Belum bisa dipercaya Kebesaran Tuhan di wujidkan dalam puncak Tapal Kuda (Gn Andong), dengan 4 puncak terangkai bentuk "U" yang terpisah jalan setapak < 1 m besarnya dan kanan kiri jurang yang jika kurang beruntung juga kehembus angin dan BAM, jatuhlah kebawah ituh orang.
# Sore itu hujan mulai berjatuhan dengan hembusan angin yang kencang diketinggian 1500 mdpl. Kami yang cuma bertiga masuk kedalam rumah baru dengan 500 orang penghuni baru juga tapi kamilah kaum minoritas. Bukan karena apa tapi yang 2 bukan orang jawa jadi g ngerti penghuni lain ngomong apa.
"mas, teman saya yang 2 dari luar jawa jadi g ngerti bahasa jawa" kata ku pada salah satu tuan rumah
dengan sedikit kaget langsung dia meminta perhatian semua penghuni yang sekitar 100 orang sore itu
"Minta perhatian bentra, ini kita kedatangan keluarga baru" ungkapnya kepotong
"asalnya dari mana mas?" tanya nya sejenak
"yang satu dari bengkulu, satunya kalbar, saya jatim" jawabku singkat
"Ya, saudara kita jauh jauh datang tuk bergabung dengan kita semu" lanjutin jelasnya
Saudara adalah saat dimana kita g perlu kenalan
Saat dimana kita dirangkul tanpa meminta
Saat dimana kita datang karena peduli
Suatu panggilan hati tanpa ada alasan
Menyalahkan keadaan karena kita dirugikan
Menyalahkan benda mati atas kesakitan
Kenapa bukan menyalahkan diri kita
Karena kita bumi ini terluka
#Jiwaku terpanggil karena nya, saya bukan pecinta alam karena masih membantu dalam perusakan alam melalui pembuangan sampah di alam. Menyalahkan mereka tapi kita pun berlaku sama?? Kita lebih kejam dari mereka artinya, meski g akan pernah kita akui hal itu. Mencoba bertahan tapi tak mampu, kumantabkan langkah tuk berangkat hari itu meski menjadi kaum minoritas
Bagaimana bisa kamu bertahan dalam kepalsuan itu
Topeng megah itu kah yang membuatmu bertahan
Atau alibi yang tidak sengaja
Menjadikan palsu menjadi biasa
Ibarat sebuah noda dalam kanvas
G bisa dihapus tanpa meninggalkan bekas
Minimal g akan ada noda kedua
Meski bekas pertama g akan hilang total
#Hujan turun malam itu membuat suasana makin merapat. Ada yang langsung berangkat hingga kloter ke 5 atau 6 aku lupa. Tiap koter ada 20 atau lebih orang berangkat ke atas meski dalam kondisi hujan saat itu dan kami memilih bertahan diruangan karena memang g bawa tenda jadi berangkatnya dipaskan sunrise saja biar pas momentumnya.
"ayo gi berangkat aja, wong cuma 2 jam berarti g tinggi ini" kata temanku
"jangan bicara ketinggian disini karena memang ketinggian hanyalah sebuah tanda dan g akan lebih tinggi dari mata kaki kalian nanti jika sudah diatas" jawabku
Kami enggan berangkat karena memang hujan jadi yah dipending dulu sampai g hujan lagi. Berjalan dimalam hari dengan kondisi hujan yang basah, licin, lembab dan berkabut sangatlah berbahaya karena sebelumnya ada insiden di klotre sebelumnya yang berangkat. Ada cewek yang ntah halusinasi sampe g bisa ngontrol kesadarannya, mirip orang kesurupan lah. Makanya kita pending sampe jam 3 pagi.
# Mentari baru muncul sekitar jam setengah 5 pagi. Muncul malu-malu dibalik gunung merbabu dan merapi disi selatannya. Dispot terbaik di tangah hutan pinus sebelum puncak kami habiskan waktu tuk menantinya keluar dari peraduannya. Meski kabut gunung dengan setia nungguin kami menghabiskan moment ini
Kabut datang dan pergi
Silih berganti seiring angin yang berhembus
Begitu juga dengan masalah
Silih berganti selama nafas ini masih ada
Jangan menyalahkan keadaan karena kita yang menentukan.
Jangan berharap ada yang berubah jika tetap diam dan menunggu
- Jaga senyum itu agar tetap ada -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar