Dipesisir pantai timur
Dengan seonggok api unggun
Dengan sepaket deburan ombak
Sepertinya aku memang tak bisa
Bukan maksud tak mau
Maaf telah memaksa
Masuk dalam kehidupanmu
Meski engkau menolak
Engkau juga tak mempersilahkan
Disaat aku masuk terlalu dalam
Terjebak dalam keadaan
# Hari kamis bulan itu tahun kemarin, aku masih merasa hal yang berbeda meski kuliah berjalan seperti biasanya. Hati bergejolak lebih hebat, mata menatap lebih lama dari biasanya, kaki lebih berat dari biasanya dan sejak kapan bidadari g punya sayap??. Setau kita semua, bidadari adalah wanita cantik dan nyaris sempurna dengan sayap indah di balik punggungnya. Tapi ini berbeda bro, ndak sama dan terbilang unik serta bisa kita panggil Bunga (Bukan Nama Sebenarnya).
3 malam aku memimpikannya, berusaha menemukan karena memang g sedikit wanita di dunia ini dengan nama Bunga (Bukan Nama sebenarnya). Hari ke tujuh aku bertemu dalam kebetulan meski didunia ini tidak ada yang namanya kebetulan karena yang ada sudah diatur sejak awal. Cie cie cie udah diatur ma yang diatas, Thanks banget ya allah engkau memberikan ku anugerah untuk hari ini dan makin indah sepanjang hari ini. Tanpa ada yang menyangka semua menjadi dekat meski tak sedekat kelihatannya, sangat indah meski tak seindah ceritanya.
Jatuh cinta adalah proses. Proses mencintai dan siap dicintai dengan segala resiko kebahagiaan yang telah disiapkan. Tanpa pernah kita sadari bahwa kita yang memulai maka akan ada yang berahir meski bukan kita yang mengakhiri. Berdamailah dengan akhir yang tak pernah kita tentukan.
Rasa jenuh sering melanda saat semua semakin tak berarti. Jenuh dan bosan adalah hal yang berbeda, hingga perdebatan konyol itu terungkap
"Bedanya jenuh sama bosan apa jo?? tanya seorang teman
"Jenuh belum berarti bosan dan belum tentu sebaliknya" jawabku singkat
"Pasti g punya pacar sampe sekarang wong km bosanan orangnya" ledek suara lainnya
Bukan berarti orang g punya pacar menandakan ia bosanan atau mudah jenuh dengan sebuah ikatan segala macamnya. Toh suatu saat pasti akan mengikat diri sendiri dengan sesuatu yang orang tua katakan "SAKRAL". Oh men, single itu pilihan kali bukan g laku atau homo atau melambai segala macamnya. Hanya saja aku tak ingin menyakitinya dengan harus menarik dan memaksanya masuk dalam duniaku yang aku sendiri belum mampu menaklukannya untuk saat ini.
Tapi memang tak bisa dipungkiri akan rasa marah dan tak ingin kedamaianku diusik orang lain. Tapi aku bisa apa??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar