Mata masih bisa melihat
Tangan masih bisa menjabat
Lidah masih bisa berucap
Terkadang keyboard lebih bermakna dari sebuah sosok teman
23-12-2012 (Masih di Ranu Kumbolo)
Kebayang g gimana rasanya dingin yang WOW antara 0 sampai minus 20 derajat??? Kesini saat musim hujan dengan curah tinggi pasti ngalamin kok. Berharap dapatin sunrise namun apa daya karena kabut jadi
g kelihatan deh. Bangun dini hari karena mang suhu yang dengin menusuk hingga ketulang, kalo g salah saya bangun tuh jam 4.30 dan berharap sunrise itu muncul dengan sedikit membuat mnuman hangat. Matahari baru menampakan diri dan membuyarkan kabut mulai jam 7 pagi, rasa senang bercampur sedih. Senang karena paras cantik ranu kumbolo mulai terbuka dan sedih karena merasa diri ini g berguna. "AKU ADALAH SAMPAH,
SAMPAH ADALAH AKU"
Bagaimana tidak, aku juga salah satu makhluk penyebab ranu kumbolo menjadi tempat yang penuh dengan sampah. Bekas syuting film "5 CM" yang banyak orang agung2kan sampai pada latah semua dan Pendakian Massal dari salah satu merk alat outdoor memberikan dampak buruk pada tempat ini. Sisa-sisanya masih ada meski sebelumnya telah usai di observasi besar2an untuk libur panjang Natal dan Tahun Baru. Film yang kurang menyampaikan pesan morilnya dan hanya menjual keindahan gunung tanpa tau cara menjaganya. Film yang membuatnya mudah dicapai tanpa tau cara menghormatinya. Seperti itulah dampaknya kepada tempat ini.
Ditempat ini kutemukan damaiku tanpa melihat dari dampak kemarin, biarlah jadi masa lalu. Bukan cuma disini, disemua tempat juga harus dijaga agar kita selalu bersyukur karena ditunjukan kebesaran-NYA. Sebenarnya lumayan banyak sih foto ranu kumbolo karena memang rutenya yang muterin danau macam orang thawaf, jadi dapat spot hampir di semua sisi danau. Tapi biarlah jadi konsumsi pribadi saja, karena banyak keindahan alam yang g bisa diceritakan dengan kata-kata dan ilmu pengetahuan.
10.00
Matahari mulai meninggi dan biasanya kalau sore hujan turun, jadi untuk menghindari itu kita harus beranjak pergi meski berat tuk meninggalkannya tapi inilah pilihan.
Dan pilihan kami adalah menggapai puncak itu.
10.30 (Tanjakan CINTA)
Biasanya apapun yang mengandung kata "cinta" tuh enak buat dibahas yah. Semeru memiliki mitos klasik yang sering terdengar dan jadi bahan obrolan para pendaki yakni Tanjakan Cinta.
MITOS
"Pikirkan orang yang kita saynagi selama melewatinya, Insyaallah akan menjadi jodoh.
Tapi dengan sayrat tidak boleh sekalipun menoleh kebelakang"
Itulah tanjakan cinta yang menjadi bahan obrolan ringan kami, tapi bisalah kita bahas dikit2 agar g salah kaprah kita memaknainya.
Yang pertama adalah tentang memikirkan "dia" yang mungkin diharapkan kita lebih semngat dalam melawati track ini dan mendapat energi ekstra untuk menjalaninya. Saya yakin mayoritas orang akan bersemangat bila diminta tolong oleh orang yang dicintainya. Meskipun itu berat juga bakal dilakoninya kan.
Yang kedua ituh berjalan dengan tidak menoleh kebelakang. kenapa g boleh??? Wong belakang itu ranu kumbolo kok, indah banget malah dari ketinggian.
Terkadang manusia selalu menoleh kebelakang dalam menatap kedepan.
Masih belum bisa meninggalkan masa lalu untuk menjalani masa depan.
Meski masa depan belum tentu seindah sebelumnya
Meski masa lalu tidak bisa tergantikan (kata yg g bs move on)
Tapi apa kita hidup akan terus di masa lalu?
Tapi apa kita hidup akan terus di masa lalu?
Menatap lempeng kedepan ituh memamng sulit kok, saya sendiri ngalamin soalnya. Saya juga mencoba inih mitos kok (g bermaksud musyrik lho yah). Saya juga mikirin si "dia" meski dia g mikirin saya. Hanya mikirin dia dengan kelakuan konyolnya yg ndak jelas bentuknya dan berdoa tentunya ma Sang pengatur pasangan saja. Dengan mikirin dia, saya bisa melewati tanjakan ituh tanpa menoleh ke ranu kumbolo yang indah nian. Ranu kumbolo yang ku tinggalkan untuk mencapai puncak.
Yakin lah seindah apapun masa lalumu
Pasti ada yang lebih indah menantimu didepan sana
Dengan bentuk yang berbeda
Dengan kondisi yang berbeda
Hidup lebih luas dari sekedar kubangan lumpur
- to be continued -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar