# Mengapa kamu lakukan semua itu??/
Dia yang tidak pernah bisa mengerti arti kalimat itu. Bagitupun kita semua karena kita hanya membaca dan mencoba memahami bukan mengalami dan merasakannya sendiri. Begitulah realitanya, kita g pernah bisa mengerti 100% apa yang dilakukan seseorang untuk dirinya, orang lain, dan untuk diri kita.
"mengapa harus ke gunung??" tanya nya
"pergilah sendiri dan kau akan mengerti'
"cuaca lagi buruk, kalau kenapa-napa gimana?" tanya nya cemas
"aku selalu siap mati saat mendaki gunung"
"apa kamu lari dari kenyataan??" satu per satu pertanyaan mulai menghajar
"tidak, aku hanya ingin berkunjung"
"apa yang kau kunjungi??? hanya ada hutan, dingin, bahaya, capek dan letih yang kau rasakan!"
"sudahlah, jika memang aku kenapa-kenapa, kau tau apa yang harus kau lakukan!!' kusodorkan sebuah nomor telpon di secarik kertas dan pergi. Beberapa langkah baru berjalan dan tersandung hingga terjatuh, rasa sakit kian nyata hingga kusadari aku berada diatas kasur warisan didalam kamar yang gelap dan suara hujan masih merdu di depan pintu.
Mimpi itu seolah nyata, apakah bunga tidur menunjukan yang kita inginkan atau mengganti apa yang tidak bisa kita wujudkan di dunia nyata. Mimpi ibarat misteri box yang kita g pernah bs milih mau mimpi apaan, dengan siapa dan mau apa. Selalu berdoa agar dimimpi mendapatkan obat pereda rasa kecewa saat dunia tidak lagi baik kepadanya, berandai andai dan terus berharap dalam indahnya mimpi saat kita tidur.
02-02-2013
08.00 (at basecamp bambangan, purbalingga)
Pagi yang cerah dengan aroma khas gunung dan sawah, tapi sayang kabut awan menutupi bagian dada Gunung Slamet yang seolah masinh berselimut karena dingin dan malu urat-urat usianya terlihat. Hanya bisa berdoa sebelum berangkat agar insiden sebelumnya tidak terulang, aku yang membawanya dan aku juga yang harus mengantarnya sampai puncak (*kutanamkan dalam tiap perjalananku). Terbayang perjalananku sebelumnya, yang masih sampai di pos 2 dan aku mutusin tuk turun. Aku merasa cukup dan sisanya bisa ku bayangin sendiri betapa indahnya diatas sana tapi ternyata apa yang ku bayangin dengan apa yang ku alami sendiri saat sampai diatas itu jauh berbeda.
Cukup, dan membayangkan sisanya dengan sehebat mungkin
Tuntas meski belum tentu sesuai harapan
2 pilihan yang sama -sama ku alamin
Keduanya benar dengan makna dan pemahaman yang berbeda
09.00
Dimulai dengan "Bismillahhirrohmanirrohim", langkah pertama pun mulai di patenkan untuk memulai perjalanan. Terlihat jelas batasan rumah penduduk, area persawahan, vegetasi hutan, puncak yang ditandai mulai bebatuan. Trek langsung menanjak tanpa kompromi, tanpa permisi dan tanpa mau tau kami datang pake motor atau angkutan yang lain. Berkali-kali papasan dengan warga lokal yang nyari rumput, burung, kayu untuk menyambung hidupnya, warga yang menopang hidup dari apa yang di sediakan gunug Slamet ini. Senyum ramah para warga yang berharap kami tidak akan merusak alam dan membakarnya terlihat dari sorot mata para warga
10.00 ( POS 1 )
Muka lelah tiada terlihat
Gurat-gurat kecewa tidak timbul
Beban hidup tidak dipikul
Karena menjalani dengan tulus dari hati
Gunung Slamet (3428 mdpl) memiliki 8 buah POS dengan 3 POS selther (semacam gubuk) sebelum sampai ke puncak. Ini masih awal namun tujuan awal kita puncak dan masih punya waktu sampai esok hari untuk sampai kepuncak jadi leha-leha sejanak disini. Jalan menuju POS berikutnya juga tidak kalah nge-TREK nya dan sampai di POS berikutnya aku berhenti pada perjalananku sebelumnya......
- to be continued -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar