Kamis, 27 Maret 2014

Ego Itu Bukan Tuhan

Terkadang kita sering disibukkan dengan hal yang tidak penting
Menjelaskan dan mencoba memahamkan seseorang
Sekalipun dia tak pernah mendengarkan
Namun rasa bersalah membuat kita melakukannya

Apa kita yang menyebabkan hal itu terjadi
Atau memang egonya yang menciptakannya
Rasa bersalah merupakan anugrah
Karena kita yang meminta maaf untuk dia yang bersalah

Dia yang mendadak datang dan masuk seenaknya dalam kamar meminta sebuah perhatian. Kubuatkan secangkir teh panas untuk membuat tubuhnya lebih mendingan lantas ku tinggal mandi karena memang sore itu aku baru pulang dari kampus jadi wajar butuh mandi. Setelah mandi, ku belikan makan untuknya juga unttukku karena memang dari siang ini perut belum bertemu dengan nasi. Maafkan aku perut karena memisahkanmu dengan dia yang menjadi kebutuhanmu. Tak ada yang kurasa aneh dari semua ini, aku hanya ingin membantunya sebagai anak rantau, berharap kelak aku atau anakku akan mendapat bantuan orang ditanah rantau jika lagi sakit dan jauh dari keluarga serta orang tua.

Apa yang ku lakukan bukan semata untukku
Bisa saja untuk orang disekitar ku
Bisa juga untuk anakku kelak
Yang jelas tak ada balasan yang ku inginkan

Hidup bukan hanya tentangku meski ini hidupku
Banyak orang yang ada disekitar kita
Berbagai macam bentuk mereka ada semua
Berbagai macam kepalsuan juga yang ditunjukkan

Jalan selalu ada selama kemauan itu ada
Namun terkadang jalan itu tak terlihat
Tertutup dengan pikiran-pikiran takut dan pesimis
Hingga kita merasa tak ada jalan yang bisa dilalui

Kondisinya mulai membaik sejak makan dan minuman hangat menjamah lambungnya, malam itu terasa nyaman hingga ia berkeluh kesah (kita sering menyebutnya curhat). Emang saat orang sakit, selalu ingin diperhatikan dan didengarkan apapun itu harus dipenuhi. Ntah pengaruh kekenyangan atau memang tubuh ini meminta haknya untuk beristirahat karena seharian sudah dipaksa bekerja layaknya kerja rodi jaman jepang. Ntah dimana dan sampai mana aku mulai tak sadar dengan semua itu, tak ada kesengajaan disana. Disaat aku mulai terbangun, aku tak lagi melihanya disampingku. Kucari didalam kamar, pindah ke kamar lain hingga aku temukan dirinya terbaring dikamarnya sendiri. Sedikit lega karena memang dia tidak hilang atau harus pindah ke RS saat aku tertidur.

Disinilah semua bermula, sikapnya yang berubah mejadi tak enak membuatku enggan untuk berada didekatnya meski kamar kami bersebelahan. Aku memang bukan tetangga kamar yang baik, aku tak bisa menjagamu macam suster di rumah sakit. Tapi kurasa hal itu berlebihan atas apa yang kamu lakukan terhadapku. Membanting pintu tepat didepan wajahku, seperti itukah kamu diajari oleh orang tuamu di rumah. Seperti itukah etika yang kamu pelajari selama hidupmu? Kasian sekali dirimu saudariku.

Egomu membuatmu ingin dibenarkan
Sekalipun yang dilakukan itu tak pantas
Aku tahu rasa marahmu sangat besar
Jauh sangat besar hingga tak bisa melihat hal lainnya

Teringat sebuah kalimat lama seseorang
Lebih baik menjadi lilin dikegelapan
Dari pada mengutuk kegelapan
Karena tak akan membuat kegelapan memudar karenanya

Aku tak akan mengemis maaf atas apa yang kulakukan
Aku adalah manusia sebagai gudang khilaf
Menerima sebuah rasa sakit memang tak mudah
Dan tubuh ini sudah kebal saudari untuk merasakannya

Dirimu yang baru kemarin ku kenal
Dirimu yang belum lama ku lihat
Tak mengenalmu bukanlah sebuah kesalahan
Bukan berarti itu sebuah kebenaran

Carilah dia yang baiknya kelihatan
Bukan dia yang kelihatannya baik
Karena kepalsuan selaluu ada ditiap bagian hidup
Tergantung dari mana mata ini melihat

Sayangnya, aku masih memiliki hati yang dipinjamkan TUHAN padaku. Aku tetap meminta maaf atas apa yang membuatmu terluka meski aku tak pernah tau bagian mana yang membuatmua terluka. Aku tak membutuhkan maafmu, aku hanya butuh kamu sadar bahwa ego bukanlah tuhan yang patut kamu ikuti keinginannya. Saat sadar itu mulai tiba, aku akan masih disebelah kamarmu untuk membukakan pintu saat ada yang mengetuk.

By : Fitri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar