Hujan mulai turun seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Saat dimana keinginan membuat sampah itu meningkat pesat. Hujan memaksaku untuk berfikir dan merenung tentang apa yang hendak disamapaikannya dalam sebuah tanda bukan sebuah kalimat, bukan sebuah tulisan bukan juga sebuah pernyataan. Kulihat kanan kiri banyak mereka yang berteduh disekitar bangunan yang beratap diterasnya, tak sedikit juga yang mencoba menerjang derasanya hujan karena ingin segera sampai dirumah atau ditujuannya. Ku nyalakan sebatang rokok untuk meredam rasa dingin yang datang merapat. Ku hisap perlahan dan ku nikmati dalam dada berharap ketenangan menghampiri dan menemani dikala sendiri.
Terkadang membayangkan masa depan yang diinginkan
Mengenang masa lalu yang telah terlewati
Mermikirkan masa sekarang yang baru terjadi
Lebih baik daripada memikirkan orang lain
Dia yang pernah mampir
Dia yang pernah tinggal
Sama halnya dengan mereka yang lagi neduh saat ini
Saat hujan berhenti juga bakalan pergi lagi
Terkadang kondisi yang sama
Keadaan yang mririp
Masalah yang pernah dialami
Membuat kebersamaan itu ada
Kebersamaan yang tak bisa lama
Kebersamaan karena kebetulan
Bukan berarti tak ada yang berkesan
Bukan tentang waktu yang singkat atau lama
Apa yang disembunyikan adalah apa yang diinginkan
Itu hanya sebuah persepsi
Apa yang disembunyikan juga bisa menjadi apa yang ditakutkan
Itu bisa menjadi sebuah pilihan
Diamnya adalah sebuah pertanda
Diamnya adalah sebuah keputusan
Diamnya adalah sebuah jawaban
Dan diamnya menjadi sebuah harapan
Aku tak pernah memilikinya
Lantas kenapa harus tak melepasnya
Bersama juga bukan atas dasar hukum
Yang harus dipertanggungjawabkan didepan hakim
Semua yang datang dan pergi disaat hujan
Adalah mereka yang datang karena sebuah kebutuhan
Menyelamatkan diri dari paksaan dunia
Bukan karena keinginan dalam diri
Hidup berjalan adalah untuk memperbaiki
Memperbaiki yang kemarin di hari ini
Namun yang diperbaiki adalah prosesnya
Karena kalau hasil sudah ada yang tentukan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar