Sabtu, 09 Februari 2013

Back to Slamet (part 4)

Alhamdulillah, nafas ini masih ada saat mata terbuka.
Alhamdulillah, rasa ini tetap utuh saat terakhir ku ingat
Mentari masih saja bersinar dengan teriknya hari ini
Ntah apa yang bunga tidur lakukan semalam, hingga aku terlalu lamban untuk menikmati indahnya dunia nyata. Habibie aja tidur 3 jam dalam sehari karena lebih memilih sakit didunia nyata daripada bahagia didunia mimpi. Tapi bukan itu yang akan kita masukin kali ini

# 03-02-2013 (03.00)
Rasa dingin yang menusuk tulang, kabut sisa-sisa hujan kamerin, rembulan yang kalah dengan kabut hingga bercaya bagai lampu neon 2,5 watt. Ritual kecil di lakukan bersama 3 orang pendaki lain dari jakarta. Bermodalkan bismillah, 3 botol air minum, secuil gula merah, kamera dan style masing-maing kami berangkat. Disisa-sisa kebakaran yang masih saja banyak terjadi akibat perluasan lahan dari orang-orang g bertanggung jawab. Kaki yang melangkah jauh lebih tinggi dari biasanya, tangan yang mengapai lebih kuat dari biasanya harus kita lewati.

(04.30) POS 7
Dishelter inilah, ternyata penghuninya udah pada ngilang semua g tau pada kemana. Ada teman yang bercerita disini, di POS ini. beberapa pendakian sebelumnya. Saat dia tiba di pos ini yang rencana untuk ngecamp, dibuka pintu selternya (karena kebetulan ada semacam gubuknya) ternyata ada sosok putih berdiri di pojokan ruangan. Sosok putih dengan kain kafan lengkap membungkus badannya. Siapa yang g takut, langusng dia lari dari sana dan memilih untuk turun ke POS 5 malam itu juga.
Disini sekitar 30 menit kita istirahat karena memang lapar dan dingin jadi istirahat dan g terlalu terburu-buru merupakan pilihan yang baik.
Mulai menjelang matahari terbit dan terlihat redup remang cahayanya membuat tak hentinya bibir bersuyukur. Diiringi Soundtrack -GIEi cahaya bulan dan satunya lupa membuat pas momentnya
"akan aku telusuri jalan yang setapak ini
Semoga ku temukan jawaban"
jawaban yang kucari tiap pendakianku,
jawaban yang kunanti atas pilihan meski g prnah terlihat ujungnya
Pilihan yang kuukir diatas puncak tiap gunung agar g ada yang mengubahnya kec. Aku dan Tuhan yang mengubahnya.


Menjelang jam 7, semua sudah sampai disini, puncak tertinggi di Jawa Tengah dengan berbagai macam kondisi. Sampai langsung cari lapak buat tidur
yang satunya tidur bersandar sebuah batu yang hanya erlihat kakinya difoto ini. Aku g bisa tidur dan buat apa-apa jauh jauh klo hanya numpang tidur. Diatas ku berfikir dari pada bengong
"apa jalanku hanya numpang lewat di jalanmu ?"
Aku datang dari NOL, aku mendekat hingga batas maksimal aku bisa sejajar denganmu meski g akan berpengaruh banyak kemudian perlahan-lahan pergi menjauh dan menghilang. Ada atau g ada, aku g akan merubah jalan hidupmu karena sebatas numpang lewat. Kurasa itulah jawabnmu dan thanks karena selama perjalananku yang melintas di hidupmu memberikan banyak keindahan, kebahagiaan yang g bisa di jelaskan karena tanpa alasan logis.
 Mendaki dengan hati, perjuangan tulus buat orang yang dicintainya. Dia pergi untuk dirinya dan pulang untuk orang yang dicintainya.
Meski sempat dilarang pulang sih, kebalikan dari bang toyib. Kalo bang toyib kan ditunggu kepulangannya, kalo dia "g usah pulang, tinggal disana aja km" kwkwkwkw






Berawal dari dia yang fluktuatif, naik turun disaat on fire. Hingga sosok GIE, sang demonstran sekaligus Pendiri Mapala UI, anak jurusan SASTRA UI. Jiwa kritisnya membuat banyak orang menelan ludah.
Hingga panggilan jjiwanya (RIKO ) datang  dan membeli beberapa alat pendakian standar yang berkualitas. Ceritanya ngetes alat nih, sebelum jiwanya terpanggil ke tempat lain hahahhaha













 Orang baru dalam rombonganku, 2 minggu sebelumnya dia bersamaku di Gunung Andong, 1 minggu sebelumnya dia prgi ke Gunung Lawu, dan minggu ini dia bersama kami disini, dipuncak Gunung Slamet. Wajah tanpa ekspresi dan terburu-buru dalam naik atau yang lain. Terkesan sedikit meanggap enteng tiap gunung. mungkin




Puncak dipunggungku
Beban sekaligus mimpiku
Kugendong dan ku bawa
Sampai pada tempat yang dijanjikan

Jawaban yang ku cari akhirnya ku temukan
Gunung memberikanku jawaban
Disaat KALIAN tidak dapat memberikan jawaban
Keyboard memberikanku tempat
Disaat KALIAN tidka dapat memberikan wadah tuk bercerita

Tugas membawa semua sampai ke puncak kini telah usai dan Membawa mereka pulang dengan selamat adalah tugas berikutnya. Selama kita hidup tugas dan kewajiban g akan pernah berhenti, satu selesai digantikan dengan yang lain. Kami berangkat ber 4, sampai puncak ber 4, dan harus pulang dengan ber 4, tanpa kurang 1 orang pun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar