Sabtu, 09 Januari 2016

Renungan Malam Perbatasan

Anggaplah semua ini sebagai doa
Doa yang seharusnya kita panjatkan pada pemberi hidup
Sebuah alasan untuk tetap bertahan hidup
Bukan hidup karena takut mati

Aku hidup karena kau menginginkannya
Sebuah berkah yang diberikan sejak aku lahir
Meskipun aku tahu eberadaanku tidak diinginkan pada awalnya
Namun seiring waktu semua akan berubah

Sebuah kepastian akan penerimaan
Tiada penlakan yang kekal
Kecuali hal hal yang tersebuat dalam kitab suci Tuhan
Dan selama didunia aku menyadari semua itu

Semua akan berubah pada waktunya
Ntah kita masih hidup atau tidak untuk mengalaminya
Namun hidup ini akan menjadi yang kita inginkan
Sadar atau tidak begitulah kenyataannya

Aku mengalami semua yang terjadi selama aku hidup
Aku bukan sekedar menjalani karena sebuah tuntutan profesi
Menikmati dan  mencerna setiap momentum yang diterima
Meresapi dan mengkaji setiap problematika yang tercipta karenanya

Suka tidak suka
Mau tidak mau
Air mata akan tetap keluar untuk sebuah alasan yang tidak jelas
Caci maki akan tetap menjelma dalam bentuk bongkahan kekecewaan yang mendasar macam koral

Tapi kita tetaplah seorang manusia yang terlahir dalam keadaan serba tidak benar
Dimata manusia hukum itu kekal berlaku
Tak ada sedikitpun celah untuk menolak hukum itu
Sebaik apapun kita berbuat pasti ada cacat yang menempel kepadanya


Aku terlahir sebagai seorang manusia dari orang tuaku yang istimewa
Tidak semua orang tua bisa memiliki anak karena itulah mereka istimewa karena diberikan kepercayaan
Dimana hatimu jika berani mengecewakannya meski hanya seujung kuku bayi
Kau bahkan bisa tumbuh cantik, rupawan karena usaha orang tua

Aku adalah sebuah kesalahan karena itu pilihanku
Agar kalian mengerti bagaimana mencari kebenaran dari apa yang ku tunjukkan
Tidak ada hubungan dengan bagaimana orang tua ku mendidikku
Mereka sudah berupaya yang terbaik namun semua adalah ulah kita hingga terkadang menggali jalur air mata dari seorang ibu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar