Ntah rasa kecewa atau sakit yang pernah dirasa
Yang jelas, bekasnya teramat sangat dalam
Bekas yang tak mungkin hilang
Rasa sakit yang akan selalu terasa
Kalian tak akan pernah tahu
Kalian tak melihat meski ada mata kalian terbuka disana
Kalian tak mendengar meski telinga kalian terpasang disana
Kalian tak merasa karena hati kalian bukan disana
Kami memang bukan peletak batu pertam
Kami juga bukan pembuka jalur pertama
Tapi kami pernah menjadi kuli bangunannya
Dan keringat, darah, waktu dan tenaga ada didalamnya
Kita tidak akan hitung-hiitungan
Karena kita tidak pandai dalam urusan itu
Kita tidak akan ungkit-ungkitan
Karena bukan kita yang berhak membahasnya
Ku pikir kalian terlalu pintar atau terlalu bodoh
Ntah mana yang paling benar diantaranya
Melakukan semua sendiri tanpa informasi
Atau mengabaikan informasi demi mandiri
Berapa kali harus dikatakan
Diatas langit masih ada langit
Sebelum ada kita, merekalah yang pernah ada disana
Wajar jika mereka mengerti dan bukan sok tahu
Aku pantang menjilat ludah sendiri
Sekali berkomitmen maka itulah menjadi pegangan
Sekalipun tak lagi berada dalam rumah yang sama
Tak lagi bekerja dengan orang yang sama
Impian kita terlalu mewah dikala itu
Membuat dunia sendiri dengan cara sendiri
Jangankan dunia, membangun rumah aja belum benar
Hanya karena mampu mendirikan sebuah tiang bukan berarti mampu membangun rumah
Tak semudah kelihatannya
Memikirkan jauh lebih mudah dari mengucapkannya
Mengucapkan jauh lebih ringan dari melakukannya
Niat tanpa proses tak akan menjadi hasil yang baik
Jika kalian protes, katakan pada yang ingin diprotes
Jika kalian menuntut, sampaikan pada mereka yang ingin kalian tuntut
Teknologi memang memfasilitasi operator untuk menyampaikan
Bukan berarti kalian akan berpangku tangan atas apa yang kalian inginkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar