Rabu, 09 April 2014

Masih Back To Lawu (again)

lanjutan kemarin-->

Jadilah orang yang idealis, namun jangan menutup diri terhadap perubahan
Tak ada yang sifatnya mutlak kecuali Tuhan yang Maha Sempurna

Suatu bahan yang jarang banget disampaikan diruangan dalam keadaan formal. Namun tidak untuk hari ini, diktat bukan lagi buku mantra yang wajib dibawa kemana-mana untuk menjawab sebuah pertanyaan. Saat dimana orang lain baru memikirkannya, kami telah melakukannya jauh sebelum hal ini dipikirkan orang lain. Kami adopsi hal ini dari dia yang tak pernah kami tahu namanya. Nilai bukanlah hal utama yang kami inginkan untuk menjadi bekal kehidupan. Level yang paling rendah adalah IQ (kita sebut IP saja biar enak dimengerti), lalu EQ (emotional) dan SQ (Spiritual). Jika kata orang dunia dan akhirat harus seimbang, maka aku termasuk yang tidak sepaham dengan hal itu (dosenku juga g sepaham yang ini) karena apapun yang dilakukan didunia bisa ditujukan untuk akhirat jadi kenapa kita harus membuat benteng untuk memisahkan mereka jika kita bisa membuatnya berjalan bersamaan.

Ada diantara mereka yang ingin berjalan bersama
Ada yang menunggu didepan dan meninggalkan yang lain
Ada yang menyamankan dirinya baru menyamankan orang lain
Ada banyak orang seperti itu disekitar kita

Sebuah pengakuan itu datang dari orang lain
Bukan dari diri sendiri karena merasa mampu
Diri ini terlalu sombong dan merasa hebat
Dan sakit hati saat apa yag diinginkan tak diperoleh

Kami  belajar EQ dan SQ diluar bangku pendidikan karena hal ini tak pernah ada dibahas dan kurang penting karena tidak ada hitam diatas putih. Bersama dengan mereka yang bisa disebut makhluk lintas batas, ntah dari mana asalnya, ntah bagaimana bentuknya, ntah bagaimana caranya, tapi satu hal yang jelas adalah makhluk ini bukan kalkulator yang main itung-itungan dan bukan makhluk yang datang hanya karena sebuah kepentingan. Alasan itu lah yang membuatku nekad berangkat menyusul mereka yang telah jalan sejak tadi siang. Banyak hal yang yang tak mungkin dibahas satu per satu disini karena  aku yakin tak akan ada habisnya dan capek juga terlalu mengumbar cerita seolah kalian percaya meski aku tak pernah peduli dengan hal itu.

21.30 (5 April 2014)
Tiba ditempat yang telah dijanjikan, terlihat dengan jelas wajah mana yang penuh harap, mana yang flat, mana yang ndak jelas. Tidak semuanya adalah orang yang mengakui kita, lantas kita mau apa? (woles aja men). Sampe tkp aja kaki sudah nggak sehat sebenarnya, secangkir kupi panas, sebatang rokok menemani ku prepare dan packing untuk memulai perjalanan. Yang lain hanya bisa mengitari seolah aku menjadi tontonan ditengah kedinginan mereka semua haahahhaha. Insiden kami sebelum sampai di tkp menjadi cerita pribadi untuk kami dan mereka yang menunjukkan wajah penuh harap saat kami datang (berle dikit gpp lah). Semua persiapan beres dan tinggal berangkat, 

22.00 
Perjalanan kita mulai dengan berdoa dan meminta keselamatan pada pemilik hidup. Romobongan memang sengaja kita bagi karena kami yang memang penikmat alam berbeda dengan mereka yang menyebut dirinya pendaki gunung jadi kami berada di paling belakang. Disinilah semua dimulai, sejak langkah pertama dimulai karakter asli telah muncul sekalipun kita menyangkal bahkan tidak mengakuinya. Kita tidak hidup dengan mereka yang sepaham saja tapi dengan mereka yang tidak sepaham juga jadi sukailah apa yang tidak kita sukai dimulai dari hal kecil ini

Dimana ada kawan pasti ada lawan
Dimana ada suka pasti ada benci
Sejak lahir kita memang diberi dua hal yang bertentangan secara bersamaan
Agar kita sadar bahwa kita harus belajar memaknai bukan menghakimi

23.45 (POS I)
Malam kian larut dan akan segera berganti tanggal, memang jauh dari apa yang ditulis namun tidak jauh dari apa yang diperkirakan. Dari sini kami telah sepakat untuk tidak menjadikan puncak sebuat target karena kami sudah dapatkan apa yang kami targetkan dalam perjalanan ini yaitu mengobati kerinduan. Tak berselang lama saat kesepakatan itu telah ditetapkan, mencari tanah lapang untuk tidur adalah jawaban yang telah disepakati.

Kerinduan adalah sebuah penyakit
Obatilah selagi obat itu ada didunia
Buat apa menyiksa diri karena malu dan ego
Siapa yang akan peduli dengan kerinduanmu selain dirimu

02.15 (POS II)
Disini kami memutuskan tidur dan tidak berjalan kepuncak seolah waktu tak lagi ada di hari esok. Banyak hal unik yang kutemukan disini, baik yang pertama atau yang kesekian dan sisi lain malam hari, sisi egois kabut gunung dan para penghuni lainnya disini. Sangat jelas terekam dalam memory saat dimana apa yang diucapkan dengan yang ditunjukkan itu berbeda seolah mencari pembenaran oleh siapa dan untuk apa itu hanya dia yang tahu. 

08.30-11.30 (3 jam menuju mbok yem)
Sebenarnya aku ingin tinggal di pos untuk lebih mengobati rasa rindu ini, namun apalah daya karena memang tak ada yang peduli satu dengan lainnya saat keinginan telah terpenuhi. Mungkin jika aku tak membawa 2 orang saudara ku yang baru mungkin aku juga bakalan sama dengan yang lain. Hanya mereka berdua alasan aku menata hati dan niat untuk memastikan mereka menuntaskan apa yang menjadi target dan keinginan mereka. Dan alhamdulillah Tuhan mengizinkan kami untuk menuntaskan semua tujuan kami.

12.00 (puncak Lawu)
13.30-15.00(turun sampe pos II)
17.40 (Basecamp)

Tak semua bisa dibagi
Tak semua bisa dikatakan
Hanya bisa dirasakan untuk kita yang mengerti
Hanya bisa dimengerti bagi mereka yang peduli

The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar