Minggu, 13 Januari 2013

Opsi

Waktu itu seperti aliran sungai.
Kita tidak bisa menyentuh air yang sama untuk kedua kalinya.
Karena air yang terus mengalir,
Akan terus berlalu dan tidak akan pernah KEMBALI

#Masih teringat insiden-insiden dimasa lalu, baik yang indah (macam ada aja). dan sisanya yang masih berasa dipikiran. Sepeti anak kecil yang menonton filmnya sendiri, ngakak guling-guling, senyum-senyum g jelas, dan just say "kok bisa aku dulu gitu yah ?" Suatu kejadian yang agak sedikit riskan sebenarnya karena memang sedikit problematika
"saya cuma bisa ngasih dua opsi" ujarku dengan sedikit berat
"apa saja opsinya?" tanyanya lemas
"Yang pertama itu bertempur didalamnya, yang mana kamu yang harus berjuang sendirian disana. Dan jika kamu g berani maka semua akan menjadi sulit. Kita hanya bisa ngasih support" jelasku dengan lancar
" hmmm, agak sulit, coba yang kedua opsinya gimana coba??" tanyanya lebih antusias
"klo yang kedua tuh, kita memutuskan hubungan sebelum semuanya berkembang terlalu jauh" ujarku
Ia terlihat ragu-ragu dalam mencari jawaban/alasan, ia mencoba memberikan opsi tambhan di opsi yang kedua agar kami menjadi SAHABAT (katanya). Dan terkadang ia sendiri yang tak ingin memikirkan soal itu

#Dia berada dalam pilihan yang harus mulai pake korban, dirinya atau dianya yang harus jadi tumbal keadaan. Pasti sakit dan tinggal menunggu kapan waktunya seperti bomj waktu yang pasti akan meledak kalo belum kadaluarsa.
"Saya hanya tidak mau menyakiti anda dari sudut manapun!" ujarnya agak terbata-bata
Kata anda dan saya yang terucap darinya seolah bersifat sangat formal, bukanlah sebuah percakapan seorang yang pernah menjadi atau akan menjadi SAHABAT (katanya). Sangat diragukan jika dia lulus UAN dengan nilai Bahasa Indonesia lebih dari standar kelulusan (just kidding), mungkin agar terlihat serius bukan ciyuuus.
"Jika kau disana, saya takkan kesana. Kalau saya disana dan kau datang, saya lah yang pergi" jawabku. Saya merasa jika tetap menjadi teman sepertinya sudah terlambat. Karena memerlukan proses waktu dan satu-satunya cara adalah agar kita saling mnejauh. Dia nampak galau (bahasa anak jaman sekarang yang sampe sekarnag aku pun g ngerti artinya) hingga percakapan nih sudah menyita waktu makan pagi siang dan nyemil sore. Sangat sulit menebak apa yang dirasakannya karena dia selalu tersenyum, tapi sorot matanya berbicara sendiri hingga kupingku g bisa mendengarnya dengan jelas.

#Percakapan diakhiri dengan istigfar yang banyak dan rasa soft dari  ice cream disaat itu pengganti sarapan, makan siang, makan sore. Terkadang aku berfikir kenapa aku harus jadi orang baik???. G ada alasan yang jelas dan dasar yang logis, terkadang aku cuma ingin jadi diri aku sendiri. Aku g perduli dengan basa-basi, celotehan orang (makhluk yang g tau dunia tp berteriak2 tentang dunia )g penting. Saya pikir sekali-kali orang juga harus mengerti perasaan dia, Mengapa harus selalu DIA yang mengrti perasaan orang lain?
" kamu hebat untuk ukuran mu!" kalimat pembuka sambil makan ice cream
"Biarin sudah!!, semua akan indah pada waktunya" alibi klasiknya keluar
Sebenarnya kami pun mikir keras, orang-orang senang padanya karena jujur, baik, unik dan "never say NO". Sudah lama kami memperkirakannya, namun saat kejadian ini datang semua berasa sakit. Tapi g terjadi suatu anarkisme meski emosional sebgai makhluk ciptaan tuhan ada. Saya berfikir kita lebih tenang dan dewasa dalam menghadapinya.

# Mudah-mudahan suatu hari nanti
   Dia akan tumbuh dan menjadi Wanita dewasa
   Yang berani menghadapi semua tantangan
   Dan menikmati hidup indah

Saya tidak menganjurkan mu keluar dari lingkungan ini karena hidupmu sudah jelas. Dalam lingkungan ini kau akan hidup dalam dunia sempit, berputar dalam siklus yang jelas dalam kepalsuan dunia. Tapi saya akan mendukungmu disini atau disana, dimanapun kau akan berada

- inspirated by Opsi -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar