kebebasan, keinginan, harapan telah didominasi oleh saudara-saudaranya yang terlahir lebih awal. Mungkin itu adalah takdir seorang anak terakhir (aku juga anak terakhir tapi g gitu-gitu amat jadi itu hanya persepsi SUBYEKTIF). Tentukan keinginanmu dari sekarang dan apapun yang terjadi jangan pernah keinginanmu berubah karena akan ada cobaan atas yang kamu inginkan sampai keinginan itu terwujud.
Tuhan hanya menunda keinginan kita
Memberikan keinginan lain untuk melupakan keinginan awal
Menguji seberapa kuat keinginan kita saat itu
Karena keinginan berbeda dengan kemauan
Saat keinginan tak begitu kuat
Akan mudah berpaling
Akan mudah berganti
Seiring berjalan waktu akan terlupakan
Keteguhan memegang keinginan
Mewakili kekuatan kita mempertahankan keingiinan
Semakin kuat berarti semakin teguh
Semakin lemah juga semakin plin plan
Tiba di lokasi transit mulai berasa
Apa yang selama ini kurindukan
Apa yang selama ini kuinginkan
Tersembunyi dibalik keterpaksaan yang tadi ternyata
Jangan membenci hal yang tak diketahui hanya karena tidak menyukainya
Jangan bermain persepsi dalam membuat kesimpulan imajinasi
Jangan menolak jika memang menginginkanya
Jangan berjalan jika hanya ingin berhenti dan berbalik jika tak sepaham
Tidak ada komentar:
Posting Komentar